03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Beberapa bulan terlewati sejak Dianxy
dibangkitkan. Dan para anggota melatih diri mereka sebaik mungkin selama berada
di sini.
Banyak hal yang terjadi, meski begitu
mereka masih tetap bertahan dan melatih diri mereka sebelum bertugas ke luar planet.
Tidak apa-apa meskipun babak belur, karena
di luar sana para musuh tidak mengizinkan mereka untuk beristirahat.
Siangnya, Komandan Maula masuk ke dalam
ruangan setelah mendengar bahwa Kapten Rhino mendapat sebuah undangan dari
Planet Xeplor. Ia berjalan mendekati sang kapten yang tengah membaca surat itu
dengan senyum di wajahnya.
"Kak Maula, apa menurutmu kita harus
datang ke pesta penyambutan ini?" Sang kapten bertanya tanpa mengalihkan
pandang.
Komandan Maula reflek mengerutkan dahi,
memasang ekspresi tak yakin. "Saya tidak yakin. Bahkan tentang bagaimana
surat itu bisa sampai di atas meja kerjamu."
Kapten Rhino terdiam selama beberapa saat,
memandangi undangan di tangannya. "Aku rasa, itu memang benar. Tapi aku
rasa tidak apa sesekali datang ke pesta penyambutan dari planet lain."
Komandan Maula menggelengkan kepalanya
sebagai respon, "Mereka terlalu antusias soal kembalinya para pahlawan,
atau justru tengah mencurigai keberadaan kita."
"Wajar." Sang kapten tersenyum,
lalu surat itu diletakkannya di atas meja.
Tiba akhirnya jam istirahat makan siang.
Kantin dengan cepat terisi penuh, meskipun sebagian murid ada yang memilih
untuk istirahat di tempat lain.
Mereka akan memanfaatkan waktu istirahat
sebaik mungkin sebelum melanjutkan pelajaran yang tersisa. Hari ini sang ketua
pasukan menghajar mereka habis-habisan di bawah teriknya sinar mentari.
Meskipun tidak setara dalam hal sihir
seperti yang lainnya, Da-Hee adalah satu-satunya anggota yang memiliki
pengalaman tempur paling banyak.
Beberapa murid menghela nafas ketika
mengingat Da-Hee yang dengan sengaja memukul mereka di bagian kepala dengan
keras.
"Apa yang kalian tunggu?" Sang
koki, Elliot berucap sambil menggenggam centong di tangannya.
"Makanan sudah siap, makanlah ini agar
kalian dapat mengalahkan Da-Hee." Eddie, koki yang lain menyahut, membawa
semangkuk sup di kedua tangannya.
Para murid langsung mengambil sup itu dan
dengan antusias memakannya.
"Aromanya harum. Terima kasih."
Arumi ikut mengambil semangkok sup itu, menundukkan
kepalanya sebagai rasa terima kasih.
"Sama-sama."
Arumi segera duduk dan memakan sup tersebut
dengan lahap. Rasanya yang lezat memanjakan lidah dan meredakan lapar di perut.
"Uhh.. boleh tambah lagi tidak
ya.." Arumi bergumam kepada diri sendiri sembari melirik yang lain.
Menyadari gerak gerik Arumi, sang koki
berucap, "supnya ada untuk semua. Jika ingin, silahkan tambah lagi."
Arumi berbinar ketika ia mendengar ucapan
dari sang koki. Lantas sang gadis beranjak untuk menambah sup lagi.
'Enak...'
Waktu istirahat berlalu. Para murid
kemudian melanjutkan pelajaran mereka selanjutnya.
Namun di tengah itu, sebuah pengumuman
membuat mereka menghentikan kegiatan yang mereka lakukan.
“Pengumuman untuk seluruh anggota DianXy.
Secara resmi kita akan mengadakan perjalanan menuju planet Xeplor esok hari.
Diharapkan untuk seluruh siswa agar segera bersiap-siap dan menunda segala
kegiatan. Saya ulangi.”
Pengumuman itu berhasil membuat mereka
terkejut. Ribut-ribut para anggota meriuhkan suasana. Mereka yang sudah lama
berada di planet ini, tiba-tiba mendapat kabar untuk melakukan perjalanan ke
luar planet.
"Wow, ada perjalanan ke luar
planet?!"
"Apa yang harus kita siapkan?"
Seluruh pelajaran akhirnya dihentikan, dan
semua murid diperkenankan untuk bersiap-siap dengan barang yang akan mereka
bawa.
