Isi Cerita
Atalanta Sienna Kyrane

Seminggu berlalu semenjak semua kegiatan yang di DianXy yang muncul secara bergiliran selesai. Tidak terasa kini Tuan Cheiros memberikan kami waktu untuk bersantai di akhir pekan ini, waktu bersantai yang sebenarnya.

 

Tidak ada yang ingin aku lakukan di akhir pekan ini jadi aku hanya berdiam diri di dalam kamar sembari membaca semua informasi yang telah ku dapatkan semenjak menginjakkan kaki di planet Mursa. Lagipula, sulit untuk pergi ke hutan karena nona Eira, penjaga tower, tidak akan mengizinkan siapapun untuk pergi terlalu jauh dari markas. Jikalau pun berani, mungkin tubuhku sudah dipastikan akan dimakan olehnya karena kabarnya penjaga tower tersebut memakan apapun tanpa pandang bulu.

 

Padahal Nona Eira terlihat sangat menggemaskan tapi fakta tersebut membuat bulu kudukku berdiri setiap kali mengingat nya.

 

Kini aku tidak fokus memperhatikan tab ku sehingga aku mengalihkan atensi ku ke atas meja di mana terletak sebuah sangkar burung cantik terletak di atasnya. Di dalam sangkar itu terlihat Nyx yang tertidur lelap dalam wujud burung hantu normal.

 

Kepalaku ku letakkan di atas kedua tangan ku yang bersila dengan netra yang terus memandangi unggas berbulu seputih salju itu.

 

“Sepertinya saya terlalu memaksakan anda untuk melakukan semua hal di tempat ini. Istirahat lah, sekarang tuan Cheiros telah memberikan saya waktu istirahat yang tenang.”

 

Begitulah yang aku katakan, tapi benarkah waktu istirahat ini akan menjadi hari Minggu yang tenang?

 

Aku mengangkat kepalaku lalu beralih menatap ke luar jendela. Kini keadaan Planet Mursa kembali seperti sedia kala sehari setelah misi pencarian Snowiest terselesaikan, suhu kembali menghangat dan tidak ada lagi salju yang menghiasi Planet Mursa.

 

‘Suhu menghangat tapi tubuh ku tetap dingin. Kapan aku bisa merasakan kehangatan lagi?’

 

Helaan nafas pelan keluar dari bibirku saat memikirkan banyak hal hingga sebuah bulu putih mengalihkan perhatian ku.

 

Aneh, bulu siapa itu? Apakah bulu Tuan Masayoshi? Tapi jika bulu ini adalah bulu sayap pemuda itu, kenapa bisa berterbangan dari luar? Bukankah ada larangan untuk keluar dari markas? Ataukah, Nona Eira?

 

Jika itu milik Nona Eira berarti ada sesuatu yang terjadi. Tanpa berfikir panjang tanganku mengambil bulu cantik tersebut dan seketika itu pula tubuhku berpindah ke sebuah kapal besar yang berlayar di tengah lautan menjauhi pulau.

 

Apa ini? Bukankah tuan Cheiros memberikan kami waktu beristirahat? Misi dadakan? Bukankah seharusnya ada pemberitahuan terlebih dahulu?

 

Netraku melihat Veira, gadis yang bertugas sebagai penjaga laut sedang tersenyum lebar ke arah kami dan entah apa yang diucapkannya karena jarak kami yang terhitung jauh.

 

Tiba-tiba saja kapal yang kami naiki sedikit bergoyang dan tepat saat itu saja Da-Hee muncul di permukaan laut bersamaan dengan naga air yang mengikuti pemuda itu.

 

Netraku yang menatap sosok monster air tersebut membuat ku merasa frustasi. “Kapan hari libur menyenangkan akan datang?”

 

Kepalaku terasa pusing dan saat itu juga aku hampir terjatuh karena kurang beristirahat,  untung saja Tuan Elio menangkap tubuhku dengan ekspresi yang khawatir.

 

“Sienna gapapa?”

 

Ah, entah mengapa aku merasa senang di saat seseorang merasa khawatir padaku. Walaupun rasanya itu membebani karena selama ini tidak ada orang asing yang khawatir kepadaku.

 

Aku tidak ingin membuat pemuda itu khawatir kepadaku terlalu sering sehingga kali ini aku menjaga jarak darinya bahkan yang lain agar tidak lengah terhadap monster tersebut.

 

Namun siapa yang menyangka jika amukan naga tersebut membuat kapal semakin terombang-ambing hingga akhirnya keseimbangan ku hilang dan bahkan tubuhku basah akibat terguyur air laut.

 

“Setidaknya tidak jatuh ke laut,” gumamku pelan disaat posisiku cukup dekat dengan pinggir kapal. Sekali lagi kapal bergoyang mungkin saja aku akan benar-benar jatuh ke laut.

 

Lagi-lagi kapal mendapat serangan yang membuat beberapa body kapal mulai hancur dan entah diriku sial atau bagaimana, serangannya mengenai body kapal di sekitar ku hingga tubuhku yang tidak siap akhirnya terlempar jatuh ke lautan.

 

Aku berusaha sebisaku agar tetap berada di permukaan. Untung saja Faa membuat pijakan es dan menarik membantu ku naik ke es tersebut.

 

“Terimakasih Faa. Sekarang, anda harus kembali membantu Tuan Elio melawan naga tersebut.”

 

Dari ekspresi nya terlihat jika Faa tidak ingin meninggalkan ku hingga membuat ku tidak memiliki pilihan selain membiarkan rubah putih cantik tersebut menemani ku di atas pijakan es tersebut.

 

Aku hanya bisa melihat yang lainnya bertarung melawan naga air itu.

 

“Kekuatan yang tidak berguna,” gumamku merasa tidak berguna. Netraku menyadari jika gelang yang terpasang sempurna di tanganku mulai bergetar. Tanpa berfikir panjang aku mulai menerima panggilan tersebut.

 

Dari gelang itu terdengar suara yang familiar. Apakah itu suara Tuan Cheiros?

 

“Kalian.. dimana?”

 

Suara itu benar milik Tuan Cheiros, tapi beliau mencari kami? Ada apa ini? Tuan Cheiros tidak tau apapun perihal hal ini?

 

“Bukankah anda yang memerintahkan kami untuk melakukan ini?”

 

Tuan Cheiros pun meminta kami agar menunggu beliau menjemput kami. Aku kehabisan kata-kata mendengar ucapannya, karena ada yang berani menentang perintah ketua.

 

Siapa dia?

 

Cukup lama kami semua menunggu hingga Nona Sindula muncul datang menyelamatkan kami.

 

“Kalian baik-baik saja?” Dia bertanya sembari menatap kami semua.

 

Dari arah naga tersebut muncul cahaya yang tepat di saat cahaya itu redup, terlihat tuan Cheiros menggendong seekor anak naga air dan juga naga besar yang melawan kami hilang.

 

Apakah usia naga tersebut dikurangi dengan kekuatan Tuan Cheiros?

 

“Syukurlah kalian semua selamat.”

 

Langit yang sebelumnya gelap dan petir menggelegar akhirnya kembali cerah dan ombak kembali tenang yang membuat kapal kembali berlayar tenang pulang kembali ke markas.