03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Tatkala langkah Saaochi sampai pada pintu masuk, maniknya disambut
dengan pesawat angkasa besar nan megah. Di sana sudah ada beberapa murid dan
juga Komandan Maula beserta Ketua Rhino. Saaochi lekas menyapanya, berhubung
dia tengah sendiri saat ini.
“Halo Komandan Maula, Pak Rhino!”
Dia melambaikan tangannya, berlari kecil ke arah mereka berdua.
Lantas menundukkan kepala sedikit sebagai salam hormat kepada dua petinggi
DianXy itu. Sebagai balasan, mereka tururt menyapa Saaochi.
“Barang penting?” tanya Rhino setelah melihat barang bawaan Saaochi
yang ditentengnya.
Saaochi Menyengir sebelum menjawab, “Bukan sih, Pak. Cuma laptop
doang, meski kayaknya engga terlalu berguna nanti.”
“Hm, saya pikir kamu akan bawa banyak barang.”
Saaochi mengikuti refleknya atas pernyataan Rhino segera
menggeleng, menggaruk pipinya canggung. “Saya engga mau ribet, lagipula barang
saya juga engga banyak sampai saya sendiri engga tau apa yang harus dibawa.”
“Begitu, ya.”
Saaochi mengangguk sebagai jawaban. Rhino mengajaknya berjalan
masuk ke dalam pesawat. Saaochi mengikuti dari belakang. Sebelum mulutnya mulai
terbuka lagi, menanyakan hal yang mengganggu pikirannya semenjak pemberitahuan
bahwa mereka akan ke Planet Xeplor.
“Ah omong-omong, apa yang akan kita lakukan nanti di sana? Maksud
saya, apakah semacam melakukan meeting penting, atau memang hanya
kunjangan saja?”
Pandangan Rhino beralih sebentar pada Saaochi, memintanya untuk
berjalan beriringan dengannya terlebih dahulu. “Aku akan berbicara dulu dengan
kepala suku mereka. Mungkin kalian bisa berjalan-jalan di sekeliling planet.”
Saaochi mengangguk, lagi-lagi menggaruk pipinya karena rasa
canggung yang memenuhi perutnya. Dia merasa perasaan aneh yang tidak nyaman
ketika mendengar hal itu. “Uhm, sendirian?”
“Ada Komandan Maula dan yang lain. Kamu tidak perlu canggung
Saaochi,” ujar Rhino. Suaranya mengalir lembut dalam indra pendengar Saaochi.
Saaochi menggeleng panik, merasa refleks canggungnya sudah
mengakibatkan kesalahpahaman. “Tidak, maksud saya, saya hanya sedikit khawatir.
Dan agak curiga juga.” Saaochi bergumam di akhir kalimat, mengalihkan
pandanganya ke samping. “Saya pikir Pak Rhino juga akan ditemani Priet.”
“Priet? Ah, tidak. Dia sedang ada urusan di tempat lain.” Rhino
menoleh pada Saaochi, tersenyum kecil. “Apa kamu merindukannya?”
Saaochi yang mendengarnya jadi kaget sendiri. Dia segera menggeleng
panik sembari mengibaskan tangannya di depan dada. “Apa, eh tidak. Kenapa saya
harus merindukannya?”
Sebelum sempat Rhino membalas, suara dari Co-Pilot terdengar
nyaring memenuhi pesawat. Memberitahukan mereka bahwa pesawat sebentar lagi
akan lepas landas.
Rhino menoleh kembali pada Saaochi, tersenyum kecil. “Kita sudah
mau berangkat. Apa kamu mau duduk bersama, Saaochi?”
Saaochi kembali dipenuhi rasa panik yang tidak nyaman. “Eh, ah.
Terima kasih Pak Rhino. Tapi, maaf Pak, saya sudah janji dengan Luisa akan
duduk bersamanya.” Tubuhnya membungkuk sedikit tanda penyesalan atas
penolakannya terhadap tawaran petinggi DianXy.
“Tidak apa-apa. Tidak usah merasa bersalah begitu.”
Saaochi hanya terkekeh canggung, menggaruk pipinya untuk kesekian
kalinya.
“Kalau begitu saya duluan.”
Saaochi mengangguk, mengucapkan salam perpisahan. Setelahnya mereka
berpisah di pintu pesawat. Saaochi masuk lebih dalam, menelusuri setiap tempat
duduk untuk menemukan Luisa. Dia menemukannya setelah mencak-mencak karena
Luisa memilih tempat duduk yang jauh. Anak itu sudah menempel di jendela seolah
terkena mabuk udara.
“Enak banget ya, ninggalin aku,” ujar Saaochi sebagai pembuka
pembicaraan sebelum dia duduk di sebelah Luisa.
Luisa menoleh, tatap Saaochi yang membuka laptop miliknya. “Kamu
‘kan lagi ngomong sama Pak Rhino.”
Saaochi tidak membalasnya. Fokus pada apa yang sedang dia lakukan. Dia
punya pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum tenggat waktu dan mengingat
tempat yang mereka kunjungi tampaknya belum mengenal teknologi, itu membuatnya
khawatir tidak bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Nah, jika Saaochi
berlibur, dia butuh menyelesaikan semua pekerjaannya agar dia tidak
terbayang-bayang akan hal ini.
Tapi, tampaknya makhluk di sebelahnya sama sekali tidak
mengizinkannya bekerja. Terus mengganggunya hingga Saaochi menyerah dan
berakhir mengajaknya bicara tanpa henti. Pada akhirnya, Saaochi malah asik
sendiri berbicara, sedangkan Luisa hampir tertidur dengan konversasi panjang
itu.