03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Bagaikan angin sejuk menerpa ketika
sesosok pemuda menatap alat transportasi yang akan membawakannya pergi menuju
planet Xeplor. "Haiya besarnya, Karl sudah pasti suka soal ginian,"
ucap Shou antusias melihat pesawat besar terpampang di depannya yang
mengharuskan dirinya untuk membuka kacamata hitamnya.
Shou dengan tas di bahu kini
melangkah mengamati sekitar dimana para murid lain masih kagum, tanpa basa-basi
ia berjalan naik dan masuk ke dalam pesawat besar itu setelahnya ia kagum
dengan isinya yang terlihat nyaman dan banyaknya bangku kosong yang mempersilakannya
untuk duduk di atasnya.
"Ah iya juga." Berjalan
mencari sang Founder Rhino bertanya sekilas. "Founder," panggilnya.
"Tempat duduknya ini diatur sesuai nomorkah?" tanya Shou kepada
foundernya. Rhino berkata dan menjawab, "Tidak kok. Kamu bisa duduk di
kursi mana pun yang kamu mau."
Shou mengangguk paham, "Begitu.
Baiklah, saya mohon pergi." Menundukkan badan lali pergi hingga pandangan
bola matanya tanpa sengaja melihat siluet lelaki berambut biru, segera ia
menghampiri dan menyapanya, "Yo Aideen! Yo Faa!" sapa sang pemuda
dengan senyum terpampang di bibirnya. Aideen tersadar kini melambaikan
tangannya, "Halo Shou," sapa Aideen ramah.
Pemuda iris kuning menyala
mengatakan, "Kabar gimana? Keknya aku jarang lihat kamu, dan juga bawa apa
saja?" tanyanya penasaran apa yang kini ia bawa dari lelaki tersebut.
Sementara itu Karl hanya menatap Faa upaya memberi salam. "Hanya beberapa
baju, uang, makanan ringan dan senjata itu saja," jawab Aideen sekali
lagi.
"Tampak normal, aku hanya
membawa jaket, uang, dan syal. Siapa tau saja kalau aku kedinginan,"
jawabnya saat ia melirik ke tempat duduk ingin mengajak Aideen duduk bersama.
"Aideen mau duduk dimana? Kalau gak ada aku mau ajukan duduk bersamamu!"
Shou bertanya bersemangat, sungguh pemuda yang malang.
"Boleh saja ... tapi aku
sedikit penasaran, apakah tempat duduknya boleh di campur dengan wanita atau
hanya boleh pria dengan pria saja?" Aideen dengan pose bingungnya. Shou
mengedipkan matanya lalu mencari sosok wanita bernama Sienna setelahnya ia
berbalik menoleh ke arah Aideen, "Kurang tau, tapi kata Founder tempat
duduknya tidak di atur jadi kita bebas mau duduk dimana."
"Tunggu sebentar," sahut
Aideen mendadak membuat Shou kebingungan dan bertanya, "Kenapa?"
Tatapnya bingung. Butuh beberapa menit sebelum Aideen menjawab, "Baiklah,
aku akan duduk bersamamu." Memasang datar terlihat sedikit sedih.
"Benarkah?!"
Itulah kata terakhir Shou sebelum
akhirnya kecewa yang ternyata dia telah di php kan alias pemberi harapan palsu.
Kini Shou terduduk menatap di luar jendela meninggalkan planet Mursa
menggunakan pesawat. "Jadi gini rasanya menyendiri ... ," Pemuda
meringis sedih saat ia duduk di bangkunya tanpa seorang pun disamping yang
menemani selain Karl yang menepuk nepuk bahu agar ia tidak berlarut kedalam
kesedihan.
Suasana di dalam tenang hanya ada
suara kecil memenuhi ruangan, saat yang lain sibuk berbincang dengan teman
sebangkunya sementara Shou kini hanya menatap planet Mursa saat pesawat tetap
melaju menuju tujuan sebelum ia tenggelam dalam pikirannya, mengingatkan
kenangannya.
Dua bocah laki-laki basah kuyup
terduduk menyenderkan diri mereka di sebuah dinding, salah satu dari mereka
bergerak mencoba menggapai kembarannya namun yang terjadi adalah bercahaya
berwarna kuning menerang mengotori telapak tangannya.
Shou langsung tersentak dan sadar
mencoba mengatur nafasnya yang tersengal, "Mengingatnya membuatku
muak," gumamnya pelan saat ingatan buruknya terlintas mengenai
kembarannya.
"Sudahlah, apakah aku tidur
saja? Namun aku tidak suka tidur," gumamnya sekali lagi dengan pelan. Karl
memandang Shou khawatir dan segera naik atas senderan bangkunya kosong
memandang yang lain asik berbincang ingin membantunya mencari teman sebelum
bertatapan langsung dengan Karl.
