03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Hari berlalu dengan tenang dan normal, terlalu normal kalau dipikirkan lagi. Saat ini kami hanya diberikan tugas untuk mengecek murid-murid agar tidak terlalu berkeliaran terlalu jauh sampai akhirnya tiba pada hari dimana seharusnya tidak ada kegiatan apa pun selain berleha-leha di atas kasur yang empuk dan nyaman.
Hari minggu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu setelah beberapa hari yang panjang dan penuh rintangan.
Saat ini aku yaitu Luisa Arcadia sedang berbaring dan berleha-leha di atas kasur sambil memeluk kain yang ku tumpuk secara asal, "Fuah... inikah rasanya hari libur?" gumamku dengan wajah berseri-seri.
"Lebih baik tidak ada masalah di hari yang tenang ini." Aku membungkus badanku menggunakan kain yang telah ku tumpuk sehingga terlihat seperti tumpukan kain biasa.
Aku memejamkan mataku agar bisa menyelami— Duak! Duak!— mimpi, yang benar saja? Aku baru saja ingin tidur lagi loh? Dengan malas aku bangun dari bawah tumpukan kain lalu berjalan dengan lunglai ke arah pintu kamar milikku.
Ctak- Zhss~
"Hai Luisa. Ayo kita mencari kegiatan yang menyenangkan!" ucap Saaochi dengan senyum beserta wajah tanpa dosa miliknya yang terlihat setelah pintu kamarku terbuka.
Aku mengerutkan alisku dan menatapnya dengan tatapan tajam, "malas." singkatku sambil menempelkan ID card milikku agar pintuku tertutup.
Sebelum pintu itu tertutup dengan sempurna Saaochi sudah terlebih dahulu menerobos masuk ke dalam kamar milikku dengan entengnya, aku dengan cepatnya menarik kerah belakang bajunya sebelum dia masuk lebih jauh ke dalam kamarku.
"Huk! Heh! Jangan di tarik, nanti kusut," gerutunya setelah aku menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. "Ganti baju sana, mending bergaul daripada mengurung diri di kamar." lanjut Saaochi sambil meletakkan tangannya di atas pundak milikku.
Aku mengangkat sebelah alisku, "kamu lupa kalau aku ini ansos? Lagipula ku rasa tidak ada yang ingin bergaul denganku." Aku dengan acuh melewati Saaochi sambil menguap setelah melepaskan tangannya yang menempel di bahuku.
"Eits— cepat ganti baju sebelum aku mengacaukan hari indah milikmu," ucap Saaochi sambil menarik ubun-ubun kepalaku. Itu hampir membuatku terjengkang ke belakang.
Aku berdecak lalu mengangguk pasrah sambil memasang muka masam lalu segera mandi dan mengganti pakaianku dengan turtleneck hitam yang ku lapisi dengan kaos putih dan celana pendek selutut yang selaras dengan turtleneck yang ku pakai di tambah dengan sepatu sandal untuk alas kakiku.
Tidak lupa aku memakai jepit rambut setelah itu aku berjalan dengan lesu lalu membuka pintu kamar milikku. Lorong Asrama sedikit lebih ramai dari biasanya mungkin karena hari ini adalah hari yang damai jadi para murid yang lain sedang berjalan-jalan sambil menikmati minggu pagi.
"Sudah sarapan?" tanya Saaochi yang berjalan di sampingku, kami memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan sambil melihat arena latihan.
"Pakai bertanya..., belum." Aku menoleh ke arah samping tepatnya ke arah jendela, langit di luar terlihat cerah. Langit cerah tanda damai, harusnya.
"Nih, roti. Baru di angkat dari panggangan," ucap Saaochi sambil menyuapi— merecoki roti ke dalam mulutku. Anak ini- sabar, aku menarik roti yang menyumpali mulutku dengan sedikit kasar lalu menghela nafas lelah sambil mengunyah roti itu dengan perasaan dongkol.
"Aku mau marah tapi tidak bisa..." gumamku sambil mengunyah roti yang diberikan oleh Saaochi.
Kami terus berjalan-jalan, sebenarnya aku bingung dengan tujuan yang akan kami tuju tapi ya sudah lah.
"Tumben sepi ya?" tanya Saaochi sambil melihat ke sekeliling. Aku juga mengikuti sorot matanya dan benar sekarang rasanya tiba-tiba menjadi cukup tenang.
Srak~
"Itu... bulunya Eira, bukan?" tanyaku kepada Saaochi sambil menunjuk dua buah bulu yang melayang di dekat kami berdua.
"Benar, ini bulunya Eira si Penjaga Tower," jawabannya dengan anggukan kepala, "ku rasa ini penyebab kenapa tiba-tiba suasananya menjadi sepi. Ayo kita ikut, sepertinya yang lain pergi bersenang-senang!" ajak Saaochi sambil meraih bulu milik Eira.
