Isi Cerita
Shou Masayoshi

Arc 02 Chapter 02

 

Bagaikan angin sejuk menerpa ketika sesosok pemuda menatap alat transportasi yang akan membawakannya pergi menuju planet Xeplor. "Haiya besarnya, Karl sudah pasti suka soal ginian," ucap Shou antusias melihat pesawat besar terpampang di depannya yang mengharuskan dirinya untuk membuka kacamata hitamnya.

Shou dengan tas di bahu kini melangkah mengamati sekitar dimana para murid lain masih kagum, tanpa basa-basi ia berjalan naik dan masuk ke dalam pesawat besar itu setelahnya ia kagum dengan isinya yang terlihat nyaman dan banyaknya bangku kosong yang mempersilakannya untuk duduk di atasnya.

"Ah iya juga." Berjalan mencari sang Founder Rhino bertanya sekilas. "Founder," panggilnya. "Tempat duduknya ini diatur sesuai nomorkah?" tanya Shou kepada foundernya. Rhino berkata dan menjawab, "Tidak kok. Kamu bisa duduk di kursi mana pun yang kamu mau."

Shou mengangguk paham, "Begitu. Baiklah, saya mohon pergi." Menundukkan badan lali pergi hingga pandangan bola matanya tanpa sengaja melihat siluet lelaki berambut biru, segera ia menghampiri dan menyapanya, "Yo Aideen! Yo Faa!" sapa sang pemuda dengan senyum terpampang di bibirnya. Aideen tersadar kini melambaikan tangannya, "Halo Shou," sapa Aideen ramah.

Pemuda iris kuning menyala mengatakan, "Kabar gimana? Keknya aku jarang lihat kamu, dan juga bawa apa saja?" tanyanya penasaran apa yang kini ia bawa dari lelaki tersebut. Sementara itu Karl hanya menatap Faa upaya memberi salam. "Hanya beberapa baju, uang, makanan ringan dan senjata itu saja," jawab Aideen sekali lagi.

"Tampak normal, aku hanya membawa jaket, uang, dan syal. Siapa tau saja kalau aku kedinginan," jawabnya saat ia melirik ke tempat duduk ingin mengajak Aideen duduk bersama. "Aideen mau duduk dimana? Kalau gak ada aku mau ajukan duduk bersamamu!" Shou bertanya bersemangat, sungguh pemuda yang malang.

"Boleh saja ... tapi aku sedikit penasaran, apakah tempat duduknya boleh di campur dengan wanita atau hanya boleh pria dengan pria saja?" Aideen dengan pose bingungnya. Shou mengedipkan matanya lalu mencari sosok wanita bernama Sienna setelahnya ia berbalik menoleh ke arah Aideen, "Kurang tau, tapi kata Founder tempat duduknya tidak di atur jadi kita bebas mau duduk dimana."

"Tunggu sebentar," sahut Aideen mendadak membuat Shou kebingungan dan bertanya, "Kenapa?" Tatapnya bingung. Butuh beberapa menit sebelum Aideen menjawab, "Baiklah, aku akan duduk bersamamu." Memasang datar terlihat sedikit sedih.

"Benarkah?!"

Itulah kata terakhir Shou sebelum akhirnya kecewa yang ternyata dia telah di php kan alias pemberi harapan palsu. Kini Shou terduduk menatap di luar jendela meninggalkan planet Mursa menggunakan pesawat. "Jadi gini rasanya menyendiri ... ," Pemuda meringis sedih saat ia duduk di bangkunya tanpa seorang pun disamping yang menemani selain Karl yang menepuk nepuk bahu agar ia tidak berlarut kedalam kesedihan.

Suasana di dalam tenang hanya ada suara kecil memenuhi ruangan, saat yang lain sibuk berbincang dengan teman sebangkunya sementara Shou kini hanya menatap planet Mursa saat pesawat tetap melaju menuju tujuan sebelum ia tenggelam dalam pikirannya, mengingatkan kenangannya.

Dua bocah laki-laki basah kuyup terduduk menyenderkan diri mereka di sebuah dinding, salah satu dari mereka bergerak mencoba menggapai kembarannya namun yang terjadi adalah bercahaya berwarna kuning menerang mengotori telapak tangannya.

Shou langsung tersentak dan sadar mencoba mengatur nafasnya yang tersengal, "Mengingatnya membuatku muak," gumamnya pelan saat ingatan buruknya terlintas mengenai kembarannya.

