Isi Cerita
Alice

Hari semakin gelap dan anak-anak murid dianxy yang sedang menyelesaikan misi satu persatu mulai tiba di markas dianxy. “Ketua! Kami berhasil!”

Mereka semua berhasil kembali sembari menyeret masing-masing kantung hologram berisi snowiest. Wajah murid-murid dianxy terlihat bahagia karna berhasil mengumpulkan Snowiest dan kembali sebelum malam.

Beberapa dari mereka memperlihatkan karung berisi snowiest dan ada juga yang berbicara satu sama lain tentang keberhasilan masing-masing. Priet memberi kode dan para Snowist melebur berubah kembali menjadi salju, murid-murid dianxy terdiam sejenak karna terkejut dan ada beberapa yang memasang wajah sedih.

"Langsung melebur." Alice hanya terdiam menatap.

 Para murid mulai berbicara satu sama lain, alice menatap kearah Naretta dan sedikit mendengar perkataannya.

"Bola bulu yang imut...."

"Sayang sekali tidak bisa kita jaga," sahut Alice menatap Naretta.

"Lebih sayang karna tidak bisa dijual," balas Naretta dengan wajah sedih.

"Benar, sudah tidak bisa disimpan."

Alice diam ditempat menatap percakapan para murid tanpa ingin bergabung.

Dia hanya sedang tidak ingin bergabung dengan yang lainnya.

"Halo, Alice," sapa Damiel dengan tersenyum lalu berjalan menuju dekat ke arah Alice, Alice menoleh dan membalas lambaian tangan, "Oh, Halo Dami, bingung mereka sedang bahas apa."

"Kakak tidak kedinginan, 'kan?" tanya Naretta memastikan.

"Masih, setelah ini apa?" tanya Alice asal, Alice bingung ingin membahas apa bersama Naretta.

"Entahlah, semoga bukan hal yang mengejutkan, ah walau selalu mengejutkan sih...."

Alice menggangguk sebagai jawaban.

"Sepertinya mereka membahas tentang Snowist?" jawab Dami

"Ah, kirain mau dibikin makanan," ucap Alice mengangguk.

"Benda itu tidak bisa dimakan," jelas Mentor Bastian dengan singkat.

"Ah, oh, tadi ... Alice dengar, ada es, begitu?" jelas Alice gugup. "Benda itu tercipta dari es, ciptaan dari serigala itu," jelas Bastian sekali lagi.

"Oh, dari sesepuh iti? lalu berubah jadi es." Alice berbicara pada dirinya sambil mengangguk

"Oh, tidak ngerti...," sahut Mentor Naren dari samping sambil tersenyum lebar.

Alice tertawa pelan mendengar ucapan Mentor Vanguard yang satu ini, "Pfft... Mentor Naren, lucu." "Shuut."

Alice berhenti tertawa dan merasa bersalah, Alice mencari sesuatu dari saku pakaiannya dan menemukan coklat, Alice memberikan coklat itu kepada Mentor sebagai permintaan maafnya, "Maaf Mentor, ini coklat untuk Mentor."

"Ih, baik banget dehhh, rezeki anak atheis." Mentor Naren menerima coklat dengan mata berbinar, Alice tersenyum  lalu kembali menoleh kearah Dami.

"Eh, memangnya bisa dimakan?" Alice hanya menggeleng sebagai jawaban membuat Dami Sweadrop mendengarnya.

☆★☆

Semua jenis kue dan bermacam-macam rasa teh, tersaji dengan rapi di atas meja. Ditambah rasa hangat dari penghangat ruangan. Mereka semua berkumpul di aula besar yang sudah didekorasi menggunakan meja agar mereka bisa makan bersama-sama di tempat yang luas itu.

Para murid tampak menikmati jamuan tersebut dengan antusias. Begitu juga beberapa mentor yang bergabung keseruan bersama mereka.

Rasa lelah mereka terbayar dengan pengakuan Priet dan juga teh hangat di cuaca yang beku. Meski pun justru Priet lah yang membekukan planet ini. Namun tak terlihat serigala beku itu hendak menarik es nya. Yang bisa mereka lakukan hanya menikmati rasa dingin hingga esok tiba. Menunggu salju dilelehkan oleh panasnya bintang di siang hari.

