03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Fadeyka PoV
.
.
.
“Wah. Ini lebih besar dari kapal alien yang pernah kunaiki sebelumnya.”
Melihat pesawat angkasa itu, aku merasa nostalgia. Saat pertama kali aku sampai ke planet ini aku pernah satu kali menaiki alat transportasi seperti itu.
Ah.. Mengingatnya membuat rasa bersalahku meninggalkan ‘mereka' kembali muncul. Aku tidak sempat berpamitan, itu buruk kan? Aku memejamkan mataku, menghela nafas. Sekarang bukanlah waktu untuk mengingatnya. Membuka mataku kembali, langkahku ragu saat yang lain terlihat antusias melihat pesawat itu.
Tidak-tidak, aku tidak boleh menunjukkan nya. Bersikaplah normal seperti biasanya. Semuanya berbeda, ini tidak akan sama seperti terakhir kali. Semuanya akan baik-baik saja, aku meyakinkan diriku sendiri. Tapi entah kenapa aku merasa perjalanan ini akan membawa kami kepada suatu hal... Entahlah, tidak ada satu misi tanpa suatu kejutan, mungkin yang ini juga sama.
.
.
Aku melangkahkan kakiku masuk, udara dingin langsung membuatku merinding, apa mereka menyebutnya? AC? Ya.. Sesuatu semacam itu. Aku berjalan dengan diam, tanpa memperhatikan sekitarku.
Setelah aku mengambil tempat duduk tanpa pikir panjang, baru aku mulai mendengarkan suara-suara yang tadi ku abaikan. Yang lain tampak antusias, mereka sibuk merapikan koper bawaan mereka. Sayang sekali aku tidak perlu melakukan hal merepotkan seperti itu, ini merupakan salah satu manfaat kemampuanku yang kubanggakan. Aku tersenyum tipis memikirkannya.
Saat aku mulai tenggelam dalam pikiranku, aku mendengar seseorang yang mengeluh tentang tidak adanya alat untuk mendeteksi benda mencurigakan. Ya... Benar juga, siapa tahu ada yang membawa bom dan meledakkannya di dalam pesawat, itu tidak lucu sama sekali.
“Hee...Menurutku sudah pasti ada yang membawa alat semacam itu.” Tanpa kusadari aku menjawab. Orang itu, dia melihat kearahku dan tampak berpikir sebentar. Ah, mungkin dia memikirkan jawabanku.
Lagi pula memang benar, pasti ada yang membawa hal semacam itu, diam-diam aku memikirkan Machine gun yang dititipkan Arumi padaku. Bukannya aku juga tidak membawa benda semacam itu.
“Jika kakak mengizinkan aku akan duduk di samping kakak,” ucapnya tiba-tiba.
Aku mengerjap, sebelum memperhatikannya lebih jelas. Ah sepertinya dia dari gen 4, Zeo namanya jika aku tidak salah, aku tidak pandai mengingat wajah seseorang. Aku berusaha menunjukkan ekspresi bingung sesaat, sebelum menepuk kursi disebelah-ku dan memberinya senyum lembut.
“Seakan-akan aku ini siapa. Tentu saja.”
Aku memperhatikannya saat dia tampak lega, tak lama dia mengucapkan terima kasih dengan semangat dan mulai meletakkan barang bawaannya dan duduk disamping-ku.
“hehe... Aku khawatir jika tidak bertanya, siapa tahu tempat ini sudah di tempati oleh orang lain... Jadi aku bertanya lebih dulu,” ucapnya.
“Hmm? Awalnya? Mungkin ya?” Aku memikirkannya sebentar. Ya. Aku juga tidak tahu, aku tidak berniat memaksa seseorang untuk bergabung di dekatku. Namun sepertinya aku memang berpikir untuk mengajak seseorang sebelumnya. Sejenak aku menyadari bahwa aku tidak melihatnya sejak naik ke pesawat, mungkin dia sudah bergabung dengan yang lain.
“Tapi kupikir siapa cepat dia dapat? Ini bukan kapal ku jadi aku tidak bisa berbuat seenaknya kan?” lanjutku.
“Ah, begitu rupanya.” Dia, Zeo. Tersenyum sedikit. Ah... Apa aku membuatnya tersinggung.
“Tidak apa-apa, haha,” balasku tanpa sadar. Aku hendak meminta maaf namun dia dengan cepat mengganti topik.
“Ah ya, kak Rhino tadi bilang akan ada pesta di planet Xeplor, apakah kak Fadeyka akan ikut?” Mendengar itu aku menatapnya sebentar dan memiringkan kepalaku sedikit.
“Ya. Kurasa kita tamu disana kan? Itu artinya kita bisa datang kalau diperbolehkan.” Ya, tentu saja akan ada pesta kan, kalo aku mengingatnya mentor belum memberitahu tujuan kita pergi ke sana, walaupun samar-samar aku mendengar beberapa bisikan terkait tujuan mereka.
