Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

 

Hari-hari tenang seperti biasanya dan aku yang juga hanya melakukan rutinitas seperti biasa. Terkadang aku berpikir, keadaan ini sangat nyaman karena tidak perlu bersusah-payah melakukan hal-hal berat—yah walaupun latihan yang dilakukan oleh ketua pasukan juga terkadang tidak terduga.

Jam istirahat telah tiba, aku pun berjalan menuju kantin untuk mengisi perut. Latihan memang penting, tapi perut nomor satu, mengingat setelah ini masih ada pelajaran yang harus dijalani jadi membutuhkan energi bukan?

"Ah, hari ini juga melelahkan," keluhku dan jujur saja aku memang bukan tipe orang yang memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa seperti orang lain, jadi wajar kan aku mengeluh? Aku kan juga orang biasa.

"Tapi kalau aku mengeluhkan ini di depan ketua pasukan bisa bisa dia malah memukul bagian belakang kepalaku lagi? Brr, ga mau." Aku menggeleng cepat mengingat kejadian dimana aku juga terkena pukulan disaat latihan.

Di tengah-tengah monolog ku, aku dibuyarkan ketika ternyata diriku ini sudah sampai kantin dan sontak melihat kedua chef DianXy yang sudah mempersiapkan makanan untuk kami, dan tengah berbicara sambil salah satunya membawa dua mangkuk sup hangat.

Aku bersemangat, lalu menghampiri tempat chef itu lalu mengambil semangkuk sup nya.

"Wah harum, dan terlihat enak. Terima kasih makanannya!" Aku menunduk berterima kasih lalu mulai mencari tempat duduk yang nyaman.

Aku sangat menikmati sup ini, dan tanpa sadar kembali bermonolog, "Sup nya enak, bisa nambah ga ya?" aku menerka-nerka apakah aku diperbolehkan untuk menambah porsi atau tidak sambil masih terus memakan sup ini.

"Mau nambah?" ucap seseorang yang tiba-tiba melirik ku dengan antusias, dan membuatku terkejut. Untung saja aku tidak tersedak.

Lalu aku menjawabnya, "Oh jelas! Kakak mau?" balas ku dengan tak kalah semangat, yah tidak ada salahnya bukan? Toh, sesuatu yang gratis tidak boleh dilewatkan.

"Sup nya ada untuk semua, jika ingin silahkan tambah lagi," jawab salah satu koki yang mendengar perkataan ku. Aku menoleh kepada koki itu dan tersenyum cerah—senang soalnya, emang ada ya yang ga suka gratisan?

"Eh serius?! Asik!" Aku memakan sup ku dengan cepat, untuk menambah porsi. Lumayan.

"Ya! Sekalian boleh bungkus gak sih?" kali ini ucap tersangka yang hampir membuatku tersedak dan kehilangan kesempatan menambah porsi, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Fadeyka. Senior ku.

Dia mengedipkan matanya ke arah orang yang memberi kami sup. Dan aku menatap nya malas.

"Bungkus? Dingin dong nanti, emang kakak punya alat penghangat makanan?" ucapku yang merasa idenya cukup aneh, walaupun dia memang punya gudang unlimited sih. Tapi aku masih tidak tahu batasan yang dimiliki gudangnya. Siapa tau dari gudangnya bisa memasukan atau mengeluarkan monster kan? Ngomong-ngomong aku tidak tahu dia menyebutnya apa, tapi aku menyebutnya 'gudang unlimited milik Fadeyka' karena ruangannya tidak terbatas dan mampu menampung apa saja.

"Tapi boleh lah," celetuk ku tiba-tiba berubah pikiran, karena tidak buruk juga kan? Menambah stok, lumayan.

"Haha! Sayangnya waktu tidak berlaku dalam kemampuanku, tentu tidak akan dingin!" ujarnya dengan bangga. Oh keren. Ini semakin membuatku tertarik untuk mengajaknya mali–maksudnya membawa tambahan makanan jikalau sedang berada di pesta.

Sang koki tadi menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Fadeyka yang sebelumnya.

"Jangan bawa makanan, kalau mau makan disini saja,"

"Berarti boleh tambah sampai mangkuk yang tak terhingga?" tanya ku ketika koki itu selesai berbicara. Dan koki hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan ku setelah menjawab pertanyaan Fadeyka.

Aku lalu menyenggol Fadeyka dan kembali berbisik, "Psst kak, ga boleh di bungkus la," bisikku.

"Sayang sekali ya. Padahal diwaktu waktu senggang menyenangkan bisa menikmati sup seenak ini," ucapnya dengan, err, nada yang dibuat dramatis sambil meneteskan air mata palsu nya.

