03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Saaochi melangkah
keluar aula bersama mentor lainnya. Beberapa murid juga turut memecah diri
menjadi beberapa kelompok untuk mulai mengelilingi markas. Karena, mulai dari
saat ini, mereka telah menjadi bagian dari DianXy. Maka, tentu saja mengenal
seluk-beluk ‘rumah’ baru bagi mereka itu hal penting.
“Kak Saaochi dan
Kak Luisa akan kemana?” Naren melontar tanya, memecah hening di antara kelima
mentor yang tengah berjalan beriringan tersebut.
Ada hening
sejenak, Luisa bergumam pelan, yang lainnya membisu, memilih untuk memikirkan
jawaban yang tepat. Sampai akhirnya, Bastian lebih dulu bersuara.
“Aku akan sambil
berjaga. Kalian juga sembari berkeliling, jangan lupa untuk memperhatikan.”
Setelah mengatakan itu, ia lantas menukar tubuhnya menjadi kabut, segera
menghilang dari pandangan tanpa mengucap kata perpisahan.
“Sampai jumpa
lagi!” Meski begitu, Naren tetap berteriak, walaupun tidak pasti apakah Bastian
mendengarnya ataupun tidak. Yang lain turut mengikuti Naren.
“Aku mau ketemu
sama Kapten dulu! Ada yang ingin kutanyakan. Dah semuanya!” Kaynel melambai
lantas berlari di koridor, meninggalkan ketiga mentor yang masih bingung dengan
destinasi mereka selanjutnya.
Semuanya
dibebaskan untuk berkeliling, tentu saja termasuk para mentor. Tapi, mereka
sudah cukup bingung untuk ke mana. Lantas, ketiganya berdiam diri di sana,
hampir satu menit dalam situasi canggung. Sampai akhirnya, Saaochi bersuara
lebih dulu.
“Naren—“
Mentor yang
tingginya lebih pendek dari Saaochi itu hendak berucap, sebelum panggilan
terhadap dirinya menggema di lorong koridor. Mereka bertiga menoleh ke
belakang, mendapati seorang dua orang gadis dan seorang lelaki yang berada di
belakang mereka.
“Selamat pagi,
Mentor.”
Mereka memberi
salam hormat, yang dibalas dengan hal sama oleh Saaochi, Luisa, dan Naren.
“Kalian mau
kemana? Kayaknya Naren bersedia jadi pemandu tur kalian.” Saaochi lebih dulu
berucap sebelum mereka hendak berlalu pergi.
“Eh?” Naren tatap
Saaochi, dengan pandangan kaget.
“Enggak apa-apa,
Mentor. Kami tadi hanya ingin menyapa. Lagi pula kami sudah diberi chip
agar tidak tersesat. Agaknya tidak baik jika kami malah meminta tolong lagi.” Salah
satu dari mereka—seingat Saaochi namanya Aideen—berucap dengan tutur kata
sopan.
“Ajak aja, dia gabut.
Soalnya aku sama Luisa ngebosenin.”
“Kau aja kali yang
ngebosenin. “ Luisa lebih dulu menyahut.
Saaochi melotot ke
arah Luisa, namun tidak mengatakan apa-apa untuk membalasnya.
“Kok berasa
diusir, ya?”
“Heh, mana ada!
Daripada ke jebak sama kami,” balas Saaochi. Menentang apa yang dikatakan Naren
barusan.
“Memangnya kenapa
kalo sama Mentor?” Freya bertanya, wajahnya tampak benar kebingungan.
“Dia sedikit gak
waras, Freya. Bisa tiba-tiba ketawa kayak orang kesurupan.” Bukan Saaochi yang
menjawab, melainkan Luisa.
“Engga salah—“
“Kalau Mentor
Naren berkenan, tentu saja dengan senang hati.” Sienna menginterupsi dari
belakang.
“Iya, bawa aja.
Jangan lupa dibalikin, ya.”
“Pfft—“
Saaochi tiba-tiba menghadap tembok, menempelkan dahinya, sembari menutupi mulut
sebagai upaya menahan tawanya dari candaan garing tiba-tiba oleh Luisa.
“Apalah, Kak!
Kayak Naren barang aja!”
Mendengar protes
dari Naren, Saaochi benar-benar tak tahan menahan tawanya. Sampai tak sadar
ditatap aneh oleh ketiga murid DianXy yang masih ada di sana.
“Udah jangan
dipeduliin. Nanti juga sembuh.”
Akhirnya, setelah
persetujuan dari Naren, mereka mulai bergerak, pergi menjauh mengabaikan
Saaochi. Barulah setelah beberapa menit Saaochi berhenti tertawa, perutnya
terasa sakit di bagian kiri. Padahal tak ada yang lucu, tapi Saaochi tertawa
sampai sebegitunya. Dia ditatap aneh oleh Luisa yang masih bertahan menemaninya
agar tak menahan malu sendirian. Sungguh baik Luisa—
“Apa?”
Saaochi menatap
Luisa yang memandangnya aneh, seperti dia adalah makhluk paling aneh yang
pernah ditemui oleh temannya itu sepanjang hidupnya. Dan Saaochi dengan wajah
tak berdosanya bertanya sedemikian pada Luisa. Meski tak dibalas oleh temannya
itu.
