Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

 

Pagi yang cerah kembali datang memasuki celah gorden di dalam kamar asrama ku, dengan diiringi suara nyaring dari alarm yang telah berdering membuatku terpaksa membuka mata dan melakukan rutinitas ku.

"Ah, pagi tiba rupanya." Aku beranjak mematikan suara alarm yang membangunkan ku.

Aku meregangkan tubuhku dan segera beranjak turun dari kasurku untuk segera bersiap melakukan aktivitas ku hari ini.

"Hari ini sangat damai sekali." Aku keluar dari kamar ku untuk berjalan-jalan menikmati hari libur yang tenang ini.

"Kalau dipikir-pikir sudah sepekan ya sejak pelajaran di langit, lalu dilempar ke dungeon dan mencari seribu bola bulu di salju," ucapku mengingat-ingat kejadian sebelumnya yang luar biasa.

"Brrrr, mengingat saat pencarian bola bulu itu membuat ku merasa kedinginan lagi." Aku memeluk tubuhku sendiri saat tiba tiba merasakan sensasi yang dingin.

"Hari ini benar-benar tenang yaa, aku hanya melihat beberapa mentor yang sedang berlalu lalang,"

"Sedikit mencurigakan tapi sepertinya tidak ada salahnya juga menikmati hari tenang seperti ini?" tanya ku pada diriku, berusaha meyakinkan diri bahwa ini benar-benar hari yang tenang dan tidak ada kejutan di luar dugaan lagi.

Walau hari ini merupakan hari tenang dan bebas, aku tidak dapat berkeliling hingga ke luar area markas. Dan jika aku memaksa ke luar juga, kemungkinan akan di tangkap oleh Eira yang menjadi penjaga tower. Sebab katanya penjaga tower ini pemakan segala, ah tidak tapi dia memakan apa saja.

"Sepertinya disini banyak yang tidak biasanya ya, pemakan segalanya, hmm, " ucapku saat mengingat bukan hanya Eira yang dapat memakan segalanya, tapi Budi—orang yang membawa ku kemari juga dirumorkan suka menelan orang cakep.

"Ahahaha, cakep ya," gumam ku kikuk saat mengingat dua hal itu.

Aku menepis pikiran untuk mencoba ke luar dari area markas, yah tidak ada salah nya menjaga diri dari hal yang tidak diinginkan—termasuk di makan oleh penjaga tower.

"Dan uh, bosannya. Tapi kalau ada misi susah juga. Ngapain ya enak nya," keluh ku sambil masih berjalan tanpa tujuan. Sebenarnya aku mau kemana?

"Hmm, apa aku ke perpustakaan saja ya? Tapi dimana? Aku lupa." Aku menggaruk kepala ku bingung dan meringis karena lupa dengan struktur markas.

Tiba-tiba ada sebuah bulu putih terjatuh di hadapan ku.

"Eh, ada bulu. Lucu sekali, warna nya putih bersih," aku berjongkok menatap bulu putih tadi yang sekarang tergeletak di tanah tepat di hadapan ku.

"Melihatnya aku jadi merindukan nya," lirik ku pelan lalu mengambil bulu putih itu. Dan tiba-tiba,

Woosh!

Tubuhku berpindah tempat ke atas sebuah kapal besar berwarna putih yang sedang berlayar di tengah laut yang entah akan kemana perginya.

"Ah, apa ini, ini ... di tengah laut?" aku bengong, namun tiba-tiba bersemangat.

"Wah! Apa kita akan menjelajahi pulau misterius? Atau mencari harta karun?!"

Saat aku sedang bersemangat, aku menatap seseorang yang menyambut kedatangan ku—kami, nampaknya teman-teman yang lain juga dibawa kemari.

"Selamat datang, nikmati perjalanan kalian di lautan," ucapnya sambil tersenyum lebar. Kalau tidak salah, nama nya adalah Veira, sang penjaga laut.

Yang membuat seluruh murid panik adalah ketika Da-Hee muncul dari arah lautan. Diikuti monster laut besar yang panjang dan terlihat seperti naga, tepat ke arah mereka.

Kemudian, setelah aku mendengar penyambutan hangat dari Veira muncul seseorang dari arah lautan yang diikuti oleh monster laut besar yang panjang dan terlihat seperti naga, tepat menuju ke arah kapal yang ku—kami naiki.

"Hahaha! Ini baru cara yang tepat untuk menikmati hari minggu!" serunya menggebu-gebu, kalau tidak salah nama nya adalah Da-Hee dan dia adalah seorang kapten ketua yang mengurus militer di DianXy ini. Dan kali ini aku ingin tau apa yang membuat nya berpikir bahwa ini adalah cara terbaik menikmati hari libur.

Naga yang sedang menuju ke arah kami menggeram marah karena dirinya diserang oleh Da-Hee. Sehingga sang naga itu mengamuk dan membuat ombak besar yang membuat kapal terombang-ambing.

