Isi Cerita
Maula Syndulla

Arc 2 Heretical Sects

Chapter 1 Prepare Yourself

 

Sudah beberapa bulan sejak DianXy dihidupkan kembali, dan para anggota telah berusaha melatih diri mereka sebaik mungkin selama bergabung dengan organisasi pahlawan tersebut. Meskipun banyak peristiwa yang terjadi selama masa persiapan mereka di Planet Mursa sebelum menjalankan misi besar di luar planet, mereka tetap memilih untuk bertahan di sana, apa pun rintangannya.

Walaupun mereka harus babak belur atau kelelahan, semua itu dianggap sebagai hal yang wajar demi mengabdikan diri menjadi pahlawan galaksi. Lagipula, di luar sana, musuh tidak akan memberi kesempatan untuk beristirahat sejenak pun.

Di pagi hari, mereka biasanya mempelajari pelajar akademis seperti biasa, diselingi dengan tambahan teori dan praktik yang berkaitan dengan tugas mereka sebagai pahlawan. Para mentor pun dengan sabar membimbing mereka.

Setiap akhir pekan pun, seekor serigala putih yang pernah menyerang mereka selalu datang berkunjung. Biasanya, kedatangannya untuk memeriksa jumlah penjaga. Sebagai catatan, semua penjaga di Planet Mursa adalah bawahan Priet dari planet bersalju. Ketua pun sering mengundangnya untuk minum teh bersama.

Sementara itu. Maula melangkah masuk ke ruangan begitu mendengar bahwa Rhino menerima surat undangan dari Planet Xeplor. Ia mendapati pemuda itu tengah duduk di kurisnya, bersandar dengan posisi santai, sambil membaca isi surat yang ada di tangannya. Maula tersenyum kecil, mendekati sofa, lalu duduk di sana dengan sikap ramah.

“Kak Maula, menurut kakak kita perlu menghadiri acara penyambutan ini?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari surat di tangannya. Sementara itu, wanita berambut merah hanya memberikan tatapan ragu terhadap undangan tersebut, seolah mempertanyakan maksud di baliknya.

“Aku kurang yakin. Apalagi dengan cara surat itu tiba-tiba muncul di meja kerjamu, Rhino.” Ujarnya sambil melipat tangan di depan dada, raut wajahnya menunjukkan keraguan yang jelas.

Rhino berpikir sejenak, lalu menghela nafas.

“Mungkin benar juga,” ujarnya sambil memandangi surat tersebut dengan pandangan jauh.

“Tapi aku rasa tidak ada salahnya sekali-kali menghadiri acara penyambutan dari planet lain.”

Maula hanya menggelengkan kepalanya, menghembuskan nafas panjang. “Mereka mungkin terlalu bersemangat soal kembalinya pasukan pahlawan atau justru mencurigai keberadaan kita,” katanya dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran. Rhino hanya tersenyum tipis, lalu meletakkan surat itu kembali di atas meja.

“Wajar, menurutku.” Ujarnya tenang.

Maula menatap Rhino dengan pandangan penuh kekhawatiran. “Aku tidak tahu, Rhino. Xeplor bukan planet sembarangan. Kenapa mereka ingin menyambut kita? Apa maksud dari undangan ini?”

Rhino menghela napas dalam-dalam, memikirkan semua kemungkinan. “Aku tahu, kak Maula. Kita juga tidak tahu pasti. Tapi ini kesempatan untuk mengetahui lebih lanjut. Kalau tidak pergi, bagaimana kita bisa tahu?”

Maula mengerutkan keningnya. “Kita bisa meminta penjelasan lebih dulu sebelum membuat keputusan,” usulnya.

“Kak Maula,” Rhino menatapnya dalam-dalam, “Kadang kita harus melangkah lebih dulu sebelum mengetahui jawabannya. Dan ini salah satu dari momen itu.”

Maula terdiam, berpikir sejenak. “Aku tidak suka berada dalam situasi ini tanpa tahu apa yang sedang kita hadapi.”

Rhino menatap surat itu sekali lagi, kemudian menatap Maula. “Tapi ini bisa menjadi kesempatan untuk membuka jalur komunikasi dengan planet lain. Kalau kita bisa memastikan niat mereka, kita bisa memperkuat posisi kita di galaksi.”

Maula menghela napas, mendudukkan dirinya di sofa dengan canggung. “Baiklah, jika kamu yakin kita harus pergi, aku akan ikut.”

Rhino tersenyum kecil mendengar jawaban dari Maula. Dia tahu kalau Maula merasa khawatir kepadanya.

Maula ikut tersenyum kecil lalu berdiri dari sofa. “Kalau begitu, aku akan memberi tahu yang lain.”