"Perjalanan ke luar..." Arumi
bergumam. "Bawa yang penting saja. Membawa Elio saja sudah cukup
repot."
"Bawa diri sendiri saja."
Fadeyka tiba-tiba menyahut, membuat
terkejut Arumi yang sedang membungkus senjatanya.
"Iya, lebih praktis membawa jiwa dan
raga saja. Tapi saya juga harus membawa senjata saya yang besar ini."
Tawa datar keluar dari Fadeyka. "Waha!
Itu bagus. Mungkin orang ditempat yang kita kunjungi akan menganggapnya tawaran
perang."
"Oh, tidak. Sebisa mungkin saya
menghindari masalah seperti itu, makanya senjata ini saya bungkus." Balas
Arumi sambil memegangi tengkuk lehernya.
Arumi melirik machine gun miliknya,
"namun berat juga jika harus membawa benda ini ke mana-mana, rasanya
seperti membawa galon."
"Haha. Kalau kamu kesulitan kamu bisa
menitipkannya padaku. Kebetulan aku selalu membuka jasa penitipan barang."
Fadeyka membalas, menyeringai, menunjukkan
deretan gigi putih rapinya.
"Loh, bisa? Boleh?"
Arumi bertanya dengan antusias, nampak
senang dengan tawaran itu karena ia tak perlu susah-susah menggendong Elio di
punggungnya.
"Tentu saja! Aku bisa membawa 20
bazoka Tanpa merasa kelelahan haha."
"Keren! Kalau begitu saya titip
Elio." Arumi menyodorkan machine gun itu dengan mata berbinar.
"Jika butuh bantuan, anda bisa
katakan, saya siap membantu." Tambah Arumi.
"Elio?"
Kalimat yang terakhir diabaikan, Fadeyka
lebih terheran mengetahui bahwa Arumi memberikan nama pada machine gun yang
disodorkan kepadanya.
"Namanya?"
"Ah, iya. Namanya Elio, si tampan
kesayangan saya."
Arumi menjawab sambil menepuk-nepuk Elio
dengan bangga.
Fadeyka menatap ragu antara Arumi dan
machine gun nya.
"Agak aneh menyebutnya tampan.
Maksudku... Benar-benar?"
Arumi mengangguk. "Benar! Si tampan,
mengkilap, dan berdamage walaupun baru
75% jadi."
Sang pemuda memutar kepala kanan kiri,
namun tetap membuka jubahnya lebar lebar.
"Dorong saja masuk dan itu akan
tersimpan ke dalam." Jelasnya.
"Tinggal dorong, kan?"
Arumi bertanya, dan dengan sedikit ragu
mendorong Elio masuk ke dalam jubah.
"Sudah?"
"Oh? Buatanmu?"
"Iya, walaupun belum sepenuhnya
jadi."
Arumi melihat bagaimana machine gun
miliknya perlahan lahan menembus jubah seakan tenggelam kedalam air dan
menghilang.
Fadeyka lalu mengibaskan jubahnya.
"Lihat? Aku membawanya seakan tidak
membawa apa apa haha."
Terkejut melihat machine gun miliknya yang
masuk ke dalam jubah, Arumi lalu memutari Fadeyka dengan rasa penasaran dan
kagum.
"Benar-benar.. keren!" Komentar
Arumi.
"Ya.. kemampuanku bisa membuat apapun
yang dipegang menjadi sebuah portal untuk dimensiku haha."
"Omong-omong, mengapa bisa rusak? Aku
curiga itu dipakai untuk tawuran atau hal semacam itu." Fadeyka bertanya,
raut ketertarikan kentara di wajah.
"Tawuran dengan alien? Iya."
Arumi membalas singkat, masih kagum dengan jubah Fadeyka yang dapat menelan
machine gun sebesar itu.
"Keren.. tapi di dalam sana ada
oksigen tidak?"
"Hmm aku tidak tahu. Tapi jika seperti
itu bukankan ini seperti rencana pembunuhan?"
Fadeyka berfikir sambil menutup mata.
"Jadi belum pernah coba?"
Arumi bertanya balik sambil memegang dagu
dengan tangan, ikut berpikir.
"Saya jadi ikut penasaran."
"Yah, sudahlah. Bisa kita pikirkan
lain kali." Fadeyka mengendikkan bahu.
"Sudah selesai mengemas
barangmu?"
"Sudah!"