Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

 

Hari telah berganti, sudah waktunya untuk pergi rekreasi. Aku yang sudah bersiap mulai melangkahkan kaki ku menuju tempat kami berkumpul tanpa membawa sesuatu. Loh kenapa tidak membawa sesuatu? Atau kemana barang bawaan ku? Jangan-jangan aku lupa? Eitts. Hehehe, kan kemarin sudah aku titipkan pada senior favorit ku. Kenapa aku menyebut nya senior favorit? Karena dengannya aku bisa mencuri—eh maksudnya bisa menitipkan berbagai macam barang, sampai makanan. Mengobrol dengannya juga sangat menyenangkan!

 

Aku pun berjalan dan melihat yang lainnya sedang berjalan menuju ke titik dimana kami harus berkumpul. Aku pun melihat ternyata sudah ada kapten dan komandan disana. Dan kali ini aku terkejut saat melihat sebuah pesawat angkasa yang begitu besar dan megah. Wow itu terlihat mahal.

 

"Woah kerennya, ini kapal atau pesawat? Ah besar!" kagum ku ketika melihat pesawat atau kapal ya? Yah, apapun itu intinya aku melihat transportasi yang akan kami gunakan untuk rekreasi kali ini.

 

Disaat aku sedang mengagumi keindahan dan keelokkan pesawat angkasa ini aku mendengar seseorang berbicara, setelah ku lihat wajah nya ternyata itu salah satu mentor yang sedang bertanya mengenai kehadiran kami.

 

"Aman aman, tinggal jalan jalan!" Aku bersemangat hingga mengacungkan tangan ketika menjawab pertanyaannya. Jelas dong, siapa sih yang ga bersemangat ketika hendak rekreasi? Hehe.

 

Tepat ketika semua hendak memasuki pesawat angkasa itu, aku mendekati ketua dan bertanya padanya,  "Ketua ketua, apa perjalan kita memakan waktu yang lama?" ucapku penasaran. Karena aku takut di pesawat nanti, aku malah mati kebosanan. Brrr, membayangkan nya saja aku tidak mau.

 

"Cukup panjang. Tapi tenang saja, pesawat ini sudah lengkap dengan semua fasilitas. Kamu tidak akan bosan dengan perjalanan yang panjang," jawabnya sambil tersenyum.

 

Aku mengangguk-angguk mendengar jawaban ketua. Sangat menarik dan menyakinkan. Aku lalu memasuki bagian dalam pesawat. Dan, wow! Ini keren sekali. Sangat luar biasa!

 

"Hooo, keren!" Aku berbinar-binar. Selain mengingat jawaban ketua, aku juga kagum dengan bagian dalam pesawat ini.

 

Ketua mengangguk sebagai balasan jawaban ku, "Duduklah," sambungnya. Rupa-rupanya ketua masih mendengar balasan ku.

 

"Siap ketua!" Aku berpose hormat dan berseri-seri menjawabnya.

 

Benar kata ketua, aku harus mulai mencari tempat duduk. Aku melihat sekitar dan beberapa yang lain sudah mulai duduk dengan rapi dan tenang sambil bercakap-cakap. Hm, ternyata bersemangat seorang diri kurang menyenangkan. Aku menghela napas ku.

 

Di tengah perjuangan aku mencari tempat duduk yang terlihat nyaman di mataku, aku menelusuri setiap penjuru ruangan di pesawat ini untuk mencari tempat duduk yang sekiranya ada untuk ku seorang? Sampai aku merasa kalau aku hampir tersesat karena tidak melihat adanya kepala yang bisa dilihat di kursi penumpang ketika mereka bersandar di kursi. Aku panik. Tapi setelah aku kembali ke rute sebelum nya aku menemukan mereka semua. Aku menghela napas ku lagi.

 

"Hmm, enaknya duduk dimana ya? di kokpit boleh tidak ya?" gumam ku karena sudah terlalu lelah memikirkan akan duduk dimana.

 

Tapi sepertinya rencana untuk duduk di kokpit aku urungkan. Takutnya malah aku yang nanti ditendang dari pesawat mewah ini. Ga mau.

