Isi Cerita
Rhino La Cheiros

Bukan sekali dua kali lelaki tersebut tengah melamun dan terpaku pada surat asing di atas meja kerjanya. Sesekali ia tampak mengambil surat tersebut, membacanya, lalu menaruhnya lagi di atas meja.

 

Setelah beberapa kali melakukan rutinitas membosankan tersebut. Pintu ruangan terbuka, manik hitamnya melirik pada sosok perempuan berambut merah yang melangkah masuk. Lantas memilih untuk duduk pada sofa denim yang berada di tengah-tengah ruangan.

 

Rhino memperhatikan Maula yang tengah menaruh laptop–yang selalu wanita itu jinjing ke mana-mana. Sebenarnya kadang kala ia juga bertanya-tanya alasan mengapa wanita tersebut seringkali berkunjung ke ruang kerjanya ketika ia punya ruang kerja sendiri. Namun jika ditanya, tentu hanya sekadar tawa yang ia dapatkan.

 

“Kak Maula, apa menurutmu kita harus datang ke pesta penyambutan ini?” Rhino sekali lagi mengangkat selembar surat tersebut. Surat yang berisi undangan kepada para pahlawan untuk berpartisipasi pada pesta di planet Xeplor. Katanya, para penduduk bersuka cita dengan kebangkitan kembali para pahlawan, jadi mereka mengadakan sebuah pesta penyambutan.

 

Raut wajah penuh tidak keyakinan itu muncul. Maula memberikan rasa curiga pada selembar surat tersebut. “Saya tidak yakin, bahkan tentang bagaimana surat itu bisa ada di meja kerjamu.”

 

Ketika bahkan lokasi planet Mursa tidak diketahui oleh siapa pun kecuali orang-orang penting. Justru selembar kertas tiba di atas meja seorang pemimpin. Yang jelas menimbulkan rasa curiga akan adanya sosok yang menyelinap masuk di planet ini.

 

“Benar.” Rhino menaruh lagi surat tersebut. “Tapi aku rasa, tidak apa-apa jika kita hanya memenuhi undangan untuk datang.”

 

Maula cuma bisa mendengkus. “Mereka terlalu excited soal berita kembalinya para pahlawan, atau justru tengah mencurigai keberadaan kita.”

 

Rhino lagi-lagi tersenyum. Lantas bersandar pada kursinya. Ia tatap langit-langit ruangan yang berwarna putih tersebut. “Wajar, kita enggak akan pernah tahu kemalangan apa yang akan menimpa nasib seseorang.”

 

.

 

.

 

.

 

Rhino bisa mendengar hiruk pikuk murid-murid yang berlarian kesana kemari untuk mengambil barang yang mereka butuhkan. Tentu karena pengumuman dadakan tadi siang, mau tidak mau mereka terburu-buru membereskan apa yang harus mereka bawa untuk pergi ke planet Xeplor.

 

Rhino telah mencari tahu tentang planet itu sebelumnya. Mereka adalah penduduk planet yang tidak terlalu terikat pada teknologi. Mereka masih menyimpan adat istiadat budaya dan mempercayai norma ketuhanan.

 

Tercatat ada beberapa kuil yang menjadi tempat ibadah. Dan ada satu kuil besar di kota yang sering dijadikan tempat perayaan hal penting di planet tersebut. Para penduduknya dikenal ramah dan penuh santun, itulah yang tercatat di arsip.

 

Belum diketahui pasti bagaimana cara mereka mengirimkan selembar surat. Tapi yang pasti, Rhino ingin mencari tahu tentang apa yang tengah disembunyikan di planet penuh kedamaian tersebut.

 

“Kau yakin aku tidak perlu ikut?”

 

Suara itu–Budi–mempertanyakan lagi untuk kesekian kalinya. Di benak pemuda itu, ia meragukan kepemimpinan Rhino. Meninggalkan dirinya di markas, padahal ia adalah pion penting.

 

“Ini hanya pesta penyambutan, kamu cukup menjaga markas selagi kami pergi,” katanya. Budi memutar bola matanya.

 

Budi sejak tiba di ruangan Rhino, memperhatikan pemuda itu. Di kala yang lainnya tengah sibuk mempersiapkan pakaian dan beberapa alat, Rhino bahkan tidak mengambil tas. Tidak membereskan apapun.

 

Ia jadi bertanya-tanya apa mungkin Rhino sudah membereskan pakaiannya sejak awal. Tapi, rasanya Rhino bukanlah seseorang yang secepat itu dalam beberes.

 

“Oh, aku mau makan. Kamu?”

 

Budi menggelengkan kepala. Tidak peduli mau bagaimana pun. Ia sama sekali tidak menyukai bertemu dengan orang lain. Itulah alasannya memilih untuk selalu berada di ruang kerja Rhino.

 

“Baiklah, aku akan ke kantin.” Rhino tanpa berlama-lama lagi pada akhirnya meninggalkan Budi sendirian di dalam ruang kerja. Rhino tahu bahwa gurita raksasa itu enggan berkomunikasi dengan orang luar semenjak bertemu. Tapi bukan berarti Rhino mau berlama-lama di satu ruangan bersamanya.

 

Memikirkan itu, Rhino baru teringat bahwa ia belum membereskan apapun untuk dibawa.

 

.

 

.

 

.

 

To be continued…