03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Gadis bermanik heterochromia menatap kagum pada transportasi megah yang ada didepannya, baru pertama kalinya gadis itu menatap transportasi yang berupa pesawat angkasa sebesar dan semegah ini, gadis itu bergumam, "Kapalnya lebih besar dari yang pernah Alice liat." Gadis itu juga lupa bagaimana rasanya naik pesawat.
Gadis itu menatap murid-murid lain yang menenteng tas atau membawa koper yang benar-benar. "Kira-kira apa yang mereka bawa, ya?" tanya Alice pada dirinya sendiri dengan setengah berbisik.
Mereka dijadwalkan berangkat siang itu dan Alice memeriksa kembali apa yang dibawa nya berharap tidak ada yang tertinggal, Alice menghidupkan bot dan membiarkan bot terbang sendiri di samping gadis itu.
"Semua sudah disini? Yang terlambat akan ditinggal." Alice menoleh ke arah salah satu mentor dan dengan segera membereskan barang dan menyusul murid-murid lain menaiki kapal.
Entah karena gadis bermanik heterochromia itu naik paling belakang atau karena beberapa teman terdekatnya yang sangat awal naik, Alice kesulitan menemukan keberadaan mereka.
"Apa kamu melihat Arumi, Shou, Ka Enna atau Ka Ai, Bot?" tanya Alice tanpa menoleh ke arah power sphera nya.
"Ti-tidak, Alice," jawab Bot dengan suara khas komputer.
Dengan sedikit murung Alice melangkahkan kaki menuju kedalam pesawat dan lagi-lagi Alice terkagum-kagum dengan bagian pesawat yang begitu indah.
Alice memperhatikan para murid mencari tempat duduk, "sepertinya tidak ada batasan tempat duduk," ucap Alice mencari tempat duduk yang kosong.
Semua murid telah mendapatkan tempat duduk dan teman mengobrol selama pesawar dalam perjalanan menuju planet xeplor.
"Alice, disana kosong," ucap Bot menarik lengan baju Alice untuk segera melangkah.
Alice mengalihkan pandangannya ke sebuah bangku yang kosong, walau sayang nya tidak didekat jendela.
"Permisi, boleh duduk disini?" tanya Alice sedikit membungkuk pada gadis bersurai abu-abu tersebut.
"Oh, tentu!" ucap gadis bersurai abu-abu tersebut sambil mengangguk mempersilahkan Alice untuk duduk.
'Arumi ternyata,' batin Alice senang.
Bot duduk dipangkuan Alice dan sesekali melihat keluar jendela.
.
.
.
Pesawat tersebut akhirnya terbang meninggalkan Planet Mursa, suasana didalam pesawat sedikit tenang saat lepas landas, beberapa barang ringan melayang-layang.
"Cantik."
Alice menoleh pada sang gadis dengan wajah bingung.
"Hm? cantik apanya?" tanya Alice bingung.
Arumi tersentak dari lamuannya dan menoleh ke arah Alice. Lalu berkata, "Oh, oh! Planet Mursa terlihat sangat cantik dari sini."
Alice menoleh kearah jendela, dan dia menyetujui perkataan Arumi betapa cantiknya pemandangan Planet Mursa dan pemandangan diluar angkasa.
"Iya, sangat cantik. Planet Xeplor itu seperti apa ya?" Alice mencoba membayangkan bagaimana Planet Xeplor itu.
Arumi terkekeh, kemudian mengangkat bahunya, "Tak ada yang tahu, karena ini kali pertama kita melakukan perjalanan ke luar planet."
Kedua gadis itu terdiam hanya saling memandang angkasa yang indah dari luar jendelajendela dengan pikiran mereka masing-masing mengingat mereka tidak menyangka bisa berada disini menjadi pahlawan.
Pandangan Alice tertuju pada seorang pemuda yang dia kenal tidak jauh darinya, terlihat murung dan tidak semangat.
"Kamu ingin kesana?" tanya Bot membaca pikiran Alice
"Sepertinya. Tapi mereka sepertinya sedang asyik berbicara," jawab Alice sedikit mengurungkan niat.
Sejujurnya dia ingin, tapi apa mereka diperbolehkan jalan di dalam kapal angkasa ini?
Akhirnya Alice memberanikan diri mendekati sang pemuda bersurai putih tersebut yang menatap pemandangan dengan murung.
Alice melambaikan tangannya menyapa Karl tapi tetap tidak ingin bersuara membiarkan sang pemuda bersurai putih larut dalam pikirannya. Alice meminta untuk duduk disamping dengan hanya menunjuk bangku yang diduduki Karl. Karl menurut turun dari bangku dan menatap jendela.
Alice duduk disampingnya tanpa suara karena tidak ingin menganggu sang pemuda. Alice yakin jika pemuda tersebut tidak menyadari dirinya berada disamping. Alice datang saat mereka mengakhiri percakapan.
Alice kembali memanggil Karl untuk duduk di pangkuannya bersama Bot.
"Apa dirimu tidak merindukan Planet Aquamarine, Shou?"
"Alamak, bikin kaget ae," kata pemuda bersurai putih atau yang dikenal dengan Shou tersentak saat menyadari Alice datang secara mendadak lalu duduk di bangku bersama Karl dan mengelus karl.
"Tentu saja,"
"Alice lupa seperti apa bentuk Planet tempat tinggal kita itu," lanjut Alice menawarkan susu stoberi favorit Shou.
"Planet biru penuh air," jawab Shou menerima susu stoberi tersebut.
"Sesuai dengan namanya, 'Aqua'. Tapi mengapa penduduknya bukan sejenis siren atau mermaid ya?" tanya Alice menatap Shou dengan semangat.
"Shoukan berasal dari planet lain, jadi bukan duyung," jawab Shou sambil tersenyum.
"Ah iya ya." Alice dengan jahilnya mengacak-acak rambut Shou dan mengambil kacamata hitamnya.
"Senyum dong, murung aja dari tadi. Oh ya, Shou, seperti apa ya, Planet Xeplor itu?" tanya Alice menatap Shou.
"Katanya planet tersebut menjunjung tinggi adat dan istiadat," jawab Shou menatap balik Alice
Dengan reflek Alice menutup wajah Shou dengan telapak tangan dan menatap pemandangan diluar.
"Cantik," ucap Alice tidak tau untuk apa dan kepada siapa.
Mereka kembali mengobrol ringan tanpa menganggu murid-murid lainnya.
"Kamu tidak mengantuk Shou? jika iya tidur saja, semoga kamu tidak mimpi buruk," ucap Alice mengakhiri percakapan dan mengembalikan kembali kacamata sang pemuda.