Isi Cerita
Kurageko

Task 1 Dx

 

"Makanan sudah siap, makanlah ini agar kalian dapat mengalahkan Da-Hee."

 

Ditengah ramainya kantin, diantara semua orang. Aku menatap semangkok sup yang baru saja diberikan. Menatap chef dengan semangat, "waah!!" semangatku kembali terbakar usai latihan dengan Da-Hee.

 

Aku menatap sekitar mencoba mencari-cari meja yang kosong, aku mendapati sosok ... Cavin. Sembari membawa mangkuk berisi sup aku menghampiri meja yang tengah di duduki oleh Cavin, menyapanya,"Cavin! aku boleh duduk disini?" tanyaku basa-basi.

 

Cavin menoleh kearah ku, tak menjawab. Dia menatapku dingin. Seramnya. Aku anggap itu adalah iya. Sambil menyantap sup hangat ku, aku menatap canggung kearahnya. Tidak banyak yang bisa aku bahas dengan nya. Percakapan kami hanya sebatas basa-basi ringan.

 

"Hari ini ramai banget..."

 

Sehabis memakan sup aku merasa lelah. Aku menelungkupkan kepala kearah meja, rasanya ngantuk. Cavin menatapku dengan tatapan yang aku sendiri tak bisa jelaskan. Aku membalasnya dengan heran. Ada apa dengan nya?

 

Dia membuang muka acuh. Kayaknya anak itu beneran gak peduli denganku ~ Tapi yah, walau begitu dia ini cukup spesial bagiku. Melihat dia yang tidak minat, aku memejamkan mata karena ngantuk. Samar ku rasakan poniku sedikit tersingkap, cahaya sedikit memasuki indera pengelihatan ku, walau sedang tertutup.

 

Merasa agak terganggu, aku membuka mata ku perlahan. Rupanya Cavin. Wajahnya tampak serius saat selesai merapihkan poni ku, lucunya. Sepertinya dia belum sadar aku terbangun,"oh maaf, sepertinya kamu terganggu." Kata Cavin dengan wajah sedikit canggung.

 

"Pfft- aduh ... Aku terganggu banget nih~" Aku tertawa geli melihat ekspresinya yang malu-malu.

 

Melihatku menggodanya, Cavin refleks memasang wajah yang kurang bersahabat. Hal itu cukup membuat tawa ku kembali menggelegar.

 

"Bukan masalah kok, aku cuma sedikit mengantuk," Jelas ku sembari mengusap air mata akibat tertawa.

 

"Kamu ini serius sekali~" Senyuman tengil tersungging di wajahku.

 

"Pengumuman untuk seluruh anggota DianXy. Secara resmi kita akan mengadakan perjalanan menuju planet Xeplor esok hari. Diharapkan untuk seluruh siswa agar segera bersiap-siap dan menunda segala kegiatan. Saya ulangi."

 

Mendengar pengumuman itu fokusku sedikit teralihkan, menghentikan kegiatan ku sejenak untuk fokus mendengarkan. Kantin menjadi lebih ramai akibat pengumuman tiba-tiba. Aku pribadi juga cukup terkejut, sih.

 

"Kita bakal jalan-jalan, nih? Yeayyy" Sorak ku senang.

 

"Kura, kamu akan membawa barang apa aja?" Tanya Cavin. Aku menoleh, dengan semangat menjawabnya, "aku bakal bawa barang-barang yang penting aja sih, hehe. Kamu sendiri gimana, Vin?"

 

Mendengar jawabanku Cavin mengangguk pelan. "Aku akan bawa yang penting aja, mungkin tambahan satu buku, siapa tau ada yang bisa dipelajari."

 

"Yah ... Tas ku ini harus enteng sih. Aku takut ada kesalahan seperti kemarin. Uhmm .... Oh! Aku mau pinjam bukumu untuk mempelajari sesuatu.." Kata ku.

 

Cavin menatapku aneh, sebelum dia menjawab ku, "oke, tapi jangan sampai rusak."

 

Melihat Cavin menatapku aneh sontak membuatku sadar kalau terlalu banyak bicara. Aduh, bodohnya.

 

"Ah, maaf. Tenang aja! Aku gini-gini pintar jaga barang, lho! Hehe..." Jawab ku dengan menautkan kedua jari telunjuk.

 

Cavin mengangguk pelan, "nanti aku ambilkan."

 

"Sekarang aja, yuk! Aku kebetulan juga mau ke asrama buat siap-siap."

 

"Sebetulnya aku mau mempersiapkan barang juga. Tapi boleh sih. Kalau itu mau mu."

 

Mataku berbinar-binar semangat. Ah, senangnya. "Hehe, gitu dong." Cengir ku pada Cavin.

 

"Baiklah." Ucap Cavin sebelum dia jalan mendahului ku.

 

Aku menatapnya bingung tak mengerti, dan cepat-cepat menyusulnya. "Hei, jangan cepat-cepat dong." Cavin tidak menjawab, selama perjalanan menuju kamar Cavin sangat hening.

 

Selang beberapa menit, aku dan Cavin sampai. Aku melihatnya membereskan beberapa barang dari bibir pintu. Aku tidak bisa masuk karena kondisi kamarnya.

 

Cavin mengalihkan pandangan nya padaku saat dia menemukan satu buah buku di rak kamarnya. Itu buku yang mau aku pinjam rupanya.

 

"Oh, ini dia bukunya." Cavin memberikan buku itu kepada ku.

 

Aku menatap buku itu dengan semangat. "Buku baru untuk dipelajari!" Aku memeluk buku itu selayaknya memeluk boneka.

 

"Terimakasih, Cavin!"

 

"Ya, sama-sama. Sebaiknya kamu segera mengemasi barangmu. Oh iya, buku ku jangan sampai rusak."

 

Aku mengalihkan pandanganku, "ah, iya! Aku bakal jaga buku ini baik-baik kok! Dadah, Cavin~" Aku melambaikan tangan padanya.

 

Aku sampai lupa harus mengemas barang juga. Setelah beberapa saat dari kamar Cavin, akhirnya aku sampai juga di kamarku. Seperti yang aku bilang, aku akan membawa hal yang penting aja.

 

Ku raih tas ku lalu membereskan beberapa barang yang menurutku penting, seperti obat pribadi, baju, alat mandi, uang, dan masih banyak lagi.

 

Setelah siap, aku keluar dari kamar dan segera menguncinya. Saat di lorong aku kembali bertemu dengan Cavin.

 

Aku berjalan kearahnya. Cavin menyadari ada aku disebelahnya,"yo."

 

"Yo! Duh aku pengen manisan."

 

Cavin memasang pose berpikir sejenak, "kayaknya aku bawa permen coklat."

 

"Seriusan? Mau!"

 

 

- Done