"Ngomong-ngomong, tidak dengan yang lain? Sendiri saja," tanya Dami, Dami dan Alice masih mengobrol ditengah ruang jamuan. Alice menoleh saat Dami mengajukan pertanyaan, "Selain sama Retta, selebihnya tersesat."

"Ah, Alice salah bicara, seharusnya 'terpisah'  bukan tersesat."

"Ya ampun." Damiel sweatdrop mendengar jawaban Alice.

"Benar, kita habis berkeliling dunia bersalju dadakan, ini," ucap Natetta ceria.

Alice mengobrol dengan Naretta, sesekali tersenyum dan tertawa kecil.

"Alice!~." Alice sedang fokus berbicara dengan Naretta seketika terdiam dan menoleh mencari empun yang memanggilnya. Menatap Shou yang sedang tersenyum tipis dengan rona merah tipis

"Ah, ternyata Shou, tetapi kenapa wajahnya memerah?" batin Alice bertanya-tanya.

"Shou? Kenapa wajahmu pink?" tanya Alice sedikit memiringkan kepala.

Shou tertegun, "Sepertinya karna cuaca dingin jadi seperti ini." Shou menunduk menyamakan tinggi badannya dengan tinggi Alice lalu memiringkan kepalanya.

Alice sedikit terkejut dan melirik teh yang ada diatas meja.

"Minum Shou?" tawar Alice mengambil secangkir teh dan tersenyum cerah. "Iya... iya... "

"Bisa request minum tidak ya?" Alice bertanya sebagai topik percakapan dan menatap Shou yang sedang minum teh dengan tangan gemetar.

Alice tertawa pelan melihat tingkah Shou yang lucu, "Cie gemetar~."

"Ini hanya efek dingin saja."

"Mau request minum seperti apa?" lanjut Shou menoleh kearah Alice dan Alice juga ikut menoleh, Alice menatap manik kuning milih Shou yang ternyata Shou juga sama.

Alice tertegun. "Ini kita tidak duduk gitu?"

Alice ikut melihat kearah bangku, gadis bersurai kuning-putih itu merasa gugup dan menjadi malu.

"Ah, i-ya a-ayo," ucap Alice terbata-bata.

Saat ingin duduk, tangan Alice digengam oleh Shou dan duduk.

"Aku membawa makanan yang ada diatas meja, nih," ucap Shou memperlihatkan Sepiring kue

"Woah, persiapan sekali, terlihat sangat enak." Alice menerima kue pemberian Shou dan mencicipi kue tersebut yang sangat enak. Alice tidak terlalu mendengar perkataan Shou karna fokus menikmati kue coklat dengan pose tangan kiri dipipi.

"Manis...," batin Alice.

Alice menyadari jika diperhatikan namun hanya diam menikmati rasa kue di jamuan ini.

"Nah bagaimana kue nya? Menurutmu ini enak melepas lelah?"

"Manis seperti...." Alice terdiam mengantung kata-katanya.

"Hm? Manis seperti apa, Alice?" tanya Shou.

"Mu...," jawab Alice pelan.

"Alice mau makan kue coklat lagi," ucap Alice mengalihkan topik tanpa Alice sadari Shou terdiam.

Saat sedang mengambil kue coklat lagi, Alice menatap Faa bingung.

"Faa kenapa?"

"Kak, tolong.. Hewan itu menganggu rencana ku mengumpulkan banyak kue," adu Naretta sambil menunjuk Faa.

"Harusnya bawa kantung," saran Alice memberi kantung yang entah dia dapat dari mana.

Faa melompat ke pundak Alice sesekali mengendusnya. Alice mengelus Faa sebentar sebelum Faa kembali melompat.

Beberapa langkah kedepan Alice bertemu Arumi yang sedang menikmati kue.

"Rumi, sedang apa?" Alice mendekati Arumi

"Menikmati kue dan mengumpulkan nya, Alice mau?"

Alice mengangguk dan menerima sepiring kue sebelum kembali ke tempat duduknya.