Isi Cerita
Arumi Sinclair

Commander Maula melirik ke arah Kapten Rhino, dengan tatapan khawatir ia menatap langit yang mulai berubah kemerahan, namun belum ada tanda-tanda murid dan mentor yang kembali.

 

Kapten Rhino sedari tadi hanya duduk di luar, menunggu mereka semua kembali. Alisnya menekuk kala mata melihat langit yang makin menggelap.

 

Priet berdiri di belakang Kapten Rhino dan Commander Maula, menyadarkan mereka bahwa waktunya tak lama lagi.

 

Namun belum sempat Kapten Rhino meminta tambahan waktu, mereka mendengar teriakan dari arah luar markas, yang membuat mereka bertiga langsung menolehkan kepala, melihat para murid dan mentor yang akhirnya kembali sambil menyeret karung berisi Snowiest.

 

"Ketua, kami berhasil! Kami kembali!"

 

Mereka bersorak, akhirnya bisa bernafas lega. Ada yang dengan bangga mengangkat karung itu dan menyerahkannya kepada Kapten Rhino, membuat sang Kapten terkekeh atas tindakan itu.

 

"Akhirnya sampai, akhirnya berhasil." Alice berucap, menatap ke arah depan, di mana Kapten Rhino tersenyum bangga kepada mereka.

 

"Alice, kita berhasil..." Arumi berucap, menatap karung di tangannya yang berisi Snowiest.

 

Priet masih berdiri di belakang Kapten Rhino, menatap Snowiest-nya yang berada di dalam karung. Priet memberi kode, seketika semua Snowiest menghilang, melebur jadi satu dengan es.

 

Arumi menghembuskan nafas lega dan memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar. Namun ketika Arumi membuka mata, ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya.

 

Membuat Arumi tersentak, namun dengan bau mawarnya yang khas membuat Arumi langsung mengetahui siapa itu.

 

"Kaget ya?" Mentor Bastian bertanya, sebuah senyum jahil terutas di wajah, dan nampaknya ia melakukan hal itu dengan sengaja.

 

"Tidak, tuh." Arumi mendengkus, namun masih tak bisa menyembunyikan rona tipis di pipinya.

 

Mentor Bastian terkekeh, tangan ia ulurkan untuk mengusap surai perempuan dihadapannya.

 

"Kerja bagus."

 

"Anda juga, kerja bagus." Arumi membalas.

 

Arumi kemudian merasa usapan di kepalanya sedikit lebih keras dari sebelumnya, seakan mentor Bastian mengusap kepalanya hanya untuk mengacak-acak rambutnya.

 

"Sudah, aku sudah puas." Mentor Bastian akhirnya berhenti ketika ia mendengar gerutuan kecil yang keluar dari mulut Arumi. Namun ekspresi di wajahnya berkata bahwa ia sangat puas.

 

"Ayo masuk, di luar dingin." Tawar Mentor Bastian sembari mengulurkan tangan.

 

"Saya tahan dingin." Arumi mendengkus, namun masih tetap menggapai tangan yang terulur itu.

 

"Sudah, ayo masuk. Wajahmu tampak pucat."

 

Arumi tak membalas, ia lebih memilih untuk menuruti perkataan Mentor Bastian.

 

Mereka semua kemudian berkumpul di aula besar yang sudah didekorasi. Dan di tengahnya terdapat meja agar mereka bisa makan bersama-sama di tempat yang luas itu.

 

Semua jenis kue dan bermacam-macam rasa teh, tersaji dengan rapi di atas meja. Ditambah rasa hangat dari penghangat ruangan. Membuat dingin tak lagi terasa.

 

Para murid tampak menikmati jamuan tersebut dengan antusias. Begitu juga beberapa mentor yang bergabung keseruan bersama mereka.

 

"Kukis?"

 

"Iya, terima kasih." Arumi menerima kukis dari Mentor Bastian dan memakannya.

 

Priet tampak belum ada niatan untuk menarik es nya dalam waktu dekat. Namun setidaknya rasa lelah mereka terbayarkan oleh pengakuan Priet dan juga jamuan ini.

 

Arumi melirik sekeliling, saat di rasa tidak ada yang melihat, ia mengambil cokelat di meja dan memasukkannya dalam kantong.

 

"Aru, simpankan ini untukku."

 

Satu alisnya naik ke atas, namun Arumi tetap menerima cokelat dari Alice. Nampaknya mereka berdua memiliki pemikiran yang sama.

 

Arumi berlagak polos dan lanjut memakan kue yang tersaji, namun saat ia ingin mengambil cokelat lagi, sebuah deheman membuatnya tersentak.

 

Dengan canggung Arumi menoleh ke samping, di mana mentor Bastian sedang menatapnya dengan sedikit intens.

 

"Anu..." Arumi berdeham, "saya sebenarnya ingin mengambilkan anda cokelat."

 

"Dasar."

 

Namun di tengah keramaian itu, sang Kapten lebih memilih menatap langit malam.

 

Sang Kapten baru menoleh ketika Priet berucap.

 

"Lakukanlah."

 

"Ya?" Ucapan Priet barusan membuat Kapten Rhino menukikkan alis, sedikit bingung.

 

“Pimpin DianXy seperti yang diperintahkan gadis itu,” Priet berucap tanpa mengalihkan pandang. “Aku akan membantumu jika ada masalah.”

 

“Benarkah? Terima kasih.”

Sang Kapten tersenyum sumringah atas tawaran itu.