03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Suara sendok makan berbunyi secara
bersamaan sekaligus ramainya para murid yang sedang makan di sebuah kantin
sambil berbincang-bincang. Pemuda iris kuning menyala kini mengunyah makanan
dengan cepat begitu lahap karena rasa sakit dan lelahnya latihan bersama
Da-Hee.
Tak lama kemudian, ia kembali
menoleh dan melihat Ardolf yang berwajah lesu mencari tempat duduk, "Yo
Ardolf! Terlihat lesu sekali?" Menggerakkan tangan kearah dia memberi
isyarat untuk duduk bersamanya.
"Oh bang Shou, maaf. Hari ni
terlalu berat ya bang," ungkap Ardolf dengan berat hati. "Masuk akal
sih, badan pegel pegel," balasnya sesaat sebelum memberi segelas air,
Ardolf menerima dengan baik segelas air. "Kalau gitu mau duduk dimana
bang? Kita makan sama-sama hehe," Tanya Ardolf terhadap Shou.
Dengan santai ia balas, "Duduk
barengan aja," ajaknya. "Tapi Karl gak ikut ya, padahal ada makanan
enak disini," kata pemuda tersebut menghirup mangkuk supnya menyayangkan
teman rakunnya tidak ikut serta bersamanya.
Tanggapannya hanya dibalas tawa dan
berkata, "Wajar kok bang, nanti yang ada Karlnya bikin heboh kantin
bang," jawabnya terus terang, Shou menatap bingung lalu menghembuskan
nafas. "Sayang sekali makanannya gak boleh dibawa, padahal mau kasih ke
Karl." Membayangkan teman rakun berwajah sedih dan murung karena tidak
dibawakan makanan oleh sang pemuda.
Ardolf mengangguk, "Benar
sekali bang ... ." Hembusnya. "Andaikan aku ada hewan peliharaan.
Terdiam sesaat Shou menjawab, "Pohon makam?" sahutnya blak-blakkan.
Lelaki surain hitam mencoba memakan sup dengan lambat, meski ia tau perutnya
tidak bisa makan hari ini.
"Bukan bang, semacam hewan di bumi. Aku
dulu selalu membawa kakek—eh maksud ku meng buat jalan-jalan
bang," ucap sang lelaki. "Dolf?"Menatap curiga, "Membawa
kakek? Terlihat mencurigakan." Meneguk air secara dramatis dengan tatapan
curiga. Ardolf menghela nafas tau ceritanya panjang.
"Ceritanya panjang bang,
pokoknya saya selalu membawa kucing dimana pun. Sekarang pasti dia kesepian
karena cucu nya tiba-tiba hilang," lanjut Ardolf mendapat simpati dari
pemuda sebelahnya. "Ohhh, kasian amat. Tapi tunggu, siapa tau di perjalanan
kali ini bakal ketemu yang menarik bukan? Siapa tau bisa dipungut."
Menyenggol bahu lelaki disebelahnya.
"Gak mau," menolak saran.
"Aku maunya meng ku di bumi ... dia orang yang paling bisa diandalkan,
bahkan tugas pun diajarin sama dia," jawab nada lirih. Shou menatap sang
lelaki tidak dapat dimengerti. "Tipe gak dapat move on ya ... ?"
batinnya. "Ya aku tidak bisa memaksa." Membelakangi lengan di
belakang kepalanya menyender.
Ardolf mengangguk, "Dia adalah
orang yang berharga bagi bapak. Pasti saat ini mengnya auto marah-marah ke
bapak karena cucunya hilang," lanjutnya. Shou hanya bisa mengangguk saat
merasakan atmosfer tidak enak mencoba menghibur lelaki tersebut. "Jadi ...
neneran gak makan nih kamu? Kalau laper aku bawa ranting pohon kok,"
candanya tersenyum jahil.
"Bang ... ," ujarnya.
"Aku bukan makhluk berang-berang bang ... aku akan paksa makan kalau
gitu." Memaksakan dirinya untuk makan, Shou tertawa melihatnya mendadak
makan sebelum tersenyum senang. Sesaat sang lelaki tersenyum sejenak, "Haish,
abang ini mengingatkanku dengan rekan di kampus," selanya mencuri
perhatian Shou yang penasaran.
Sesaat ingin melontarkan pertanyaan
mendadak ada pengumuman dari suara mic yang sepertinya suara dari mentor
mereka.
.
"Tes, tes. Halo semuanyaa!
Besok kita bakal ada perjalanan panjang, jadi persiapkan diri kalian!"
.
.
"Pengumuman untuk seluruh
anggota DianXy. Secara resmi kita akan mengadakan perjalanan menuju planet
Xeplor esok hari. Diharapkan untuk seluruh siswa agar segera bersiap-siap dan
menunda segala kegiatan. Saya ulangi.”
.
