Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

Hari mulai semakin gelap, aku berlari kecil untuk menghampiri Ketua dan Komandan yang kemungkinan serigala salju itu juga ada disana, sambil sedikit bersenandung membawa kantung hologram yang berisi snowiest.

“Ketua! Kami berhasil!”

Kami semua berhasil kembali sembari menyeret masing-masing kantung hologram berisi snowiest yang sudah kami tangkap.

Aku menyimpan kantung hologram itu dan menghela napas senang karena akhirnya perjuangan mencari 1000 snowiest di tempat dingin ini selesai.

"Wah, akhirnya kita berhasil,"

Aku agak tidak percaya bahwa kami berhasil, namun melihat perjuangan yang lain saat mencari snowiest itu membuktikan bahwa kami memang layak.

Semua kantung hologram sudah di letakkan tepat di hadapan sang serigala salju itu, kalau tidak salah namanya Priet. Priet kemudian memberi kode dan tidak lama setelahnya para snowiest melebur menjadi es yang meleleh begitu saja.

Aku menatap sedih saat snowiest mulai meleleh.

"Bola bulu yang imut ...," lirih ku pelan menatap snowiest snowiest itu.

"Sayang sekali tidak bisa kita jaga,"

Aku menoleh saat mendapati Alice berada di sebelah ku setelah berucap demikian.

"Um, tapi lebih sayang karena tidak bisa di jual." Aku kembali menatap snowiest yang sudah sepenuhnya meleleh dengan tatapan sedih karena tidak bisa mendapat uang hasil penjualan snowiest itu.

Jika snowiest itu masih ada dan dijual beberapa tidak akan jadi masalah kan? Kurasa.

"Benar sudah tidak bisa disimpan," timpal Alice lagi, tampak nya dia juga merasakan kehilangan seperti ku terhadap snowiest snowiest itu.

Saat itu aku teralihkan kepada seseorang yang terlihat kelelahan, lalu aku menghampiri nya.

"Kakak oke?"

"Saya baik-baik saja. Hanya saja berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain secara berulang-ulang itu melelahkan," keluh nya, tapi memang benar sih, aku juga merasa sedikit lelah.

Setelah sedikit berbincang dengannya, aku kembali menghampiri Alice dan menanyakan sesuatu kepadanya, karena melihatnya hanya diam ditempat sedikit membuat ku penasaran. Jika aku mengejutkan nya apakah aku akan baik-baik saja? Setelah berpikir dan bergelut dengan ide untuk mengejutkan Alice, aku akhirnya mengurungkan niat itu. Aku tidak mau terkena masalah, walau itu ide yang cukup menyenangkan. Hehe.

"Kakak sudah tidak kedinginan kan?" tanya ku sambil memastikan, karena sebelumnya Alice tampak kedinginan.

"Masih-masih, hatcim, setelah ini apa?" jawab nya dengan sesekali bersin.

"Entahlah, semoga bukan hal yang mengejutkan, ah walau selalu mengejutkan sih," ucapku dan mendekati nya, aku khawatir karena Alice ternyata masih bersin akibat cuaca dingin ini. Cuaca dingin yang sangat mendadak akibat ulah entitas yang tiba-tiba memberi ujian.

Entah bagaimana, namun pendengaran ku jika membahas soal uang maka akan langsung menarik minatku. Seperti sekarang, aku tiba-tiba mendengar yang lain sedang membicarakan soal rasa snowiest dan kemungkinan jika snowiest di jual maka akan menghasilkan uang.

"Uang? Kakak mau jual bola bulu yang sudah jadi air itu?" tanyaku penasaran, karena sekarang snowiest yang dibicarakan mereka sudah menjadi cair.

"Ehhh. Tidak juga. Kalo sudah jadi cair gitu tidak bisa dijual kan. Kalo masih hidup ya ...," jawab nya.

Aku mengangguk angguk paham akan jawabannya, "Hoo, kirain bisa di balikin jadi seperti sebelumnya,"

"Ya ... aku bisa menyalinnya sih, tapi kalau hanya bertahan beberapa menit sama saja tidak berguna. Sebaiknya tanya kakek rubah itu apa dia bisa membalikan lagi para mahluk itu,"

"Pakai sihir es? Apakah tidak bisa membuatnya bertahan sedikit lebih lama?"

