03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Hari yang tenang, damai dan
diinginkan oleh sebagian orang. Hari Minggu di markas Dianxy, seluruh murid
kini bersantai-santai menikmati waktu luang mereka masing-masing. Jika kita
kembali ke masa lalu ada dimana banyak kejadian yang tidak bisa mereka prediksi
hingga diikut sertakan masuk ke dalam masalah itu.
Begitu tenang dan mengundang
kecurigaan terhadap situasi kali ini, apakah akan ada badai yang tiba-tiba
menerjang mereka? Lagipula situasi yang damai seperti ini tidak boleh
disia-siakan. Namun kebebasan mereka dibatasi dengan diadakannya pemberitahuan
jika mereka tidak boleh keluar dari markas. Maka itu terjadi, sang penjaga
tower yang dirumorkan akan memakan apapun itu mengundang seram.
Pemuda kita bernama Shou Masayoshi
sedang berpose di depan cermin dengan pakaian anti ribet tapi fashionable
terpesona dengan penampilannya. "Waduh ketampananku tidak memudar
ya," pujinya dengan gelegar tawa.
Merasa telah perfect, ia keluar
kamar membawa Karl di bahunya menyelimuti lehernya. Menghembuskan nafas pelan,
"Bagus sih kalau damai gini tapi juga ngebosenin ... apakah secara
tiba-tiba ada misi?" ucapnya berbatin sembari menoleh kesana-kemari.
"Bakar kamar," ucap
seseorang mendadak. Menoleh sekilas ada Kirei, "Apa-apaan coba tiba-tiba
banget mau bakar kamar." Menatap Kirei heran. Melirik Shou sesaat
kemudian, "Pengen lihat sesuatu yang menyala," ujarnya.
"Kompor dapur tuh
menyala." Melirik dapur yang tak jauh dari sana. "Apa Kirei masak aja
ya? Udah lama gak masak," jawabnya sembari melihat dapur penuh perabotan
memasak.
"Boleh-boleh tuh," sahut
Shou antusias sebelum ia baru mengingat sesuatu. "Tapi tunggu, bukankah
sudah di larang untuk ke dapur akibat kejadian di masa lalu dimana para murid
keracunan...?" Arah pandangannya menatap Kirei curiga besar, yang ditatap
hanya tertawa tak berdosa.
Setelah perbincangan yang bisa
dikatakan nostalgia, Shou melihat Ardolf membuka jendelanya menghirup udara
segar. "Astaga udaranya segar banget ... Enaknya ngapain ya?" ucapnya
yang segera di jawab oleh Shou, "Lompat dari jendela aja," sarannya
hanya Tersenyum jahil.
"Heleh ... nanti jatuh ...
kepala benjol kamu mau obatin?" balasnya hanya dijawab kekehan. Kini waktu
telah berlalu dengan cepat, pemuda dengan hewan pungutnya sedang tertidur lelap
di paha sang pemuda sedangkan Shou sedang termenung mengelus pelan Karl
memikirkan sesuatu yang begitu dalam, terduduk diam di bawah pohon besar dan
taman penuh bunga dan tanaman.
Setelah untuk waktu singkat ia
terduduk diam, ada bulu putih seperti sayap jatuh di depan mukanya serta Karl.
Ia mengambil bulu sayap putih itu bergegas berteleportasi disebuah kapal besar
putih berlayar di laut. Shou begitu terkejut dengan perubahan situasi tapi
mungkin keinginannya terwujud?
Ada dua orang seharusnya dari Shou
rasakan keberadaan orang membawa mereka, seorang perempuan berada di ujung
kapal menyambut kedatangan. Seketika ada monster laut berupa naga biru? Yang
besar dan panjang dengan seorang lelaki yang membawanya. Sepertinya ini akan
menjadi pertunjukan yang seru dan membingungkan karena ada monster laut telah
berada di area kapal.
Shou melangkah mendekat dengan Karl
menyelimuti lehernya takut melihat ukuran monster tersebut. "Woi itu bisa
di tunggangi gak?!?" ucapnya dengan antusias. "Fuyouh menarik
sekali!! Mengepakkan sayapnya terbang menjaga jarak antara naga itu ingin
melihatnya lebih dekat.
