03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Mulut Saaochi terbuka lebar, suara dehaman terlepas
dari tenggorokannya, membuat setitik air membasahi kelopak mata yang mengering
akibat tertutup terlalu lama. Saaochi meregangkan tubuhnya, melangkah gontai
menuju dapur untuk mendapat sarapan.
Saaochi telat bangun, wajar saja dia tidur di jam 2
malam. Begadang mengerjakan tugasnya yang menumpuk akibat dia yang terlalu
berleha-leha beberapa hari ini. Beberapa saat setelah bangun dari tidur,
barulah dia menyadari, sudah beberapa hari ini, dirinya hanya mengisi tubuh
dengan minum air.
Jadi, dengan kesadaran penuh, dibawanya tubuh itu
menuju dapur. Meski tak yakin bisa membujuk dua chef—yang katanya teramat
tampan—untuk mendapat makanan lainnya. Dalam perjalanan, Saaochi menyadari ada
sesuatu yang aneh.
Markas teramat sunyi, bahkan meski beberapa hari ini
ada kejadian di luar nalar, tidak mungkin bukan para murid melewatkan libur
menyenangkan ini dengan mengurung diri di kamar? Atau mereka terlalu takut
dilempar ke dungeon lagi tiba-tiba? Oh, jangan bilang seluruh murid yang ada di
sini kabur karena hal itu?!
Saaochi panik sendiri, sampai lupa tujuannya adalah
dapur. Dia malah putar balik untuk ke kamar Luisa dan memberitahu pemikiran
negatifnya itu. Pikir Saaochi, Luisa pasti punya jawabannya.
Namun, tak sampai lagi kakinya membawa tubuh menuju
kamar Luisa, dia mencium harum mawar. Saaochi membelalakan mata dan segera
mengerem kakinya mendadak.
“Bastian!” teriaknya, dan secara ajaib asap berkumpul
menjadi lebih pekat dan muncullah seorang lelaki berambut hitam-ungu, membawa
secangkir minuman yang diduga Saaochi sebagai kopi melihat bagaimana pekatnya
warna airnya itu.
Saaochi sweatdrop. ‘Beneran kayak jin lagi,’ batinnya.
“Kenapa?”
“Di mana semua orang? Kenapa markas sepi sekali?”
Bastian menatap Saaochi lama sejenak, keningnya
berkerut. “Kau tidak tahu?”
“Kalau aku tahu ngapain nanya.” Hampir saja tangan
Saaochi menggeplak jin di depannya ini.
Bastian berdeham panjang sejenak, sebelum menjawab.
“Mereka sedang bersenang-senang melawan naga.”
Pupil Saaochi membesar, mulutnya terbuka lebar.
“Naga?! Di mana? Kok ga ngajak-ngajak!”
Sekilas, tampaknya Bastian menyeringai. “Di laut,
bersama para awak kapal. Lagipula, kenapa kau bangun telat?”
Saaochi meringis pelan. “Habis begadang, sih.”
Detik berikutnya, dahi Saaochi dijitak keras sampai
tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
“Apa-apaan itu?!” protesnya, mengusap pelan jidatnya
yang memerah.
Bastian tidak menjawab dan memilih menghilang menjadi
kabut kembali. Saaochi ngelag sebentar, sebelum kakinya kembali memecut menuju
kamar Luisa. Tentu saja, dia akan mengajak temannya itu, Luisa pasti bosan di
kamar terus.
Meski niatnya hanya untuk mengusili Luisa.
=••=
“Luisa, tok tok! Halo, selamat pagi! Ayo, bangun
Luisa!”
Saaochi menggedor dan menekan tombol bel berkali-kali.
Sembari mulutnya merapal nama Luisa berkali-kali, berusaha membangunkannya.
Beberapa detik kemudian, barulah pintu itu terbuka, tampilkan Luisa yang
rambutnya acak-acakan.
“Kenapa?”
“Ayok lawan naga!”
Setelahnya, pintu Luisa bergerak cepat hendak menutup
celah yang mempertemukan mereka berdua. Namun, gerakan pintu kalah cepat dengan
kedua tangan Saaochi yang menahannya di kedua sisi. Saaochi tersenyum lebar, dengan
urat-uratnya yang perlahan terlihat akibat menahan pintu yang masih berusaha
tertutup.
“Tidak menerima penolakan, ayok ikut.”
“Ukh.” Luisa mundur ke belakang. Antara kaget dan
tidak. “Aku malas! Jangan maksa, dong!”
“Gak, gak boleh! Kau tahu ‘kan, aku suka naga?
Lagipula, di dungeon kemarin ada naga, tapi aku tidak bisa melawannya karna itu
untuk para murid! Kali ini saja, kumohon!”
Wah, pintunya beneran ingin menggeprek Saaochi
sepertinya. Untuk menghindari itu, Saaochi perlahan melangkahkan kakinya masuk
ke dalam kamar sembari tangannya masih menahan pintu. Keringatnya bercucuran,
membasahi tubuhnya.
“Ya sudah, pergi sendiri sana!”
Jantung Luisa jadi berdetak kencang. Dia tidak
percaya, Saaochi bisa menahan pintu besi itu dengan kedua tangannya selama ini,
bahkan berusaha menerobos masuk. Tepat beberapa detik berikutnya, Saaochi
melepas pegangannya pada pintu dan melompat masuk, menabrak tubuh Luisa sampai
mereka berdua jatuh di atas lantai.
“Akh!” Luisa meringis, kepalanya terpentok lantai.
