Isi Cerita
Luisa Arcadia

Sudah beberapa hari berlalu sejak DianXy kedatangan Gen baru dan aku, Luisa Arcadia sekarang sedang menikmati fasilitas yang disediakan markas. Aku beneran tidak akan bilang kebosanan dengan semua kegiatan ini, beneran.

 

"Hah... hari libur telah berakhir... ya walaupun tidak pernah libur sih sebenarnya..." gumamku sambil berbaring terlentang.

 

"Hm... keluar planet ya... rasanya seperti mimpi di siang bolong saja." Aku bangun dari tempat tidurku lalu berjalan dengan lunglai keluar dari kamarku.

 

Ting!

Zzsshh~

 

Pintu kamarku terbuka cahaya matahari pagi itu langsung menyoroti mataku, aku mengerinyitkan dahiku dan mengangkat tanganku agar menghalangi cahaya dari sinar matahari yang sangat menyilaukan mengingatkan ku dan rasanya ini mengingatkan ku kepada Naren.

 

'Lapar... apa aku ke dapur dulu ya...,' batinku sambil memegang perutku yang terasa nyeri dan mengeluarkan bunyi aneh.

 

Tanpa berpikir lebih jauh aku langsung melangkahkan kakiku ke arah Dapur, tidak ada yang spesial di pagi hari kecuali teriakan para murid yang sedang berlatih bersama Da-Hee. AAAGGGHHH- seperti itu, bukan bermaksud mengintip atau apa hanya saja  kebetulan aku melewati Area Latihan jadi aku bisa mendengar melodi indah yang dikeluarkan oleh murid.

 

Aku terkekeh pelan saat melihat ekspresi para murid, "Ah- benar aku lapar," gumamku sambil memegang perutku yang mulai meronta-ronta kembali. Aku pergi meninggalkan Area latihan dan pergi ke Dapur untuk mengambil makanan pagi milikku.

 

Setelah itu aku beranjak pergi ke Ruang Istirahat Mentor dan duduk di sofa yang disediakan di sana lalu menyantap makanan yang ku ambil dari Dapur.

 

"Luisa? Tumben keluar dari kamar padahal biasanya mendekam seharian di sana," sapa Saaochi yang sepertinya baru saja melakukan sesuatu.

 

"Lapar," jawabku dengan singkat, "Sudah menerima pesan dari Ketua?" lanjutku bertanya kepada Saaochi.

 

"Iya sudah, menurut bagaimana? Aku sih senang-senang saja bisa keluar dari planet ini sebentar," jawab Saaochi yang tanpa ku sadari sudah duduk di depanku.

 

"Entahlah, firasatku mengatakan hal sebaliknya. Aku harap ini beneran liburan biasa," balasku dengan wajah yang muram. 'Ya tidak buruk untuk keluar dari planet ini sebentar...'

 

"Aku akan mengantar piring ini."

.

.

.

 

Dan sekarang aku sedang mengangkat kardus yang berisikan beberapa barang, sebenarnya aku masih tidak mau menerima kalau Ketua tiba-tiba mengatakan bahwa kita mendapatkan undangan dari Planet lain, mau bagaimana pun juga harusnya planet ini kan sangat sulit untuk dimasuki jadi bagaimana bisa sepucuk surat bisa sampai ke sini.

 

Aku menghela nafas berat ditambah lagi dengan kardus yang ku bawa rasanya semakin tambah berat saja.

 

"..." "..." "..."

 

'Berisik...' batinku saat memasuki Ruangan Mentor.

Brak!

"Ya, sudah beberapa bulan kita semua terjebak di planet ini, jariku bahkan kurang untuk menghitungnya." Aku meletakkan kardus yang berisikan barang-barang untuk diletakkan di ruangan ini.

Lalu aku duduk di sofa dan mulai memikirkan apa saja yang perlu ku bawa nanti. Sesekali aku melihat yang lain dan kembali memikirkan apa yang perlu ku bawa.

"Aku akan membawa coklat yang banyak! Siapa tau nanti di sana tidak ada coklat," ucap Naren sambil mengeluarkan koper yang terlihat cukup besar.

"Naren, kopermu terlihat bagus. Sepertinya itu terbuat dari bahan-bahan yang berkualitas?" pujiku dengan menyelipkan beberapa maksud tertentu.

"Kan, kan, hehe~ ini koper berkualitas jadi coklat milikku bisa bertahan lama nantinya," balas Naren dengan aura yang berbunga-bunga.

"Boleh pinjam?" ucapku setelah mendengar respon Naren yang terdengar tidak paham maksud dari perkataanku.

"Heh? Heh! Buat apa!? Aku tidak mau koperku dipakai untuk hal-hal aneh ya, mending Kak Luisa pakai kresek aja sana," sanggah Naren sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Aku hanya bisa tersenyum kecil setelah mendengar jawaban dari Naren, 'Kresek? Itu tidak muat...'

"Benar tidak usah pinjamkan Luisa, aku yakin kopermu nanti di salah gunakan olehnya," sahut Saaochi yang daritadi hanya diam saja.

Kali ini aku tersenyum dengan lebar.

.

.

.

 

Aku kembali ke kamarku setelah pergi ke Aula karena disuruh Ketua untuk memantau para murid yang sedang berkumpul, tidak sebenarnya aku sedikit kurang kerjaan jadi aku membuntuti Saaochi dan Naren ke Aula dan secara kebetulan Ketua juga sedang berada di sana.

"Tidak boleh membunuh ya...? Eh, membunuh atau meracuni bukan? Aku lupa apa pesan Ketua tadi..." gumamku sambil mengangkat racun yang sedang ku pertimbangkan untuk di bawa, beserta Blastech juga.

"Ah yang penting tidak berbahaya, bawa saja deh. Jaga-jaga siapa tau ada orang jahat nanti di sana." Aku memutuskan untuk membuatnya ke dalam koper milikku. Setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya aku bisa mengemas barang-barang yang perlu ku bawa nanti di dalam satu koper.

"Oh benar kreseknya," gumamku sambil mengambil kresek yang sudah di bungkus sekecil-kecilnya.

Aku terkekeh pelan setelah membayangkan rencana yang akan ku lakukan saat berada di planet itu, bukan rencana yang buruk.

[Continue]