Shou terbang mendarat di atas naga
laut itu ber-selfie di atas kepalanya sebelum guncangan terjadi akibat ombak
besar. "Woe?!?" Seketika ia terjatuh dari atas kepala naga laut
membuatnya hampir tenggelam tetapi ia dengan reflek yang bagus ia memutar
kembali keadaan, Shou hanya menghembuskan nafas lega.
Kini mendarat di hadapan Alice yang
sedikit oleng. "Heh Alice oleng kamu tuh!" Menatapnya khawatir.
"Shou juga sepertinya, hati-hati," balasnya sambil menjaga
keseimbangan. Shou menanggapinya dengan santai membersihkan pakaiannya yang
basah "Basah sedikit gak ngaruh". Dia baru tersadar Karl tak sengaja
ikut campur soal ini, "Eh, harusnya Karl gak ikut sih," ucapnya
sedikit gelisah mencari keberadaan teman peliharaannya.
Alice yang tak sengaja mendengarnya
bingung. "Loh, karl ikut. Nanti jika dia jatuh bagaimana?" ucapnya
menatap laut apabila Karl benar-benar jatuh ke laut. Naga laut yang semakin
mengamuk hanya memperburuk situasi disaat yang lain sedang bertarung. Shou
lagi-lagi menganggap enteng, "Gak bakal, dia pintar kok," jawabnya
dengan santai.
Wanita iris heterochromia hanya
menatap prihatin. "Moga tidak menjadi makanan naga. "Sayangnya bot
tidak ikut," lanjutnya. Naga laut semakin mengamuk lalu menyerang kapal
hingga ada yang oleng, akibat banyaknya jumlah dari mereka menyerang makhluk
itu.
"Naganya mendekatkah?"
ujarnya menatap. "Apakah ini tanda tanda kita di ujung jurang? sahutnya
berniat bercanda tidak tahu harus berbuat apa. "Mungkin." Memegang
besi untuk menjaga keseimbangan.
Memandang situasi yang makin lama
makin memburuk, tak tanggung-tanggung naga tersebut mengeluarkan energi biru
hingga membolongi kapal yang menjauh meninggalkan kerusakan.
"Titik lemah dia dimana
sih??" geramnya menggaruk kepalanya kesal memegang pedang tajamnya
menusuk-nusuk kepalanya. Di kejauhan, ada Alice memandang"Tidak tau, mata
mungkin? Eh, Shou tunggu!" seru Alice hendak mengeluarkan senjata buatan.
"Mending bakar terus makan! Dagingnya juga kelihatan banget banyak!!
Menggesekkan bilah pedangnya hingga menciptakan api.
Alice memandangnya sweetdrop.
"Kan dia berubah jadi air, bagaimana dibakar?" selanya berusaha
mendekat. Lagi-lagi kesenangannya harus menghilang, "Ah iya" menghela
nafas kecewa. "Gak bisa makan enak ini!" serunya kesal dan memadamkan
api yang telah ia buat. "Lama-lama ku tusuk juga matanya."
Kemarahannya semakin memuncak sebelum ada panggilan masuk dari gelangnya.
"Apa nih??," selanya.
"Kalian .... dimana?"
Suara yang terdengar familiar, tentu saja ini dari ketua mereka yaitu Rhino.
"Di ujung jurang kemati...-sebuah laut," jawab Shou. "Apakah ini
yang dirasakan saat menjadi korban penculikan?" batinnya bertanya-tanya
mengetahui ini sama sekali bukan misi.
Rhino melanjutkan pembicaraannya.
"Tunggu disana. Da-Hee, jangan membuat ulah lagi. Kalian bertahanlah
sebentar. Saya akan menjemput kalian".
.
.
"Kalian
semua baik-baik saja?" tanya sang komandan. Seluruh murid menghela nafas
lega setelah melihat komandan mereka muncul, mendadak cahaya terang muncul
yaitu ketua mereka sedang memeluk sebuah bayi naga kecil yang tertidur.
"Kalian semua baik-baik saja? Syukurlah". Cuaca yang sebelumnya
mendung menghilang dan petir lenyap seketika, langit telah normal kembali.
Ombak perlahan reda. Kapal pun berlayar dengan tenang di lautan, menuju tempat
pulang.