 

Tiba-tiba di tengah lamunan ku yang berada di bagian belakang kabin aku dikejutkan oleh sebuah pengumuman yang mengatakan bahwa untuk segera bersiap di kursi masing-masing karena ternyata pilot dan co-pilot akan segera melakukan penerbangan.

 

"Waduh, bagaimana ini. Oke! Itu ada tempat yang kosong, aku akan duduk disana saja," gumamku. Aku lalu berjalan dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong dan menghela napas lalu bersiap untuk melihat pesawat ini lepas landas dari dalam pesawat itu sendiri.

 

Rupa-rupanya aku tadi terlihat seperti orang hilang, yang akhirnya menemukan kerabat setelah sekian purnama berpisah. Lucu. Iya aku lucu. Hehe.

 

Pesawat mulai di terbangkan, aku melihat ke luar jendela dan menemukan bahwa ada sebuah portal raksasa yang berwarna keunguan muncul. Sepertinya portal itu yang akan membantu kami menuju tempat tujuan

 

"Woah, besar sekali portal itu," ucapku kagum.

 

Terlihat bahwa suasana di sini menjadi tenang setelah lepas landas. Aku melihat beberapa barang yang ringan tampak melayang-layang. Rupanya kita sudah mulai tidak lagi diliputi oleh gravitasi. Tapi aneh, kenapa aku tidak melayang-layang juga? Apa karena aku kebanyakan makan ya? Ga mungkin sih.

 

Menaiki pesawat angkasa seperti ini bukanlah suatu bayangan yang akan ku lakukan dimasa depan, namun ternyata di masa depan itu aku justru menaikinya. Sesuatu yang benar-benar di luar rencana kan? Tidak ada yang bisa meramal masa depan, kalau bisa sih aku juga mau. Contohnya seperti meramal apakah nanti akan ada pesta yang memiliki banyak makanan makanan manis atau tidak. Hehe.

 

Tidak terasa ternyata pesawat yang sedang ku tumpangi ini sudah meninggalkan planet Mursa. Aku menatap jendela dan melihat betapa cantiknya pemandangan di luar sana. Apa kugapai saja bintang disana? Kalau aku benar-benar menggapainya di luar sana nanti aku kehabisan udara dong? Oke aku urungkan niat itu.

 

"Oh gini rasanya terbang pake pesawat mahal, pemandangan nya cantik," Aku masih melihat ke luar jendela. Menatap cantiknya langit tak berujung ini. Sambil menerka-nerka apakah ada bintang jatuh melintas tepat di sebelah jendela ku.

 

"Hmm, aku bosan, padahal baru lepas landas," keluh ku sambil bersandar di kaca sebelahku dan masih menatap langit yang tak berujung ini.

 

Aku benar-benar bosan! Aku kembali menatap sekitar dan mengintip yang lain, sedang melakukan apa saja ya mereka? Aku penasaran. Aku bosan sendirian. Apa yang harus ku lakukan ya? Apa lebih baik aku keliling dulu? Tapi kalau nanti aku kembali tersesat bagaimana? Tidak jadi ah.

 

"Hmm. Yang lain pada ngapain ya?" tanya pada diriku sendiri dengan penasaran.

 

Di tengah-tengah sesi mengintip yang sedang aku lakukan, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku. Kalau bukan seseorang nanti seram dong.

 

"Eh?" Spontan aku menoleh dan mencari tahu siapa yang baru saja memanggil nama ku.

 

Aku pun akhirnya menemukan seseorang yang memanggil namaku barusan lalu berdiri dan menghampiri sang tuan.

 

"Ya!" Aku berjalan riang menghampiri nya, akhirnya ada yang mengajak ku bicara!

 

Seseorang itu tidak lain dan tidak bukan adalah ketua sendiri. Wah, ketua memanggilku, ada apa ya kira-kira?

 

"Boleh minta tolong?" ucap ketua sambil berbisik.

 

Aku bingung, namun setelahnya aku mengangguk.

 

"Ah, ya? Tentu! apa yang bisa saya bantu untuk ketua?" ucapku riang walau sebelumnya sedikit kebingungan karena tiba-tiba ketua meminta tolong kepada ku. Kepada ku loh? Kan bingung dan terkejut aku tuh.

 

"Boleh ambilkan minuman?" pinta ketua sambil tersenyum.

