Isi Cerita
Alice

Sudah beberapa bulan lamanya sejak DianXy kembali dibangkitkan dan para anggota sudah melatih diri mereka dengan sebaik mungkin selama mereka berada di organisasi pahlawan tersebut. Meski sudah banyak hal yang terjadi selama mereka mempersiapkan diri di Planet Mursa sebelum tugas besar di luar planet. Mereka tetap bertahan di planet itu mau bagaimana pun caranya.

.

.

.

Karena jam istirahat telah tiba, beberapa dari mereka berkumpul di kantin. Dan sebagiannya lagi mungkin saja tengah berada di tempat lain. Menikmati waktu istirahat mereka sebaik mungkin sebelum melanjutkan pelajaran yang tersisa. Hari ini, si ketua pasukan yang pendek itu menghajar mereka habis-habisan.

"Apa yang kalian tunggu?" tanya Elliot sambil berdiri dengan seragam chefnya, memegang centong sayur.

"Makanan sudah siap, makanlah ini agar kalian dapat mengalahkan Da-hee." Eddie muncul dengan kedua tangannya memegang sup.

Semua murid mengantri untuk mendapatkan sup dari kedua koki dianxy, begitu juga dengan gadis bersurai kuning keemasan dengan ujung yang memutih itu dengan tidak sabar menunggu sup.

"Dimana Aru?" gumam Alice mencari keberadaan gadis bersurai silver itu.

Alice yakin tadi dia melihat Aru sebelum keramaian menutupi keberadaan gadis tersebut.

"Sup nya ada untuk semua, jika ingin silahkan tambah lagi."

Alice menoleh mendengar perkataan chef tersebut yang ditujukan entah untuk siapa

"Hm.. boleh nambah?" gumam Alice dengan suara kecil.

Alice duduk sendirian di pojok kantin sambil menyantap soup dengan tenang sambil sesekali mencari keberadaan Arumi.

“Pengumuman untuk seluruh anggota DianXy. Secara resmi kita akan mengadakan perjalanan menuju planet Xeplor esok hari. Diharapkan untuk seluruh siswa agar segera bersiap-siap dan menunda segala kegiatan. Saya ulangi.”

Pengumuman itu menarik seluruh atensi anggota. Mereka menghentikan kegiatan mereka untuk mendengarkan pengumuman itu dengan seksama.

 

“Wow, ada perjalanan ke luar planet?”

“Apa yang harus disiapkan?”

“Apa kita perlu membawa banyak pakaian?”

Ribut-ribut para anggota meriuhkan suasana. Mereka bertanya-tanya soal perjalanan yang begitu dadakan ini. Mereka yang awalnya harus berada di planet ini terus-menerus, tiba-tiba harus ke luar dari planet ini untuk melakukan sebuah perjalanan.

Akhirnya, seluruh pelajaran dihentikan. Semua murid diperkenankan untuk bersiap-siap dengan seluruh barang yang akan mereka bawa ketika perjalanan.

 

.

.

.

Alice selama perjalanan kembali ke asrama memikirkan tentang pengumuman tadi.

"Ke Planet lain? misi baru? Apa disana akan baik-baik saja?" tanya Alice pad dirinya sendiri.

"Apa yang harus dibawa?" lanjutnya berhenti di kamar nya sendiri.

Tiba-tiba dia membawa tas dan berjalan terburu-buru menuju kamar Arumi

"Arumi sayang, apa yang telah Aru kemas?" tanya Alice memegang bahu Arumi setelah tibadm dikamar Arumi.

Arumi sedikit terkejut ketika Alice memegang bahunya, namun kemudian Aru tersenyum kepada Alice.

"Oh, hanya bawa beberapa baju dan perkamas kecil jaga-jaga jika Elio rusak," ucap Arumi sambil melipat beberapa baju untuk dibawa. Alice hanya mengangguk paham dengan jawaban  Arumi.

"Alice bawa apa saja?" tanya Arumi balik dan Alice hanya menatap bingung Arumi.

"Baru masukin bot dengan beberapa perkakas, belum tau harus masukkan apa lagi," jawab Alice memperlihatkan isi tas yang berisi bot dan juga beberapa perkakas.

"Baju? Saya dengar kita akan di sana dalam waktu yang lumayan lama."

"Woah, sepertinya Alice tidak mendengarkan, apa disana ada oksigen? apa perlu membawa obat-obatan? Coklat?" tanya Alice dengan semangat.

"Tentu saja ada oksigen." Arumi tertawa kecil mereka dengar pertanyaan Alice. "Oh, ide bagus, kita bisa membawa beberapa obat-obatan, dan makanan ringan jika di perjalanan merasa lapar."

"Elio dimana Aru?" tanya Alice mencari keberadaan Elio.

Alis Aru terangkat ketika Elio disebut, "Elio? Saya sudah menitipkannya lebih dulu kepada Kak Fadeyka. Beliau menawarkan."

Alice mengangguk paham. Dan Alice segera mempersiapkan barang untuk dibawa dengan bantuan Arumi pekerjaan tersebut akhirnya selesai.

"Terima kasih Arumi," ucap Alice sedikit membungkuk

"Sudah si cek semua? Tidak ada yang tertinggal kan?" tanya Arumi memastikan.

Alice segera mengecek kembali barang untuk dibawa dan menganggu sebagai jawaban.

"Aru, ini untuk Aru, Lice membuat nya walau sedikit gagal," ucap Alice memberi sebuah hadiah berupa pisau kecil.

Arumiterkejut dengan Alice yang tiba-tiba memberikan hadiah, "Ini.. serius? Maksudnya.. Alice tidak perlu repot-repot.. tapi terima kasih banyak."

"Akan saya gunakan jika kita dalam bahaya," ucap Arumi dengan tersenyum lebar.

Alice mengangguk dan kembali ke kamar untuk menyimpan barang.