Tak luput awan yang tiba-tiba mendung dan petir yang menggelegar, menambah kesan yang benar-benar jauh dari kata hari yang damai.

"Ugh, ini hari libur yang sia sia," keluh ku yang tersiram air laut yang tiba-tiba menyembur ke arah kapal, sambil bersandar pada pembatas kapal dan memegang nya dengan erat karena hampir kehilangan keseimbangan.

Seseorang menunjuk ke arah Da-Hee dan mengomelinya, "Heh! Ini pasti ulahmu kan?!"

"Hm? Apa? Kalian pasti bosan, kan?" jawab Da-Hee diiringi oleh sebuah tawa.

"Aku mengajak kalian piknik," sambung nya santai.

"Sepertinya, setiap kali luang, selalu banyak terobosan terbaru nya." Aku memegang ujung pembatas kapal sambil menatap malas ke arah Da-Hee yang sebelumnya terhempas kembali ke kapal.

Naga itu kini mulai menyerang kapal dikarenakan pelaku yang mengganggunya ada di atas kapal yang sama dengan ku.

Badai membuat segalanya runyam. Sekeliling tak lagi terlihat. Satu-satunya cara untuk pulang hanyalah dengan mengalahkan sang naga.

Aku menoleh ke segala arah, mencoba melihat sesuatu namun nihil semuanya benar-benar tak terlihat.

"Ah, bukan ini yang kuharapkan," keluh ku.

Goncangan semakin kuat, karena serangan sang naga juga semakin kuat. Membuat diriku semakin memegang dan bersandar pada tepi pembatas kapal dengan erat.

Mendengar kapten kapal ini berkata untuk membantu menyerang sang naga supaya cepat pulang, aku malah semakin mengeratkan pegangan ku.

"Yang benar saja? Ahhhh,"

Saat aku sudah mulai terbiasa akan guncangan yang ditimbulkan oelh sang naga, aku hendak bersiap-siap untuk menyerang dan membantu teman-teman yang lain.

Melihat semakin banyak yang menyerang, sang naga tak tanggung-tanggung lagi untuk menyerang dengan energi biru yang mampu membolongi kapal.

Dengan serta merta ia menghujani kapal dengan serangan demi membuat kapal ini hancur dan menjauh.

Setiap dari teman-teman ku yang mencoba melukai tubuh naga. Kami tidak bisa menusuknya, kami seperti hanya menusuk air, dan naga itu tidak akan terluka.

Sehingga serangan demi serangan itu tidak berpengaruh apapun.

Kabut yang berada di sekeliling ku semakin menjadi tebal. Laut semakin marah dan berombak ganas. Petir menyambar di segala arah. Dan sosok naga yang tidak bisa kami lukai fisiknya.

"Wah, apa naga itu terbuat dari air? Atau memang sebenarnya air?" Aku melihat naga yang sampai sekarang masih baik-baik saja.

Di tengah aku yang masih tidak habis pikir dengan sang naga tiba-tiba gelang yang berada di tangan ku bergetar menandakan sebuah panggilan masuk.

Drrt... Drrtt...

Pesan terangkat, aku mendengar suara yg familiar

"Kalian  .... dimana?,"

"Kami ... di lautan luas, yang gelap ketua," ucapku saat tahu bahwa yang memanggil adalah Ketua.

"Ketua! Apa kabar ..., " ucap Da-Hee kaku dan aku menoleh ke arah nya.

"Waduh, Da-hee, murid murid sudah di cari!" Veira berteriak ke arah Da-hee, sepertinya kegiatan ini tanpa sepengetahuan sang Ketua.

"Tunggu disana. Da-Hee, jangan membuat ulah lagi. Kalian bertahanlah sebentar. Saya akan menjemput kalian," ucap ketua melalui telepon.

"Baik ketua, hati hati di jalan," ucapku.

"Jadi, pertarungan berkedok piknik ini di luar izin ketua?" gumam ku sambil melihat panggilan di gelang ku.

Aku menghela napas lega saat melihat Commander muncul di atas kapal.

"Kalian semua baik-baik saja?" tanyanya.

Saat aku dan yang lainnya sibuk bersyukur atas kedatangan Commander. Cahaya terang mengalihkan atensi ku.

Setelah cahaya terang itu redup. Aku dapat melihat ketua datang ke hadapan kamindi kapal, dan memeluk sebuah bayi naga laut kecil yang tengah tertidur.

"Kalian tidak apa-apa? Syukurlah," ucap ketua sembari tersenyum.

Mendung menghilang, petir lenyap. Langit kembali terang seperti semula. Ombak pun perlahan reda. Kapal akhirnya dapat berlayar dengan tenang di lautan, menuju ke arah tempat kami semua pulang.

 

--|🌊