Belum sempat aku menolak kami berdua tiba-tiba berteleportasi ke atas kapal milik Viera, aku meneteskan keringat dingin saat melihat Naga Air yang sedang mengamuk ditambah lagi ternyata hampir semua murid dan mentor ada di atas kapal ini. Mataku melirik Saaochi yang terlihat berseri-seri saat melihat visual dari Naga Air yang sedang ada tepat di hadapan kapal ini.
Tanpa sadar aku melihat Viera dan Da-Hee yang sedang bertos gembira, bisa ditebak kalau ini semua rencana milik Da-Hee mengingat dia cukup jahil.
'Pantas hari ini cerah, ternyata ada maksud tertentunya...' batinku meringis sambil meneteskan air mata imajiner bukan apa-apa tapi secara tiba-tiba aku merasa seharusnya sedari awal aku tidak mengikuti Saaochi.
"Luisa! Ayo naik Naga itu~" ajak Saaochi sambil menaruh lengannya di bahuku secara tidak langsung menahanku agar tidak kabur. 'Ketua huhuhu...' batinku berteriak dengan frustasi tentu saja itu tertutup sempurna karena mimik wajahku yang sedang bisa di atur ini.
"Bagaimana caranya? Lagipula aku tidak bilang mau dan lepaskan tanganmu dari pundak ku." jawabku dengan datar sambil menekuk bibir ku ke bawah.
"Minta tolong teleportasikan ke Bastian lah, memangnya apa lagi?" jawab Saaochi dengan riang, seakan-akan mengabaikan perkataan terakhirku dia langsung menyeretku ke arah Bastian yang dengan mudah dia temukan di antara kerumunan yang lain.
"Yo Bastian! Teleportasikan kami ke atas Naga nya dong," pinta Saaochi ke Bastian yang sedang menatap Naga itu dengan santai sambil meminum secangkir kopi.
"Biar apa?" tanya Bastian dengan singkat sambil menatap Saaochi dengan datar secara sekilas netra kami bertabrakan dan aku langsung mengodenya agar menolak dengan menggelengkan kepala.
Tiba-tiba perasaan tidak enak menggerogoti otakku, aku melotot ke arah Bastian yang tersenyum miring setelah melihatku menggelengkan kepala. 'Kenapa aku harus terjebak di sini sih...' batinku dengan raut wajah masam yang terpampang jelas.
"Biarin, udahlah cepat teleportin aja." tuntut Saaochi sambil menunjuk-nunjuk ke arah Naga yang terlihat sedang mengamuk itu.
"Aku tidak mau, Saaochi." tekanku sambil menahan diri agar tidak menggebuk Saaochi yang sedang tertawa tanpa dosa itu.
Sepertinya itu tidak berpengaruh karena sekarang aku dan Saaochi sudah berada di atas badan Naga itu, 'Bastian sialan...' batinku sambil mengeluarkan kata-kata kasar yang ku ketahui. Aku memegang tangan Saaochi dengan erat berharap agar tidak terjatuh dari Naga Air yang sedang kami naiki ini apalagi Naga ini dalam keadaan sedang di serang.
'Sialnya aku, kenapa bisa aku tidak membawa senjata,' batinku sambil menggerutu dan mengeluhkan hal-hal lainnya.
Naga itu mengamuk dan menembakkan petir ke arah kapal sampai-sampai kapal milik Viera itu berlubang cukup besar, ditambah lagi dengan ombak yang diciptakan monster ini membuat kapal itu terlihat sedikit lagi akan ambruk.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari jam tangan hologram yang ku pakai, [Kalian... dimana?] itu adalah pesan dari Ketua dan sepertinya semua orang mendapatkan pesan itu.
[Berada di atas Naga, bersama Saaochi.] jawabku dengan menggunakan voice note, Saaochi juga terlihat menjawab dengan jawaban yang sama.
[Tunggu sebentar, saya akan menjemput kalian.] itu adalah pesan terakhir yang Ketua sampaikan sebelum akhirnya aku dan Saaochi berteleportasi kembali ke atas kapal.
Terlihat wajah-wajah lega dari yang lain setelah aku dan Saaochi kembali ke kapal. Dari kejauhan terlihat Ketua yang sedang menggendong bayi Naga, sepertinya Ketua memakai kekuatannya pikirku.
Setidaknya hari ini tidak berlalu dengan terlalu buruk.
'KU MOHON SETELAH INI TIDAK ADA LAGI MONSTER~' batinku berteriak dengan stress, sesuka-sukanya aku dengan monster aku tetap saja mempunyai batas kesabaran untuk menghadapi monster tersebut.
<Ending Arc 01>