Isi Cerita
Alice

Pagi tiba, seluruh siswa bangun ketika suara alarm pagi hari telah berdering. Mereka bersiap-siap dan melakukan aktivitas minggu mereka dengan tenang.

Sudah seminggu berlalu sejak mereka digempur habis-habisan dengan pelajaran di langit, dilempar ke dalam dungeon dan dipaksa mencari seribu snowiest di salju sebelum malam tiba.

Akhirnya mereka merasakan ketenangan bak anak sekolah yang belajar dan beristirahat. Hari minggu adalah hari libur sekaligus hari yang tenang di Planet Mursa. Tidak ada tugas atau kewajiban yang harus mereka lakukan. Mereka akan disuruh untuk benar-benar beristirahat.

Walau terkadang mereka bertanya apa ini tenang sebenarnya atau tenang sebelum menghadapi badai dikemudian hari?

Gadis bersurai kuning-putih itu duduk disudut ruangan dengan tidak semangat, dan tidak ingin melakukan apapun, gadis itu sendiri tanpa ditemani robot bulatnya. Gadis bernama Alice itu mengenakan pakai coklat dengan stoking dan bot hitamnya, tidak lupa mengepang rambut pendek nya agar terlihat rapi.

Alice hanya menatap murid-murid lain yang menikmati waktu mereka dengan caranya masing-masing, hingga padangan gadis itu tertuju pada seseorang yang sibuk dengan beberapa peralatan.

"Hm?"

Alice mendekat, memperhatikan seorang gadis yang sedang asyik dengan peralatan ditangannya.

"Arumi? Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Alice dari belakang Arumi.

"Sedang memperbaiki Elio, Lic." Arumi menjawab tanpa menoleh kebelakang karna fokus dengan senjata kesayangan nya.

Alice yang mendengar itu hanya mengangguk paham, lalu duduk disamping Arumi.

"Arumi, bolehkah Alice membantumu?" tawar Alice sambil memberikan sebuah alat yang sedang Arumi butuhkan.

Arumi menoleh sejenak menatap lekat Alice yang ada disamping nya sebelum mengangguk sebagai jawaban.

"Yey," gumam Alice kegirangan.

Alice membantu Arumi memperbaiki dan membuat senjata baru, sesekali bercanda.

"Lic, kemana bot?" tanya Arumi setelah beberapa menit mereka terdiam.

Alice yang sedang melamun tersadar dan menoleh bingung.

"Ya?"

"Tidak sama bot? Dimana bot?" ulang Arumi

"Ah, bot sedang di charger, baterai nya habis... lebih baik dia dikamar saja,"  jawab Alice sedikit mengantung kata-katanya.

Arumi mengangguk dan mereka kembali melanjutkan aktivitas memperbaiki dan membuat senjata.

 

Saat kedua gadis itu sedang asyik dengan kegiatan mereka, 2 bulu putih dan cantik jatuh diatas meja didepan keduanya.

"Hm? Bulu?" tanya keduanya kompak dan saling menoleh.

Tanpa pikir panjang mereka mengambil bulu itu. Dan dalam sekejap, mereka berteleport ke dalam kapal, tidak hanya mereka, ternyata seluruh murid juga ikutan berteleport.

"Loh?" kaget Alice sudah berada dalam kapal dan Arumi tidak ada disamping nya lagi.

Tatapan para murid beralih ke Veira yang muncul di paling ujung kapal.

Yang membuat seluruh murid panik adalah ketika Da-Hee muncul dari arah lautan. Diikuti monster laut besar yang panjang dan terlihat seperti naga, tepat ke arah mereka.

"Woah, apa itu yang dari dalam air?" ucap Alice kagum disertai kebingungan.

"Woi, itu bisa ditunggangi tidak?"

Alice menoleh mendengar suara yang familiar ditelinga nya, dan benar seperti tebakannya.

"Tidak lagi," ucap seorang gadis yang sedang dicari Alice.

'Ternyata ini Arumi,' gumam Alice sambil mengangguk.

"Hahahaha!" tawa Da-hee lalu melempar dadu dan dadu berubah menjadi senjata pedang

Hup!

"Apa yang kakak itu lakukan?" bertanya pada diri sendiri dengan penuh kebingungan.

'Nama kakak itu Da-hee kan? bentar... Apa ini Misi?' tanya Alice dalam hati.

