03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
--|🪶
Hari mulai semakin gelap, aku berlari kecil untuk
menghampiri Ketua dan Komandan yang kemungkinan serigala salju itu juga ada
disana, sambil sedikit bersenandung membawa kantung hologram yang berisi
snowiest.
“Ketua! Kami berhasil!”
Kami semua berhasil kembali sembari menyeret masing-masing
kantung hologram berisi snowiest yang sudah kami tangkap.
Aku menyimpan kantung hologram itu dan menghela napas senang
karena akhirnya perjuangan mencari 1000 snowiest di tempat dingin ini selesai.
"Wah, akhirnya kita berhasil,"
Aku agak tidak percaya bahwa kami berhasil, namun melihat
perjuangan yang lain saat mencari snowiest itu membuktikan bahwa kami memang
layak.
Semua kantung hologram sudah di letakkan tepat di hadapan
sang serigala salju itu, kalau tidak salah namanya Priet. Priet kemudian
memberi kode dan tidak lama setelahnya para snowiest melebur menjadi es yang
meleleh begitu saja.
Aku menatap sedih saat snowiest mulai meleleh.
"Bola bulu yang imut ...," lirih ku pelan menatap
snowiest snowiest itu.
"Sayang sekali tidak bisa kita jaga,"
Aku menoleh saat mendapati Alice berada di sebelah ku
setelah berucap demikian.
"Um, tapi lebih sayang karena tidak bisa di jual."
Aku kembali menatap snowiest yang sudah sepenuhnya meleleh dengan tatapan sedih
karena tidak bisa mendapat uang hasil penjualan snowiest itu.
Jika snowiest itu masih ada dan dijual beberapa tidak akan
jadi masalah kan? Kurasa.
"Benar sudah tidak bisa disimpan," timpal Alice
lagi, tampak nya dia juga merasakan kehilangan seperti ku terhadap snowiest
snowiest itu.
Saat itu aku teralihkan kepada seseorang yang terlihat
kelelahan, lalu aku menghampiri nya.
"Kakak oke?"
"Saya baik-baik saja. Hanya saja berpindah dari satu
lokasi ke lokasi lain secara berulang-ulang itu melelahkan," keluh nya,
tapi memang benar sih, aku juga merasa sedikit lelah.
Setelah sedikit berbincang dengannya, aku kembali
menghampiri Alice dan menanyakan sesuatu kepadanya, karena melihatnya hanya
diam ditempat sedikit membuat ku penasaran. Jika aku mengejutkan nya apakah aku
akan baik-baik saja? Setelah berpikir dan bergelut dengan ide untuk mengejutkan
Alice, aku akhirnya mengurungkan niat itu. Aku tidak mau terkena masalah, walau
itu ide yang cukup menyenangkan. Hehe.
"Kakak sudah tidak kedinginan kan?" tanya ku
sambil memastikan, karena sebelumnya Alice tampak kedinginan.
"Masih-masih, hatcim, setelah ini apa?" jawab nya
dengan sesekali bersin.
"Entahlah, semoga bukan hal yang mengejutkan, ah walau
selalu mengejutkan sih," ucapku dan mendekati nya, aku khawatir karena
Alice ternyata masih bersin akibat cuaca dingin ini. Cuaca dingin yang sangat
mendadak akibat ulah entitas yang tiba-tiba memberi ujian.
Entah bagaimana, namun pendengaran ku jika membahas soal
uang maka akan langsung menarik minatku. Seperti sekarang, aku tiba-tiba
mendengar yang lain sedang membicarakan soal rasa snowiest dan kemungkinan jika
snowiest di jual maka akan menghasilkan uang.
"Uang? Kakak mau jual bola bulu yang sudah jadi air
itu?" tanyaku penasaran, karena sekarang snowiest yang dibicarakan mereka
sudah menjadi cair.
"Ehhh. Tidak juga. Kalo sudah jadi cair gitu tidak bisa
dijual kan. Kalo masih hidup ya ...," jawab nya.
