Isi Cerita
Rhino La Cheiros

Rhino mengangkat koper kecilnya itu dan masuk ke area pesawat. Sayup-sayup, bisa ia dengar dan lihat sosok Maula tengah berbincang dengan pilot mereka–Geist. Melihat betapa mesranya mereka, Rhino tidak berniat mengganggu.

 

Rhino berjalan sendirian hingga sampai di depan pintu pesawat yang terbuka lebar. Tatkala ia tengah melamun sesaat, tahu-tahu Maula sudah menghampirinya dan meninggalkan Geist yang cemberut di ujung sana.

 

“Rhino, mau saya bantu?” tawar Maula. Rhino langsung saja menggelengkan kepala sambil menunjukkan koper kecil yang tengah ia pegang.

 

“Aku dengan sengaja membawa koper kecil agar bisa  kubawa sendiri. Tapi Kak Maula masih tetap menawarkan bantuan.” Rhino lantas tertawa kecil atas leluconnya sendiri. “Hati kecilku sebagai laki-laki agak tersakiti.”

 

“Maaf, saya pikir kamu membawa barang lain,” balas Maula cepat. Tidak ingin pemuda itu tersinggung dengan kata-katanya. Tanpa ia tahu bahwa Rhino hanya sedang bercanda saja. “Tapi membawa pakaian di koper sekecil itu, apa cukup?”

 

“Ah. Isi koper ini bukan pakaian.”

 

“Lalu?”

 

“Uang.”

 

Belum sempat Maula memberikan reaksi untuk terkejut atau yang lainnya. Mereka berdua sama-sama menoleh ketika mendengar suara langkah kaki dan riuh, berdatangan dari satu sisi. Rupanya mentor beserta anggota telah datang bersamaan dengan barang bawaan mereka, hendak masuk ke dalam pesawat.

 

Beberapa menyapa, ditanggapi penuh santun oleh Rhino dan Maula.

 

Sementara itu, Rhino memperhatikan satu-persatu muridnya. Mencoba menerka apa saja barang-barang yang tengah mereka bawa.

 

“Ketua! Commander!” Saaochi berteriak dari kejauhan, lantas mendekati kedua atasannya dengan tergesa-gesa.

 

“Oh, Saaochi.” Rhino dan Maula sama-sama memperhatikan gadis itu. Setelah sedikit berbincang-bincang, Maula dan Saaochi memutuskan untuk masuk ke dalam terlebih dahulu. Mereka berdua tampak melanjutkan percakapan.

 

Sementara itu, Rhino dihampiri oleh salah satu anggota. “Permisi, Tuan Cheiros. Apa saya boleh membawa peliharaan saya untuk ikut masuk ke dalam pesawat?”

 

Mendengar itu, pikiran Rhino berlabuh pada burung raksasa peliharaan Sienna yang bernama Nyx. Mengetahui bahwa burung tersebut pasti memiliki bulu yang lembut dan hangat, manik Rhino sedikit berbinar. “Boleh. Bisa kubantu dengan membawanya bersamaku kalau dipersilahkan.”

 

“Oh.” Gadis itu berpikir sejenak. “Tentu.” Nyx yang kala itu berdiri di sebelah Sienna, langsung melepaskan semua barang bawaan majikannya dan meluncur ke arah Rhino menjadi berukuran kecil. Sedangkan Rhino sendiri dengan antusias mendekap Nyx dalam pelukannya.

 

“Apakah boleh?”

 

“Tentu, dia akan tenang bersama anda.”

 

***

 

Rhino duduk dengan tenang, bersama Nyx yang tertidur pulas di pangkuannya. Sesekali tangan pemuda itu menyisir dengan lembut bulu-bulu itu. Merasakan halusnya seekor burung.

 

Pesawat telah lepas landas beberapa detik yang lalu. Mereka telah meninggalkan planet Mursa, planet yang sudah ia pijaki beberapa tahun bersama Maula dan rekan-rekannya.

 

Setelah menginjakkan kaki pertama kali di Mursa bersama Maula. Dan bertemu Priet juga. Lalu rekrutan pertama yang ia bawa adalah Key, seorang bocah berumur empat belas tahun yang kehilangan ingatannya. Dengan penuh kasih sayang, Rhino menuntun gadis itu untuk pergi ke DianXy bersamanya.

 

Lagi-lagi Rhino melirik ke arah Maula. Tampak begitu menikmati pemandangan di luar jendela. Ia melirik lagi ke arah lain, tampak beberapa siswa memang begitu antusias karena baru pertama kali menaiki pesawat dan terbang keluar dari planet.

 

Bagi Rhino sendiri, hal pertama yang terjadi ketika pertama kalinya ia mengendarai pesawat angkasa sendirian. Adalah hal yang paling menakutkan dalam hidupnya. Momen dimana ia harus meninggalkan seluruh planetnya dan melarikan diri sendirian ke luar planet yang tidak ia kenal.

 

Beruntung ia bertemu dengan Maula yang baik hati dan mau mengurusnya hingga beberapa tahun.

 

‘Aduh, haus,’ batin Rhino.

 

Ia melirik ke arah belakang, tampak seorang gadis bersurai hijau tengah melirik-melirik teman-temannya dengan kebingungan.

 

“Naretta.” Gadis itu menoleh. “Kemarilah.” Rhino memberi kode untuk mendekat.

 

Tanpa basa-basi, Naretta langsung mendekat. Sementara itu, Rhino berbisik kecil. “Bisa aku meminta bantuanmu?”

 

“Tentu saja!” jawabnya tanpa ragu-ragu. “Apa yang Ketua butuhkan?”

 

“Aku haus. Bisakah kamu mengambilkan minuman?” Rhino menunjuk ke arah Nyx yang tertidur lelap di pangkuannya. “Aku tidak tega membangunkannya.”

 

“Oh, baik. Tunggu sebentar.” Naretta langsung menghilang dari pandangan, pergi untuk mengambil minuman. Tak selang beberapa lama, ia telah kembali dengan segelas minuman. “Ketua, ambillah.”

 

“Terima kasih.” Rhino mengambil minuman tersebut dan menaruhnya di meja kecil yang ada di antara kursi miliknya dan Maula. “Kemarikan tanganmu.”

 

“Tangan?” Meskipun bingung. Ia menjulurkan tangan tersebut.

 

Rhino menyentuhnya. Muncul sedikit cahaya. Setelah itu, ia menarik tangannya kembali dengan sedikit tersenyum. “Ucapan terima kasih, satu tahun untukmu.”

 

“Woah! Benarkah? Terima kasih, Ketua!” Ia tampak antusias. Dan kemudian pamit undur diri untuk kembali ke kursinya.

 

Rhino mengambil minuman itu dan meminumnya. Tak selang beberapa lama, ia menutup matanya, mulai merasa kantuk karena tidak ada yang bisa ia lakukan.

 

Dan perjalanan terus berlanjut, membawa mereka ke tempat yang akan mereka tuju.

 

***

 

To be continued…