03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Saaochi bernapas dengan berat, tiap tarikannya muncul
asap putih. Saaochi yakin wajahnya sudah sama pucatnya dengan mayat hidup. Tiap
inci tubuhnya menggigil, sementara dia memaksakan kakinya berjalan mengikuti
yang lain dari belakang.
Bukan salah Saaochi kalau dia memiliki toleransi nol
terhadap dingin. Terbiasa tinggal di tempat yang hampir 24 jam disinari
matahari, mau tak mau dia lebih terbiasa dengan teriknya mentari membakar
daratan ketimbang ganasnya salju berselimut di atas tanah. Yah, pada akhirnya,
dia hanya mencak-mencak tidak jelas menyumpah-serapahi serigala yang datang tak
diundang itu.
“Kenapa kayak gak semangat?” Luisa tiba-tiba saja
sudah di sampingnya. Padahal tadi bersama yang lain di depan.
Saaochi mengambil jeda sejenak sebelum menjawab,
kembali membuang karbon dioksida. “Kedinginan. Rasanya seluruh tubuhku macam
dibekukan.”
Temannya itu tidak membalas, menatapnya dengan wajah
lempengnya itu. “Oh, jadi itu kelemahanmu,” gumamnya.
Yang lantas buat Saaochi bagai terinjak ekornya,
langsung melotot ke arah Luisa dan melepaskan pelukan pada tubuhnya sendiri.
“Engga ya! Mana mungkin kelemahanku itu!”
Luisa menatapnya aneh. Sebelum memutar kedua bola
matanya, tidak percaya Saaochi mengatakan hal semacam itu dengan lantang
padahal kebenarannya jelas terpampang di depan mata. Mereka berdua akhirnya
berjalan dalam diam, meski tidak sepenuhnya begitu, karena Saaochi masih
menggerutu.
“Ketua, kami berhasil!”
Para murid berteriak riang, berlarian menuju depan
markas sembari menyeret kantong hologram berisi para snowiest. Saaochi juga
ingin bergabung, jadi dipacunya kedua kaki yang bagai membeku itu menuju
murid-murid. Tinggalkan Luisa di belakang yang malah merenungi hidup.
=••=
“Hachim!”
Entah sudah beberapa kali Saaochi bersin. Wajahnya
memerah, rasa dingin tidak juga menghilang dari tubuhnya meski penghangat
ruangan sudah dinyalakan dengan suhu brutal. Saaochi mendekap dalam gumpalan
selimut, enggan keluar meski tahu di luar sedang ada perayaan atas keberhasilan
mereka menangkap seribu snowiest.
Hidungnya terasa sesak sampai dia kira akan mati dalam
beberapa menit ke depan karena kesulitan bernapas. Suhu badannya tidak bisa
Saaochi mengerti, kepalanya panas, tapi seluruh badannya dingin. Mungkin ini
disebut meriang.
Pintu dari luar diketuk, ada seseorang di depan
kamarnya. Jadi Saaochi berusaha beranjak dari tempat tidurnya, untuk sekedar
membiarkan sistem membukakan pintu untuknya. Jika Saaochi tidak sakit, dia
lebih senang membuka pintu itu manual.
“Engga ke aula?”
Rupanya Luisa yang masuk ke dalam. Saaochi menghela
napas berat, mengubah posisi menjadi duduk. Dia mengangguk pelan.
“Eh, kamu sakit?” Belum sempat dijawab, dahinya sudah
disambar oleh Luisa yang meletakkan punggung tangannya di sana. “Ckck, termyata
seorang Saaochi juga bisa sakit.”
Saaochi memutar bola matanya. Sudah biasa mendengar
komentar orang-orang setiap kali ia sakit. ‘Aku juga makhluk hidup kali.’
“Udahlah, ayok ke aula,” ujar Saaochi, beranjak dari
kasurnya.
Luisa layangkan tatapan heran pada Saaochi yang
berdiri pun linglung. Malah mau ke aula. Dahinya sampai berkerut.
“Yakin bisa, nih?”
Saaochi mengangguk. “Bisa. Udah minum obat, udah pake
minyak angin sebotol.”
Luisa reflek memundurkan langkahnya pelan. “Pantas bau
minyak angin. Pake parfum sana.”
“Yang ada baunya nyampur kocak.”
“Daripada bau minyak angin?”
Saaochi mengusap wajahnya frustasi. Baiklah, dia
sedang malas berdebat, lagipula Luisa juga benar. Mana mungkin dia pergi ke
aula dengan begini. “Yaudahlah, aku ganti baju dulu.”
