03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
ARC 2 CHAPTER 2
GO TO XEPLOR’S PLANET
Setelah Maula memberitahu setiap mentor
dan juga setiap anggota, dia juga memberitahu ketua pilot DianXy yakni Geist.
Ya, mereka pernah bertemu sebelumnya dan juga Maula sendiri yang merekrut Geist
meskipun dia adalah mantan penjahat.
Kini dia berdiri di samping Geist untuk
menanyakan persiapan keberangkatan menuju planet Xeplor. “Bagaimana? Apa
semuanya sudah siap?”
Sosok pria berseragam pilot menoleh kepada
Maula yang berbicara kepadanya. Senyum wanita itu tampak manis, yang membuat
Geist cukup terpesona ketika melihatnya.
Geist menghela nafasnya. “Maula,” ia
menoleh kembali kepada Maula lalu menunduk untuk melihat sarung tangan yang ia
pakai.
“Hmm?” Maula berdehem kecil nan lembut.
“Kau pergi juga?” tanya Geist membuat
Maula menoleh kembali kepadanya, saling bertatapan.
“Maksudku, apa kau harus benar-benar pergi
juga?” lanjut Geist.
Maula menganggukkan kepalanya sembari
tersenyum. “Tentu saja, Rhino akan pergi. Jadi sudah pasti aku akan ikut
dengannya.” Jawaban Maula membuat Geist merasa tertekan. Ia mengelus tengkuk
membuat Maula menaikkan sebelah alis matanya.
“Dia laki-laki.” Lanjut Geist.
“Aku tahu.”
Tidak hanya sekali atau dua kali saja
Geist sering melihat sosok Rhino yang selalu diawasi oleh Maula. Bagi seorang
pria seperti Geist yang pernah memburu dan melawan Maula saat itu, ia paham
jika kekuatan Maula tidak hanya bisa asal pandang saja. Dengan jenis kelamin
wanita, tidak menjadi rintangan bagi wanita tersebut untuk memiliki posisi yang
cukup tinggi.
“Kamu meremehkan Rhino?” celetuk Maula.
Geist sedikit terkejut ketika Maula
memberikan pertanyaan tersebut. Ia menoleh kembali kepada Maula. Matanya yang
tidak tertutup oleh penutup mata sekilas terpaku kepada Rhino yang sedang
mereka bicarakan. Rhino sedang berdiri di depan pintu masuk pesawat angkasa
dengan membawa satu koper kecil.
Geist menghela nafasnya kembali.
“Bagaimana bisa aku meremehkan pemimpin aku sendiri,” ujarnya.
“Aku hanya penasaran mengenai kekuatannya.
Jika dia begitu kuat seperti yang kau katakan, kenapa ia membutuhkanmu di
sampingnya?” lanjut Geist.
“Kau meremahkannya, Geist.” Jawab Maula.
“Aku tidak---“ Geist menggelengkan
kepalanya.
Namun melihat Maula tersenyum sambil
memberi ekspresi tidak mempercayainya, Geist tidak lagi melanjutkan
kata-katanya.
“Kita akan segera berangkat.”
Maula hendak akan menghampiri Rhino namun
berhenti dan menoleh kepada Geist, menghampirinya kembali. “Pakailah.” Maula
memakaikan topi pilot ke atas kepala Geist lalu merapihkan dasi serta jasnya.
“Supaya terlihat rapih.” Ujar Maula sembari tersenyum dan berjalan kembali
kepada Rhino.
Maula hendak melangkahkan kembali kakinya
menuju Rhino, “Maula.” Maula menoleh kembali kepada Geist yang memanggilnya.
“Aku mungkin mantan penjahat tetapi... ada baiknya kamu juga berhati-hati
ketika tiba di planet yang akan kita kunjungi.”
Maula tersenyum dan mengganggukkan
kepalanya. “Tetap saja kau ini seorang wanita...” gumam Geist.
Setelah itu, Maula berjalan menghampiri
Rhino di depan pintu masuk pesawat. Sekilas, Rhino menoleh kepada Geist.
Tatapan mereka saling bertemu.
“Cemburu.”
Maula melirik kepada Rhino namun Rhino
menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil dan berkata, “Bukan apa-apa.”
Lalu Maula sendiri menawarkan untuk
mengangkat kopernya. “Tidak perlu, kak Maula. Aku sendiri sengaja membawa koper
kecil ini.” Ujarnya dengan sedikit terkekeh. “Hatiku sebagai laki-laki sedikit
terluka.”
“Maaf, aku pikir kamu membawa barang yang
lain atau barang yang berat.” Maula menatap koper tersebut. “Tapi apa itu
cukup? Membawa pakaian ke dalam koper kecil tersebut?”
“Ah ini? Ini bukan pakaian isinya.”
“Lantas apa?”
“Uang.”
Percakapan mereka berdua segera terhenti
ketika mendengar suara langkah kaki setiap anggota yang datang kemari bersama
para mentor. Salah satu mentor menyapa dengan hangat, diikuti dengan setiap
anggota memberikan salam kepada Rhino dan Maula.
.
.
.
Geist sendiri masuk ke ruang kemudi yang
didalamnya sudah ada Zean. “Kapten,” Sapa Zean kepada Geist yang baru saja
masuk ke ruang kemudi. Terlihat ekspresi wajah Geist begitu kusam.
“Ditinggalkan lagi oleh kekasihmu?” lanjutnya.
“Diam, Zean.” Jawab Geist.
“Oke.” Zean mengangguk-anggukkan
kepalanya.
Mereka berdua mulai memakai peralatan dan
menghidupkan pesawat. Setelah memastikan semuanya siap dan tidak adanya
masalah. Zean memberikan pengumuman kepada seluruh penumpang untuk segera duduk
di kursi masing-masing, karena mereka akan segera melakukan penerbangan.
“Kudengar kita akan pergi ke planet
Xeplor. Planet apa itu?” tanya Zean setelah mematikan mic.
“Dan aku pikir sudah ada yang menjelaskan
tentang planet tersebut kepadamu.” Jawab Geist.
“Ayolah, Kapten. Anda dulunya penjahat
yang menjelajahi planet. Mungkin ada sedikitnya mendengar planet tersebut meski
belum terjelajahi?” Ujar Zean.
Geist menghela nafas kecil. “Dari yang
kudengar, planet tersebut menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat. Jadi
tempatnya tidak begitu akrab dengan teknologi,” jawab Geist.
Geist dan Zean pada akhirnya memulai
penerbangan. Setelah mereka dibimbing untuk meluncur dari jalur dan terbang
bebas di angkasa. Sebuah portal raksasa berwarna keunguan itu muncul, portal
yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.
“Founder dan Commander pun ikut juga.
Padahal selama aku di sini, aku tidak pernah melihat mereka berdua keluar dari
planet ini.” Ujar Zean melanjutkan obrolan supaya suasana tidak sepi di ruang
kemudi.
“Terakhir kali mereka keluar bersama
adalah saat ketua menemukan sinyal dari Bumi. Hm... membawa bocah pendek dan
laki-laki buat saat pulang kemari.”
Zean menganggukkan kepalanya. “Berarti
yang direkrut pertama kali adalah...”
“Key,” jawab mereka berdua bersamaan.