Isi Cerita
Saaochi

Mulut Saaochi terbuka lebar, suara dehaman terlepas dari tenggorokannya, membuat setitik air membasahi kelopak mata yang mengering akibat tertutup terlalu lama. Saaochi meregangkan tubuhnya, melangkah gontai menuju dapur untuk mendapat sarapan.

Saaochi telat bangun, wajar saja dia tidur di jam 2 malam. Begadang mengerjakan tugasnya yang menumpuk akibat dia yang terlalu berleha-leha beberapa hari ini. Beberapa saat setelah bangun dari tidur, barulah dia menyadari, sudah beberapa hari ini, dirinya hanya mengisi tubuh dengan minum air.

Jadi, dengan kesadaran penuh, dibawanya tubuh itu menuju dapur. Meski tak yakin bisa membujuk dua chef—yang katanya teramat tampan—untuk mendapat makanan lainnya. Dalam perjalanan, Saaochi menyadari ada sesuatu yang aneh.

Markas teramat sunyi, bahkan meski beberapa hari ini ada kejadian di luar nalar, tidak mungkin bukan para murid melewatkan libur menyenangkan ini dengan mengurung diri di kamar? Atau mereka terlalu takut dilempar ke dungeon lagi tiba-tiba? Oh, jangan bilang seluruh murid yang ada di sini kabur karena hal itu?!

Saaochi panik sendiri, sampai lupa tujuannya adalah dapur. Dia malah putar balik untuk ke kamar Luisa dan memberitahu pemikiran negatifnya itu. Pikir Saaochi, Luisa pasti punya jawabannya.

Namun, tak sampai lagi kakinya membawa tubuh menuju kamar Luisa, dia mencium harum mawar. Saaochi membelalakan mata dan segera mengerem kakinya mendadak.

“Bastian!” teriaknya, dan secara ajaib asap berkumpul menjadi lebih pekat dan muncullah seorang lelaki berambut hitam-ungu, membawa secangkir minuman yang diduga Saaochi sebagai kopi melihat bagaimana pekatnya warna airnya itu.

Saaochi sweatdrop. ‘Beneran kayak jin lagi,’ batinnya.

“Kenapa?”

“Di mana semua orang? Kenapa markas sepi sekali?”

Bastian menatap Saaochi lama sejenak, keningnya berkerut. “Kau tidak tahu?”

“Kalau aku tahu ngapain nanya.” Hampir saja tangan Saaochi menggeplak jin di depannya ini.

Bastian berdeham panjang sejenak, sebelum menjawab. “Mereka sedang bersenang-senang melawan naga.”

Pupil Saaochi membesar, mulutnya terbuka lebar. “Naga?! Di mana? Kok ga ngajak-ngajak!”

Sekilas, tampaknya Bastian menyeringai. “Di laut, bersama para awak kapal. Lagipula, kenapa kau bangun telat?”

Saaochi meringis pelan. “Habis begadang, sih.”

Detik berikutnya, dahi Saaochi dijitak keras sampai tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.

“Apa-apaan itu?!” protesnya, mengusap pelan jidatnya yang memerah.

Bastian tidak menjawab dan memilih menghilang menjadi kabut kembali. Saaochi ngelag sebentar, sebelum kakinya kembali memecut menuju kamar Luisa. Tentu saja, dia akan mengajak temannya itu, Luisa pasti bosan di kamar terus.

Meski niatnya hanya untuk mengusili Luisa.

=••=

“Luisa, tok tok! Halo, selamat pagi! Ayo, bangun Luisa!”

Saaochi menggedor dan menekan tombol bel berkali-kali. Sembari mulutnya merapal nama Luisa berkali-kali, berusaha membangunkannya. Beberapa detik kemudian, barulah pintu itu terbuka, tampilkan Luisa yang rambutnya acak-acakan.

“Kenapa?”

“Ayok lawan naga!”

Setelahnya, pintu Luisa bergerak cepat hendak menutup celah yang mempertemukan mereka berdua. Namun, gerakan pintu kalah cepat dengan kedua tangan Saaochi yang menahannya di kedua sisi. Saaochi tersenyum lebar, dengan urat-uratnya yang perlahan terlihat akibat menahan pintu yang masih berusaha tertutup.

“Tidak menerima penolakan, ayok ikut.”

“Ukh.” Luisa mundur ke belakang. Antara kaget dan tidak. “Aku malas! Jangan maksa, dong!”

“Gak, gak boleh! Kau tahu ‘kan, aku suka naga? Lagipula, di dungeon kemarin ada naga, tapi aku tidak bisa melawannya karna itu untuk para murid! Kali ini saja, kumohon!”

Wah, pintunya beneran ingin menggeprek Saaochi sepertinya. Untuk menghindari itu, Saaochi perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sembari tangannya masih menahan pintu. Keringatnya bercucuran, membasahi tubuhnya.

“Ya sudah, pergi sendiri sana!”

Jantung Luisa jadi berdetak kencang. Dia tidak percaya, Saaochi bisa menahan pintu besi itu dengan kedua tangannya selama ini, bahkan berusaha menerobos masuk. Tepat beberapa detik berikutnya, Saaochi melepas pegangannya pada pintu dan melompat masuk, menabrak tubuh Luisa sampai mereka berdua jatuh di atas lantai.

“Akh!” Luisa meringis, kepalanya terpentok lantai.

