Isi Cerita
Luisa Arcadia

Keesokan harinya Luisa terbangun setelah berusaha tertidur dengan susah payah pada malam hari sebelum keberangkatan mereka ke Planet Xeplor. Luisa sedikit mengusak rambutnya dan menepuk-nepuk bagian bawah dari seragamnya.

 

Mata hitamnya menatap lurus cermin dihadapannya sambil memegang wajahnya yang sedikit pucat lalu setelah itu menghembuskan nafas yang terasa cukup berat dari biasanya.

 

"Malam tadi aku tertidur dengan nyenyak, sungguh diluar dugaan dan ini cukup membuat tidak nyaman. Setelah mengalami insomnia dan anemia karena harus meneliti racun yang ku gunakan untuk senjata milikku semua bunga tidur yang ku alami tadi malam masih terasa mewah." Luisa mengusap pelan kantung matanya yang menghitam setelah tidak tidur selama beberapa hari.

 

"Ini tidak buruk, benar. Ayo membuat pemikiran kalau ini hanya kunjungan biasa tanpa adanya plot twist aneh seperti yang biasanya terjadi," gerutu Luisa sambil memejamkan matanya.

 

Kemudian dia melirik koper miliknya yang berisikan beberapa barang seperti baju dan tab, tidak lupa dia juga membawa tas kecil yang dia jahit sendiri serta beberapa botol racun yang tidak terlalu berbahaya lengkap dengan senjatanya.

 

"Maaf Ketua. Bukan bermaksud tidak mematuhimu, anggap saja ini pertahanan diri..." gumam Luisa sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan melihat ke arah lain. 'Ku harap Ketua akan memaklumi kalau hanya sebatas ini, lagipula yang ku bawa hanya sebatas membuat pingsan dan tertidur jadi ku rasa akan aman di pakai.'

 

Luisa berjalan mendekat ke kopernya lalu menutup koper itu, dia mengangkat pergelangan tangannya dan melihat kalau sebentar lagi mereka akan berangkat meninggalkan Planet Mursa untuk sementara waktu.

 

Tangannya mengangkat koper itu dan menentengnya di samping tubuhnya, kakinya melangkah keluar dari kamar asrama miliknya dan menutup akses kamar itu.

.

 .

.

"Selamat siang, Ketua dan Komandan." Luisa membungkukkan sedikit badannnya menyapa dua orang yang memiliki pangkat tertinggi sekaligus atasannya, Rhino La Cheiros dan Maula Syndulla.

 

"Iya selamat siang juga Luisa, tidak saya sangka kalau kamu hanya membawa satu koper." Rhino tersenyum menyapa kembali Luisa sambil melirik koper yang Luisa tenteng di samping tubuhnya.

 

"Satu koper?" Maula bertanya dengan bingung sambil melirik bergantian Rhino dan Luisa, "Luisa kamu sebelumnya berniat membawa berapa?" lanjut Maula sambil bertanya ke arah Luisa.

 

"Kata Naren pakai kantongan saja, sebenarnya saya berniat membawa lima koper tapi saya mengubah pikiran saya karena merasa kalau itu merepotkan," jelas Luisa lalu mengangkat kopernya ke depan tubuhnya dengan kedua tangannya seakan-akan mengatakan kalau ini lebih simpel.

 

"Kalau begitu saya permisi, Ketua dan Komandan." Setelah itu Luisa menundukkan sedikit badannnya dengan hormat lalu masuk ke dalam pesawat, matanya menelisik kursi-kursi yang telah di desain untuk dua orang duduki.

 

Matanya menangkap sekilas pucuk rambut dengan warna hijau yang cukup familiar, dia menghampiri orang yang mempunyai pucuk rambut itu lalu duduk di sampingnya. Luisa menaruh koper miliknya di bawah kakinya tepat di bagian dinding pesawat dan di bawah jendela tempat dia duduk.

 

Matanya menatap ke arah luar jendela, kini pesawat yang mereka tumpangi sekarang sudah berjalan setelah memastikan seluruh murid masuk dan duduk di kursi mereka masing-masing. Mata hitamnya sedikit memercikkan kilauan saat melihat bintang-bintang yang berhamburan dari balik jendela.

 

"Hey Saaochi." Luisa menepuk pundak Saaochi yang sedang berhadapan dengan laptop yang berada di atas pangkuannya.

 

"Apa?" tanya Saaochi dengan singkat saat merasakn tepukan dari Luisa yang bahkan tidak menyapanya dan tiba-tiba duduk di sampingnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.

 

"Bintangnya... bukankah bintangnya cukup cantik?" jawab Luisa dengan mata yang sedikit memantulkan bayangan dari bintang itu sendiri, bukannya dia terobsesi dengan bintang atau apapun itu hanya saja sebelum dia berakhir ditempat antah berantah yang pertama kali dia lihat adalah bintang di langit malam yang cukup indah sampai-sampai membuatnya terdiam merenungi bintang-bintang itu.

