Isi Cerita
Shou Masayoshi

Chapter 9

 

Hari yang tenang, damai dan diinginkan oleh sebagian orang. Hari Minggu di markas Dianxy, seluruh murid kini bersantai-santai menikmati waktu luang mereka masing-masing. Jika kita kembali ke masa lalu ada dimana banyak kejadian yang tidak bisa mereka prediksi hingga diikut sertakan masuk ke dalam masalah itu.

Begitu tenang dan mengundang kecurigaan terhadap situasi kali ini, apakah akan ada badai yang tiba-tiba menerjang mereka? Lagipula situasi yang damai seperti ini tidak boleh disia-siakan. Namun kebebasan mereka dibatasi dengan diadakannya pemberitahuan jika mereka tidak boleh keluar dari markas. Maka itu terjadi, sang penjaga tower yang dirumorkan akan memakan apapun itu mengundang seram.

Pemuda kita bernama Shou Masayoshi sedang berpose di depan cermin dengan pakaian anti ribet tapi fashionable terpesona dengan penampilannya. "Waduh ketampananku tidak memudar ya," pujinya dengan gelegar tawa.

Merasa telah perfect, ia keluar kamar membawa Karl di bahunya menyelimuti lehernya. Menghembuskan nafas pelan, "Bagus sih kalau damai gini tapi juga ngebosenin ... apakah secara tiba-tiba ada misi?" ucapnya berbatin sembari menoleh kesana-kemari.

"Bakar kamar," ucap seseorang mendadak. Menoleh sekilas ada Kirei, "Apa-apaan coba tiba-tiba banget mau bakar kamar." Menatap Kirei heran. Melirik Shou sesaat kemudian, "Pengen lihat sesuatu yang menyala," ujarnya.

"Kompor dapur tuh menyala." Melirik dapur yang tak jauh dari sana. "Apa Kirei masak aja ya? Udah lama gak masak," jawabnya sembari melihat dapur penuh perabotan memasak.

"Boleh-boleh tuh," sahut Shou antusias sebelum ia baru mengingat sesuatu. "Tapi tunggu, bukankah sudah di larang untuk ke dapur akibat kejadian di masa lalu dimana para murid keracunan...?" Arah pandangannya menatap Kirei curiga besar, yang ditatap hanya tertawa tak berdosa.

Setelah perbincangan yang bisa dikatakan nostalgia, Shou melihat Ardolf membuka jendelanya menghirup udara segar. "Astaga udaranya segar banget ... Enaknya ngapain ya?" ucapnya yang segera di jawab oleh Shou, "Lompat dari jendela aja," sarannya hanya Tersenyum jahil.

"Heleh ... nanti jatuh ... kepala benjol kamu mau obatin?" balasnya hanya dijawab kekehan. Kini waktu telah berlalu dengan cepat, pemuda dengan hewan pungutnya sedang tertidur lelap di paha sang pemuda sedangkan Shou sedang termenung mengelus pelan Karl memikirkan sesuatu yang begitu dalam, terduduk diam di bawah pohon besar dan taman penuh bunga dan tanaman.

Setelah untuk waktu singkat ia terduduk diam, ada bulu putih seperti sayap jatuh di depan mukanya serta Karl. Ia mengambil bulu sayap putih itu bergegas berteleportasi disebuah kapal besar putih berlayar di laut. Shou begitu terkejut dengan perubahan situasi tapi mungkin keinginannya terwujud?

Ada dua orang seharusnya dari Shou rasakan keberadaan orang membawa mereka, seorang perempuan berada di ujung kapal menyambut kedatangan. Seketika ada monster laut berupa naga biru? Yang besar dan panjang dengan seorang lelaki yang membawanya. Sepertinya ini akan menjadi pertunjukan yang seru dan membingungkan karena ada monster laut telah berada di area kapal.

Shou melangkah mendekat dengan Karl menyelimuti lehernya takut melihat ukuran monster tersebut. "Woi itu bisa di tunggangi gak?!?" ucapnya dengan antusias. "Fuyouh menarik sekali!! Mengepakkan sayapnya terbang menjaga jarak antara naga itu ingin melihatnya lebih dekat.

