03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Saaochi agak terkejut ketika mendapatkan pesan dari Kapten yang
menyatakan bahwa mereka mendapatkan undangan untuk berkunjung ke Planet Xeplor.
Sebenarnya bukan tanpa sebab, DianXy sendiri sepertinya belum sepenuhnya
diterima di kalangan kebanyakan masyarakat sebagai ‘Pahlawan’. Selain itu, agak
mengejutkan mendapatkan undangan berupa surat, bagaimana bisa mereka tahu di
mana DianXy berada.
Yah, sejujurnya Saaochi agak curiga dengan hal ini. Tapi, baiklah,
mungkin ini adalah liburan tak terduga dari orang asing di Planet Xeplor.
“Kita harus memberitahukan hal ini pada para murid,” ujar Saaochi.
Menekan tombol berwarna merah di depannya sebelum menyatakan pengumuman tentang
perjalanan menuju Planet Xeplor. “Kita juga harus bersiap,” sambungnya.
“Yah, tentu saja,” balas Bastian, sebelum menghilang dalam
kabutnya.
“Naren, koper.”
“Enggak! Ih, apa sih Kak Luisa.”
Saaochi menatap mereka berdua sebentar, sebelum memutuskan untuk
join dan menggoda Naren bersama Luisa. Kaynel sudah beranjak pergi dari sana
meninggalkan mereka bertiga.
=••=
“Menurutmu, apakah ini tidak mencurigakan?” Saaochi memulai
pembicaraan, mengutarakan isi pikirannya.
Sementara mereka berjalan di lorong yang lumayan sepi—mungkin semua
murid saat ini sibuk bersiap—Saaochi pikir tak masalah membicarakan topik yang agak
sensitif seperti ini.
“Kenapa mencurigakan?” Luisa balik bertanya, melirik melalui ekor
matanya pada Saaochi.
Sementara Saaochi sendiri, membalas dengan mengangkat bahu sebagai
jawaban sementara. Memiringkan sedikit kepala, berusaha merangkai kalimat yang
hendak ia sampaikan pada Luisa agar tidak terlihat seperti menghakimi.
“Kau tahu ‘kan, DianXy agak tersembunyi dari dunia luar. Aku
mendapat informasi, kalau pesan yang datang berupa surat. Bagaimana mereka tahu
ke mana harus mengirim surat ini sementara tidak ada satupun yang tahu alamat
pasti DianXy,” jelasnya. Berhasil mengutarakan pendapat.
Luisa mengangguk-anggukkan kepala. Mungkin pernyataan Saaochi
terdengar masuk akal. “Yah, benar juga.”
Saaochi menjentikkan jarinya, tiba-tiba bersemangat. Mungkin,
karena merasa mendapat dukungan atas pendapatnya. “Iya, ‘kan! Pokoknya kita
harus hati-hati saat tiba di sana nanti.”
“Tapi, kenapa Ketua tetap menerimanya?”
“Mungkin, sebagai bagian dari sopan santun?”
Begitulah percakapan itu berakhir dengan Luisa berbelok ke
kamarnya. Sementara Saaochi dalam keheningan, sibuk memikirkan berbagai macam
teori kemungkinan yang akan terjadi nantinya di Planet sama nanti.
=••=
Saaochi mengunci pintu kamarnya, sebelum berjalan cepat menuju laci
di bawah kasur, melipat kedua kaki dan menjatuhkan pantatnya. Dia menarik
lacinya dan hingga memperlihatkan tumpukan baju di dalamnya. Dia mengeluarkan
satu-dua lembar set pakaian keluar, sebagian besar hanya t-shirt dan celana
polos.
Dia berdiri lagi, mengambil tas ransel yang tergantung lantas kembali
duduk di lantai, namun kali ini dalam posisi bersila. Dimuatnya baju-baju itu
ke dalam. Tidak ada perintah membawa baju latihan dan sebagainya, jadi dia
meninggalkan itu.
“Ah, apa bawa laptop juga, ya? Aku bisa mencicil pekerjaanku di
sana nanti. Dan mungkin gawai mini, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi,”
gumamnya, seorang diri.
Tak ada yang menjawabnya dalam keheningan kamarnya. Merasa aneh
dengan hal itu, Saaochi beranjak menuju meja kerjanya. Mengambil laptop yang
tergeletak dalam keadaan mengisi daya, lantas menyalakan laptop setelah
mencabut charger. Ia memutar film random untuk mengusir atmosfer sepi yang
menguasai ruangan ini.
Saaochi mengambil air minumnya di meja secara reflek, meneguk
seluruh isinya hingga habis.
“Entah mengapa semua pemikiran tadi menguras energiku,” gumamnya.
Akhirnya Saaochi putuskan duduk di kursi. Tatap film random yang
diputarnya lantas menikmatinya selama beberapa menit. Sebelum, tersentak bahwa
dia harus berkemas sebelum mereka pergi menuju Planet Xeplor.