Aku mengangguk angguk paham akan jawabannya, "Hoo,
kirain bisa di balikin jadi seperti sebelumnya,"
"Ya ... aku bisa menyalinnya sih, tapi kalau hanya
bertahan beberapa menit sama saja tidak berguna. Sebaiknya tanya kakek rubah
itu apa dia bisa membalikan lagi para mahluk itu,"
"Pakai sihir es? Apakah tidak bisa membuatnya bertahan
sedikit lebih lama?"
Pertanyaan terus ku tanyakan padanya, aku sedikit merasa
bersalah sih karena bertanya terus menerus.
Atensi ku teralih kan lagi karena mendengar seseorang yang
menyebut nama ku, lalu kembali menghampiri sang empu untuk ikut menimpali
pernyataannya soal tersesat.
"Benar, kita habis berkeliling dunia bersalju dadakan
ini!"
"Iyaa, sangat melelahkan,"
"Tapi menyenangkan! Hihihi," kekeh ku saat
mendengar perkataan Alice soal melelahkan. Memang benar itu melelahkan tapi
sangat menyenangkan.
"Iyap, bertemu hal imut." Alice menimpali dan
menganggukkan kepala nya, tampaknya dia juga setuju soal perkataan ku
sebelumnya.
"Benar benar, namun sayang sekali hal imut itu hilang
begitu saja," lirih ku pelan mengingat bahwa snowiest yang sudah kami
tangkap meleleh begitu saja.
"Jadi kenangan masa kita," ucap Alice yang
sepertinya mulai menerima kenyataan?
Setelah berbincang-bincang dengan banyak orang—kurasa—, aku
membersihkan diriku lalu pergi menuju aula dimana semua jenis kue dan
bermacam-macam rasa teh, tersaji dengan rapi di atas meja. Ditambah rasa hangat
dari penghangat ruangan. Kami semua berkumpul di aula besar yang sudah
didekorasi menggunakan meja agar kami bisa makan bersama-sama di tempat yang
luas itu.
Rasa lelah kami terbayar dengan pengakuan Priet dan juga teh
hangat di cuaca yang beku. Meski pun justru Priet lah yang membekukan planet
ini. Namun tak terlihat serigala beku itu hendak menarik es nya.
"Nahh ini baru yang dinamakan habis gelap terbitlah
terang," ucap Fadeyka—seseorang yang berbincang dengan ku sebelumnya dan
membahas soal penjualan snowiest? Yah rencana yang sia-sia kurasa— yang
membuatku kembali teringat soal snowiest.
"Soal apa? Soal rencana pendistribusian snowiest
kah?" Aku berbinar-binar jika bersangkutan dengan uang.
"Tidak. Tapi soal pertama ini. Lupakan saja, ayo kita
makan dulu sebelum bencana lain yang mungkin akan datang besok atau lusa,"
ucapnya yang mungkin terkejut saat aku menjawab perkataannya soal topik
sebelumnya.
Aku sedikit kecewa, namun setelah mendengar kata makan aku
kembali bersemangat, yah hidup jika buka soal uang ya soal makan, bukan?
"Oho, ide bagus, ayo kita habiskan semuanya!"
"Mungkin aku akan membawa sedikit untuk dikamar
nanti," Fadeyka tampak menyeringai saat menatap kue kue itu.
"Hehehe, ide bagus, ayo kita menyembunyikan beberapa
kue dan makanan yang ada disini." Aku menatap kue dan semua makanan yang
ada di hadapan ku dengan semangat.
"Tentu,"
Beberapa detik kemudian tampaknya Fadeyka sedikit tersentak.
Dan menoleh kearah ku dengan tatapan bingung?
"Eh bagaimana kamu akan menyembunyikannya? Maksudku ...
kupikir hanya aku yang memiliki kemampuan teleportasi." Ucapnya sambil
memakan kue itu dan mulai mengambil beberapa.
"Err. Iya sih ya?" aku menjawabnya sambil
mengambil beberapa kue dan mulai memakannya juga.
"Hmm, belum ada ide sih, kakak ada saran?" Aku
menoleh dan menatap nya yang sedang memakan beberapa kue juga.
"Ya ... saranku kau membantuku," dia tampak
tersenyum bangga sambil meraih topinya.
"Nanti kita bagi dua," sambungnya.
"Hmmm, boleh juga, ayo beraksi." Aku mulai
mengumpulkan kue kue itu, sambil memakan nya beberapa. Mengambil dan
mengumpulkan kue juga butuh tenaga bukan? Hehe.
