03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Matahari sudah tergelincir namun sepertinya wajah kepuasan dari orang-orang yang telah berjuang mengumpulkan Snowiest tidak luntur sedikitpun, begitulah yang ku lihat sekarang. Kami sudah berjalan mendekat ke arah markas tinggal beberapa langkah lagi tapi yang lain sudah berteriak kegirangan.
"Ketua! Kami berhasil!"
Wajah Ketua yang awalnya terlihat sedikit tidak tenang kini mulai terlihat lega, di samping Ketua juga ada Komandan yang tersenyum seakan bangga dengan hasil yang kami bawa, lalu di belakang Ketua dan Komandan ada Priet yang sepertinya terdiam setelah melihat kami semuanya mengangkat karung berisi Snowiest dengan bangganya.
"Setelah hari yang panjang seperti ini ku harap, aku bisa memakan sedikit hal-hal manis." Aku berjalan dengan lesu, energiku sedikit terkuras akibat dari kegiatan ini ditambah lagi suhunya sangat dingin membuat diriku ingin menggulungkan diri di selimut saja.
Aku menguap pelan sambil melihat matahari yang sedikit lagi menghilang dari balik barat, hari yang panjang. "Apa aku harus berkumpul dengan yang lain terlebih dahulu ya? Tapi aku sangat lelah," gumamku menelusuri hamparan salju yang sudah mulai mencair.
Tanpa pikir panjang aku melewati kerumunan murid yang sedang mendatangi Ketua dan Komandan dengan antusias lalu segera masuk ke dalam markas. Lagipula aku tidak cocok dengan kerumunan.
———
Seperti biasa lorong menggemakan langkah kakiku, entah kenapa setiap kali melewati lorong menuju Asrama aku selalu seperti ini. Maksudku selalu sendirian tanpa ada orang lain di sekitar, bukan apa-apa tapi rasanya jadi tidak ada bedanya dengan lorong di bangunan 'Itu.
Aku mengambil ID Card milikku lalu menempelkannya ke pintu kamar milikku, pintu terbuka meninggalkan kesunyian yang ada di belakangku.
"...Sepi sekali, aku tidak sempat membuat boneka ya?" gumamku sambil melihat tumpukan kain yang ada di atas kasur milikku.
"Huh lupakan saja, aku sudah tidak ada gairah untuk hal seperti itu." Aku melepas jubahku lalu melemparkan diri ke atas kasur dengan tumpukan kain itu.
Aku menutup mukaku dengan tangan, melamun dengan angan-angan yang sedang melayang tidak karuan. Kalau dipikirkan lagi akhir-akhir ini waktu tidurku cukup berantakan, rasanya cukup menakutkan hanya untuk sekedar menutup mata dan menjelajahi bunga tidur sebentar saja.
"Mau ku bacakan dongeng? Luisa."
"Berisik, biarkan aku tenang sebentar," geramku sambil bangkit dari kasur.
Aku melepas seragam latihan yang ku pakai seharian ini dan menggantinya dengan baju sweater yang di dalamnya ku pakaikan lapisan kain tambahan serta celana coklat. Malam ini akan sedikit dingin, walaupun tidak sedingin itu.
Ting!
[Luisa ayo ke Aula, semuanya sedang berkumpul sekarang.] pesan dari Saaochi muncul di tablet sesaat setelah aku mengganti bajuku.
[Ya, aku akan segera ke sana.]
————
Aula kini ramai dengan meja besar yang berada di tengah-tengah sana beserta beragam kue, semua orang dengan menikmati malam sambil berbincang-bincang di meja besar itu. Aku melihat Saaochi yang sedang meminum tehnya dengan tenang, dengan pelan-pelan aku menghampirinya.
"Halo Saaochi," sapaku terlebih dahulu lalu duduk di sampingnya. Kebetulan kursi di sampingnya kosong jadi lebih baik ku duduki saja.
"Hai, bagaimana dengan Snowiest yang kamu tangkap?" sapa Saaochi kembali sambil meletakkan cangkir teh nya ke atas meja.
"Tidak buruk, kelompokku terlalu bersemangat mencari Snowiest itu jadi semuanya bisa berjalan lancar tanpa kendala," jawabku lalu mengambil cookies yang berada di atas meja itu. "Kamu melepas ikat rambutmu ya?" tanyaku sambil melihatnya dengan berbinar-binar.
"Iya, apakah jelek?" tanya Saaochi kembali, aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum kecil.
"Kamu sangat cantik."
Setelah itu kami banyak berbincang-bincang walaupun diselingi dengan layangan telapak tangan Saaochi yang ku biarkan mendarat di bahuku. Sepertinya dia memendam dendam dan akhirnya bisa melampiaskannya sekarang.
Suara di Aula, aku akan mengingatnya. Hari ini memang melelahkan tapi hari ini akhirnya bisa diakhiri dengan perbincangan hangat, memori yang menyenangkan untuk di ingat.
Setelah berbincang-bincang dengan Saaochi aku pergi ke samping jendela di Aula, di sekitar sana juga terdapat meja dan kursi terpisah. Aku menarik salah satu bangku di sana dan duduk dengan tenang sambil menikmati cookies dan coklat panas.
Ada banyak hal yang ku pertanyakan, ku harap semua pertanyaan itu bisa terjawab seiring berjalannya waktu. Sekarang aku hanya akan berharap semoga takdir baik mengikuti langkah kami untuk menyelamatkan Galaxy.
Malam itu bintang bersinar terang seakan-akan ingin menyampaikan balasan atas harapanku.
Tamat.