Isi Cerita
Saaochi

Saaochi melangkah keluar aula bersama mentor lainnya. Beberapa murid juga turut memecah diri menjadi beberapa kelompok untuk mulai mengelilingi markas. Karena, mulai dari saat ini, mereka telah menjadi bagian dari DianXy. Maka, tentu saja mengenal seluk-beluk ‘rumah’ baru bagi mereka itu hal penting.

“Kak Saaochi dan Kak Luisa akan kemana?” Naren melontar tanya, memecah hening di antara kelima mentor yang tengah berjalan beriringan tersebut.

Ada hening sejenak, Luisa bergumam pelan, yang lainnya membisu, memilih untuk memikirkan jawaban yang tepat. Sampai akhirnya, Bastian lebih dulu bersuara.

“Aku akan sambil berjaga. Kalian juga sembari berkeliling, jangan lupa untuk memperhatikan.” Setelah mengatakan itu, ia lantas menukar tubuhnya menjadi kabut, segera menghilang dari pandangan tanpa mengucap kata perpisahan.

“Sampai jumpa lagi!” Meski begitu, Naren tetap berteriak, walaupun tidak pasti apakah Bastian mendengarnya ataupun tidak. Yang lain turut mengikuti Naren.

“Aku mau ketemu sama Kapten dulu! Ada yang ingin kutanyakan. Dah semuanya!” Kaynel melambai lantas berlari di koridor, meninggalkan ketiga mentor yang masih bingung dengan destinasi mereka selanjutnya.

Semuanya dibebaskan untuk berkeliling, tentu saja termasuk para mentor. Tapi, mereka sudah cukup bingung untuk ke mana. Lantas, ketiganya berdiam diri di sana, hampir satu menit dalam situasi canggung. Sampai akhirnya, Saaochi bersuara lebih dulu.

“Naren—“

Mentor yang tingginya lebih pendek dari Saaochi itu hendak berucap, sebelum panggilan terhadap dirinya menggema di lorong koridor. Mereka bertiga menoleh ke belakang, mendapati seorang dua orang gadis dan seorang lelaki yang berada di belakang mereka.

“Selamat pagi, Mentor.”

Mereka memberi salam hormat, yang dibalas dengan hal sama oleh Saaochi, Luisa, dan Naren.

“Kalian mau kemana? Kayaknya Naren bersedia jadi pemandu tur kalian.” Saaochi lebih dulu berucap sebelum mereka hendak berlalu pergi.

“Eh?” Naren tatap Saaochi, dengan pandangan kaget.

“Enggak apa-apa, Mentor. Kami tadi hanya ingin menyapa. Lagi pula kami sudah diberi chip agar tidak tersesat. Agaknya tidak baik jika kami malah meminta tolong lagi.” Salah satu dari mereka—seingat Saaochi namanya Aideen—berucap dengan tutur kata sopan.

“Ajak aja, dia gabut.  Soalnya aku sama Luisa ngebosenin.”

“Kau aja kali yang ngebosenin. “ Luisa lebih dulu menyahut.

Saaochi melotot ke arah Luisa, namun tidak mengatakan apa-apa untuk membalasnya.

“Kok berasa diusir, ya?”

“Heh, mana ada! Daripada ke jebak sama kami,” balas Saaochi. Menentang apa yang dikatakan Naren barusan.

“Memangnya kenapa kalo sama Mentor?” Freya bertanya, wajahnya tampak benar kebingungan.

“Dia sedikit gak waras, Freya. Bisa tiba-tiba ketawa kayak orang kesurupan.” Bukan Saaochi yang menjawab, melainkan Luisa.

“Engga salah—“

“Kalau Mentor Naren berkenan, tentu saja dengan senang hati.” Sienna menginterupsi dari belakang.

“Iya, bawa aja. Jangan lupa dibalikin, ya.”

Pfft—“ Saaochi tiba-tiba menghadap tembok, menempelkan dahinya, sembari menutupi mulut sebagai upaya menahan tawanya dari candaan garing tiba-tiba oleh Luisa.

“Apalah, Kak! Kayak Naren barang aja!”

Mendengar protes dari Naren, Saaochi benar-benar tak tahan menahan tawanya. Sampai tak sadar ditatap aneh oleh ketiga murid DianXy yang masih ada di sana.

“Udah jangan dipeduliin. Nanti juga sembuh.”

Akhirnya, setelah persetujuan dari Naren, mereka mulai bergerak, pergi menjauh mengabaikan Saaochi. Barulah setelah beberapa menit Saaochi berhenti tertawa, perutnya terasa sakit di bagian kiri. Padahal tak ada yang lucu, tapi Saaochi tertawa sampai sebegitunya. Dia ditatap aneh oleh Luisa yang masih bertahan menemaninya agar tak menahan malu sendirian. Sungguh baik Luisa—

“Apa?”

Saaochi menatap Luisa yang memandangnya aneh, seperti dia adalah makhluk paling aneh yang pernah ditemui oleh temannya itu sepanjang hidupnya. Dan Saaochi dengan wajah tak berdosanya bertanya sedemikian pada Luisa. Meski tak dibalas oleh temannya itu.