Suasana menjadi riuh akibat
perjalanan yang akan mereka lewati kali ini hingga beberapa dari murid
bertanya-tanya tapi daripada memikirkan soal itu lebih baik mereka
bersiap-siap.
Salah satunya adalah Shou yang sibuk
menatap apa saja yang ini ia tidak lupa teman hewannya berada di bahu menatap
penasaran. "Yang ini satu, ini juga," gumamnya kebingungan memilih
apa saja yang perlu dibawa. Waktu tidak berlangsung lama, kini ia telah selesai
dan memakaikan kacamata bintang berwarna pink dan lensanya kuning transparan di
wajah Karl.
Berjalan keluar untuk bertemu dengan
yang lain tapi nampaknya pada sibuk untuk diganggu ia memilih untuk pergi ke
depan kamar Ardolf menunggu waktu selesai. "Kamu udah bersiap belum?"
teriak pemuda itu dengan kacamata hitamnya di atas dahinya menunggu temannya
satu ini dengan kesabaran penuh begitupula dengan Karl.
"Yo misi! Ardolf!!"
teriaknya memanggil di depan pintu asramanya. "Oh bang Shou, sudah bawa
barang bang?" tanya sang lelaki kepada pemuda, "Bawa yang penting
aja, dengan tentunya Karl" jawabnya dengan smirk terpampang dibarengi
kacamata hitam dan kacamata bintang milik Karl.
"Waw, kayak piknik ya bang ...
aku gak kepikiran, sebenarnya cukup bawa ransel dan poket kecil serba gu—" Sebelum sempat menjelaskan
lebih lanjut Shou menyelanya dahulu. "Pastinya dong!" sela pemuda itu
antusias, meminum kaleng susu stroberi. "Aku merasa menjadi burung
tersangkar disini untuk selamanya hingga kita bisa pergi ke luar planet!"
Berkata dramatis dan cahaya menyorot ke arah Shou.
Sementara ia menunggu Ardolf
selesai, ia hanya berlalu-lalang berkeliaran lalu tak sengaja bertemu founder
Rhino sekilas ingin bertanya, "Ngapain aja disana? Habisnya mendadak
banget," tanya Shou mempertanyakan kepergian mereka. Rhino menjawab,
"Ada pesta penyambutan dari penduduk planet Xeplor dan kebudayaan mereka.
Mungkin kalian bisa membantu-bantu juga." Shou mengangguk paham,
"Tampak menarik."
"Berkemaslah supaya tidak
buru-buru nanti," saran Rhino. "Sip sip." Memakai kacamata
hitamnya lalu pergi untuk mengambil jaket sebab tak sengaja ia mendengar bahwa
tempat akan dituju akan dingin dan burung tidak boleh sampai kedinginan.
Ia kini sibuk mencari jaket dan
beberapa kain untuk ia jadikan syal, setelah beberapa menit terbuang hanya
mencari mendadak Ardolf datang dan berkata, "Bang boleh pinjam sekrup atau
semacam obeng gak bang?" pintanya, "Kalau ketemu aja." Mencari
di sudut asramanya dan mengambil obeng sisa ia merakit. "Buat apa
emang?" Tatap pemuda tersebut kearah lelaki yang menerima obeng dari
tangan Shou.
"Buat perbaiki kacamata bang,
framenya rusak. Kemungkinan dibikin modif bang biar keren," ujarnya
bertekad berbarengan kekehan. "Begitu ya?" Mengangguk paham meminum
susu stroberinya sedang memikirkan sesuatu dengan diam. "Habis mata suka
kabur saat malam, jadi pakai buat jaga-jaga bang kalau ada situasi mendadak.
Apalagi karena pohon waktu itu," oceh Ardolf mengeluh.
"Memikirkan soal pohon itu
membuatku terpikirkan soal kuburan tersebut, ada yang aneh ... ," batinnya
lekas ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi efeknya masih terasa ya
setelah di obati?" tanya Shou lebih lanjut mengenai keadaan Ardolf.
"Tentu saja bang ... ," jawabnya sebelum berhenti lalu lanjut
berkata, "Mau diobatin selama ada parasit ya begitulah bang. Mau diangkat
beresiko juga."
"Ganas amat Sayur," sahut
dengan miris. Ardolf mengangguk, "Ya dia akan sangat mengganggu sekali
kalau ada misi. Bukannya jalanin misi penting, eh malah misinya cari
cewek," mirisnya mendecit. "Jadi takut deh di ambil," balas Shou
dengan rasa sedikit tertarik, "Jangan lepas kendali Dolf," pintanya.
"Semoga aja bang. Tapi sebenarnya lebih
takut sama pihak ke-3 yang kendaliin penuh. Berbalik belakang dengan Syaoran,
dia lebih sulit untuk dikendalikan." Mengoceh dengan wajah serius,
"Pihak ke-3? Lebih sulit? Sulit sekali mengerti soal parasit mu
Dolf." Menghela nafas panjang lalu ia hembus Ardolf menanggapi dengan
anggukan.