Isi Cerita
Maula Syndulla

ARC 2 CHAPTER 2

GO TO XEPLOR’S PLANET

 

Setelah Maula memberitahu setiap mentor dan juga setiap anggota, dia juga memberitahu ketua pilot DianXy yakni Geist. Ya, mereka pernah bertemu sebelumnya dan juga Maula sendiri yang merekrut Geist meskipun dia adalah mantan penjahat.

Kini dia berdiri di samping Geist untuk menanyakan persiapan keberangkatan menuju planet Xeplor. “Bagaimana? Apa semuanya sudah siap?”

Sosok pria berseragam pilot menoleh kepada Maula yang berbicara kepadanya. Senyum wanita itu tampak manis, yang membuat Geist cukup terpesona ketika melihatnya.

Geist menghela nafasnya. “Maula,” ia menoleh kembali kepada Maula lalu menunduk untuk melihat sarung tangan yang ia pakai.

“Hmm?” Maula berdehem kecil nan lembut.

“Kau pergi juga?” tanya Geist membuat Maula menoleh kembali kepadanya, saling bertatapan.

“Maksudku, apa kau harus benar-benar pergi juga?” lanjut Geist.

Maula menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. “Tentu saja, Rhino akan pergi. Jadi sudah pasti aku akan ikut dengannya.” Jawaban Maula membuat Geist merasa tertekan. Ia mengelus tengkuk membuat Maula menaikkan sebelah alis matanya.

“Dia laki-laki.” Lanjut Geist.

“Aku tahu.”

Tidak hanya sekali atau dua kali saja Geist sering melihat sosok Rhino yang selalu diawasi oleh Maula. Bagi seorang pria seperti Geist yang pernah memburu dan melawan Maula saat itu, ia paham jika kekuatan Maula tidak hanya bisa asal pandang saja. Dengan jenis kelamin wanita, tidak menjadi rintangan bagi wanita tersebut untuk memiliki posisi yang cukup tinggi.

“Kamu meremehkan Rhino?” celetuk Maula.

Geist sedikit terkejut ketika Maula memberikan pertanyaan tersebut. Ia menoleh kembali kepada Maula. Matanya yang tidak tertutup oleh penutup mata sekilas terpaku kepada Rhino yang sedang mereka bicarakan. Rhino sedang berdiri di depan pintu masuk pesawat angkasa dengan membawa satu koper kecil.

Geist menghela nafasnya kembali. “Bagaimana bisa aku meremehkan pemimpin aku sendiri,” ujarnya.

“Aku hanya penasaran mengenai kekuatannya. Jika dia begitu kuat seperti yang kau katakan, kenapa ia membutuhkanmu di sampingnya?” lanjut Geist.

“Kau meremahkannya, Geist.” Jawab Maula.

“Aku tidak---“ Geist menggelengkan kepalanya.

Namun melihat Maula tersenyum sambil memberi ekspresi tidak mempercayainya, Geist tidak lagi melanjutkan kata-katanya.

“Kita akan segera berangkat.”

Maula hendak akan menghampiri Rhino namun berhenti dan menoleh kepada Geist, menghampirinya kembali. “Pakailah.” Maula memakaikan topi pilot ke atas kepala Geist lalu merapihkan dasi serta jasnya. “Supaya terlihat rapih.” Ujar Maula sembari tersenyum dan berjalan kembali kepada Rhino.

Maula hendak melangkahkan kembali kakinya menuju Rhino, “Maula.” Maula menoleh kembali kepada Geist yang memanggilnya. “Aku mungkin mantan penjahat tetapi... ada baiknya kamu juga berhati-hati ketika tiba di planet yang akan kita kunjungi.”

Maula tersenyum dan mengganggukkan kepalanya. “Tetap saja kau ini seorang wanita...” gumam Geist.

Setelah itu, Maula berjalan menghampiri Rhino di depan pintu masuk pesawat. Sekilas, Rhino menoleh kepada Geist. Tatapan mereka saling bertemu.

“Cemburu.”

Maula melirik kepada Rhino namun Rhino menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil dan berkata, “Bukan apa-apa.”

Lalu Maula sendiri menawarkan untuk mengangkat kopernya. “Tidak perlu, kak Maula. Aku sendiri sengaja membawa koper kecil ini.” Ujarnya dengan sedikit terkekeh. “Hatiku sebagai laki-laki sedikit terluka.”

“Maaf, aku pikir kamu membawa barang yang lain atau barang yang berat.” Maula menatap koper tersebut. “Tapi apa itu cukup? Membawa pakaian ke dalam koper kecil tersebut?”

“Ah ini? Ini bukan pakaian isinya.”

“Lantas apa?”

“Uang.”

Percakapan mereka berdua segera terhenti ketika mendengar suara langkah kaki setiap anggota yang datang kemari bersama para mentor. Salah satu mentor menyapa dengan hangat, diikuti dengan setiap anggota memberikan salam kepada Rhino dan Maula.

.

.

.

Geist sendiri masuk ke ruang kemudi yang didalamnya sudah ada Zean. “Kapten,” Sapa Zean kepada Geist yang baru saja masuk ke ruang kemudi. Terlihat ekspresi wajah Geist begitu kusam. “Ditinggalkan lagi oleh kekasihmu?” lanjutnya.

“Diam, Zean.” Jawab Geist.

“Oke.” Zean mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mereka berdua mulai memakai peralatan dan menghidupkan pesawat. Setelah memastikan semuanya siap dan tidak adanya masalah. Zean memberikan pengumuman kepada seluruh penumpang untuk segera duduk di kursi masing-masing, karena mereka akan segera melakukan penerbangan.

“Kudengar kita akan pergi ke planet Xeplor. Planet apa itu?” tanya Zean setelah mematikan mic.

“Dan aku pikir sudah ada yang menjelaskan tentang planet tersebut kepadamu.” Jawab Geist.

“Ayolah, Kapten. Anda dulunya penjahat yang menjelajahi planet. Mungkin ada sedikitnya mendengar planet tersebut meski belum terjelajahi?” Ujar Zean.

Geist menghela nafas kecil. “Dari yang kudengar, planet tersebut menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat. Jadi tempatnya tidak begitu akrab dengan teknologi,” jawab Geist.

Geist dan Zean pada akhirnya memulai penerbangan. Setelah mereka dibimbing untuk meluncur dari jalur dan terbang bebas di angkasa. Sebuah portal raksasa berwarna keunguan itu muncul, portal yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.

“Founder dan Commander pun ikut juga. Padahal selama aku di sini, aku tidak pernah melihat mereka berdua keluar dari planet ini.” Ujar Zean melanjutkan obrolan supaya suasana tidak sepi di ruang kemudi.

“Terakhir kali mereka keluar bersama adalah saat ketua menemukan sinyal dari Bumi. Hm... membawa bocah pendek dan laki-laki buat saat pulang kemari.”

Zean menganggukkan kepalanya. “Berarti yang direkrut pertama kali adalah...”

“Key,” jawab mereka berdua bersamaan.