 

"Maaf merepotkan kamu." Sambungnya sambil menunjuk Nyx yang berada di pangkuannya.

 

Oho, rupanya meminta tolong toh. Kirain mau memarahi aku gara-gara ketua tidak sengaja mendengar aku yang hendak duduk di kokpit sebelumnya. Bukan karena ketua memergoki ku yang sedang mengintip sambil menyandarkan tangan dan tubuhku pada kursi di depan ku. Hehe. Toh mengintip seperti itu tidak dilarang kan? Hanya saya aku menyebutnya mengintip! Bukan berarti aku benar-benar mengintip yang tidak tidak loh.

 

"Oh!" Aku melihat yang ditunjuk ketua. Diam-diam bersyukur karena dugaan ku salah.

 

"Tentu, siap laksanakan!" Aku berpose hormat dan tersenyum kepada ketua. Lalu pergi mengambil minuman untuk ketua.

 

Sayup-sayup aku mendengar helaan napas lega di sekitar tempat duduk ketua. Apa ketua yang menghela napas lega barusan? Wow, kalau memang benar berarti telingaku berfungsi dengan baik.

 

Aku yang senang bersenandung pelan sambil berjalan mencari ruang harta karun. Ya, tempat dimana ada makanan atau minuman, itu ku sebut sebagai ruang harta karun. Ah, aku menemukannya! Aku lalu mengambil beberapa jenis minuman.

 

Setelahnya aku kembali ke ketua, dengan beberapa buah minuman di genggaman ku.

 

"Ini ketua! Silahkan dipilih." Aku memperlihatkan minuman yang ada di tangan ku sambil berseri-seri.

 

Ketua pun mengambil salah satu minuman yang aku bawa.

 

"Terima kasih Naretta. Sini, kemarikan tanganmu." Ketua mengayunkan tangannya.

 

"Iyap! Dengan senang hati ketua," ucapku dengan senyuman.

 

Aku sedikit kebingungan ketika ketua meminta ku untuk mengulurkan tangan ku. Namun aku tetap mengulurkan tangan ku ke arah ketua. Untuk apa ya kira-kira?

 

"Ada apa ketua?" tanyaku. Walau aku sudah mengulurkan tangan ku, aku tetap penasaran, untuk apa ketua berkata begitu. Hmm.

 

Ketua pun mengambil tangan ku dan tiba-tiba muncul sedikit cahaya ketika ketua menggenggam tangan ku? Sepertinya itu alasan kenapa cahaya bisa muncul.

 

"Ucapan terima kasih, satu tahun untukmu." Ketua pun melepaskan tangannya lagi.

 

Aku terkejut. Benar-benar terkejut.

 

Apa kata nya? Satu tahun untukku? Satu tahun? Satu? Tahun?! Wow! 

 

"O-oh!" Aku melihat tangan ku sendiri lalu melihat ketua.

 

"Eh? Eh eh? Serius ketua?" ucapku masih sedikit tidak percaya. Namun,

 

"Woohoo! Yippee! Panjang umur satu tahun!" Aku melompat lompat kecil karena senang. Iya lah senang. Siapa sih yang ga mau usia tambahan? Rugi dong kalau ga mau. Lumayan kan satu tau lebih panjang dari yang lain, khekhekhe.

 

Ketua mengangguk mendengar pertanyaan ku. Oh, sudah tervalidasi nih. Hohoho, panjang umur satu tahun!

 

Oke kita tunda dulu dan rayakan lagi setelahnya. Aku pun menunduk hormat kepada ketua sambil masih memegang minuman lebih yang ku bawa dan berterima kasih.

 

"Terima kasih juga ketua!" ucapku dengan gembira. Aku lalu berjalan lagi ke tempat duduk ku sambil masih menatap tangan ku yang sebelumnya bersinar akibat kekuatan ketua.

 

"Luar biasa," gumamku sambil tersenyum senang.

 

Aku pun kembali duduk dan menghabiskan minuman yang sebelumnya kubawa setelah membantu dan mendapat hadiah luar biasa dari ketua. Aku pun menatap ke luar jendela, menanti dan kembali menerka-nerka apa yang akan terjadi nantinya.

 

--|🚀