“Ayok ke berjaga ke battle room dulu. Kan dekat-dekat sama Ruang Latihan. Sekalian, kita liatin, kali aja ada murid bandel yang malah sparing, tapi ga ngajak-ngajak.”

Luisa menatapnya lagi dengan pandangan aneh. Sampai-sampai keningnya berkerut. “Bilang aja mau baku hantam.”

Saaochi yang menatap Luisa cemberut. Merasa pikirannya telah dibaca oleh temannya si rambut putih. “Bilang aja cemburu.”

Luisa memutar bola matanya, tak membalas lagi. Lantas berjalan lebih dulu dari Saaochi. Meninggalkan gadis berambut toska itu di belakang dengan tatapan heran. Hingga akhirnya, disusullah Luisa.

“Lah, ngambek?”

“Mana ada ngambek. Ngawur!”

“Ayok ke penjara.”

Luisa tak mengerti. Mengapa makhluk di depannya ini sangat random. Barusan dia mengatasi Luisa, lantas tiba-tiba mengajak ke penjara. Ingin rasanya menonjok wajah Saaochi.

“Iya, ayo. Kau masuk ke penjaranya.”

“Ya kali! Maksudnya, kita ke penjara buat liat-liat, mungkin aja ada yang tersesat gitu, ‘kan.”

Luisa berdeham, bergumam pelan menanggapi apa yang dikatakan Saaochi. Dia sebenarnya setuju saja dengan semua rencana Saaochi, lagipula ia juga tak punya tujuan. Bingung hendak mulai dari mana.

Keduanya akhirnya mulai berjalan beriringan. Sesekali menemui murid lain yang tengah berkeliling. Kadang-kadang mereka tak hanya menyapa, tapi juga bertanya pada keduanya. Biasanya, mereka berdua lebih memilih mendekap di ruangan masing-masing, mengerjakan tugas tanpa berinteraksi banyak dengan para murid. Jadi, mungkin acara berkeliling seperti ini, cukup bagus untuk mereka berdua. Setidaknya untuk tidak hanya mengurung diri di dalam ruangan.

“Enak ya, jadi Bastian. Tinggal jadi kabut, wush, nyampe ke tempat dituju,” celutuk Saaochi. Ketika mereka berdua duduk di lorong asrama, dekat jendela. Kelelahan.

Luisa menyeruput air minumnya yang didapatnya ketika mampir ke kantin tadi sebentar. Melirik Saaochi dari ujung matanya.

“Kita malah gak sampai-sampai. Padahal tadi mau ke penjara, eh malah ke sini,” ujar Saaochi lagi. Ketika merasa tak ada tanggapan dari temannya.

“Yah, aku lebih suka jadi diriku sendiri.” Luisa menggidikkan bahunya.

Saaochi tak membalas. Dia merenung singkat. Membiarkan Luisa berdiri untuk menuju tempat sampah, membuang bekas air minumnya. Tanpa menyadari, kalau kaki Saaochi menghalangi jalannya, membuatnya tersandung, tanpa bisa menahan keseimbangan tubuh dan akhirnya terjerembap ke depan hingga kepalanya mengenai pembatas kursi.

Saaochi reflek berdiri, kaget. Melihat temannya tiba-tiba saja jatuh. Dia menutupi mulutnya, sedangkan matanya berkedut tanpa dapat ditahannya. Akhirnya, pecahlah tawa Saaochi.

=••=

Dan di sinilah mereka. Terdampar di ruang kesehatan dengan Saaochi yang menjadi dokter dadakan. Sebenarnya, ada dokter yang bekerja di sini. Tapi, mereka menyelinap diam-diam. Tentu saja ini semua merupakan ide dari Saaochi.

Saaochi melilitkan perban ke kepala Luisa, dengan acak-acakan. Rupanya kepala Luisa terantuk keras sampai pelipisnya mengeluarkan darah segar. Sebagai teman yang baik dan rajin menabung, Saaochi tidak tega membiarkan Luisa merasakan sakit lebih lama.

“Oke, sudah sembuh.” Saaochi mengacungkan jempol ke arah Luisa yang menampilkan wajah datar. Sama sekali tidak berterima kasih pada Saaochi yang telah merawatnya.

Luisa sepertinya tak akan berterima kasih. Dia direcoki antiseptik dan dililitkan perban asal-asalan, luka di kepalanya bukannya sembuh malah makin terasa sakit.

“Jangan cemberut gitu. Ayok berterima kasih. Ini skill pengobatan yang ga main-main, loh.”

“Makasih,” ujar Luisa, menyipitkan mata, tatap Saaochi.

Saaochi senyum-senyum sendiri, sampai matanya berkedut. Sampai tiba-tiba tirai di belakang mereka tersingkap, keduanya tersentak kaget, reflek menoleh ke belakang hanya untuk menemukan seorang lelaki dengan penutup mata khas yang menjadi ikonik.

“Sedang apa kalian di sini?”

‘Mampus!’