Isi Cerita
Atalanta Sienna Kyrane

Beberapa bulan telah di lalu semenjak aku menjadi anggota DianXy. Banyak hal tak terduga yang terjadi dengan dalih sebagai latihan.

 

Aku sama sekali tidak masalah dengan hal itu. Lagipula di tempat ini aku perlahan-lahan mulai mempercayai orang-orang bahkan lebih percaya diri dengan apa yang ku miliki.

 

♪♪♪♪♪

 

Helaan nafas lelah ku hembuskan setelah berlatih bersama Tuan Da-Hee. Orang itu benar-benar tidak pandang bulu saat melawan kami. Mau itu laki-laki ataupun perempuan, dia selalu melakukan serangkaian serangan yang tidak diduga-duga.

 

Tetapi aku akui jika Tuan Da-Hee itu hebat, terlebih dia memiliki pengalaman perang yang cukup baik. Berbeda dengan ku yang hanya memiliki pengalaman dalam mengintai dan menyamar.

 

Sungguh perbedaan yang sangat drastis.

 

Aku memilih untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum kelas selanjutnya mulai. Bukan hanya aku saja yang ada di kantin. Beberapa senior hingga junior ku terlihat berada di kantin dan sedang berbincang-bincang satu sama lain.

 

Menu kali ini adalah sup yang terlihat sangat enak yang membuat perutku semakin berbunyi karena tidak sabar untuk mencicipi nya.

 

‘Tangan seorang tukang masak berpengalaman memang tidak bisa di remehkan.’

 

Aku mulai mencicipi sup tersebut dengan latar belakang suara dari orang-orang yang berada di kantin. Rasanya aku ingin bergabung tetapi entah mengapa suasananya akan sedikit canggung.

 

“Enak,” gumamku dengan binar mata yang samar-samar akan terlihat jika di lihat dari dekat. Hingga aku tidak menyadari jika ada yang sedang berjalan ke arah meja yang aku duduki.

 

Seekor makhluk dengan bulu halus mulai melompat ke pangkuan ku dan mulai mencari posisi nyaman. Aku yang melihatnya lantas membuat tubuhku menegang sejenak namun entah bagaimana ekspresi ku saat ini.

 

Faa kini tertidur dengan nyenyak di pangkuanku yang membuatku secara spontan mengelus bulu putih yang tidak kalah halus dari bulu Nyx.

 

Melihat Faa menghampiri ku, aku bisa menebak siapa seseorang yang akan duduk tepat di kursi sebelah ku.

 

“Halo Enna.”

 

Sesuai dugaan dengan dugaanku. Tuan Elio duduk di kursi sebelah ku sembari membawa nampan berisi menu kantin hari ini.

 

Tetapi ada yang berbeda. Mengapa dia menggunakan panggilan yang sama dengan panggilan yang Nona Naren dan Nona Hocimida berikan saat pertama kali berada di tempat ini.

 

“Bukankah Anda semakin berani memanggil saya dengan panggilan yang para Nona di markas ini berikan?” tanyaku tanpa menoleh ke arah nya sedikitpun, tapi dari sudut mata dapat aku lihat jika ekspresi nya berubah menjadi sedih dan entah mengapa Tuan Elio jadi mirip seperti Nyx saat masih kecil.

 

Kedua makhluk ini jadi sering mengusikku saat sedang sendirian sama seperti Nyx. Tapi anehnya aku sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut.

 

Kini suasana meja ku sedikit lebih berisik setelah kemunculan Tuan Elio dan Faa. Ah, dan jangan lupakan Nyx yang muncul tidak lama setelahnya.

 

♪♪♪♪♪

 

Aku melangkahkan kakiku untuk menuju ke perpustakaan dan berniat untuk meminjam beberapa buku dikarenakan akhir-akhir ini aku mulai merasa aneh jika tidak mendapatkan informasi sedikit pun. Nyx yang sejak tadi berada dalam ukuran burung pada umumnya terbang mengikuti ku ke manapun diriku pergi.

