Isi Cerita
Saaochi

Saaochi agak terkejut ketika mendapatkan pesan dari Kapten yang menyatakan bahwa mereka mendapatkan undangan untuk berkunjung ke Planet Xeplor. Sebenarnya bukan tanpa sebab, DianXy sendiri sepertinya belum sepenuhnya diterima di kalangan kebanyakan masyarakat sebagai ‘Pahlawan’. Selain itu, agak mengejutkan mendapatkan undangan berupa surat, bagaimana bisa mereka tahu di mana DianXy berada.

Yah, sejujurnya Saaochi agak curiga dengan hal ini. Tapi, baiklah, mungkin ini adalah liburan tak terduga dari orang asing di Planet Xeplor.

“Kita harus memberitahukan hal ini pada para murid,” ujar Saaochi. Menekan tombol berwarna merah di depannya sebelum menyatakan pengumuman tentang perjalanan menuju Planet Xeplor. “Kita juga harus bersiap,” sambungnya.

“Yah, tentu saja,” balas Bastian, sebelum menghilang dalam kabutnya.

“Naren, koper.”

“Enggak! Ih, apa sih Kak Luisa.”

Saaochi menatap mereka berdua sebentar, sebelum memutuskan untuk join dan menggoda Naren bersama Luisa. Kaynel sudah beranjak pergi dari sana meninggalkan mereka bertiga.

 

=••=

 

“Menurutmu, apakah ini tidak mencurigakan?” Saaochi memulai pembicaraan, mengutarakan isi pikirannya.

Sementara mereka berjalan di lorong yang lumayan sepi—mungkin semua murid saat ini sibuk bersiap—Saaochi pikir tak masalah membicarakan topik yang agak sensitif seperti ini.

“Kenapa mencurigakan?” Luisa balik bertanya, melirik melalui ekor matanya pada Saaochi.

Sementara Saaochi sendiri, membalas dengan mengangkat bahu sebagai jawaban sementara. Memiringkan sedikit kepala, berusaha merangkai kalimat yang hendak ia sampaikan pada Luisa agar tidak terlihat seperti menghakimi.

“Kau tahu ‘kan, DianXy agak tersembunyi dari dunia luar. Aku mendapat informasi, kalau pesan yang datang berupa surat. Bagaimana mereka tahu ke mana harus mengirim surat ini sementara tidak ada satupun yang tahu alamat pasti DianXy,” jelasnya. Berhasil mengutarakan pendapat.

Luisa mengangguk-anggukkan kepala. Mungkin pernyataan Saaochi terdengar masuk akal. “Yah, benar juga.”

Saaochi menjentikkan jarinya, tiba-tiba bersemangat. Mungkin, karena merasa mendapat dukungan atas pendapatnya. “Iya, ‘kan! Pokoknya kita harus hati-hati saat tiba di sana nanti.”

“Tapi, kenapa Ketua tetap menerimanya?”

“Mungkin, sebagai bagian dari sopan santun?”

Begitulah percakapan itu berakhir dengan Luisa berbelok ke kamarnya. Sementara Saaochi dalam keheningan, sibuk memikirkan berbagai macam teori kemungkinan yang akan terjadi nantinya di Planet sama nanti.

=••=

Saaochi mengunci pintu kamarnya, sebelum berjalan cepat menuju laci di bawah kasur, melipat kedua kaki dan menjatuhkan pantatnya. Dia menarik lacinya dan hingga memperlihatkan tumpukan baju di dalamnya. Dia mengeluarkan satu-dua lembar set pakaian keluar, sebagian besar hanya t-shirt dan celana polos.

Dia berdiri lagi, mengambil tas ransel yang tergantung lantas kembali duduk di lantai, namun kali ini dalam posisi bersila. Dimuatnya baju-baju itu ke dalam. Tidak ada perintah membawa baju latihan dan sebagainya, jadi dia meninggalkan itu.  

“Ah, apa bawa laptop juga, ya? Aku bisa mencicil pekerjaanku di sana nanti. Dan mungkin gawai mini, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi,” gumamnya, seorang diri.

Tak ada yang menjawabnya dalam keheningan kamarnya. Merasa aneh dengan hal itu, Saaochi beranjak menuju meja kerjanya. Mengambil laptop yang tergeletak dalam keadaan mengisi daya, lantas menyalakan laptop setelah mencabut charger. Ia memutar film random untuk mengusir atmosfer sepi yang menguasai ruangan ini.

Saaochi mengambil air minumnya di meja secara reflek, meneguk seluruh isinya hingga habis.

“Entah mengapa semua pemikiran tadi menguras energiku,” gumamnya.

Akhirnya Saaochi putuskan duduk di kursi. Tatap film random yang diputarnya lantas menikmatinya selama beberapa menit. Sebelum, tersentak bahwa dia harus berkemas sebelum mereka pergi menuju Planet Xeplor.