03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Bukan sekali dua kali lelaki
tersebut tengah melamun dan terpaku pada surat asing di atas meja kerjanya.
Sesekali ia tampak mengambil surat tersebut, membacanya, lalu menaruhnya lagi
di atas meja.
Setelah beberapa kali melakukan
rutinitas membosankan tersebut. Pintu ruangan terbuka, manik hitamnya melirik
pada sosok perempuan berambut merah yang melangkah masuk. Lantas memilih untuk
duduk pada sofa denim yang berada di tengah-tengah ruangan.
Rhino memperhatikan Maula yang
tengah menaruh laptop–yang selalu wanita itu jinjing ke mana-mana. Sebenarnya
kadang kala ia juga bertanya-tanya alasan mengapa wanita tersebut seringkali
berkunjung ke ruang kerjanya ketika ia punya ruang kerja sendiri. Namun jika
ditanya, tentu hanya sekadar tawa yang ia dapatkan.
“Kak Maula, apa menurutmu kita harus
datang ke pesta penyambutan ini?” Rhino sekali lagi mengangkat selembar surat
tersebut. Surat yang berisi undangan kepada para pahlawan untuk berpartisipasi
pada pesta di planet Xeplor. Katanya, para penduduk bersuka cita dengan
kebangkitan kembali para pahlawan, jadi mereka mengadakan sebuah pesta
penyambutan.
Raut wajah penuh tidak keyakinan itu
muncul. Maula memberikan rasa curiga pada selembar surat tersebut. “Saya tidak
yakin, bahkan tentang bagaimana surat itu bisa ada di meja kerjamu.”
Ketika bahkan lokasi planet Mursa
tidak diketahui oleh siapa pun kecuali orang-orang penting. Justru selembar
kertas tiba di atas meja seorang pemimpin. Yang jelas menimbulkan rasa curiga
akan adanya sosok yang menyelinap masuk di planet ini.
“Benar.” Rhino menaruh lagi surat
tersebut. “Tapi aku rasa, tidak apa-apa jika kita hanya memenuhi undangan untuk
datang.”
Maula cuma bisa mendengkus. “Mereka
terlalu excited soal berita
kembalinya para pahlawan, atau justru tengah mencurigai keberadaan kita.”
Rhino lagi-lagi tersenyum. Lantas
bersandar pada kursinya. Ia tatap langit-langit ruangan yang berwarna putih
tersebut. “Wajar, kita enggak akan pernah tahu kemalangan apa yang akan menimpa
nasib seseorang.”
.
.
.
Rhino bisa mendengar hiruk pikuk
murid-murid yang berlarian kesana kemari untuk mengambil barang yang mereka
butuhkan. Tentu karena pengumuman dadakan tadi siang, mau tidak mau mereka
terburu-buru membereskan apa yang harus mereka bawa untuk pergi ke planet
Xeplor.
Rhino telah mencari tahu tentang
planet itu sebelumnya. Mereka adalah penduduk planet yang tidak terlalu terikat
pada teknologi. Mereka masih menyimpan adat istiadat budaya dan mempercayai
norma ketuhanan.
Tercatat ada beberapa kuil yang
menjadi tempat ibadah. Dan ada satu kuil besar di kota yang sering dijadikan
tempat perayaan hal penting di planet tersebut. Para penduduknya dikenal ramah
dan penuh santun, itulah yang tercatat di arsip.
Belum diketahui pasti bagaimana cara
mereka mengirimkan selembar surat. Tapi yang pasti, Rhino ingin mencari tahu
tentang apa yang tengah disembunyikan di planet penuh kedamaian tersebut.
“Kau yakin aku tidak perlu ikut?”
Suara itu–Budi–mempertanyakan lagi
untuk kesekian kalinya. Di benak pemuda itu, ia meragukan kepemimpinan Rhino.
Meninggalkan dirinya di markas, padahal ia adalah pion penting.
“Ini hanya pesta penyambutan, kamu
cukup menjaga markas selagi kami pergi,” katanya. Budi memutar bola matanya.
Budi sejak tiba di ruangan Rhino,
memperhatikan pemuda itu. Di kala yang lainnya tengah sibuk mempersiapkan
pakaian dan beberapa alat, Rhino bahkan tidak mengambil tas. Tidak membereskan
apapun.
Ia jadi bertanya-tanya apa mungkin
Rhino sudah membereskan pakaiannya sejak awal. Tapi, rasanya Rhino bukanlah
seseorang yang secepat itu dalam beberes.
“Oh, aku mau makan. Kamu?”
Budi menggelengkan kepala. Tidak
peduli mau bagaimana pun. Ia sama sekali tidak menyukai bertemu dengan orang
lain. Itulah alasannya memilih untuk selalu berada di ruang kerja Rhino.
“Baiklah, aku akan ke kantin.” Rhino
tanpa berlama-lama lagi pada akhirnya meninggalkan Budi sendirian di dalam
ruang kerja. Rhino tahu bahwa gurita raksasa itu enggan berkomunikasi dengan
orang luar semenjak bertemu. Tapi bukan berarti Rhino mau berlama-lama di satu
ruangan bersamanya.
Memikirkan itu, Rhino baru teringat
bahwa ia belum membereskan apapun untuk dibawa.
.
.
.
To be continued…