Isi Cerita
Saaochi

Tatkala langkah Saaochi sampai pada pintu masuk, maniknya disambut dengan pesawat angkasa besar nan megah. Di sana sudah ada beberapa murid dan juga Komandan Maula beserta Ketua Rhino. Saaochi lekas menyapanya, berhubung dia tengah sendiri saat ini.

“Halo Komandan Maula, Pak Rhino!”

Dia melambaikan tangannya, berlari kecil ke arah mereka berdua. Lantas menundukkan kepala sedikit sebagai salam hormat kepada dua petinggi DianXy itu. Sebagai balasan, mereka tururt menyapa Saaochi.

“Barang penting?” tanya Rhino setelah melihat barang bawaan Saaochi yang ditentengnya.

Saaochi Menyengir sebelum menjawab, “Bukan sih, Pak. Cuma laptop doang, meski kayaknya engga terlalu berguna nanti.”

“Hm, saya pikir kamu akan bawa banyak barang.”

Saaochi mengikuti refleknya atas pernyataan Rhino segera menggeleng, menggaruk pipinya canggung. “Saya engga mau ribet, lagipula barang saya juga engga banyak sampai saya sendiri engga tau apa yang harus dibawa.”

“Begitu, ya.”

Saaochi mengangguk sebagai jawaban. Rhino mengajaknya berjalan masuk ke dalam pesawat. Saaochi mengikuti dari belakang. Sebelum mulutnya mulai terbuka lagi, menanyakan hal yang mengganggu pikirannya semenjak pemberitahuan bahwa mereka akan ke Planet Xeplor.

“Ah omong-omong, apa yang akan kita lakukan nanti di sana? Maksud saya, apakah semacam melakukan meeting penting, atau memang hanya kunjangan saja?”

Pandangan Rhino beralih sebentar pada Saaochi, memintanya untuk berjalan beriringan dengannya terlebih dahulu. “Aku akan berbicara dulu dengan kepala suku mereka. Mungkin kalian bisa berjalan-jalan di sekeliling planet.”

Saaochi mengangguk, lagi-lagi menggaruk pipinya karena rasa canggung yang memenuhi perutnya. Dia merasa perasaan aneh yang tidak nyaman ketika mendengar hal itu. “Uhm, sendirian?”

“Ada Komandan Maula dan yang lain. Kamu tidak perlu canggung Saaochi,” ujar Rhino. Suaranya mengalir lembut dalam indra pendengar Saaochi.

Saaochi menggeleng panik, merasa refleks canggungnya sudah mengakibatkan kesalahpahaman. “Tidak, maksud saya, saya hanya sedikit khawatir. Dan agak curiga juga.” Saaochi bergumam di akhir kalimat, mengalihkan pandanganya ke samping. “Saya pikir Pak Rhino juga akan ditemani Priet.”

“Priet? Ah, tidak. Dia sedang ada urusan di tempat lain.” Rhino menoleh pada Saaochi, tersenyum kecil. “Apa kamu merindukannya?”

Saaochi yang mendengarnya jadi kaget sendiri. Dia segera menggeleng panik sembari mengibaskan tangannya di depan dada. “Apa, eh tidak. Kenapa saya harus merindukannya?”

Sebelum sempat Rhino membalas, suara dari Co-Pilot terdengar nyaring memenuhi pesawat. Memberitahukan mereka bahwa pesawat sebentar lagi akan lepas landas.

Rhino menoleh kembali pada Saaochi, tersenyum kecil. “Kita sudah mau berangkat. Apa kamu mau duduk bersama, Saaochi?”

Saaochi kembali dipenuhi rasa panik yang tidak nyaman. “Eh, ah. Terima kasih Pak Rhino. Tapi, maaf Pak, saya sudah janji dengan Luisa akan duduk bersamanya.” Tubuhnya membungkuk sedikit tanda penyesalan atas penolakannya terhadap tawaran petinggi DianXy.

“Tidak apa-apa. Tidak usah merasa bersalah begitu.”

Saaochi hanya terkekeh canggung, menggaruk pipinya untuk kesekian kalinya.

“Kalau begitu saya duluan.”

Saaochi mengangguk, mengucapkan salam perpisahan. Setelahnya mereka berpisah di pintu pesawat. Saaochi masuk lebih dalam, menelusuri setiap tempat duduk untuk menemukan Luisa. Dia menemukannya setelah mencak-mencak karena Luisa memilih tempat duduk yang jauh. Anak itu sudah menempel di jendela seolah terkena mabuk udara.

“Enak banget ya, ninggalin aku,” ujar Saaochi sebagai pembuka pembicaraan sebelum dia duduk di sebelah Luisa.

Luisa menoleh, tatap Saaochi yang membuka laptop miliknya. “Kamu ‘kan lagi ngomong sama Pak Rhino.”

Saaochi tidak membalasnya. Fokus pada apa yang sedang dia lakukan. Dia punya pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum tenggat waktu dan mengingat tempat yang mereka kunjungi tampaknya belum mengenal teknologi, itu membuatnya khawatir tidak bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Nah, jika Saaochi berlibur, dia butuh menyelesaikan semua pekerjaannya agar dia tidak terbayang-bayang akan hal ini.

Tapi, tampaknya makhluk di sebelahnya sama sekali tidak mengizinkannya bekerja. Terus mengganggunya hingga Saaochi menyerah dan berakhir mengajaknya bicara tanpa henti. Pada akhirnya, Saaochi malah asik sendiri berbicara, sedangkan Luisa hampir tertidur dengan konversasi panjang itu.