Pertanyaan terus ku tanyakan padanya, aku sedikit merasa bersalah sih karena bertanya terus menerus.

Atensi ku teralih kan lagi karena mendengar seseorang yang menyebut nama ku, lalu kembali menghampiri sang empu untuk ikut menimpali pernyataannya soal tersesat.

"Benar, kita habis berkeliling dunia bersalju dadakan ini!"

"Iyaa, sangat melelahkan,"

"Tapi menyenangkan! Hihihi," kekeh ku saat mendengar perkataan Alice soal melelahkan. Memang benar itu melelahkan tapi sangat menyenangkan.

"Iyap, bertemu hal imut." Alice menimpali dan menganggukkan kepala nya, tampaknya dia juga setuju soal perkataan ku sebelumnya.

"Benar benar, namun sayang sekali hal imut itu hilang begitu saja," lirih ku pelan mengingat bahwa snowiest yang sudah kami tangkap meleleh begitu saja.

"Jadi kenangan masa kita," ucap Alice yang sepertinya mulai menerima kenyataan?

Setelah berbincang-bincang dengan banyak orang—kurasa—, aku membersihkan diriku lalu pergi menuju aula dimana semua jenis kue dan bermacam-macam rasa teh, tersaji dengan rapi di atas meja. Ditambah rasa hangat dari penghangat ruangan. Kami semua berkumpul di aula besar yang sudah didekorasi menggunakan meja agar kami bisa makan bersama-sama di tempat yang luas itu.

Rasa lelah kami terbayar dengan pengakuan Priet dan juga teh hangat di cuaca yang beku. Meski pun justru Priet lah yang membekukan planet ini. Namun tak terlihat serigala beku itu hendak menarik es nya.

"Nahh ini baru yang dinamakan habis gelap terbitlah terang," ucap Fadeyka—seseorang yang berbincang dengan ku sebelumnya dan membahas soal penjualan snowiest? Yah rencana yang sia-sia kurasa— yang membuatku kembali teringat soal snowiest.

"Soal apa? Soal rencana pendistribusian snowiest kah?" Aku berbinar-binar jika bersangkutan dengan uang.

"Tidak. Tapi soal pertama ini. Lupakan saja, ayo kita makan dulu sebelum bencana lain yang mungkin akan datang besok atau lusa," ucapnya yang mungkin terkejut saat aku menjawab perkataannya soal topik sebelumnya.

Aku sedikit kecewa, namun setelah mendengar kata makan aku kembali bersemangat, yah hidup jika buka soal uang ya soal makan, bukan?

"Oho, ide bagus, ayo kita habiskan semuanya!"

"Mungkin aku akan membawa sedikit untuk dikamar nanti," Fadeyka tampak menyeringai saat menatap kue kue itu.

"Hehehe, ide bagus, ayo kita menyembunyikan beberapa kue dan makanan yang ada disini." Aku menatap kue dan semua makanan yang ada di hadapan ku dengan semangat.

"Tentu,"

Beberapa detik kemudian tampaknya Fadeyka sedikit tersentak. Dan menoleh kearah ku dengan tatapan bingung?

"Eh bagaimana kamu akan menyembunyikannya? Maksudku ... kupikir hanya aku yang memiliki kemampuan teleportasi." Ucapnya sambil memakan kue itu dan mulai mengambil beberapa.

"Err. Iya sih ya?" aku menjawabnya sambil mengambil beberapa kue dan mulai memakannya juga.

"Hmm, belum ada ide sih, kakak ada saran?" Aku menoleh dan menatap nya yang sedang memakan beberapa kue juga.

"Ya ... saranku kau membantuku," dia tampak tersenyum bangga sambil meraih topinya.

"Nanti kita bagi dua," sambungnya.

"Hmmm, boleh juga, ayo beraksi." Aku mulai mengumpulkan kue kue itu, sambil memakan nya beberapa. Mengambil dan mengumpulkan kue juga butuh tenaga bukan? Hehe.