"Ini orang orang kok pada so sweet ya?" gumam ku
pelan sambil memakan kue lagi, juga melihat orang-orang yang ada di sekitar
tampak sedang menikmati acara mereka. Aku juga punya kegiatan disini—kegiatan
menyembunyikan makanan bersama Fadeyka— jadi aku kembali membawa kue itu
beberapa dalam pelukan ku.
"Haha. Rasanya seperti pernah melakukannya disuatu
tempat," ucapnya sambil mengikuti ku dari belakang, dan kembali berucap.
"Oh ... ambil yang enak enaknya saja," tambah nya.
Aku menoleh, terlebih ketika Fadeyka yang tampak pernah
melakukan hal seperti ini sebelumnya.
"Oh iya kah?" tanyaku sedikit penasaran.
"Dan okay! Laksanakan!" sambungku lalu mengambil
kue yang kurasa enak, dan membawanya menuju Fadeyka.
"Ya. Agar tidak terbuang sia sia," ucapnya sambil
mengulurkan topinya agar aku bisa memasukan kue ke dalam topinya.
"Iya juga, tapi tenang. Tidak ada yang tidak enak,
semua nya enak," jawabku sambil menatap kue yang ku bawa dengan tatapan
bangga, lalu memasukkannya ke topi Fadeyka.
Tiba-tiba saat aku hendak memasukan kue terakhir ke dalam
topi milik Fadeyka ada pencuri kue yang diam diam menghampiri ku dan melompat
mengambil kue yang berada di tanganku lalu kabur.
Aku terkejut, "Eh oii,, gahhh, pencuriiiiii!" Aku
mengejar pencuri kecil itu sambil mengunyah kue, dan meninggalkan Fadeyka
sebentar untuk mengejar hewan pencuri itu.
Hewan itu lari dan berbelok tiba tiba, lalu bersembunyi di
bawah meja, dan mengunyah makanan hasil tangkapan nya.
Aku yang mengikuti pencuri kue itu dan melihatnya sedang
berada di bawah meja menghela napas kesal.
"Grrrr, dasar kau! Ish, kerja napa, pake maling segala,
susah susah aku kumpulin kue nya," kesal ku.
"Nih mau lagi?" aku menghela napas,mencoba
memaklumi tindakan hewan itu dan menyerahkan beberapa kue kepadanya. Aku
penasaran, sepertinya aku pernah melihat hewan ini, tapi aku mendadak lupa dia
dipelihara oleh siapa dan siapa namanya.
Dengan sengaja, dia melompat ke wajah ku dan menjadikan
wajahku sebagai pijakannya untuk keluar dari bawah meja, kembali menghilang di
kerumunan murid.
"A-- ih, dasar hewan!" Aku kesal karena hewan itu
menjadikan wajahku sebagai pijakannya. Sudah mencuri kue ku, dia menganggu
kegiatan—menyembunyikan kue—ku juga. Aku jadi merasa bersalah karena
meninggalkan Fadeyka tiba-tiba.
Alice yang menatap Faa dengan bingung, karena tiba-tiba
hewan itu menghampiri pelukan Alice.
"Faa kenapa?"
Tampak nya Alice dekat dengan pencuri kecil itu. Entah
kenapa aku jadi merasa semakin jengkel.
"Kak, tolong. Hewan itu menganggu rencana ku
mengumpulkan banyak kue," aku dengan kesal mengadu kepada Alice akibat
ulah hewan itu. Dan ah namanya Faa rupanya.
"Harusnya bawa kantung," Alice memberikan sebuah
kantung dari sakunya untuk membantuku membawa kue kue itu.
Dan jelas, aku menerimanya dengan gembira.
"Oho! Wah ini keren, hihihi sekarang tidak akan di curi
lagi. Terimakasih kak!" Naluriah, aku langsung memeluk Alice karena
senang.
Lalu saat hendak meraih kantung dari tangan Alice tiba-tiba
Faa menggigit pelan tangan ku dan kembali melompat kabur.
"Ack! Heiii! Ih dasar hewan!" Aku misuh misuh
sambil memegang tangan ku setelah digigit nya.
