Isi Cerita
Saaochi

Saaochi bernapas dengan berat, tiap tarikannya muncul asap putih. Saaochi yakin wajahnya sudah sama pucatnya dengan mayat hidup. Tiap inci tubuhnya menggigil, sementara dia memaksakan kakinya berjalan mengikuti yang lain dari belakang.

Bukan salah Saaochi kalau dia memiliki toleransi nol terhadap dingin. Terbiasa tinggal di tempat yang hampir 24 jam disinari matahari, mau tak mau dia lebih terbiasa dengan teriknya mentari membakar daratan ketimbang ganasnya salju berselimut di atas tanah. Yah, pada akhirnya, dia hanya mencak-mencak tidak jelas menyumpah-serapahi serigala yang datang tak diundang itu.

“Kenapa kayak gak semangat?” Luisa tiba-tiba saja sudah di sampingnya. Padahal tadi bersama yang lain di depan.

Saaochi mengambil jeda sejenak sebelum menjawab, kembali membuang karbon dioksida. “Kedinginan. Rasanya seluruh tubuhku macam dibekukan.”

Temannya itu tidak membalas, menatapnya dengan wajah lempengnya itu. “Oh, jadi itu kelemahanmu,” gumamnya.

Yang lantas buat Saaochi bagai terinjak ekornya, langsung melotot ke arah Luisa dan melepaskan pelukan pada tubuhnya sendiri.

“Engga ya! Mana mungkin kelemahanku itu!”

Luisa menatapnya aneh. Sebelum memutar kedua bola matanya, tidak percaya Saaochi mengatakan hal semacam itu dengan lantang padahal kebenarannya jelas terpampang di depan mata. Mereka berdua akhirnya berjalan dalam diam, meski tidak sepenuhnya begitu, karena Saaochi masih menggerutu.

“Ketua, kami berhasil!”

Para murid berteriak riang, berlarian menuju depan markas sembari menyeret kantong hologram berisi para snowiest. Saaochi juga ingin bergabung, jadi dipacunya kedua kaki yang bagai membeku itu menuju murid-murid. Tinggalkan Luisa di belakang yang malah merenungi hidup.

=••=

“Hachim!”

Entah sudah beberapa kali Saaochi bersin. Wajahnya memerah, rasa dingin tidak juga menghilang dari tubuhnya meski penghangat ruangan sudah dinyalakan dengan suhu brutal. Saaochi mendekap dalam gumpalan selimut, enggan keluar meski tahu di luar sedang ada perayaan atas keberhasilan mereka menangkap seribu snowiest.

Hidungnya terasa sesak sampai dia kira akan mati dalam beberapa menit ke depan karena kesulitan bernapas. Suhu badannya tidak bisa Saaochi mengerti, kepalanya panas, tapi seluruh badannya dingin. Mungkin ini disebut meriang.

Pintu dari luar diketuk, ada seseorang di depan kamarnya. Jadi Saaochi berusaha beranjak dari tempat tidurnya, untuk sekedar membiarkan sistem membukakan pintu untuknya. Jika Saaochi tidak sakit, dia lebih senang membuka pintu itu manual.

“Engga ke aula?”

Rupanya Luisa yang masuk ke dalam. Saaochi menghela napas berat, mengubah posisi menjadi duduk. Dia mengangguk pelan.

“Eh, kamu sakit?” Belum sempat dijawab, dahinya sudah disambar oleh Luisa yang meletakkan punggung tangannya di sana. “Ckck, termyata seorang Saaochi juga bisa sakit.”

Saaochi memutar bola matanya. Sudah biasa mendengar komentar orang-orang setiap kali ia sakit. ‘Aku juga makhluk hidup kali.’

“Udahlah, ayok ke aula,” ujar Saaochi, beranjak dari kasurnya.

Luisa layangkan tatapan heran pada Saaochi yang berdiri pun linglung. Malah mau ke aula. Dahinya sampai berkerut.

“Yakin bisa, nih?”

Saaochi mengangguk. “Bisa. Udah minum obat, udah pake minyak angin sebotol.”

Luisa reflek memundurkan langkahnya pelan. “Pantas bau minyak angin. Pake parfum sana.”

“Yang ada baunya nyampur kocak.”

“Daripada bau minyak angin?”