"Ini orang orang kok pada so sweet ya?" gumam ku pelan sambil memakan kue lagi, juga melihat orang-orang yang ada di sekitar tampak sedang menikmati acara mereka. Aku juga punya kegiatan disini—kegiatan menyembunyikan makanan bersama Fadeyka— jadi aku kembali membawa kue itu beberapa dalam pelukan ku.

"Haha. Rasanya seperti pernah melakukannya disuatu tempat," ucapnya sambil mengikuti ku dari belakang, dan kembali berucap.

"Oh ... ambil yang enak enaknya saja," tambah nya.

Aku menoleh, terlebih ketika Fadeyka yang tampak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.

"Oh iya kah?" tanyaku sedikit penasaran.

"Dan okay! Laksanakan!" sambungku lalu mengambil kue yang kurasa enak, dan membawanya menuju Fadeyka.

"Ya. Agar tidak terbuang sia sia," ucapnya sambil mengulurkan topinya agar aku bisa memasukan kue ke dalam topinya.

"Iya juga, tapi tenang. Tidak ada yang tidak enak, semua nya enak," jawabku sambil menatap kue yang ku bawa dengan tatapan bangga, lalu memasukkannya ke topi Fadeyka.

Tiba-tiba saat aku hendak memasukan kue terakhir ke dalam topi milik Fadeyka ada pencuri kue yang diam diam menghampiri ku dan melompat mengambil kue yang berada di tanganku lalu kabur.

Aku terkejut, "Eh oii,, gahhh, pencuriiiiii!" Aku mengejar pencuri kecil itu sambil mengunyah kue, dan meninggalkan Fadeyka sebentar untuk mengejar hewan pencuri itu.

Hewan itu lari dan berbelok tiba tiba, lalu bersembunyi di bawah meja, dan mengunyah makanan hasil tangkapan nya.

Aku yang mengikuti pencuri kue itu dan melihatnya sedang berada di bawah meja menghela napas kesal.

"Grrrr, dasar kau! Ish, kerja napa, pake maling segala, susah susah aku kumpulin kue nya," kesal ku.

"Nih mau lagi?" aku menghela napas,mencoba memaklumi tindakan hewan itu dan menyerahkan beberapa kue kepadanya. Aku penasaran, sepertinya aku pernah melihat hewan ini, tapi aku mendadak lupa dia dipelihara oleh siapa dan siapa namanya.

Dengan sengaja, dia melompat ke wajah ku dan menjadikan wajahku sebagai pijakannya untuk keluar dari bawah meja, kembali menghilang di kerumunan murid.

"A-- ih, dasar hewan!" Aku kesal karena hewan itu menjadikan wajahku sebagai pijakannya. Sudah mencuri kue ku, dia menganggu kegiatan—menyembunyikan kue—ku juga. Aku jadi merasa bersalah karena meninggalkan Fadeyka tiba-tiba.

Alice yang menatap Faa dengan bingung, karena tiba-tiba hewan itu menghampiri pelukan Alice.

"Faa kenapa?"

Tampak nya Alice dekat dengan pencuri kecil itu. Entah kenapa aku jadi merasa semakin jengkel.

"Kak, tolong. Hewan itu menganggu rencana ku mengumpulkan banyak kue," aku dengan kesal mengadu kepada Alice akibat ulah hewan itu. Dan ah namanya Faa rupanya.

"Harusnya bawa kantung," Alice memberikan sebuah kantung dari sakunya untuk membantuku membawa kue kue itu.

Dan jelas, aku menerimanya dengan gembira.

"Oho! Wah ini keren, hihihi sekarang tidak akan di curi lagi. Terimakasih kak!" Naluriah, aku langsung memeluk Alice karena senang.

Lalu saat hendak meraih kantung dari tangan Alice tiba-tiba Faa menggigit pelan tangan ku dan kembali melompat kabur.

"Ack! Heiii! Ih dasar hewan!" Aku misuh misuh sambil memegang tangan ku setelah digigit nya.

