03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Di tengah hiruk pikuk ruangan yang terasa amat ramai, terlihat dua insan yang sedang bercengkrama akrab. Gadis dengan rambut gulali itu tampak takjub dengan hal yang dilihatnya sekarang, yang tak lain adalah sebuah pesawat luar angkasa. Besarnya membuat gadis bernama Kurageko itu berceletuk, "Woah! Besar banget pesawatnya!" Takjubnya.
Laki-laki dengan sorot tak bersemangatnya itu menoleh pada sang gadis yang berada disebelah kirinya, menyahut pelan. "Ya, kamu benar. Pesawat ini kira-kira bisa muat berapa orang, ya?"
Mendengar hal itu Kurageko ikut tertarik untuk membahasnya. Kurageko menaruh telunjuk pada pipinya, mencoba berpikir. Gadis itu menatap Cavin kembali dengan sorot semangat.
"Sepertinya aku tahu!"
"..... Apa?"
"Bisa muat untuk semua murid dan mentor!"
Pernyataan Kurageko membuat Cavin menyipitkan matanya, kesal. Cavin sudah berharap untuk jawaban yang serius.
"... Berharap apa coba aku sama kamu."
"Jahat!"
Disisi lain mentor sedang memeriksa kehadiran para murid. Memperhatikan sekitar dengan seksama. "Semuanya sudah disini? Yang terlambat akan ditinggal."
Mendengar suara itu Cavin dan Kurageko menoleh. Kurageko tersenyum kecil dan berjalan lebih cepat menuju pintu masuk. "Cavin! Ayo cepat!"
Cavin menatap Kurageko datar, "aduh, anak ini."
Melihat Cavin yang susah-susah menyusulnya, Kurageko tertawa kecil. "Aduh maaf deh."
"Eh, omong-omong. Didalam sana ada jajanan gak ya?!" Kurageko teringat hal yang amat penting baginya, yaitu sebuah camilan. Cavin melirik kearah Kurageko yang sedang berkutat dengan pikiran nya. Menurut Kurageko ini adalah masalah serius.
"Tidak tahu. Kita lihat saja nanti." Ketus Cavin.
Mendengar itu Kurageko menunduk lesu, "begitu? Kapan kita masuk? Sekarang? atau nanti?" Sorot bercahayanya memudar akibat tidak mendapat kabar soal camilan.
Melihat tingkah Kurageko membuat Cavin tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. Tangan Cavin terangkat untuk mengelus sang rambut gulali yang berada disamping kirinya pelan dan lembut.
"Tunggu perintah, oke?" Kata Cavin sembari mengelus rambut Kurageko.
Sembari menikmati elusan yang ia terima, Kurageko mengangkat sedikit kepalanya untuk menatap Cavin. "Hmm baiklah ... Cavin bawa camilan tidak?" Kata Kurageko dengan nada manja.
Cavin menghentikan elusan pada Kurageko dan menatap wajah melas gadis didepan nya. Cavin menatap wajah itu lamat-lamat sembari berpikir dan mengingat-ingat apa yang dibawanya.
"Sepertinya aku ada permen stroberi. Kamu mau?" Tawar Cavin pada Kurageko.
Mendengar itu wajah melas Kurageko berubah menjadi wajah yang penuh semangat, "seriusan!? Mau-mau!! Tumben sekali kamu bawa stroberi, biasanya coklat!" Celetuk Kurageko menyadari hal yang berbeda.
"Hanya kebetulan bawa aja sih ... Nih" Cavin memberikan beberapa permen dengan rasa stroberi pada Kurageko.
Kurageko melahap permen pemberian Cavin dengan lahap. "Ummm ... Rasanya aku seperti mendapatkan energi lagi!" Kata Kurageko yang sedang memejamkan mata menikmati manis permen stroberi.
Cavin mendengus pelan, "Dasar." Mendengar hal itu gadis berambut gulali itu hanya menjulurkan lidah, "hehe."
Melupakan kegiatan yang mereka lakukan sejenak, "kayaknya kita udah disuruh masuk deh." Kata Kurageko menunjuk-nunjuk pintu masuk. Cavin mengangguk pelan sebagai jawaban.
Ditengah perjalanan, Cavin dan Kurageko bertemu dengan Heizhou si hantu. Melihat Heizhou yang sendirian Kurageko menyapanya dengan lambaian, berharap Heizhou melihatnya.
Menyadari ada yang melambai kearahnya Heizhou membalas pelan, "Cavin, Kura."
"Heizhou! Yo!"
"Yo."
Heizhou menatap kearah permen yang Cavin pegang dengan tatapan penasaran.
"Mau."
"Bayar." Jawab Cavin menjulurkan lidah.
"Nih bayar." Ucap Heizhou sebelum memberantakan rambut Cavin pelan dan mengambil permen nya.
Cavin reflek menatap kesal kearah Heizhou. "Ugh ... Dasar." Tukas Cavin membenarkan tatanan rambutnya.
"Eh ayo masuk, Heizhou, Cavin!" Heboh Kurageko sembari menarik tangan kedua teman nya. Heizhou dan Cavin hanya bisa berpasrah dengan keadaan, toh mereka bertiga memang akan duduk bersama.
Sesampainya mereka ditempat duduk, dan setelah berebut soal siapa yang duduk dekat jendela. Mereka kembali bercengkrama.
"Eh, aku baru sadar kamu hari ini gak pakai jepitan rambut" Ucap Kurageko yang mengarah ke Cavin. Sejak awal laki-laki bersurai kemerahan itu tidak memakai jepitan yang biasa dipakainya.
"Ah. Bukan apa-apa, hanya ketinggalan kok." Jawab Cavin meyakinkan Kurageko.
Gadis bersurai gulali itu menyipitkan mata curiga. Hal itu sangat tidak mungkin. Seorang Cavin ceroboh dan melupakan hal penting itu sangat tidak mungkin.
"Yang benar? Gak nangis kalau tertinggal?" Goda Heizhou. Kurageko mendengar itu tertawa kecil, "pfft-"
"Eh, aku bawa jepitan sih. Mau pakai punyaku dulu?"
"Enggak, makasih."
"Hee ~~ Yasudah kalau tidak mau."
Selang beberapa menit. Pesawat lepas landas dan segera meninggalkan Planet Mursa.
Kurageko kembali disuguhkan dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pemandangan luar angkasa sangat luar biasa. Membuat dirinya terkagum akan keindahan yang ada.
"Woah .... Teman-teman, lihat! Cantik banget!" Panggil Kurageko kepada Cavin dan Heizhou untuk melihat kearah jendela. Mereka bersama-sama melihat keindahan luar angkasa dibalik kaca jendela.
-End