"Hmm, benar sih. Minta buatkan lagi saja kalau mau? Mungkin akan dikabulkan!" ucapku dengan bangga dan menepuk-nepuk punggungnya Fadeyka sambil tertawa.

"Maksudku jika kita tidak disini. Sedang di tempat lain atau semacamnya," sambungnya setelah selesai berdrama. Hoo, benar juga ya, aku tidak terpikirkan hal ini.

"Oh gitu, hmm, iya juga ya. Bekal saja kokinya ke ruangan kakak, nanti di tempat lain minta buatkan sesuatu," celetuk ku polos.

"Bisa saja sih. Tapi menyimpan makhluk hidup di dalam dimensiku memakan banyak tenaga," jawabnya. Oh fiks, ga bisa bawa monster. Oke rencana dibatalkan.

"Yah, sedih deh, eh ga jadi deh untuk sekarang waktunya tambah sup!" ucapku kecewa singkat. Lalu bersiap meminta semangkuk tambahan sup enak ini.

"Kakak koki, saya mau lagi!" Aku mengangkat mangkuk semangat, berharap atensi dari sang koki yang berbaik hati memberikan kesempatan untuk menambah porsi—padahal memang tugasnya begitu, tapi ya sudahlah.

"Sepertinya kamu tahan makan banyak." Koki ini kembali menuangkan sup di mangkuk ku.

"Hehehe, laper, maafkan la," ucapku dengan diiringi kekehan malu. Rasanya seperti kau sedang dipergok maling mangga tau! Malu.

"Tidak apa, agar tenaga kalian cepat pulih," ucapnya ramah. Ah, iya juga ya.

"Tentu tentu, sup nya tetap enak walau bukan mangkuk pertama lagi," kekeh ku sambil memberi jempol.

"Tentu! Ayo minta yang banyak!" ujar Fadeyka yang berkata dengan antusias ketika mendengar perkataan ku sebelum aku meminta tambahan sup, dan sepertinya dia memang berniat mengajakku makan banyak kali ini. Oke, siapa takut.

Aku menyikutnya dan kembali berbisik ketika mendengar penuturan koki tadi, "Tuh kak jangan coba-coba diselundupkan katanya,"

Fadeyka terlihat sedang tersenyum menggoda, "Ha! Apakah seorang wanita cantik tidak percaya padaku? Haha. Tenang saja," ujarnya dengan sebuah seringaian.

"Tidak banyak kok," sambungnya. Tidak banyak katanya. Tidak banyak ya. Aku semakin ragu.

"Hm. Percaya kok, tapi kadang-kadang kakak tampak meragukan, tapi oke lah," ucapku sambil memberi jempol karena aku memang hanya ingin saja. Tidak ada alasan khusus. Lalu melanjutkan makan ku.

Aku menikmati saat saat memakan sup ini sebelum menoleh pada seseorang yang sedang menghela napas nya dan bermonolog. Oh dia sama sepertiku, berbicara sendiri.

"Kira-kira bagaimana kalau nanti ada misi ya," ujarnya. Oh dia galau.

Aku tersenyum dan menanggapinya sambil mengangkat sendok sup ku, "Akan seru!"

"Iya kah kak?" tanya nya, tampaknya dia junior ku—kalau tidak salah ingat namanya itu Renizzta, ya itu. Dan hehe begini-begini aku sudah jadi senior loh. Ehem.

Aku mengangguk antusias, yah memang menyenangkan sih, "Ya! Bisa jalan-jalan, dan akan sangat berwarna," ucapku dengan senyuman lesu di akhir.

Akhirnya aku menyelesaikan makan ku setelah menambah beberapa kali. Lalu aku mendengar sebuah pengumuman.

"Hm? Perjalanan ke planet Xeplor? Mendadak sekali, dan tumben?" ucapku bingung sekaligus senang diwaktu yang bersamaan. Siapa yang tidak senang? Akhirnya ada karyawisata keluar dari planet ini!

"Tapi tunggu, bersiap-siap katanya? Apa yang harus aku persiapkan?!"

Aku panik dan bingung, karena ini karyawisata pertama ku, aku tidak tahu apa saja yang harus dibawa. Haruskah aku membawa seluruh isi kamar ku? Hm, tidak buruk, tapi bukan ide bagus, berat. Begitulah kejadian singkat proses monolog yang akhir-akhir ini sering ku lakukan. Tiba-tiba.