Naga tersebut menggeram marah karena diserang oleh Da-Hee. Berkat itu, sang naga mengamuk dan membuat ombak besar sehingga kapal terombang-ambing.

 

Tak luput awan yang tiba-tiba mendung dan petir yang menggelegar.

Alice yang tanpa persiapan dengan goncangan sedikit oleng dan hampir terjatuh kelaut, tubuhnya tersiram ombak dan sedikit terminum.

"Aduh, asin." Alice menyemburkan air dari mulutnya.

"Hai Alice, oleng kamu tau," ucap Shou yang mendarat didepannya.

"Shou juga sepertinya, hati-hati," peringat Alice berusaha menjaga keseimbangan di kapal yang sedang terombang-ambing.

"Basah dikit gak ngaruh. Eh, harusnya Karl gak ikut sih," ucap Shou mencari keberadaan makhluk itu.

"Loh? Karl ikut?"

'Sebentar? Apa Alice tidak salah dengar?'

"Nanti jika dia jatuh bagaimana?" sambung Alice ikut mencari keberadaan Karl, sambil sesekali menatap laut.

"Gak bakal, dia pintar kok," jawab Shou enteng dengan  wajah polos.

"Semoga tidak menjadi makan naga," perihatin Alice.

Alice yang mendengar perkataan Da-hee merasa bingung.

"Ini bukan piknik namanya, tapi latihan!"

"Eh, Shou, apa naga nya mendekat?"

"Apakah ini tanda tanda kita di ujung jurang?" ucap Shou bercanda menatap naga laut.

Alice yang mendengar candaan Shou menatap datar sebelum menghembuskan napas berat. Sambil mempertahankan keseimbangan.

"Mungkin."

Shou terbang ke arah naga dan mencoba menyerang naga, Alice yang melihat Shou terbang mencoba ikut melawan namun gadis itu tidak bisa ikut karna terombang-ambing dikapal.

"Tunggu."

Alice mengeluarkan senjata barunya namun karena guncangan dari obat laut, senjata itu terjatuh kedalam air.

Alice menjawab pertanyaan Shou secara reflek, dan dia medengar ucapan Shou yang membuat nya sweatdroop.

"Mending bakar terus makan! Dagingnya juga kelihatan banget banyak!!" Menciptakan api dari sebuah gesekan bilah pedang nya.

"Kan dia berubah jadi, air, bagaimana dibakar?" tanya Alice menepuk jidat heran.

"Ah, iya, tidak jadi makan enak, nih." Ada kekecewaan pada perkataan Shou setelah mengetahui jika naga didepan mereka tidak bisa dibakar.

Alice yang tidak sengaja mendengar perkataan Kak Dami menyahut reflek "Pasrahkan saja."

Alice berpose seperti orang yang sudah pasrah akan kematian.

"Seperti kamu sudah bersiap ya," kekeh Dami mendengar ucapan Alice.

"Tidak juga, hanya bersiap mungkin?"

"Tidak usah ragu, kalau selamat kita bersyukur. Kala mati, berdoa saja semoga ada kehidupan ke dua." Dami tersenyum.

"Sepertinya." Alice tersenyum kaku.

"Tidak, jangan mati. Kamu hanya akan jd bahan makanan disini. Setidak nya jika kamu mati di daratan mayat mu akan jd pupuk kompos utk tumbuhan," sahut Ka Besser sedikit menyemangati.

"Sayang dong." 'Sebentar pupuk?'

Alice kembali jatuh, dia hampir terjatuh ke lautan tapi sempat diselamatkan oleh Arumi.

Jam semua murid berbunyi menandakan panggil masuk.

Semua murid menatap jamnya dan ternyata panggilan masuk dari Founder.

Semua murid mengangkat panggilan dari ketua.

"Kalian... dimana?"

Semua murid menjawab 'dilautan' dengan wajah bingung dengan pertanyaan dari ketua, setelah menyadari sesuatu, semua murid menatap Da-hee.

"Tunggu disana. Da-Hee, jangan membuat ulah lagi. Kalian bertahanlah sebentar. Saya akan menjemput kalian."

Setelah mendengar kata itu, Alice berniat berfoto bareng dengan Naga yang ada didepannya.

Liburan yang menantang baginya.

.

.

.