03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Commander Maula melirik ke arah Kapten
Rhino, dengan tatapan khawatir ia menatap langit yang mulai berubah kemerahan,
namun belum ada tanda-tanda murid dan mentor yang kembali.
Kapten Rhino sedari tadi hanya duduk di
luar, menunggu mereka semua kembali. Alisnya menekuk kala mata melihat langit
yang makin menggelap.
Priet berdiri di belakang Kapten Rhino dan
Commander Maula, menyadarkan mereka bahwa waktunya tak lama lagi.
Namun belum sempat Kapten Rhino meminta
tambahan waktu, mereka mendengar teriakan dari arah luar markas, yang membuat
mereka bertiga langsung menolehkan kepala, melihat para murid dan mentor yang
akhirnya kembali sambil menyeret karung berisi Snowiest.
"Ketua, kami berhasil! Kami
kembali!"
Mereka bersorak, akhirnya bisa bernafas
lega. Ada yang dengan bangga mengangkat karung itu dan menyerahkannya kepada
Kapten Rhino, membuat sang Kapten terkekeh atas tindakan itu.
"Akhirnya sampai, akhirnya
berhasil." Alice berucap, menatap ke arah depan, di mana Kapten Rhino
tersenyum bangga kepada mereka.
"Alice, kita berhasil..." Arumi
berucap, menatap karung di tangannya yang berisi Snowiest.
Priet masih berdiri di belakang Kapten
Rhino, menatap Snowiest-nya yang berada di dalam karung. Priet memberi kode,
seketika semua Snowiest menghilang, melebur jadi satu dengan es.
Arumi menghembuskan nafas lega dan
memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar. Namun ketika Arumi membuka mata,
ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada di
hadapannya.
Membuat Arumi tersentak, namun dengan bau
mawarnya yang khas membuat Arumi langsung mengetahui siapa itu.
"Kaget ya?" Mentor Bastian
bertanya, sebuah senyum jahil terutas di wajah, dan nampaknya ia melakukan hal
itu dengan sengaja.
"Tidak, tuh." Arumi mendengkus,
namun masih tak bisa menyembunyikan rona tipis di pipinya.
Mentor Bastian terkekeh, tangan ia ulurkan
untuk mengusap surai perempuan dihadapannya.
"Kerja bagus."
"Anda juga, kerja bagus." Arumi
membalas.
Arumi kemudian merasa usapan di kepalanya sedikit
lebih keras dari sebelumnya, seakan mentor Bastian mengusap kepalanya hanya
untuk mengacak-acak rambutnya.
"Sudah, aku sudah puas." Mentor
Bastian akhirnya berhenti ketika ia mendengar gerutuan kecil yang keluar dari
mulut Arumi. Namun ekspresi di wajahnya berkata bahwa ia sangat puas.
"Ayo masuk, di luar dingin."
Tawar Mentor Bastian sembari mengulurkan tangan.
"Saya tahan dingin." Arumi
mendengkus, namun masih tetap menggapai tangan yang terulur itu.
"Sudah, ayo masuk. Wajahmu tampak
pucat."
Arumi tak membalas, ia lebih memilih untuk
menuruti perkataan Mentor Bastian.
Mereka semua kemudian berkumpul di aula
besar yang sudah didekorasi. Dan di tengahnya terdapat meja agar mereka bisa
makan bersama-sama di tempat yang luas itu.
Semua jenis kue dan bermacam-macam rasa
teh, tersaji dengan rapi di atas meja. Ditambah rasa hangat dari penghangat
ruangan. Membuat dingin tak lagi terasa.
Para murid tampak menikmati jamuan tersebut
dengan antusias. Begitu juga beberapa mentor yang bergabung keseruan bersama
mereka.
"Kukis?"
"Iya, terima kasih." Arumi
menerima kukis dari Mentor Bastian dan memakannya.
Priet tampak belum ada niatan untuk menarik
es nya dalam waktu dekat. Namun setidaknya rasa lelah mereka terbayarkan oleh
pengakuan Priet dan juga jamuan ini.
Arumi melirik sekeliling, saat di rasa
tidak ada yang melihat, ia mengambil cokelat di meja dan memasukkannya dalam
kantong.
"Aru, simpankan ini untukku."
Satu alisnya naik ke atas, namun Arumi
tetap menerima cokelat dari Alice. Nampaknya mereka berdua memiliki pemikiran
yang sama.
Arumi berlagak polos dan lanjut memakan kue
yang tersaji, namun saat ia ingin mengambil cokelat lagi, sebuah deheman
membuatnya tersentak.
Dengan canggung Arumi menoleh ke samping,
di mana mentor Bastian sedang menatapnya dengan sedikit intens.
"Anu..." Arumi berdeham,
"saya sebenarnya ingin mengambilkan anda cokelat."
"Dasar."
Namun di tengah keramaian itu, sang Kapten
lebih memilih menatap langit malam.
Sang Kapten baru menoleh ketika Priet
berucap.
"Lakukanlah."
"Ya?" Ucapan Priet barusan
membuat Kapten Rhino menukikkan alis, sedikit bingung.
“Pimpin DianXy seperti yang diperintahkan
gadis itu,” Priet berucap tanpa mengalihkan pandang. “Aku akan membantumu jika
ada masalah.”
“Benarkah? Terima kasih.”
Sang Kapten tersenyum sumringah atas
tawaran itu.