"Waw jalan jalan? Hahh rasanya aneh sekali. Tapi baguslah melepas stres." Fadeyka melambaikan tangan nya lalu bermonolog juga, "Hmm sepertinya aku tidak perlu bersiap siap deh,"

Aku melambai padanya dan bergumam, "Wah, sepertinya ini akan jadi kali pertama perjalanan jauh. Aaa tidak sabar nyaa,"

Dia mencondongkan tubuhnya, "Apa yang akan kau bawa? Apa perlu bantuan untuk mengemasnya?" tawar nya sambil mengangkat salah satu alisnya.

"Kebetulan aku tidak perlu bersiap siap karena aku selalu membawa barang barangku," sambungnya. Pantas dia santai sekali.

Aku tersentak dari lamunan ku, "Ah tidak tahu, aku sendiri bingung kak," ucapku.

"Ya. Kita tidak tahu berapa lama akan pergi. Eh ... kapten tidak memberi tahu ya? Hm, Bawa yang penting saja. Kalau perlu kau bisa titip padaku," tawarnya.

"Tidak tidak, kita tidak diberitahu berapa lama. Makannya aku bingung. Apa ku bawa seluruh kamar untuk di titip pada kakak saja ya?" ujarku sambil berpikir.

Fadeyka menutup matanya berpikir, dan di sela-sela dia terhanyut dalam pikirannya, aku mendengar teriakan salah satu mentor, "Ayo, prepare barang barang kalian! Kita akan holiday! Yahoo," ucapnya bersemangat seperti biasanya. Ah mentor yang selalu bersemangat, benar-benar seperti matahari.

"Benar-benar holiday?" tanyaku yang menatap ragu ke arah mentor sambil mendekatinya. Oke, waktunya bertanya pada yang lain akan membawa apa, kita tinggalkan dulu Fadeyka yang sedang berpikir sebentar.

"Iya, kita rekreasi! Ayo prepare! Xixixi," ucap mentor Naren dengan gembira dan tawa yang khas. Lucu.

"Wah, seru!"

"Iyakan!"

"Iya! Mentor mau membawa apa saja?" tanyaku pada akhirnya. Aku sudah memiliki feeling kuat soal apa yang dibawa oleh mentor yang satu ini.

"Aku? Aku mau bawa coklat!" ucapnya. Kan. Sudah kuduga. Tapi ide bagus, ini memberi ku pencerahan.

"Wahh, ide bagus, apa saya juga bawa coklat ya? Hmm," pikirku. Dengan mentor Naren yang mengangguk semangat ketika melihat aku sedang menimbang-nimbang apakah perlu membawa coklat atau tidak. Tiba-tiba ada seseorang yang menginterupsi kami.

"Bohong, nanti kalian bakalan dilempar di ruang angkasa melayang wu~ wu~ gitu," ujarnya, ah sepertinya ini tertuju pada pertanyaan pertama ku ketika melihat mentor Naren.

Aku menatapnya ngeri, "Mentor nii, jangan lah menakut-nakuti!"

"Walau memang pasti itu yang terjadi sih," sambungku dengan lesu, ya tidak ada salahnya juga pada perkataan nya. Perkataan mentor Luisa lebih tepatnya.

"Hehe, tidak ada yang memprediksi masa depan bukan? Siapa tau beneran," dengan santainya dia berucap sambil menyeringai. Uh, ini sedikit menyebalkan karena membicarakan fakta.

"Mentor! Janganlah menjatuhkan harapan begini,"

aku sedih, iya sedih saat sadar memang mungkin itu yang akan terjadi nanti. Tapi aku tidak mau memikirkan nya, ah ini gara-gara mentor Luisa!

"Aduh jangan sedih," panik nya.

"Em ... permen mau permen? Aku cuma bercanda kok,"

Aku menatapnya, "Satu koper?" pekik ku sambil berbinar-binar.

"Kalo sebanyak itu bukannya kebanyakan ya? Dua saja, nanti diabetes," jelasnya sambil memberikan dua buah permen, dan aku menerimanya dengan gembira. Lalu kembali mendekati Fadeyka, yang tampaknya sudah selesai berpikir. Ah ya, mentor Naren tadi sudah pergi lagi untuk mengobrol dan memberi beberapa arahan sebagai bantuan? Entahlah, itu urusan nya.

Aku kembali ke tempat semula, tepat ketika Fadeyka mengutarakan pikirannya,

"Hmm bukannya kamu akan membawa seluruh kamarmu juga. Maksudku ... itu bercanda kan? Serius?"

Oh masih mempermasalahkan soal aku yang berniat membawa seluruh isi kamarku ya. Hm, jadi merasa bersalah, "Hehehe, kirain bisa bawa semua. Habisnya bingung sih," jawabku sambil menggaruk kepala ku.

