Isi Cerita
Shou Masayoshi

Arc 02 Chapter 01

 

Suara sendok makan berbunyi secara bersamaan sekaligus ramainya para murid yang sedang makan di sebuah kantin sambil berbincang-bincang. Pemuda iris kuning menyala kini mengunyah makanan dengan cepat begitu lahap karena rasa sakit dan lelahnya latihan bersama Da-Hee.

Tak lama kemudian, ia kembali menoleh dan melihat Ardolf yang berwajah lesu mencari tempat duduk, "Yo Ardolf! Terlihat lesu sekali?" Menggerakkan tangan kearah dia memberi isyarat untuk duduk bersamanya.

"Oh bang Shou, maaf. Hari ni terlalu berat ya bang," ungkap Ardolf dengan berat hati. "Masuk akal sih, badan pegel pegel," balasnya sesaat sebelum memberi segelas air, Ardolf menerima dengan baik segelas air. "Kalau gitu mau duduk dimana bang? Kita makan sama-sama hehe," Tanya Ardolf terhadap Shou.

Dengan santai ia balas, "Duduk barengan aja," ajaknya. "Tapi Karl gak ikut ya, padahal ada makanan enak disini," kata pemuda tersebut menghirup mangkuk supnya menyayangkan teman rakunnya tidak ikut serta bersamanya.

Tanggapannya hanya dibalas tawa dan berkata, "Wajar kok bang, nanti yang ada Karlnya bikin heboh kantin bang," jawabnya terus terang, Shou menatap bingung lalu menghembuskan nafas. "Sayang sekali makanannya gak boleh dibawa, padahal mau kasih ke Karl." Membayangkan teman rakun berwajah sedih dan murung karena tidak dibawakan makanan oleh sang pemuda.

Ardolf mengangguk, "Benar sekali bang ... ." Hembusnya. "Andaikan aku ada hewan peliharaan. Terdiam sesaat Shou menjawab, "Pohon makam?" sahutnya blak-blakkan. Lelaki surain hitam mencoba memakan sup dengan lambat, meski ia tau perutnya tidak bisa makan hari ini.

 "Bukan bang, semacam hewan di bumi. Aku dulu selalu membawa kakekeh maksud ku meng buat jalan-jalan bang," ucap sang lelaki. "Dolf?"Menatap curiga, "Membawa kakek? Terlihat mencurigakan." Meneguk air secara dramatis dengan tatapan curiga. Ardolf menghela nafas tau ceritanya panjang.

"Ceritanya panjang bang, pokoknya saya selalu membawa kucing dimana pun. Sekarang pasti dia kesepian karena cucu nya tiba-tiba hilang," lanjut Ardolf mendapat simpati dari pemuda sebelahnya. "Ohhh, kasian amat. Tapi tunggu, siapa tau di perjalanan kali ini bakal ketemu yang menarik bukan? Siapa tau bisa dipungut." Menyenggol bahu lelaki disebelahnya.

"Gak mau," menolak saran. "Aku maunya meng ku di bumi ... dia orang yang paling bisa diandalkan, bahkan tugas pun diajarin sama dia," jawab nada lirih. Shou menatap sang lelaki tidak dapat dimengerti. "Tipe gak dapat move on ya ... ?" batinnya. "Ya aku tidak bisa memaksa." Membelakangi lengan di belakang kepalanya menyender.

Ardolf mengangguk, "Dia adalah orang yang berharga bagi bapak. Pasti saat ini mengnya auto marah-marah ke bapak karena cucunya hilang," lanjutnya. Shou hanya bisa mengangguk saat merasakan atmosfer tidak enak mencoba menghibur lelaki tersebut. "Jadi ... neneran gak makan nih kamu? Kalau laper aku bawa ranting pohon kok," candanya tersenyum jahil.

"Bang ... ," ujarnya. "Aku bukan makhluk berang-berang bang ... aku akan paksa makan kalau gitu." Memaksakan dirinya untuk makan, Shou tertawa melihatnya mendadak makan sebelum tersenyum senang. Sesaat sang lelaki tersenyum sejenak, "Haish, abang ini mengingatkanku dengan rekan di kampus," selanya mencuri perhatian Shou yang penasaran.

Sesaat ingin melontarkan pertanyaan mendadak ada pengumuman dari suara mic yang sepertinya suara dari mentor mereka.

.

"Tes, tes. Halo semuanyaa! Besok kita bakal ada perjalanan panjang, jadi persiapkan diri kalian!"

.

.

"Pengumuman untuk seluruh anggota DianXy. Secara resmi kita akan mengadakan perjalanan menuju planet Xeplor esok hari. Diharapkan untuk seluruh siswa agar segera bersiap-siap dan menunda segala kegiatan. Saya ulangi.”

.