Saaochi mengusap wajahnya frustasi. Baiklah, dia sedang malas berdebat, lagipula Luisa juga benar. Mana mungkin dia pergi ke aula dengan begini. “Yaudahlah, aku ganti baju dulu.”

Luisa sekedar mengangguk, mengambil duduk di bangku yang berhadapan dengan meja dipenuhi kertas-kertas dan tumpukan berkas. Wah, rupanya seorang Saaochi lebih suka menyimpan segala sesuatu di dalam kertas ketimbang dalam bentuk data di gawai. Beberapa menit menyusuri isi kertas yang lebih seperti coretan acak, sudah cukup bagi Saaochi untuk mengganti pakaiannya.

Tampaknya, Saaochi bukan hanya mengganti baju, tapi menambahkan sedikit riasan ke atas wajahnya. Mungkin agar tidak terlihat seperti mayat hidup.

“Ayok, sudah tidak sabar menikmati teh kamomil,” seru Saaochi, berjalan lebih dulu ke luar kamar.

Pintu otomatis tertutup tatkala Luisa keluar. “Kupikir kau mengincar kuenya.”

Saaochi menggeleng pelan, tampak sedikit ragu. “Lebih tertarik menyesap teh hangat sih sebenernya. Tapi, kue juga bagus.”

Setelah itu, hanya ada percakapan random yang menemani keduanya menuju aula.

=••=

Saaochi menghindari keramaian. Meskipun, dia memang menyukainya, tapi dia juga punya batas energi dalam bersosialisasi. Setidaknya yah, tidak separah Luisa yang bahkan sampai memojok, seolah merenung mengapa dia masih hidup.

Saaochi mengangkat cangkir tehnya, menghirup aroma bunga kamomil yang bagai terapi untuknya. Asap yang mengepul sebelum mengabur di udara menjadi pemandangan yang indah untuk matanya. Bibirnya mulai menyesap teh tersebut dengan perlahan, menikmati setiap tegukan.

Bagaimanapun juga, tidak buruk pergi ke perayaan ini meski awalnya ia enggan.

“Aku penasaran, sebenarnya kau ke mana saja tadi?” tanya Luisa. Dan jika boleh jujur, lebih kepada dia asal bicara saja untuk menghilangkan atmosfer canggung.

“Berbicara dengan Priet,” jawab Saaochi. Singkat, tidak tertarik membahas topik ini.

Tapi, sepertinya temannya tidak. Dia menoleh pada Saaochi, tuntut penjelasan lebih lanjut. “Bicara apa? Aku tidak yakin kau akan membicarakan tentang menghentikan seluruh kegilaan ini.”

Saaochi menghela napas berat. “Nah, kau benar. Aku tidak yakin apa yang kami bicarakan, tapi aku menanyakan alasannya.”

“Jadi? Apa alasannya?”

Saaochi mengambil sejenak untuk pertanyaan itu. Sebelumnya dia menganggap jawaban Priet sebagai ejekan. Tapi, entah kenapa setelah dipikirkan sekarang, serigala itu serius tentang mereka semua yang mudah mati.

“Entahlah. Mungkin dia takut kita semua tidak cukup kuat untuk menjadi bagian dari pelindung galaksi. Maksudku, meski begitu, kita tidak benar-benar melempar para murid begitu saja ke medan perang. Mengirim mereka ke dungeon tidak dihitung,” jawab Saaochi, sembari menggidikkan bahunya. Kepalanya pusing tiba-tiba.

Luisa mengangguk-anggukan kepalanya. “Mungkin, dia trauma karena dulu seluruh orang yang ada di sini mati dan hanya dia yang bertahan hidup. Priet mungkin tidak ingin mengalami kehilangan yang sama apalagi dalam jumlah lebih banyak daripada sebelumnya.”

Baiklah, masuk akal, pikir Saaochi. Dia tidak pernah memperhitungkan trauma kehilangan. Saaochi juga kehilangan, tapi tidak tahu apakah itu memengaruhinya untuk tidak ingin merasakan hal yang sama lagi.

Saaochi sejujurnya pusing, tidak ingin membahas ini. Menyesap teh kamomil tak lagi senyaman tadi setelah Luisa membahas hal ini. Dia jadi berpikir untuk kembali ke kamar saja, sesaat setelahnya Luisa kembali melemparkan topik berbeda.

Entah mengapa, Saaochi enggan menolaknya, meski topik lain pun terasa begitu berat ketika dia mengalami sakit kepala yang luar biasa.