 

Namun sayang, aku terpaksa menunda karena tiba-tiba saja terdengar pengumuman yang membuat ku mendengarkannya dengan baik.

 

“Pengumuman untuk seluruh anggota DianXy. Secara resmi kita akan mengadakan perjalanan menuju planet Xeplor esok hari. Diharapkan untuk seluruh siswa agar segera bersiap-siap dan menunda segala kegiatan. Saya ulangi.”

 

“Perjalanan resmi?” gumamku dengan sedikit keraguan. Tapi bagaimanapun perintah tetaplah perintah yang berarti aku tidak bisa menolak perintah tersebut.

 

“Ayo Nyx.” Nyx yang melihat ku berbalik arah pun mulai mengikuti ku.

 

Niatku menuju ke perpustakaan aku urungkan sejenak agar bisa menyiapkan semua barang-barang yang akan aku bawa.

 

Saat sampai di pintu kamar asramaku, aku lantas masuk setelah pintunya terbuka dan menampakkan ruangan kamarku.

 

Aku masuk ke ruangan ku itu lalu mulai menonaktifkan visorku dan mulai menyiapkan semua yang aku perlukan.

 

Ukuran tas yang akan aku gunakan tidak terlalu besar tetapi cukup untuk membawa beberapa pakaian dan barang penting seperti tablet ku. Walaupun pada akhirnya Nyx yang akan menggendong tas itu.

 

Tas ransel berbentuk persegi berwarna lilac itu mulai aku isi dengan barang-barang ku dengan rapi.

 

Cukup lama aku melakukannya karena tablet yang biasa aku gunakan berada di bawah kasur dan entah bagaimana benda itu bisa berada di sana.

 

Tangan kananku sedikit terangkat lalu aku melipat jari jempol, manis dan kelingking ku sehingga hanya jari telunjuk dan jari tengah yang terangkat.

 

Awalnya kedua jariku itu saling menempel tapi setelah itu aku menggerakkannya hingga muncul jarak di antara keduanya. Nyx yang sejak tadi memperhatikan ku mengerti dengan kode yang aku berikan dan terbang lebih dulu keluar kamar setelah itu aku menyusulnya.

 

Di luar kamarku, tubuh Nyx kembali menjadi seekor burung besar walaupun tidak sampai ke ukuran aslinya sesuai kode perintah yang aku berikan.

 

Tanpa berlama-lama lagi aku naik ke tubuh besar Nyx dan Nyx mulai terbang ke area perpustakaan.

 

♪♪♪♪♪

 

Aku berputar-putar di dalam perpustakaan, mencari buku yang setidaknya dapat membantu ku disaat berada di planet Xeplor.

 

Aku akui, aku tidak pernah mendengar nama planet ini sebelumnya. Apa karena selama ini aku mencari informasi dengan galaxy ku saja? Hah.

 

Hingga beberapa menit aku berkeliling di perpustakaan itu, aku memilih untuk mendengus pelan saat berada di dekat salah satu rak buku.

 

“Ini lebih merepotkan dari dugaan saya,” gumamku pelan lalu mengembalikan buku yang telah dibaca ke rak tersebut.

 

Sebuah buku jatuh dari posisinya karena ketidaksengajaan ku. Aku yang penasaran membungkuk dan mengambil buku tersebut.

 

Aku terdiam saat membaca sampul buku tersebut. ‘Ketemu.’

 

Tanpa berfikir panjang aku berjalan ke kursi yang telah di sediakan lalu mulai membaca isi buku tersebut.

 

Beberapa informasi di buku tersebut aku salin ke tab milikku, walaupun aku masih kebingungan dengan informasi yang aku dapatkan. Di buku ini masih terlalu sedikit informasi yang bisa aku dapatkan sehingga mau tidak mau aku hanya bisa waspada saat tiba di tempat asing itu.

 

Aku kembali merapikan tas ku sebelum akhirnya keluar dari perpustakaan.

 

“Sepertinya tidak ada salahnya jika sesekali harus terkejut karena hal-hal baru yang akan saya lihat di planet Xeplor.”