"Bukannya tidak bisa. Tapi terlalu besar. Kasur itu lebih besar dari jubahku. Itu mungkin malah akan merobek jubahku," jelasnya sambil menatapku lembut.

"Eh? Iya juga! Ih, tapi maksud nya ga sampai bawa kasur gitu, kak!" protes ku sambil mencubitnya kesal.

Fadeyka mengernyit lalu mundur dengan geli,

"Aduh aduhh!" keluh nya.

"Tadi katanya bawa sekamar, dikamar kan ada kasur? Aku tidak salah," sambungnya membela diri. Oh gitu ya, tapi iya sih tadi aku ngomong gitu.

"Eh, iya juga hm, ya sudah, aku bawa sedikit, tunggu akan dikemas dulu," ucapku mulai berkemas, tapi mengemas apa? Ah ga tau lah, yang penting bawa barang.

"Ah. Tentu saja, aku akan tetap berada disini saat kamu selesai berkemas," ucapnya sambil tersenyum lembut.

"Oke!" ujarku yang kemudian segera mengemas, yang dibalas dengan anggukan dari Fadeyka. Lalu meninggalkannya sekali lagi untuk mengemas.

"Tadi kata mentor Naren cocok bawa makanan manis, mau coba?" sahutku setelah selesai mengemas dan kembali mendekat ke arahnya sambil membawa sebuah tas yang, er, entah isinya apa saja.

"Makanan manis? Apa itu, aku curiga itu pasti coklat," ujarnya, wajar dia menganggap begitu. Kan, mentor yang satu itu identik dengan coklat. Hehe.

"Em ya? Kurang lebih kebanyakannya seperti itu, kenapa? Tidak suka kah?" tanyaku.

Fadeyka terlihat tercengang? Yah kurang lebih begitu ekspresi nya.

"Ehh! Bukan maksudku begitu." Dia menggeleng dengan cepat dan menggaruk leher yang tidak gatal.

"Maksudku, ya ... mengingat mentor satu itu selalu memiliki coklat jadi kupikir tidak heran kamu membawa yang sama juga," sambungnya. Nah, benar kan.

Aku hanya mengangguk membenarkan,

"Iya sih, kurang lebih aku punya coklat, yah yang terpenting itu manis saja," jelasku sambil berpikir macam-macam makanan manis yang muncul di pikiran ku.

"Hm? Kamu suka makanan manis?" tanya nya sambil menatapku dengan pandangan tertarik.

"Iya, aku suka, tapi tidak sesering itu. Aku mencegah terjadinya sakit gigi, hehehe," kekeh ku.

Fadeyka masih terus menatap ku, entah apa yang ada dipikirannya,

"Oh ... begitukah?" tanyanya sambil tersenyum diam diam.

"Ya itu bagus, makanan manis merangsang rasa bahagia. Itu bagus untuk kesehatan mental haha. Mungkin nanti aku akan membawakanmu beberapa dari tempatku," sambungnya.

"Iya! Aku memang suka memakannya saat sedang sedih atau bosan sih," pikirku.

"Oh ini aku titip satu tas ke kakak, masih cukupkah ruangan kakaknya?" Aku memiringkan kepalaku, bertanya. Takut, kalau tiba-tiba ternyata banyak yang menitip padanya, jadi gudang unlimited nya sudah tidak unlimited lagi. Ga ada yang tau kan?

Fadeyka tersenyum polos.

"Tentu! Dimensiku akan selalu siap menampung apapun  untuk mu." Dia melebarkan jubahnya.

"Wah! Terima kasih banyak ya! Nih makanan manis." Aku memberi sebuah kantong kecil berisi berbagai macam makanan manis sambil memasukkan tasku ke jubahnya. Hoho, jubah multifungsi.

Dia tersentak, loh kok tersentak ya?

"A-ah! Y-ya. Terima kasih kembali,"

"Umm. Terima kasih juga?" Dia menerima kantong makanan manis itu dengan gugup.

Aku menatapnya bingung, kenapa dia berterima kasih dua kali?

"Kenapa kak? Kaya liat hantu saja?" tanya ku sambil menyelidiki ekspresinya. Iya lah jelas, dia tiba-tiba gugup gini. Memangnya ada yang salah dari ucapanku? Atau malah penampilan ku? Wah bahaya ini, aku harus mendengar jawabannya.

Namun, bukan jawaban yang ku harapkan. Dia tampaknya tersipu, dan aku semakin heran,

"Ahah! Tidak tidak!"

"Uhhh. Jangan menatapku seperti itu dong." Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Eh?

"Heee?" ucapku terkejut dengan sikapnya tiba-tiba. Wow. Pemandangan yang tidak boleh dilewatkan nih. Lucu.

 

--|🧺