 

Setelah itu Luisa menyandarkan kepalanya di bahu Saaochi dan mengintip akan apa yang Saaochi lakukan sehingga tidak melepaskan pandangan dari laptopnya itu. "Sedang apa?" tanya Luisa sambil ikut memperhatikan yang Saaochi kerjakan.

 

"Hanya melanjutkan pekerjaan yang belum terselesaikan, lagipula katanya nanti di sana tidak ada tanda-tanda kalau kita bisa menggunakan teknologi dengan bebas," jelas Saaochi setelah melirik ke arah luar jendela dan kemuadian kembali fokus ke laptopnya.

 

Luisa memeluk lengan Saaochi sambil bergidik ngeri membayangkan kalau dia tidak menyentuh hal-hal yang berbau teknologi saat berada di Planet Xeplor, "Itu terdengar sedikit mengerikan, ku harap mereka tidak terlalu fanatik dalam mengisolasi diri. Bagaimana bisa mereka hidup dengan penuh kekuatan alam begitu? Kalau dipikirkan lagi itu semakin mencurigakan mengingat surat dari mereka muncul secara misterius."

 

Saaochi menekuk alisnya dan mendorong kepala Luisa agar melepaskan pelukan Luisa di tangannya, "Itu tidak terlalu buruk, oksidasi dati teknologi lebih buruk dari keprimitifan mereka, dan jangan telalu menempeliku nanti kamu keracunan." Saaochi mengibaskan lengan bajunya yang baru saja disandari Luisa.

 

Luisa memasang raut wajah masam lalu menyandarkan punggungnya di kursi yang dia duduki, "Ya, tidak buruk bergaul dengan orang yang tidak menyentuh teknologi. Mungkin mereka lebih mengetahui berbagai macam hal yang ada di alam dan aku tidak akan keracunan karena aku sudah memperkirakan toleransiku dengan akurat."

 

Tak!

 

Sebuah jentikan sukses mendarat di dahi Luisa membuat gadis itu sedikit terjengkit kaget karena tidak sempat menghindarinya, tangannya mengusap-usap dahinya yang memerah dengan muka yang cukup masam.

 

"Rasakan itu, kalau ada sekte sesat yang meminta tumbal saat berada di sana aku akan menunjukmu lebih dulu walaupun aku yakin mereka tidak akan mau menumbalkan maniak racun sepertimu di pemujaan sesat mereka."

 

"Baguslah kalau begitu, setidaknya racun yang bawa nanti akan berguna."

 

Saaochi menekuk alisnya lagi saat mendengar pernyataan Luisa, "Kamu membawa racun? Apa Ketya tahu itu?" tanya Saaochi dengan nada mengintrogasi. Luisa memalingkan wajahnya lalu kembali menatap Saaochi dengan wajah yang cukup serius.

 

"Di sana hawanya dingin kan? Ku harap kamu tahan nanti, semangat." Luisa memasang muka setebal mungkin berusaha menghindari pertanyaan dari Saaochi mengenai racun yang dia bawa.

 

Bugh!

 

"Jangan mengalihkan pembicaraan dan aku sudah tidak masalah lagi dengan hawa dingin semenjak simulasi terakhir kali dengan Priet," ucap Saaochi dengan perempatan di dahinya, dia menyeringai puas saat pukulan cintanya bisa mendarat di kepala Luisa dengan sempurna.

 

Luisa mengaduh lalu memegangi kepalanya sambil menundukkan badannya, bisa-bisanya Saaochi menyerang Luisa dengan tenaga dalam seperti itu tepat dikepalanya. Gerutuan yang penuh dengan umpatan keluar dari mulut Luisa lalu setelah itu diah ber-oh singkat saat menyadari kalau Saaochi membawa nama Priet.

 

Bugh!

 

Pukulan lain mendarat lagi kini di belakang kepala Luisa, "Jangan berfikir macam-macam!" sanggah Saaochi dengan penuh kekesalan di nada bicaranya.

 

"Agh! Berhenti menyakiti kepala kecilku! Mentang-mentang aku tidak menghindar tapi jangan lakukan berturut-turut juga!" rengut Luisa sambil menatap tajam Saaochi dengan wajah yang kecut.

 

Saaochi hanya terkekeh pelan sambil menyeringai lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena interupsi dari Luisa, itu cukup setimpal dengan waktu yang terbuang.

 

Setelah melihat Saaochi yang melanjutkan pekerjaannya dengan serius Luisa menatap kembali keluar jendela, 'Ini tidak buruk.'

.

.

.

To Be Continued