03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Banyak hal bisa menjadi alasan seseorang untuk bahagia bukan? Sepertinya itu yang aku rasakan dikala kakiku terus melangkah sembari dihiasi matahari yang mulai tenggelam ke ufuk Barat.
Setiap langkah yang aku lakukan membuat perasaan senang dan rasa haru menguasai diriku dikala kami semua berhasil menyelesaikan ujian kami, semoga kami bisa diterima baik olehnya.
Sesekali netraku melirik ke arah karung yang diseret dengan rasa bersalah terhadap Snowiest, mereka terlalu lucu untuk diperlakukan seperti itu, tapi jika tidak dilakukan mereka akan kembali kabur dan menyusahkan kami.
Markas sudah ada di depan mata, disaat kami sudah cukup dekat Nona Naren beserta yang lainnya mulai bersorak gembira sembari memamerkan hasil tangkapan kepada kedua petinggi dan juga sekutu DianXy terdahulu sekaligus orang yang memberikan kami ujian ini, Tuan Priet.
“Kami berhasil punder!!” ucap Nona Naren sembari memamerkan Snowiest yang ada di dekapannya, seharusnya aku juga melakukan hal itu saja agar tidak merasa bersalah terhadap makhluk-makhluk lucu itu.
“Hasil tangkapan nih bos!!” Aku melihat Tuan Masayoshi terlihat sangat bangga, aku tidak terlalu heran karena sejak awal sifatnya sudah cukup positif.
Tapi perasaan bangga itu wajar, setelah kami diragukan oleh Tuan Priet pada akhirnya kami berhasil membuktikan kalau kami pantas berada di sini, planet Mursa dan DianXy sudah menjadi rumah kedua ku selain berada di sisi kak Devanno.
“Kalian..”
Suara Tuan Cheiros berhasil menyita perhatian ku dan membuat netraku menatap ke arahnya, walaupun hanya tersenyum tipis tapi perasaan senangnya ikut aku rasakan yang sialnya membuat mataku berkaca-kaca.
Kepalaku tertunduk dan netraku yang masih berkaca-kaca melirik ke arah karung yang dimana para Snowiest mulai keluar dari sana.
‘Kami..
berhasil? Benar-benar berhasil?’
Entah apa yang akan terjadi jika saja kami tidak berhasil, tapi semua hal negatif itu bagaikan di terpa ombak air laut dan dibawa pergi tanpa adanya tanda-tanda hal tersebut akan kembali.
Kepalaku kembali terangkat setelah berhasil menenangkan pikiranku, netraku melihat kebahagiaan dari raut wajah orang-orang yang berada disini.
Pandanganku masih fokus melihat sekeliling hingga mendengar suara bersin yang berada tepat beberapa langkah di samping ku. Pemuda itu, Tuan Dewata, terlihat kedinginan karena suhu udara yang berubah drastis.
Tanganku membuka kantung kecil yang sengaja diikat pada pergelangan tanganku, ku ambil sebuah batu kristal yang diberikan tuan Elio beberapa saat yang lalu. “Tuan Elio sempat memberikan saya, gunakan jika anda kedinginan.”
Aku mengulurkan tangan ku ke tuan Dewata dan memberikannya batu kristal itu, sontak saja dia berterimakasih sembari memujiku. Aku tidak heran jika dia melakukannya mengingat sifatnya memang seperti itu, tapi karena hal itu pula dia dicakar Tuan Faa, rubah putih milik Tuan Elio.
Tidak ada yang bisa aku lakukan karena sejak awal kedua pemuda itu sepertinya saling tidak menyukai walaupun pada akhirnya mereka selalu berinteraksi normal setelahnya.
Aneh, apakah setiap orang bisa seperti itu? Biasanya dua orang yang tidak saling menyukai akan sulit berinteraksi dengan normal sekalipun berada di tempat umum.
Aku mengabaikan pikiran itu dan mendengar ucapan Tuan Priet yang seolah-olah memuji kami.
“Cukup baik.”
Hanya itu yang dapat dia ucapkan setelah kami kembali. “Sepertinya itu adalah pujian terbaiknya,” gumamku dengan tetap memperhatikan Tuan Priet yang membuat ku lengah dan tak menyadari jika seseorang berada di dekat ku.
Aku tersadar dikala sebuah tangan menepuk bahuku dan tangan lainnya berada di kepalaku menyingkirkan sisa salju yang berada di atas kepalaku.
Aku menoleh karena tidak mengenal rasa dingin yang terdapat pada tangan orang itu dan menyadari jika tuan Elio lah yang melakukannya.
“Halo putri manis,” ucapnya dengan senyuman yang selalu sama jika berhadapan dengan ku.
Aku menganggukkan kepalaku pelan dan tetap membiarkan tangannya berada di atas kepalaku setelah menyadari jika ada bekas salju yang sedang dia bersihkan.
Indra pendengaran ku mendengar nya memuji sesuatu yang tidak aku ketahui apa itu dan akhirnya sedikit mengabaikannya.
Semuanya berlalu begitu saja hingga malam matahari bergantikan dengan bulan yang indah. Suhu dingin yang semakin menyerang di malam hari rupanya masih tidak bisa membuat tubuhku merasa kedinginan seperti dulu, hah, aku mulai merindukan saat mengenakan pakaian tebal namun tetap merasa kedinginan dibandingkan seperti sekarang ini.
Rasa lelah yang aku rasakan akhirnya terbayarkan disaat perjamuan terjadi. Pengakuan Tuan Priet beberapa waktu lalu sudah cukup untuk ku agar semakin yakin untuk bertahan hidup di planet Mursa ini, walaupun begitu serigala itu sama sekali tidak terlihat ingin mengembalikan suhu Mursa seperti sedia kala. Apakah kami semua harus menunggu hingga pagi hari tiba? Mungkin iya dan mungkin juga tidak, yang pasti untuk kali ini menikmati hidangan adalah hal pertama yang harus aku lakukan.
Semburat merah tipis terlihat di pipiku saat meminum teh hangat yang disediakan, rasanya tubuhku akan meleleh tapi aku tetap suka setiap kali meminumnya, ditambah lagi setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian bebas yang terasa nyaman.
“Hohoot!” seruan burung hantu itu membuat ku menolehkan kepala ku dan melihat Tuan Nyx dalam wujud burung normal, apa yang dia lakukan kesini padahal sejak pertengkaran pagi tadi dia sama sekali tidak ingin menemui ku.
Ah, apakah karena makanan? Aku hampir melupakan fakta jika dalam wujud seperti ini Tuan Nyx lebih mudah merasa lapar.
Aku memberikan akses bertengger dengan melebarkan siku ku ke samping hingga Tuan Nyx dapat bertengger di tanganku.
“Sekarang anda datang huh?” Nadaku terdengar lebih dingin dari biasanya namun tanganku tetap saja memberikannya makanan karena tidak tega melihat Tuan Nyx kelaparan.
“Hoot..” balasnya lalu memakan kue yang aku berikan.
Entah kedamaian yang kami dapatkan hanyalah ilusi fana saja ataukah bukan, tapi yang pasti perasaan tanpa adanya ancaman seperti ini sudah lama tidak aku rasakan, rasanya seperti hidup kembali.
‘Ini
tidak buruk juga.’
— To Be Continued —