“Ayok ke berjaga
ke battle room dulu. Kan dekat-dekat sama Ruang Latihan. Sekalian, kita
liatin, kali aja ada murid bandel yang malah sparing, tapi ga ngajak-ngajak.”
Luisa menatapnya
lagi dengan pandangan aneh. Sampai-sampai keningnya berkerut. “Bilang aja mau
baku hantam.”
Saaochi yang menatap
Luisa cemberut. Merasa pikirannya telah dibaca oleh temannya si rambut putih.
“Bilang aja cemburu.”
Luisa memutar bola
matanya, tak membalas lagi. Lantas berjalan lebih dulu dari Saaochi.
Meninggalkan gadis berambut toska itu di belakang dengan tatapan heran. Hingga
akhirnya, disusullah Luisa.
“Lah, ngambek?”
“Mana ada ngambek.
Ngawur!”
“Ayok ke penjara.”
Luisa tak
mengerti. Mengapa makhluk di depannya ini sangat random. Barusan dia mengatasi
Luisa, lantas tiba-tiba mengajak ke penjara. Ingin rasanya menonjok wajah
Saaochi.
“Iya, ayo. Kau
masuk ke penjaranya.”
“Ya kali!
Maksudnya, kita ke penjara buat liat-liat, mungkin aja ada yang tersesat gitu,
‘kan.”
Luisa berdeham,
bergumam pelan menanggapi apa yang dikatakan Saaochi. Dia sebenarnya setuju
saja dengan semua rencana Saaochi, lagipula ia juga tak punya tujuan. Bingung
hendak mulai dari mana.
Keduanya akhirnya
mulai berjalan beriringan. Sesekali menemui murid lain yang tengah berkeliling.
Kadang-kadang mereka tak hanya menyapa, tapi juga bertanya pada keduanya. Biasanya,
mereka berdua lebih memilih mendekap di ruangan masing-masing, mengerjakan
tugas tanpa berinteraksi banyak dengan para murid. Jadi, mungkin acara
berkeliling seperti ini, cukup bagus untuk mereka berdua. Setidaknya untuk
tidak hanya mengurung diri di dalam ruangan.
“Enak ya, jadi
Bastian. Tinggal jadi kabut, wush, nyampe ke tempat dituju,” celutuk
Saaochi. Ketika mereka berdua duduk di lorong asrama, dekat jendela. Kelelahan.
Luisa menyeruput
air minumnya yang didapatnya ketika mampir ke kantin tadi sebentar. Melirik
Saaochi dari ujung matanya.
“Kita malah gak
sampai-sampai. Padahal tadi mau ke penjara, eh malah ke sini,” ujar Saaochi
lagi. Ketika merasa tak ada tanggapan dari temannya.
“Yah, aku lebih
suka jadi diriku sendiri.” Luisa menggidikkan bahunya.
Saaochi tak
membalas. Dia merenung singkat. Membiarkan Luisa berdiri untuk menuju tempat
sampah, membuang bekas air minumnya. Tanpa menyadari, kalau kaki Saaochi
menghalangi jalannya, membuatnya tersandung, tanpa bisa menahan keseimbangan
tubuh dan akhirnya terjerembap ke depan hingga kepalanya mengenai pembatas
kursi.
Saaochi reflek
berdiri, kaget. Melihat temannya tiba-tiba saja jatuh. Dia menutupi mulutnya,
sedangkan matanya berkedut tanpa dapat ditahannya. Akhirnya, pecahlah tawa
Saaochi.
=••=
Dan di sinilah
mereka. Terdampar di ruang kesehatan dengan Saaochi yang menjadi dokter
dadakan. Sebenarnya, ada dokter yang bekerja di sini. Tapi, mereka menyelinap
diam-diam. Tentu saja ini semua merupakan ide dari Saaochi.
Saaochi melilitkan
perban ke kepala Luisa, dengan acak-acakan. Rupanya kepala Luisa terantuk keras
sampai pelipisnya mengeluarkan darah segar. Sebagai teman yang baik dan rajin
menabung, Saaochi tidak tega membiarkan Luisa merasakan sakit lebih lama.
“Oke, sudah
sembuh.” Saaochi mengacungkan jempol ke arah Luisa yang menampilkan wajah
datar. Sama sekali tidak berterima kasih pada Saaochi yang telah merawatnya.
Luisa sepertinya
tak akan berterima kasih. Dia direcoki antiseptik dan dililitkan perban
asal-asalan, luka di kepalanya bukannya sembuh malah makin terasa sakit.
“Jangan cemberut
gitu. Ayok berterima kasih. Ini skill pengobatan yang ga main-main,
loh.”
“Makasih,” ujar
Luisa, menyipitkan mata, tatap Saaochi.
Saaochi
senyum-senyum sendiri, sampai matanya berkedut. Sampai tiba-tiba tirai di
belakang mereka tersingkap, keduanya tersentak kaget, reflek menoleh ke
belakang hanya untuk menemukan seorang lelaki dengan penutup mata khas yang
menjadi ikonik.
“Sedang apa kalian
di sini?”
‘Mampus!’