Shou terbang mendarat di atas naga laut itu ber-selfie di atas kepalanya sebelum guncangan terjadi akibat ombak besar. "Woe?!?" Seketika ia terjatuh dari atas kepala naga laut membuatnya hampir tenggelam tetapi ia dengan reflek yang bagus ia memutar kembali keadaan, Shou hanya menghembuskan nafas lega.

Kini mendarat di hadapan Alice yang sedikit oleng. "Heh Alice oleng kamu tuh!" Menatapnya khawatir. "Shou juga sepertinya, hati-hati," balasnya sambil menjaga keseimbangan. Shou menanggapinya dengan santai membersihkan pakaiannya yang basah "Basah sedikit gak ngaruh". Dia baru tersadar Karl tak sengaja ikut campur soal ini, "Eh, harusnya Karl gak ikut sih," ucapnya sedikit gelisah mencari keberadaan teman peliharaannya.

Alice yang tak sengaja mendengarnya bingung. "Loh, karl ikut. Nanti jika dia jatuh bagaimana?" ucapnya menatap laut apabila Karl benar-benar jatuh ke laut. Naga laut yang semakin mengamuk hanya memperburuk situasi disaat yang lain sedang bertarung. Shou lagi-lagi menganggap enteng, "Gak bakal, dia pintar kok," jawabnya dengan santai.

Wanita iris heterochromia hanya menatap prihatin. "Moga tidak menjadi makanan naga. "Sayangnya bot tidak ikut," lanjutnya. Naga laut semakin mengamuk lalu menyerang kapal hingga ada yang oleng, akibat banyaknya jumlah dari mereka menyerang makhluk itu.

"Naganya mendekatkah?" ujarnya menatap. "Apakah ini tanda tanda kita di ujung jurang? sahutnya berniat bercanda tidak tahu harus berbuat apa. "Mungkin." Memegang besi untuk menjaga keseimbangan.

Memandang situasi yang makin lama makin memburuk, tak tanggung-tanggung naga tersebut mengeluarkan energi biru hingga membolongi kapal yang menjauh meninggalkan kerusakan.

"Titik lemah dia dimana sih??" geramnya menggaruk kepalanya kesal memegang pedang tajamnya menusuk-nusuk kepalanya. Di kejauhan, ada Alice memandang"Tidak tau, mata mungkin? Eh, Shou tunggu!" seru Alice hendak mengeluarkan senjata buatan. "Mending bakar terus makan! Dagingnya juga kelihatan banget banyak!! Menggesekkan bilah pedangnya hingga menciptakan api.

Alice memandangnya sweetdrop. "Kan dia berubah jadi air, bagaimana dibakar?" selanya berusaha mendekat. Lagi-lagi kesenangannya harus menghilang, "Ah iya" menghela nafas kecewa. "Gak bisa makan enak ini!" serunya kesal dan memadamkan api yang telah ia buat. "Lama-lama ku tusuk juga matanya." Kemarahannya semakin memuncak sebelum ada panggilan masuk dari gelangnya. "Apa nih??," selanya.

"Kalian .... dimana?" Suara yang terdengar familiar, tentu saja ini dari ketua mereka yaitu Rhino. "Di ujung jurang kemati...-sebuah laut," jawab Shou. "Apakah ini yang dirasakan saat menjadi korban penculikan?" batinnya bertanya-tanya mengetahui ini sama sekali bukan misi.

Rhino melanjutkan pembicaraannya. "Tunggu disana. Da-Hee, jangan membuat ulah lagi. Kalian bertahanlah sebentar. Saya akan menjemput kalian".

.

.

"Kalian semua baik-baik saja?" tanya sang komandan. Seluruh murid menghela nafas lega setelah melihat komandan mereka muncul, mendadak cahaya terang muncul yaitu ketua mereka sedang memeluk sebuah bayi naga kecil yang tertidur. "Kalian semua baik-baik saja? Syukurlah". Cuaca yang sebelumnya mendung menghilang dan petir lenyap seketika, langit telah normal kembali. Ombak perlahan reda. Kapal pun berlayar dengan tenang di lautan, menuju tempat pulang.