03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Rhino mengangkat koper kecilnya itu
dan masuk ke area pesawat. Sayup-sayup, bisa ia dengar dan lihat sosok Maula
tengah berbincang dengan pilot mereka–Geist. Melihat betapa mesranya mereka,
Rhino tidak berniat mengganggu.
Rhino berjalan sendirian hingga
sampai di depan pintu pesawat yang terbuka lebar. Tatkala ia tengah melamun
sesaat, tahu-tahu Maula sudah menghampirinya dan meninggalkan Geist yang
cemberut di ujung sana.
“Rhino, mau saya bantu?” tawar
Maula. Rhino langsung saja menggelengkan kepala sambil menunjukkan koper kecil
yang tengah ia pegang.
“Aku dengan sengaja membawa koper
kecil agar bisa kubawa sendiri. Tapi Kak
Maula masih tetap menawarkan bantuan.” Rhino lantas tertawa kecil atas
leluconnya sendiri. “Hati kecilku sebagai laki-laki agak tersakiti.”
“Maaf, saya pikir kamu membawa
barang lain,” balas Maula cepat. Tidak ingin pemuda itu tersinggung dengan
kata-katanya. Tanpa ia tahu bahwa Rhino hanya sedang bercanda saja. “Tapi
membawa pakaian di koper sekecil itu, apa cukup?”
“Ah. Isi koper ini bukan pakaian.”
“Lalu?”
“Uang.”
Belum sempat Maula memberikan reaksi
untuk terkejut atau yang lainnya. Mereka berdua sama-sama menoleh ketika
mendengar suara langkah kaki dan riuh, berdatangan dari satu sisi. Rupanya
mentor beserta anggota telah datang bersamaan dengan barang bawaan mereka,
hendak masuk ke dalam pesawat.
Beberapa menyapa, ditanggapi penuh
santun oleh Rhino dan Maula.
Sementara itu, Rhino memperhatikan
satu-persatu muridnya. Mencoba menerka apa saja barang-barang yang tengah
mereka bawa.
“Ketua! Commander!” Saaochi
berteriak dari kejauhan, lantas mendekati kedua atasannya dengan tergesa-gesa.
“Oh, Saaochi.” Rhino dan Maula
sama-sama memperhatikan gadis itu. Setelah sedikit berbincang-bincang, Maula
dan Saaochi memutuskan untuk masuk ke dalam terlebih dahulu. Mereka berdua
tampak melanjutkan percakapan.
Sementara itu, Rhino dihampiri oleh
salah satu anggota. “Permisi, Tuan Cheiros. Apa saya boleh membawa peliharaan
saya untuk ikut masuk ke dalam pesawat?”
Mendengar itu, pikiran Rhino
berlabuh pada burung raksasa peliharaan Sienna yang bernama Nyx. Mengetahui
bahwa burung tersebut pasti memiliki bulu yang lembut dan hangat, manik Rhino
sedikit berbinar. “Boleh. Bisa kubantu dengan membawanya bersamaku kalau
dipersilahkan.”
“Oh.” Gadis itu berpikir sejenak.
“Tentu.” Nyx yang kala itu berdiri di sebelah Sienna, langsung melepaskan semua
barang bawaan majikannya dan meluncur ke arah Rhino menjadi berukuran kecil.
Sedangkan Rhino sendiri dengan antusias mendekap Nyx dalam pelukannya.
“Apakah boleh?”
“Tentu, dia akan tenang bersama
anda.”
***
Rhino duduk dengan tenang, bersama
Nyx yang tertidur pulas di pangkuannya. Sesekali tangan pemuda itu menyisir
dengan lembut bulu-bulu itu. Merasakan halusnya seekor burung.
Pesawat telah lepas landas beberapa
detik yang lalu. Mereka telah meninggalkan planet Mursa, planet yang sudah ia
pijaki beberapa tahun bersama Maula dan rekan-rekannya.
Setelah menginjakkan kaki pertama
kali di Mursa bersama Maula. Dan bertemu Priet juga. Lalu rekrutan pertama yang
ia bawa adalah Key, seorang bocah berumur empat belas tahun yang kehilangan
ingatannya. Dengan penuh kasih sayang, Rhino menuntun gadis itu untuk pergi ke
DianXy bersamanya.
Lagi-lagi Rhino melirik ke arah
Maula. Tampak begitu menikmati pemandangan di luar jendela. Ia melirik lagi ke
arah lain, tampak beberapa siswa memang begitu antusias karena baru pertama
kali menaiki pesawat dan terbang keluar dari planet.
Bagi Rhino sendiri, hal pertama yang
terjadi ketika pertama kalinya ia mengendarai pesawat angkasa sendirian. Adalah
hal yang paling menakutkan dalam hidupnya. Momen dimana ia harus meninggalkan
seluruh planetnya dan melarikan diri sendirian ke luar planet yang tidak ia
kenal.
Beruntung ia bertemu dengan Maula
yang baik hati dan mau mengurusnya hingga beberapa tahun.
‘Aduh, haus,’ batin Rhino.
Ia melirik ke arah belakang, tampak
seorang gadis bersurai hijau tengah melirik-melirik teman-temannya dengan
kebingungan.
“Naretta.” Gadis itu menoleh.
“Kemarilah.” Rhino memberi kode untuk mendekat.
Tanpa basa-basi, Naretta langsung
mendekat. Sementara itu, Rhino berbisik kecil. “Bisa aku meminta bantuanmu?”
“Tentu saja!” jawabnya tanpa
ragu-ragu. “Apa yang Ketua butuhkan?”
“Aku haus. Bisakah kamu mengambilkan
minuman?” Rhino menunjuk ke arah Nyx yang tertidur lelap di pangkuannya. “Aku
tidak tega membangunkannya.”
“Oh, baik. Tunggu sebentar.” Naretta
langsung menghilang dari pandangan, pergi untuk mengambil minuman. Tak selang
beberapa lama, ia telah kembali dengan segelas minuman. “Ketua, ambillah.”
“Terima kasih.” Rhino mengambil
minuman tersebut dan menaruhnya di meja kecil yang ada di antara kursi miliknya
dan Maula. “Kemarikan tanganmu.”
“Tangan?” Meskipun bingung. Ia
menjulurkan tangan tersebut.
Rhino menyentuhnya. Muncul sedikit
cahaya. Setelah itu, ia menarik tangannya kembali dengan sedikit tersenyum.
“Ucapan terima kasih, satu tahun untukmu.”
“Woah! Benarkah? Terima kasih,
Ketua!” Ia tampak antusias. Dan kemudian pamit undur diri untuk kembali ke
kursinya.
Rhino mengambil minuman itu dan
meminumnya. Tak selang beberapa lama, ia menutup matanya, mulai merasa kantuk
karena tidak ada yang bisa ia lakukan.
Dan perjalanan terus berlanjut,
membawa mereka ke tempat yang akan mereka tuju.
***
To be continued…