Siluet lelaki datang mendekat
memasang senyuman mengejek dan berkata, "Sendiri aja sih?"
"Enggak," ucapnya saat ia
kaget dan kesal memasang ekspresi
cemberutnya. "Yah ... ngambek lagi, sebagai gantinya aku akan memberi mu
apapun deh," bujuk Aideen. Shou menanggapinya lalu berbicara, "Iya
deh, mau kasih apa coba?" sahutnya blak-blakkan.
Aideen berpikir sejenak, "Uang?
Emas? Berlian? Kau mau apa?" tanyanya. Jika Shou memikirkan tawaran Aideen
ia hanya berpikir dia sudah punya hanya saja dia simpan dan juga uang yang ada
di dalam tasnya ada beberapa uang, emas, berlian, jadi ia tidak mau.
"Teman bincang," jawaban
itu berhasil membuat Aideen speechless. Kini ia kehabisan topik pembicaraan,
sudah ia duga.
"Jadi? Aku tau kamu disuruh
Sienna bukan? Aku gak sekasian itu ," ucapnya mencoba membantah walau
memang dia sendiri disini tetapi ia hanya mengabaikannya.
Suara wanita muncul yang sepertinya
mengajaknya mengobrol. "Shou!" Artha memanggil dari belakang tempat
duduk, "Mau mengobrol?" ajaknya. Sang pemuda menoleh, "Oh boleh
aja," sahut Shou dengan setia mengiyakan. "Mau ngobrol soal
apa?" tanyanya. Wanita berambut pendek surainya biru diam untuk sesaat dan
memulai oerbincangan, "Apa kamu penasaran dengan tempat tujuan kita?"
ujar Artha.
"Tentu saja, katanya planet
tersebut menjunjung tinggi adat dan istiadat, ada spekulasi Artha?"
Jawabnya sambil bermain dengan Karl yang udah balik ke tempat duduknya. Memang
betul ia penasaran, dimulai aktivitas, alien jenis apa, dan sejarah mereka.
"Yahh, kemungkinan tidak bisa
memakai peralatan kita nanti disana, selain itu, nilai-nilai yang mereka pegang
tentu saja akan berbeda dengan kita. Jaga sikap adalah yang utama, dan jangan
menyentuh apa pun sembarangan," jelas Artha.
"Yah ... ketahuan." Kekeh
Aideen mengalihkan perhatian Shou
"Ya, mau bagimana pun Sienna
ingin beristirahat, jadi aku tidak bisa mengganggunya. Ngomong-ngomong apa ini
kali pertamamu menaiki pesawat?" tanyanya hanya dibalas tatapan datar dari
si pemuda. Ia menjawab, "Tidak, aku pernah menaiki pesawat yang seperti
ini tetapi tidak sebesar ini."
Suara sang wanita muncul kembali,
"Hum ... Aideen sendiri bagaimana?"
"Ah ... ini kali ke empat ku,
dan ini pertama kali bagiku menaiki pesawat sebesar ini," ujarnya
sedangkan Shou mengangguk mengerti.
Lalu ia mengalihkan perhatiannya ke
arah Artha ingin berbincang lebih lanjut.
"Apakah mereka tidak sesuka
itu? Kurasa dengan adanya teknologi membuat kehidupan jadi gampang." Tanda
tanya terpenuhi di kepalanya.
Artha lalu menjawab pertanyaan,
"Ada kalanya orang merasa bahwa budaya mereka membosankan dan tentu saja
penggunaan teknologi akan mempengaruhi cara hidup yang merupakan bagian dari
budaya."
"Begitu? Kupikir dengan
minimnya teknologi mereka akan kesusahan, seperti diriku yang dulu."
Mengucapkan kalimat terakhir dengan gumamam pelan yang memungkinkan tidak ada
yang mendengarnya. "Bisa saja, namun kita tidak tahu kehidupan mereka
seperti apa kan?" ujar Artha lalu pemuda itu hanya mengangguk mengerti.
"Aku penasaran bagaimana
kehidupan mereka hanya menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka."
Tatapnya saat ia mengamati Karl memandang bintang-bintang di langit angkasa
yang terlihat indah.
Shou sadar saat Aideen ikut menatap
luar jendela pun bertanya, " ... Hubunganmu dengan Sienna gimana?"
ucapnya tidak memandang Aideen melainkan Karl yang terlihat nyaman memandang
luar jendela. Aideen tersenyum tipis, "Hubungan ku dengannya baik-baik
saja." Shou hanya lega kemudian.