"Haduh kenapa nasib ku begini, aku hanya ingin
mengumpulkan kue kue ini saja," keluh ku pelan, lalu kembali menuju tempat
Fadeyka yang sedang mengambil kue dan ditangan lainnya memegang topi miliknya
sendiri.
"Maaf sebelumnya, dan oh ini saya tadi menemukan kue
yang terlihat enak sekali! Memang benar seperti perkataan ku sebelumnya, tidak
ada yang tidak enak, semua nya enak kak," ucapku senang, mengabaikan
kejadian sebelumnya dan memasukkan kembali kue yang ku bawa ke dalam topinya
Fadeyka.
"Ya ... tapi minumannya tidak ada yang menarik,"
Tampaknya kali ini Fadeyka sedang memikirkan sesuatu, karena
dia menoleh bergiliran ke arah ku dan juga kue nya.
"Cepatnya," ucapnya terkejut, seperti nya dia
terkejut karena aku sangat cepat mengambil kue kue yang ada di sini.
"Buat sendiri saja!" mendengar dirinya
membicarakan soal minuman aku langsung memikirkan minuman yang bisa dibuat dari
kue.
"Hehehe, iya dong, makanan itu nomor 1, dan apa yang
kakak pikiran?" aku bangga soal kecepatan ku dalam mengambil kue. Kurasa
tidak masalah merasa bangga soal hal ini.
"Bukan seperti itu! Mana ada minuman dari kue,"
bantah nya soal ide minuman ku.
Sebelum dia melanjutkan perkataannya, dia memalingkan
wajahnya, "Tidak ada,"
"Uji lab. Hehehe," kekeh ku mendengar bantahannya
soal ide minuman ku.
"Ohhh? Baiklah, nih kue lagi," mendengar bahwa
tidak ada yang sedang dipikirkan Fadeyka aku memasukan kue lagi ke dalam
topinya.
"Apa? Hah, uji lab? Memangnya ada uji lab membuat
minuman dari kue?" ucapnya yang tiba-tiba tertarik dan maju lebih dekat
hingga kue yang hampir dimasukan malah terjatuh.
"Err, gatau si? Coba coba aja kan ...? Hehehehe."
Aku menggaruk pipi ku, yah kurasa itu bukan ide buruk?
Saat aku tersadar, aku terkejut karena melihat kue yang
dibawa oleh Fadeyka mulai terjatuh.
"Eh! Yah jatuh ..." Aku menatap kue yang terjatuh
dari tangan Fadeyka.
Fadeyka langsung tersentak setelah mendengar perkataan ku.
"Eh! Maaf. Yah jatuh,"
"Maaf. Aku terlalu ... uhhh," lanjutan ucapannya.
Sepertinya dia merasa bersalah hingga mengulang permohonan maafnya sebanyak dua
kali.
Fadeyka berjongkok untuk mengambil kue yang hancur itu.
"Terlalu apa? Tidak masalah sih kak, makanan nya masih
banyak jadi jangan diambil, itu kotor," tanyaku sambil mencegah Fadeyka
mengambil kue yang jatuh.
Fadeyka menatap ku dari bawah sebelum menoleh kearah kue dan
tiba-tiba tersentak.
"Eh! Tidak-tidak! Bukan! Aku ingin membuangnya
kok," sahutnya.
"Membuangnya ketempat sampah. Bukan seperti yang kamu
pikirkan," sambungnya lagi sambil mengangkat tangan yang berlumuran krim
kue.
"Oh, kirain karena terlalu sayang kue mau di makan
lagi," jawab ku sambil tertawa kecil.
"Oke saya bantu." Aku ikut berjongkok dan
mengambil kue lain yang hancur.
Fadeyka mengedutkan alisnya.
"Aku tidak semiskin itu kok," ucapnya lalu
membuang muka dan melirik ke arah ku yang ikut berjongkok dan membantu
membersihkan kue.
"Hehehe, aku bercanda kok kak," jawab ku sambil
tertawa kecil lagi.
Aku mulai membantu Fadeyka untuk membersihkan kue yang
terjatuh lalu mengeluarkan sapu tangan dan menyimpan kue yang terjatuh di atas
nya.
--| 🍰