“Yap! Kita tamu disana, itu akan menyenangkan jika kita datang di sana dan berinteraksi dengan member lain.” Zeo terlihat antusias. “Mungkin sajian makanan nya yang lezat,” tambahnya sambil terkekeh lembut.
Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Tak lama terdengar suara yang menggema dari ruang kendali, memperingatkan mereka untuk bersiap-siap lepas landas.
.
.
Aku memejamkan mataku dan menikmati deru mesin yang siap terbang, rasanya menenangkan, berbeda dengan terakhir kalinya. Perlahan aku membuka mataku dan menatap kosong keluar jendela pesawat, tanpa sadar aku jatuh kedalam pikiranku sendiri. Kapan pastinya ini dimulai, aku tidak mengingatnya.
Sejak kapan saat aku meninggalkan bumi? Aku tidak tahu, sejenak pikiranku kembali pada saat terakhir kali meninggalkan bumi. Aku sedikit menyesal tidak sempat berpamitan, tapi jauh dari itu, aku tidak merasa menyesal meninggalkan bumi, lagipula tempat pulangku sudah runtuh sejak lama. Aku memejamkan mataku kembali, terhanyut dalam kenangan-kenangan yang ingin kulupakan dan membuatku mengerutkan kening.
Sejenak aku menyadari tempatku sekarang, sejak aku bergabung dengan organisasi ini, aku memang tidak pernah merasakan ikatan yang khusus. Awalnya aku cukup terkejut bahwa seseorang dengan kemampuan khusus bukan hanya diriku. Tentu saja di bumi aku tidak pernah bertemu dengan manusia sepertiku, dan ya.. Disini tidak terlalu buruk. Terlepas dari fakta mereka sama sepertinya, mereka relatif sama seperti orang-orang yang aku temui dibumi, dan aku tidak terlalu kesulitan bergaul dengan mereka.
Sejenak aku melirik orang disamping-ku. Mungkin aku terlalu menyelami masa lalu sebelum kembali kemasa kini, kulihat Zeo tampak termenung, mungkin dia juga bernostalgia? Aku kembali memakai topeng.
“Eh? Ada apa? Memikirkan sesuatu?” tanyaku lembut, menunggunya menjawab. Tak lama dia menoleh kearahku dan menjawab dengan suara lelah, “Ah... Tidak... Aku hanya mengantuk, semalam aku membereskan koper ku, jadi aku belum sempat tidur.” Zeo tersenyum tipis sambil mengelus tengkuk lehernya. Aku mengerjapkan mata, sejenak aku baru menyadarinya, dia memang tampak kelelahan sejak awal.
“Hee. Wajar saja, kalau begitu tidur saja. Kursinya nyaman untuk beristirahat,” tawarku ringan, sebelum melanjutkan, “Tidak baik memaksakan diri.” Aku berusaha untuk tersenyum lembut kearahnya. Diam-diam memberitahunya tanpa kata-kata bahwa aku tidak keberatan dan tidak akan mengganggunya.
Gadis itu terdiam sebentar, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu tak lama dia menjawab dengan nada mengantuk “Baiklah... mungkin tidur 30 menit cukup untuk ku..” Tanpa banyak usaha dia mulai bersandar di kursi dan perlahan memejamkan matanya.
Tanpa sadar aku terkekeh, lucu rasanya melihat seseorang jatuh tertidur semudah itu, kupikir dia akan merasa tidak nyaman atau sebagainya, tapi tampaknya dia sudah cukup lelah dan tidak bisa menahan diri.
“Ya.. bersantai lah. Aku akan membangunkan mu jika sudah sampai,” ucapku pelan, sebelum pandanganku beralih kembali ke arah jendela. Ah.. Ngomong-ngomong aku benar belum melihatnya sampai sekarang, aku memutar kepalaku dan melihat sekeliling, yang lain juga tampaknya kelelahan.
Beberapa dari mereka masih asyik dengan dunia mereka dan beberapa sudah menyerah pada rasa kantuk. Saat itulah aku tanpa sengaja menangkap siluetnya dari sudut mataku, saat aku menyipitkan mata aku bisa melihatnya sedang mengobrol dengan ketua, tampaknya dia baik-baik saja. Tanpa sadar aku tersenyum tipis.
Aku kembali berbalik dan meregangkan tubuhku ringan, berusaha agar tidak mengganggu Zeo yang tertidur di kursi sampingku. Merebahkan kepalaku ke kursi pesawat yang nyaman ini, perlahan aku memejamkan mataku, orang-orang mungkin akan berfikir aku tertidur jika melihatku. Namun nyatanya aku jauh dari kata lelah, ya... Kembali pada pikiranku, banyak yang telah kualami di tempat ini, walaupun paling banyak di antaranya merupakan kejadian yang lumayan tidak menyenangkan, tapi sejujurnya aku menikmatnya.
Tersenyum pada diriku sendiri, aku menarik topiku untuk menutupi wajahku dan berkata dalam keheningan.
“lagipula aku tidak menyesali ini sejak awal.”
.
.
.
End PoV