Suasana menjadi riuh akibat perjalanan yang akan mereka lewati kali ini hingga beberapa dari murid bertanya-tanya tapi daripada memikirkan soal itu lebih baik mereka bersiap-siap.

Salah satunya adalah Shou yang sibuk menatap apa saja yang ini ia tidak lupa teman hewannya berada di bahu menatap penasaran. "Yang ini satu, ini juga," gumamnya kebingungan memilih apa saja yang perlu dibawa. Waktu tidak berlangsung lama, kini ia telah selesai dan memakaikan kacamata bintang berwarna pink dan lensanya kuning transparan di wajah Karl.

Berjalan keluar untuk bertemu dengan yang lain tapi nampaknya pada sibuk untuk diganggu ia memilih untuk pergi ke depan kamar Ardolf menunggu waktu selesai. "Kamu udah bersiap belum?" teriak pemuda itu dengan kacamata hitamnya di atas dahinya menunggu temannya satu ini dengan kesabaran penuh begitupula dengan Karl.

"Yo misi! Ardolf!!" teriaknya memanggil di depan pintu asramanya. "Oh bang Shou, sudah bawa barang bang?" tanya sang lelaki kepada pemuda, "Bawa yang penting aja, dengan tentunya Karl" jawabnya dengan smirk terpampang dibarengi kacamata hitam dan kacamata bintang milik Karl.

"Waw, kayak piknik ya bang ... aku gak kepikiran, sebenarnya cukup bawa ransel dan poket kecil serba gu" Sebelum sempat menjelaskan lebih lanjut Shou menyelanya dahulu. "Pastinya dong!" sela pemuda itu antusias, meminum kaleng susu stroberi. "Aku merasa menjadi burung tersangkar disini untuk selamanya hingga kita bisa pergi ke luar planet!" Berkata dramatis dan cahaya menyorot ke arah Shou.

Sementara ia menunggu Ardolf selesai, ia hanya berlalu-lalang berkeliaran lalu tak sengaja bertemu founder Rhino sekilas ingin bertanya, "Ngapain aja disana? Habisnya mendadak banget," tanya Shou mempertanyakan kepergian mereka. Rhino menjawab, "Ada pesta penyambutan dari penduduk planet Xeplor dan kebudayaan mereka. Mungkin kalian bisa membantu-bantu juga." Shou mengangguk paham, "Tampak menarik."

"Berkemaslah supaya tidak buru-buru nanti," saran Rhino. "Sip sip." Memakai kacamata hitamnya lalu pergi untuk mengambil jaket sebab tak sengaja ia mendengar bahwa tempat akan dituju akan dingin dan burung tidak boleh sampai kedinginan.

Ia kini sibuk mencari jaket dan beberapa kain untuk ia jadikan syal, setelah beberapa menit terbuang hanya mencari mendadak Ardolf datang dan berkata, "Bang boleh pinjam sekrup atau semacam obeng gak bang?" pintanya, "Kalau ketemu aja." Mencari di sudut asramanya dan mengambil obeng sisa ia merakit. "Buat apa emang?" Tatap pemuda tersebut kearah lelaki yang menerima obeng dari tangan Shou.

"Buat perbaiki kacamata bang, framenya rusak. Kemungkinan dibikin modif bang biar keren," ujarnya bertekad berbarengan kekehan. "Begitu ya?" Mengangguk paham meminum susu stroberinya sedang memikirkan sesuatu dengan diam. "Habis mata suka kabur saat malam, jadi pakai buat jaga-jaga bang kalau ada situasi mendadak. Apalagi karena pohon waktu itu," oceh Ardolf mengeluh.

"Memikirkan soal pohon itu membuatku terpikirkan soal kuburan tersebut, ada yang aneh ... ," batinnya lekas ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi efeknya masih terasa ya setelah di obati?" tanya Shou lebih lanjut mengenai keadaan Ardolf. "Tentu saja bang ... ," jawabnya sebelum berhenti lalu lanjut berkata, "Mau diobatin selama ada parasit ya begitulah bang. Mau diangkat beresiko juga."

"Ganas amat Sayur," sahut dengan miris. Ardolf mengangguk, "Ya dia akan sangat mengganggu sekali kalau ada misi. Bukannya jalanin misi penting, eh malah misinya cari cewek," mirisnya mendecit. "Jadi takut deh di ambil," balas Shou dengan rasa sedikit tertarik, "Jangan lepas kendali Dolf," pintanya.

 "Semoga aja bang. Tapi sebenarnya lebih takut sama pihak ke-3 yang kendaliin penuh. Berbalik belakang dengan Syaoran, dia lebih sulit untuk dikendalikan." Mengoceh dengan wajah serius, "Pihak ke-3? Lebih sulit? Sulit sekali mengerti soal parasit mu Dolf." Menghela nafas panjang lalu ia hembus Ardolf menanggapi dengan anggukan.