Luisa menoleh ke samping, ada Saaochi yang tampaknya,
wajahnya menghantam lantai lebih dulu. Tatkala, anak itu mengangkat muka,
hidungnya memerah dan dari sana mengucur cairan merah pekat. Rahang Luisa
perlahan jatuh, tidak kaget dengan Saaochi yang mimisan, dia lebih kaget
Saaochi masih sempat-sempatnya memasang senyum.
“Ayo ikutan lawan naga!”
Luisa menepuk jidatnya, ‘Ya ampun, apa dosaku
sampai ditempelin makhluk kayak gini.’
Luisa menarik napas, berusaha untuk tidak terbawa
emosi. Dia membantu Saaochi untuk duduk, sebelum dirinya berdiri dan berjalan
menuju meja untuk mengambil beberapa lembar tisu. Diberikannya, tisu itu pada
Saaochi yang segera saja menyumbat hidungnya dengan itu.
“Gimana? Mau ‘kan?” tanya Saaochi lagi, kali ini
nadanya sedikit mendesak.
Luisa menghela napas kesekian kali, lalu mengangguk
pelan. “Terserah kau sajalah. Memangnya kita mau nyusul mereka gimana?”
“Lah, memangnya mereka ke sananya gimana?” Saaochi
bertanya, sembari mendongakkan kepala, untuk menahan darah yang terus mengucur
dari hidungnya.
“Pake bulunya Eira.”
Saaochi angguk-angguk. “Ya udah, minta tolong
Bastian.”
Luisa secara reflek mengerutkan keningnya, lantas
ungkapkan pikirannya. “Emang, Bastian mau?”
“Yes, Ladies? Did you call me?”
Luisa secara reflek terjingkat kaget. “Kok kau bisa
masuk?!”
Bastian menoleh pada Luisa, lalu menyeringai tipis.
“Memangnya apa yang tidak bisa kulakukan?”
“Makan,” celetuk Saaochi.
Bastian hanya memutar bola matanya menanggapi
celetukan itu.
Sedangkan, Luisa sweatdrop, menatap Saaochi yang
terkikik seperti telah menghilangkan kewarasannya dan Bastian yang menatapnya
datar. ‘Hm, apa aku bikin alat anti Bastian Saaochi, ya.’
“Ayok antar kami ke tempat naga itu! Bisa ‘kan? Masa
gak bisa, ga sesuai sama perkataan tadi, dong.”
Bastian lagi-lagi menyeringai menanggapi permintaan
Saaochi. Dia melirik Luisa yang menggelengkan kepalanya pelan, tampaknya
berusaha agar Saaochi yang kelewat semangat tidak tahu. ‘Oh, lihatlah, dia
memohon.’
“Tentu saja, aku bisa.”
“Hore!”
“Tidak!”
“Bersiaplah, kalian akan segera berada pada naga!”
Bastian menjulurkan tangannya, bersiap mengubah mereka bertiga menjadi
sekumpulan kabut.
“Tunggu dulu—“ Luisa hampir saja berhasil lolos, tapi
Bastian sudah lebih dulu memegang bahunya dan mereka bertiga secera cepat
menghilang dari sana, meninggalkan harum mawar pekat.
Meninggalkan kamar Luisa dalam kesunyian yang nyaman.
=••=
Sekumpulan kabut muncul di antara kesibukan para murid
melawan sang naga air. Tatkala naga itu berteriak marah ke arah mereka,
tiba-tiba saja dua anomali dijatuhkan ke atas kepala naga.
“Pahlawan datang!” Saaochi berteriak. Perutnya bagai
tergelitik karena rasa senang.
Luisa segera berpegangan erat pada naga, sedang satu
tangannya memegangi bahu Saaochi agar anak itu tidak tiba-tiba menjatuhkan diri
ke lautan. Samar-samar Luisa mendengar para murid berteriak senang.
“Ayo kita kalahkan naga ini bersama!”
Namun, detik berikutnya, naga yang tampaknya
terdistraksi dengan kehadiran Luisa dan Saaochi, bergerak dengan cepat menuju
ke laut. Luisa secara insting dalam keadaan itu segera melompat turun dan
mendarat di atas kapal.
Saaochi tetap bertahan, membiarkan dirinya dihantam
air laut bersama dengan sang naga. Napasnya dia tahan dengan cepat dan
tangannya perlahan melepaskan pegangan dari tubuh naga dan berenang ke belakang
secepat yang ia bisa. Seolah, terpancing naga itu segera mengejar Saaochi,
mulutnya terbuka hendak menelannya dalam sekali telan.
Jantung Saaochi berdetak tak karuan, napasnya hampir
terlepas, dan bibirnya berkedut karena ingin tersenyum. Kakinya sudah dicapai
oleh mulut besar itu dan jika naga itu mengatupkan rahangnya, Saaochi yakin dia
yakin kehilangan kedua kakinya.
Tapi, sedetik sebelum rahang itu mengatup, Saaochi
mengubah gaya renangnya, menarik kedua kakinya dan memutar tubuhnya. Angin
besar dan dorongan air akibat si naga yang menutup mulutnya sembarangan,
membuat Saaochi terpental jauh.
Saaochi memanfaatkan itu dan naik ke permukaan,
melihat betapa jauhnya kapal dari jangkauannya. ‘Wah, sial—‘
Air kembali berderak di bawahnya, dia kembali masuk ke
dalam lautan, menyusuri tubuh di naga sementara makhluk itu berusaha
mengincarnya. Saaochi kembali memegangi kepala sang naga, membuatnya kepalang
marah. Mengamuk di antara lautan, membuat gelombang laut besar lantas membawa
tubuh Saaochi keluar dari air.
“Wohooo!”
Bagi Saaochi, ini adalah hari libur terbaik yang
pernah dia dapatkan.
=••=