Luisa sekedar mengangguk, mengambil duduk di bangku
yang berhadapan dengan meja dipenuhi kertas-kertas dan tumpukan berkas. Wah,
rupanya seorang Saaochi lebih suka menyimpan segala sesuatu di dalam kertas
ketimbang dalam bentuk data di gawai. Beberapa menit menyusuri isi kertas yang
lebih seperti coretan acak, sudah cukup bagi Saaochi untuk mengganti
pakaiannya.
Tampaknya, Saaochi bukan hanya mengganti baju, tapi
menambahkan sedikit riasan ke atas wajahnya. Mungkin agar tidak terlihat
seperti mayat hidup.
“Ayok, sudah tidak sabar menikmati teh kamomil,” seru
Saaochi, berjalan lebih dulu ke luar kamar.
Pintu otomatis tertutup tatkala Luisa keluar. “Kupikir
kau mengincar kuenya.”
Saaochi menggeleng pelan, tampak sedikit ragu. “Lebih
tertarik menyesap teh hangat sih sebenernya. Tapi, kue juga bagus.”
Setelah itu, hanya ada percakapan random yang menemani
keduanya menuju aula.
=••=
Saaochi menghindari keramaian. Meskipun, dia memang
menyukainya, tapi dia juga punya batas energi dalam bersosialisasi. Setidaknya
yah, tidak separah Luisa yang bahkan sampai memojok, seolah merenung mengapa
dia masih hidup.
Saaochi mengangkat cangkir tehnya, menghirup aroma
bunga kamomil yang bagai terapi untuknya. Asap yang mengepul sebelum mengabur
di udara menjadi pemandangan yang indah untuk matanya. Bibirnya mulai menyesap
teh tersebut dengan perlahan, menikmati setiap tegukan.
Bagaimanapun juga, tidak buruk pergi ke perayaan ini
meski awalnya ia enggan.
“Aku penasaran, sebenarnya kau ke mana saja tadi?”
tanya Luisa. Dan jika boleh jujur, lebih kepada dia asal bicara saja untuk
menghilangkan atmosfer canggung.
“Berbicara dengan Priet,” jawab Saaochi. Singkat,
tidak tertarik membahas topik ini.
Tapi, sepertinya temannya tidak. Dia menoleh pada
Saaochi, tuntut penjelasan lebih lanjut. “Bicara apa? Aku tidak yakin kau akan
membicarakan tentang menghentikan seluruh kegilaan ini.”
Saaochi menghela napas berat. “Nah, kau benar. Aku
tidak yakin apa yang kami bicarakan, tapi aku menanyakan alasannya.”
“Jadi? Apa alasannya?”
Saaochi mengambil sejenak untuk pertanyaan itu.
Sebelumnya dia menganggap jawaban Priet sebagai ejekan. Tapi, entah kenapa
setelah dipikirkan sekarang, serigala itu serius tentang mereka semua yang mudah
mati.
“Entahlah. Mungkin dia takut kita semua tidak cukup
kuat untuk menjadi bagian dari pelindung galaksi. Maksudku, meski begitu, kita
tidak benar-benar melempar para murid begitu saja ke medan perang. Mengirim
mereka ke dungeon tidak dihitung,” jawab Saaochi, sembari menggidikkan bahunya.
Kepalanya pusing tiba-tiba.
Luisa mengangguk-anggukan kepalanya. “Mungkin, dia
trauma karena dulu seluruh orang yang ada di sini mati dan hanya dia yang
bertahan hidup. Priet mungkin tidak ingin mengalami kehilangan yang sama
apalagi dalam jumlah lebih banyak daripada sebelumnya.”
Baiklah, masuk akal, pikir Saaochi. Dia tidak pernah
memperhitungkan trauma kehilangan. Saaochi juga kehilangan, tapi tidak tahu
apakah itu memengaruhinya untuk tidak ingin merasakan hal yang sama lagi.
Saaochi sejujurnya pusing, tidak ingin membahas ini.
Menyesap teh kamomil tak lagi senyaman tadi setelah Luisa membahas hal ini. Dia
jadi berpikir untuk kembali ke kamar saja, sesaat setelahnya Luisa kembali
melemparkan topik berbeda.
Entah mengapa, Saaochi enggan menolaknya, meski topik
lain pun terasa begitu berat ketika dia mengalami sakit kepala yang luar biasa.