"Sudahlah, apakah aku tidur saja? Namun aku tidak suka tidur," gumamnya sekali lagi dengan pelan. Karl memandang Shou khawatir dan segera naik atas senderan bangkunya kosong memandang yang lain asik berbincang ingin membantunya mencari teman sebelum bertatapan langsung dengan Karl.

Siluet lelaki datang mendekat memasang senyuman mengejek dan berkata, "Sendiri aja sih?"

"Enggak," ucapnya saat ia kaget dan  kesal memasang ekspresi cemberutnya. "Yah ... ngambek lagi, sebagai gantinya aku akan memberi mu apapun deh," bujuk Aideen. Shou menanggapinya lalu berbicara, "Iya deh, mau kasih apa coba?" sahutnya blak-blakkan.

Aideen berpikir sejenak, "Uang? Emas? Berlian? Kau mau apa?" tanyanya. Jika Shou memikirkan tawaran Aideen ia hanya berpikir dia sudah punya hanya saja dia simpan dan juga uang yang ada di dalam tasnya ada beberapa uang, emas, berlian, jadi ia tidak mau.

"Teman bincang," jawaban itu berhasil membuat Aideen speechless. Kini ia kehabisan topik pembicaraan, sudah ia duga.

"Jadi? Aku tau kamu disuruh Sienna bukan? Aku gak sekasian itu ," ucapnya mencoba membantah walau memang dia sendiri disini tetapi ia hanya mengabaikannya.

Suara wanita muncul yang sepertinya mengajaknya mengobrol. "Shou!" Artha memanggil dari belakang tempat duduk, "Mau mengobrol?" ajaknya. Sang pemuda menoleh, "Oh boleh aja," sahut Shou dengan setia mengiyakan. "Mau ngobrol soal apa?" tanyanya. Wanita berambut pendek surainya biru diam untuk sesaat dan memulai oerbincangan, "Apa kamu penasaran dengan tempat tujuan kita?" ujar Artha.

"Tentu saja, katanya planet tersebut menjunjung tinggi adat dan istiadat, ada spekulasi Artha?" Jawabnya sambil bermain dengan Karl yang udah balik ke tempat duduknya. Memang betul ia penasaran, dimulai aktivitas, alien jenis apa, dan sejarah mereka.

"Yahh, kemungkinan tidak bisa memakai peralatan kita nanti disana, selain itu, nilai-nilai yang mereka pegang tentu saja akan berbeda dengan kita. Jaga sikap adalah yang utama, dan jangan menyentuh apa pun sembarangan," jelas Artha.

"Yah ... ketahuan." Kekeh Aideen mengalihkan perhatian Shou

"Ya, mau bagimana pun Sienna ingin beristirahat, jadi aku tidak bisa mengganggunya. Ngomong-ngomong apa ini kali pertamamu menaiki pesawat?" tanyanya hanya dibalas tatapan datar dari si pemuda. Ia menjawab, "Tidak, aku pernah menaiki pesawat yang seperti ini tetapi tidak sebesar ini."

Suara sang wanita muncul kembali, "Hum ... Aideen sendiri bagaimana?"

"Ah ... ini kali ke empat ku, dan ini pertama kali bagiku menaiki pesawat sebesar ini," ujarnya sedangkan Shou mengangguk mengerti.

Lalu ia mengalihkan perhatiannya ke arah Artha ingin berbincang lebih lanjut.

"Apakah mereka tidak sesuka itu? Kurasa dengan adanya teknologi membuat kehidupan jadi gampang." Tanda tanya terpenuhi di kepalanya.

Artha lalu menjawab pertanyaan, "Ada kalanya orang merasa bahwa budaya mereka membosankan dan tentu saja penggunaan teknologi akan mempengaruhi cara hidup yang merupakan bagian dari budaya."

"Begitu? Kupikir dengan minimnya teknologi mereka akan kesusahan, seperti diriku yang dulu." Mengucapkan kalimat terakhir dengan gumamam pelan yang memungkinkan tidak ada yang mendengarnya. "Bisa saja, namun kita tidak tahu kehidupan mereka seperti apa kan?" ujar Artha lalu pemuda itu hanya mengangguk mengerti.

"Aku penasaran bagaimana kehidupan mereka hanya menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka." Tatapnya saat ia mengamati Karl memandang bintang-bintang di langit angkasa yang terlihat indah.

Shou sadar saat Aideen ikut menatap luar jendela pun bertanya, " ... Hubunganmu dengan Sienna gimana?" ucapnya tidak memandang Aideen melainkan Karl yang terlihat nyaman memandang luar jendela. Aideen tersenyum tipis, "Hubungan ku dengannya baik-baik saja." Shou hanya lega kemudian.