03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Arc 2 Heretical Sects
Chapter 1 Prepare Yourself
Sudah beberapa bulan sejak DianXy
dihidupkan kembali, dan para anggota telah berusaha melatih diri mereka sebaik
mungkin selama bergabung dengan organisasi pahlawan tersebut. Meskipun banyak peristiwa
yang terjadi selama masa persiapan mereka di Planet Mursa sebelum menjalankan
misi besar di luar planet, mereka tetap memilih untuk bertahan di sana, apa pun
rintangannya.
Walaupun mereka harus babak belur atau
kelelahan, semua itu dianggap sebagai hal yang wajar demi mengabdikan diri
menjadi pahlawan galaksi. Lagipula, di luar sana, musuh tidak akan memberi
kesempatan untuk beristirahat sejenak pun.
Di pagi hari, mereka biasanya mempelajari
pelajar akademis seperti biasa, diselingi dengan tambahan teori dan praktik
yang berkaitan dengan tugas mereka sebagai pahlawan. Para mentor pun dengan
sabar membimbing mereka.
Setiap akhir pekan pun, seekor serigala
putih yang pernah menyerang mereka selalu datang berkunjung. Biasanya,
kedatangannya untuk memeriksa jumlah penjaga. Sebagai catatan, semua penjaga di
Planet Mursa adalah bawahan Priet dari planet bersalju. Ketua pun sering
mengundangnya untuk minum teh bersama.
Sementara itu. Maula melangkah masuk ke
ruangan begitu mendengar bahwa Rhino menerima surat undangan dari Planet
Xeplor. Ia mendapati pemuda itu tengah duduk di kurisnya, bersandar dengan
posisi santai, sambil membaca isi surat yang ada di tangannya. Maula tersenyum
kecil, mendekati sofa, lalu duduk di sana dengan sikap ramah.
“Kak Maula, menurut kakak kita perlu
menghadiri acara penyambutan ini?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari
surat di tangannya. Sementara itu, wanita berambut merah hanya memberikan
tatapan ragu terhadap undangan tersebut, seolah mempertanyakan maksud di
baliknya.
“Aku kurang yakin. Apalagi dengan cara
surat itu tiba-tiba muncul di meja kerjamu, Rhino.” Ujarnya sambil melipat
tangan di depan dada, raut wajahnya menunjukkan keraguan yang jelas.
Rhino berpikir sejenak, lalu menghela
nafas.
“Mungkin benar juga,” ujarnya sambil
memandangi surat tersebut dengan pandangan jauh.
“Tapi aku rasa tidak ada salahnya
sekali-kali menghadiri acara penyambutan dari planet lain.”
Maula hanya menggelengkan kepalanya,
menghembuskan nafas panjang. “Mereka mungkin terlalu bersemangat soal
kembalinya pasukan pahlawan atau justru mencurigai keberadaan kita,” katanya
dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran. Rhino hanya tersenyum tipis, lalu
meletakkan surat itu kembali di atas meja.
“Wajar, menurutku.” Ujarnya tenang.
Maula menatap Rhino dengan pandangan penuh
kekhawatiran. “Aku tidak tahu, Rhino. Xeplor bukan planet sembarangan. Kenapa
mereka ingin menyambut kita? Apa maksud dari undangan ini?”
Rhino menghela napas dalam-dalam,
memikirkan semua kemungkinan. “Aku tahu, kak Maula. Kita juga tidak tahu pasti.
Tapi ini kesempatan untuk mengetahui lebih lanjut. Kalau tidak pergi, bagaimana
kita bisa tahu?”
Maula mengerutkan keningnya. “Kita bisa
meminta penjelasan lebih dulu sebelum membuat keputusan,” usulnya.
“Kak Maula,” Rhino menatapnya dalam-dalam,
“Kadang kita harus melangkah lebih dulu sebelum mengetahui jawabannya. Dan ini
salah satu dari momen itu.”
Maula terdiam, berpikir sejenak. “Aku
tidak suka berada dalam situasi ini tanpa tahu apa yang sedang kita hadapi.”
Rhino menatap surat itu sekali lagi,
kemudian menatap Maula. “Tapi ini bisa menjadi kesempatan untuk membuka jalur
komunikasi dengan planet lain. Kalau kita bisa memastikan niat mereka, kita
bisa memperkuat posisi kita di galaksi.”
Maula menghela napas, mendudukkan dirinya
di sofa dengan canggung. “Baiklah, jika kamu yakin kita harus pergi, aku akan
ikut.”
Rhino tersenyum kecil mendengar jawaban
dari Maula. Dia tahu kalau Maula merasa khawatir kepadanya.
Maula ikut tersenyum kecil lalu berdiri
dari sofa. “Kalau begitu, aku akan memberi tahu yang lain.”