Isi Cerita
Arumi Sinclair

Beberapa bulan terlewati sejak Dianxy dibangkitkan. Dan para anggota melatih diri mereka sebaik mungkin selama berada di sini.

 

Banyak hal yang terjadi, meski begitu mereka masih tetap bertahan dan melatih diri mereka sebelum bertugas ke luar planet.

 

Tidak apa-apa meskipun babak belur, karena di luar sana para musuh tidak mengizinkan mereka untuk beristirahat.

 

Siangnya, Komandan Maula masuk ke dalam ruangan setelah mendengar bahwa Kapten Rhino mendapat sebuah undangan dari Planet Xeplor. Ia berjalan mendekati sang kapten yang tengah membaca surat itu dengan senyum di wajahnya.

 

"Kak Maula, apa menurutmu kita harus datang ke pesta penyambutan ini?" Sang kapten bertanya tanpa mengalihkan pandang.

 

Komandan Maula reflek mengerutkan dahi, memasang ekspresi tak yakin. "Saya tidak yakin. Bahkan tentang bagaimana surat itu bisa sampai di atas meja kerjamu."

 

Kapten Rhino terdiam selama beberapa saat, memandangi undangan di tangannya. "Aku rasa, itu memang benar. Tapi aku rasa tidak apa sesekali datang ke pesta penyambutan dari planet lain."

 

Komandan Maula menggelengkan kepalanya sebagai respon, "Mereka terlalu antusias soal kembalinya para pahlawan, atau justru tengah mencurigai keberadaan kita."

 

"Wajar." Sang kapten tersenyum, lalu surat itu diletakkannya di atas meja.

 

Tiba akhirnya jam istirahat makan siang. Kantin dengan cepat terisi penuh, meskipun sebagian murid ada yang memilih untuk istirahat di tempat lain.

 

Mereka akan memanfaatkan waktu istirahat sebaik mungkin sebelum melanjutkan pelajaran yang tersisa. Hari ini sang ketua pasukan menghajar mereka habis-habisan di bawah teriknya sinar mentari.

 

Meskipun tidak setara dalam hal sihir seperti yang lainnya, Da-Hee adalah satu-satunya anggota yang memiliki pengalaman tempur paling banyak.

 

Beberapa murid menghela nafas ketika mengingat Da-Hee yang dengan sengaja memukul mereka di bagian kepala dengan keras.

 

"Apa yang kalian tunggu?" Sang koki, Elliot berucap sambil menggenggam centong di tangannya.

 

"Makanan sudah siap, makanlah ini agar kalian dapat mengalahkan Da-Hee." Eddie, koki yang lain menyahut, membawa semangkuk sup di kedua tangannya.

 

Para murid langsung mengambil sup itu dan dengan antusias memakannya.

 

"Aromanya harum. Terima kasih."

 

Arumi ikut mengambil semangkok sup itu, menundukkan kepalanya sebagai rasa terima kasih.

 

"Sama-sama."

 

Arumi segera duduk dan memakan sup tersebut dengan lahap. Rasanya yang lezat memanjakan lidah dan meredakan lapar di perut.

 

"Uhh.. boleh tambah lagi tidak ya.." Arumi bergumam kepada diri sendiri sembari melirik yang lain.

 

Menyadari gerak gerik Arumi, sang koki berucap, "supnya ada untuk semua. Jika ingin, silahkan tambah lagi."

 

Arumi berbinar ketika ia mendengar ucapan dari sang koki. Lantas sang gadis beranjak untuk menambah sup lagi.

 

'Enak...'

 

Waktu istirahat berlalu. Para murid kemudian melanjutkan pelajaran mereka selanjutnya.

 

Namun di tengah itu, sebuah pengumuman membuat mereka menghentikan kegiatan yang mereka lakukan.

 

“Pengumuman untuk seluruh anggota DianXy. Secara resmi kita akan mengadakan perjalanan menuju planet Xeplor esok hari. Diharapkan untuk seluruh siswa agar segera bersiap-siap dan menunda segala kegiatan. Saya ulangi.”

 

Pengumuman itu berhasil membuat mereka terkejut. Ribut-ribut para anggota meriuhkan suasana. Mereka yang sudah lama berada di planet ini, tiba-tiba mendapat kabar untuk melakukan perjalanan ke luar planet.

 

"Wow, ada perjalanan ke luar planet?!"

 

"Apa yang harus kita siapkan?"

 

Seluruh pelajaran akhirnya dihentikan, dan semua murid diperkenankan untuk bersiap-siap dengan barang yang akan mereka bawa.