Luisa menoleh ke samping, ada Saaochi yang tampaknya, wajahnya menghantam lantai lebih dulu. Tatkala, anak itu mengangkat muka, hidungnya memerah dan dari sana mengucur cairan merah pekat. Rahang Luisa perlahan jatuh, tidak kaget dengan Saaochi yang mimisan, dia lebih kaget Saaochi masih sempat-sempatnya memasang senyum.

“Ayo ikutan lawan naga!”

Luisa menepuk jidatnya, ‘Ya ampun, apa dosaku sampai ditempelin makhluk kayak gini.’

Luisa menarik napas, berusaha untuk tidak terbawa emosi. Dia membantu Saaochi untuk duduk, sebelum dirinya berdiri dan berjalan menuju meja untuk mengambil beberapa lembar tisu. Diberikannya, tisu itu pada Saaochi yang segera saja menyumbat hidungnya dengan itu.

“Gimana? Mau ‘kan?” tanya Saaochi lagi, kali ini nadanya sedikit mendesak.

Luisa menghela napas kesekian kali, lalu mengangguk pelan. “Terserah kau sajalah. Memangnya kita mau nyusul mereka gimana?”

“Lah, memangnya mereka ke sananya gimana?” Saaochi bertanya, sembari mendongakkan kepala, untuk menahan darah yang terus mengucur dari hidungnya.

“Pake bulunya Eira.”

Saaochi angguk-angguk. “Ya udah, minta tolong Bastian.”

Luisa secara reflek mengerutkan keningnya, lantas ungkapkan pikirannya. “Emang, Bastian mau?”

Yes, Ladies? Did you call me?”

Luisa secara reflek terjingkat kaget. “Kok kau bisa masuk?!”

Bastian menoleh pada Luisa, lalu menyeringai tipis. “Memangnya apa yang tidak bisa kulakukan?”

“Makan,” celetuk Saaochi.

Bastian hanya memutar bola matanya menanggapi celetukan itu.

Sedangkan, Luisa sweatdrop, menatap Saaochi yang terkikik seperti telah menghilangkan kewarasannya dan Bastian yang menatapnya datar. ‘Hm, apa aku bikin alat anti Bastian Saaochi, ya.’

“Ayok antar kami ke tempat naga itu! Bisa ‘kan? Masa gak bisa, ga sesuai sama perkataan tadi, dong.”

Bastian lagi-lagi menyeringai menanggapi permintaan Saaochi. Dia melirik Luisa yang menggelengkan kepalanya pelan, tampaknya berusaha agar Saaochi yang kelewat semangat tidak tahu. ‘Oh, lihatlah, dia memohon.’

“Tentu saja, aku bisa.”

“Hore!”

“Tidak!”

“Bersiaplah, kalian akan segera berada pada naga!” Bastian menjulurkan tangannya, bersiap mengubah mereka bertiga menjadi sekumpulan kabut.

“Tunggu dulu—“ Luisa hampir saja berhasil lolos, tapi Bastian sudah lebih dulu memegang bahunya dan mereka bertiga secera cepat menghilang dari sana, meninggalkan harum mawar pekat.

Meninggalkan kamar Luisa dalam kesunyian yang nyaman.

=••=

Sekumpulan kabut muncul di antara kesibukan para murid melawan sang naga air. Tatkala naga itu berteriak marah ke arah mereka, tiba-tiba saja dua anomali dijatuhkan ke atas kepala naga.

“Pahlawan datang!” Saaochi berteriak. Perutnya bagai tergelitik karena rasa senang.

Luisa segera berpegangan erat pada naga, sedang satu tangannya memegangi bahu Saaochi agar anak itu tidak tiba-tiba menjatuhkan diri ke lautan. Samar-samar Luisa mendengar para murid berteriak senang.

“Ayo kita kalahkan naga ini bersama!”

Namun, detik berikutnya, naga yang tampaknya terdistraksi dengan kehadiran Luisa dan Saaochi, bergerak dengan cepat menuju ke laut. Luisa secara insting dalam keadaan itu segera melompat turun dan mendarat di atas kapal.

Saaochi tetap bertahan, membiarkan dirinya dihantam air laut bersama dengan sang naga. Napasnya dia tahan dengan cepat dan tangannya perlahan melepaskan pegangan dari tubuh naga dan berenang ke belakang secepat yang ia bisa. Seolah, terpancing naga itu segera mengejar Saaochi, mulutnya terbuka hendak menelannya dalam sekali telan.

Jantung Saaochi berdetak tak karuan, napasnya hampir terlepas, dan bibirnya berkedut karena ingin tersenyum. Kakinya sudah dicapai oleh mulut besar itu dan jika naga itu mengatupkan rahangnya, Saaochi yakin dia yakin kehilangan kedua kakinya.

Tapi, sedetik sebelum rahang itu mengatup, Saaochi mengubah gaya renangnya, menarik kedua kakinya dan memutar tubuhnya. Angin besar dan dorongan air akibat si naga yang menutup mulutnya sembarangan, membuat Saaochi terpental jauh.

Saaochi memanfaatkan itu dan naik ke permukaan, melihat betapa jauhnya kapal dari jangkauannya. ‘Wah, sial—

Air kembali berderak di bawahnya, dia kembali masuk ke dalam lautan, menyusuri tubuh di naga sementara makhluk itu berusaha mengincarnya. Saaochi kembali memegangi kepala sang naga, membuatnya kepalang marah. Mengamuk di antara lautan, membuat gelombang laut besar lantas membawa tubuh Saaochi keluar dari air.

Wohooo!”

Bagi Saaochi, ini adalah hari libur terbaik yang pernah dia dapatkan.

=••=