 

"Perjalanan ke luar..." Arumi bergumam. "Bawa yang penting saja. Membawa Elio saja sudah cukup repot."

 

"Bawa diri sendiri saja."

 

Fadeyka tiba-tiba menyahut, membuat terkejut Arumi yang sedang membungkus senjatanya.

 

"Iya, lebih praktis membawa jiwa dan raga saja. Tapi saya juga harus membawa senjata saya yang besar ini."

 

Tawa datar keluar dari Fadeyka. "Waha! Itu bagus. Mungkin orang ditempat yang kita kunjungi akan menganggapnya tawaran perang."

 

"Oh, tidak. Sebisa mungkin saya menghindari masalah seperti itu, makanya senjata ini saya bungkus." Balas Arumi sambil memegangi tengkuk lehernya.

 

Arumi melirik machine gun miliknya, "namun berat juga jika harus membawa benda ini ke mana-mana, rasanya seperti membawa galon."

 

"Haha. Kalau kamu kesulitan kamu bisa menitipkannya padaku. Kebetulan aku selalu membuka jasa penitipan barang."

 

Fadeyka membalas, menyeringai, menunjukkan deretan gigi putih rapinya.

 

"Loh, bisa? Boleh?"

 

Arumi bertanya dengan antusias, nampak senang dengan tawaran itu karena ia tak perlu susah-susah menggendong Elio di punggungnya.

 

"Tentu saja! Aku bisa membawa 20 bazoka Tanpa merasa kelelahan haha."

 

"Keren! Kalau begitu saya titip Elio." Arumi menyodorkan machine gun itu dengan mata berbinar.

 

"Jika butuh bantuan, anda bisa katakan, saya siap membantu." Tambah Arumi.

 

"Elio?"

 

Kalimat yang terakhir diabaikan, Fadeyka lebih terheran mengetahui bahwa Arumi memberikan nama pada machine gun yang disodorkan kepadanya.

 

"Namanya?"

 

"Ah, iya. Namanya Elio, si tampan kesayangan saya."

 

Arumi menjawab sambil menepuk-nepuk Elio dengan bangga.

 

Fadeyka menatap ragu antara Arumi dan machine gun nya.

 

"Agak aneh menyebutnya tampan. Maksudku... Benar-benar?"

 

Arumi mengangguk. "Benar! Si tampan, mengkilap, dan  berdamage walaupun baru 75% jadi."

 

Sang pemuda memutar kepala kanan kiri, namun tetap membuka jubahnya lebar lebar.

 

"Dorong saja masuk dan itu akan tersimpan ke dalam." Jelasnya.

 

"Tinggal dorong, kan?"

 

Arumi bertanya, dan dengan sedikit ragu mendorong Elio masuk ke dalam jubah.

 

"Sudah?"

 

"Oh? Buatanmu?"

 

"Iya, walaupun belum sepenuhnya jadi."

 

Arumi melihat bagaimana machine gun miliknya perlahan lahan menembus jubah seakan tenggelam kedalam air dan menghilang.

 

Fadeyka lalu mengibaskan jubahnya.

 

"Lihat? Aku membawanya seakan tidak membawa apa apa haha."

 

Terkejut melihat machine gun miliknya yang masuk ke dalam jubah, Arumi lalu memutari Fadeyka dengan rasa penasaran dan kagum.

 

"Benar-benar.. keren!" Komentar Arumi.

 

"Ya.. kemampuanku bisa membuat apapun yang dipegang menjadi sebuah portal untuk dimensiku haha."

 

"Omong-omong, mengapa bisa rusak? Aku curiga itu dipakai untuk tawuran atau hal semacam itu." Fadeyka bertanya, raut ketertarikan kentara di wajah.

 

"Tawuran dengan alien? Iya." Arumi membalas singkat, masih kagum dengan jubah Fadeyka yang dapat menelan machine gun sebesar itu.

 

"Keren.. tapi di dalam sana ada oksigen tidak?"

 

"Hmm aku tidak tahu. Tapi jika seperti itu bukankan ini seperti rencana pembunuhan?"

 

Fadeyka berfikir sambil menutup mata.

 

"Jadi belum pernah coba?"

 

Arumi bertanya balik sambil memegang dagu dengan tangan, ikut berpikir.

 

"Saya jadi ikut penasaran."

 

"Yah, sudahlah. Bisa kita pikirkan lain kali." Fadeyka mengendikkan bahu.

 

"Sudah selesai mengemas barangmu?"

 

"Sudah!"