"Haduh kenapa nasib ku begini, aku hanya ingin mengumpulkan kue kue ini saja," keluh ku pelan, lalu kembali menuju tempat Fadeyka yang sedang mengambil kue dan ditangan lainnya memegang topi miliknya sendiri.

"Maaf sebelumnya, dan oh ini saya tadi menemukan kue yang terlihat enak sekali! Memang benar seperti perkataan ku sebelumnya, tidak ada yang tidak enak, semua nya enak kak," ucapku senang, mengabaikan kejadian sebelumnya dan memasukkan kembali kue yang ku bawa ke dalam topinya Fadeyka.

"Ya ... tapi minumannya tidak ada yang menarik,"

Tampaknya kali ini Fadeyka sedang memikirkan sesuatu, karena dia menoleh bergiliran ke arah ku dan juga kue nya.

"Cepatnya," ucapnya terkejut, seperti nya dia terkejut karena aku sangat cepat mengambil kue kue yang ada di sini.

"Buat sendiri saja!" mendengar dirinya membicarakan soal minuman aku langsung memikirkan minuman yang bisa dibuat dari kue.

"Hehehe, iya dong, makanan itu nomor 1, dan apa yang kakak pikiran?" aku bangga soal kecepatan ku dalam mengambil kue. Kurasa tidak masalah merasa bangga soal hal ini.

"Bukan seperti itu! Mana ada minuman dari kue," bantah nya soal ide minuman ku.

Sebelum dia melanjutkan perkataannya, dia memalingkan wajahnya, "Tidak ada,"

"Uji lab. Hehehe," kekeh ku mendengar bantahannya soal ide minuman ku.

"Ohhh? Baiklah, nih kue lagi," mendengar bahwa tidak ada yang sedang dipikirkan Fadeyka aku memasukan kue lagi ke dalam topinya.

"Apa? Hah, uji lab? Memangnya ada uji lab membuat minuman dari kue?" ucapnya yang tiba-tiba tertarik dan maju lebih dekat hingga kue yang hampir dimasukan malah terjatuh.

"Err, gatau si? Coba coba aja kan ...? Hehehehe." Aku menggaruk pipi ku, yah kurasa itu bukan ide buruk?

Saat aku tersadar, aku terkejut karena melihat kue yang dibawa oleh Fadeyka mulai terjatuh.

"Eh! Yah jatuh ..." Aku menatap kue yang terjatuh dari tangan Fadeyka.

Fadeyka langsung tersentak setelah mendengar perkataan ku.

"Eh! Maaf. Yah jatuh,"

"Maaf. Aku terlalu ... uhhh," lanjutan ucapannya. Sepertinya dia merasa bersalah hingga mengulang permohonan maafnya sebanyak dua kali.

Fadeyka berjongkok untuk mengambil kue yang hancur itu.

"Terlalu apa? Tidak masalah sih kak, makanan nya masih banyak jadi jangan diambil, itu kotor," tanyaku sambil mencegah Fadeyka mengambil kue yang jatuh.

Fadeyka menatap ku dari bawah sebelum menoleh kearah kue dan tiba-tiba tersentak.

"Eh! Tidak-tidak! Bukan! Aku ingin membuangnya kok," sahutnya.

"Membuangnya ketempat sampah. Bukan seperti yang kamu pikirkan," sambungnya lagi sambil mengangkat tangan yang berlumuran krim kue.

"Oh, kirain karena terlalu sayang kue mau di makan lagi," jawab ku sambil tertawa kecil.

"Oke saya bantu." Aku ikut berjongkok dan mengambil kue lain yang hancur.

Fadeyka mengedutkan alisnya.

"Aku tidak semiskin itu kok," ucapnya lalu membuang muka dan melirik ke arah ku yang ikut berjongkok dan membantu membersihkan kue.

"Hehehe, aku bercanda kok kak," jawab ku sambil tertawa kecil lagi.

Aku mulai membantu Fadeyka untuk membersihkan kue yang terjatuh lalu mengeluarkan sapu tangan dan menyimpan kue yang terjatuh di atas nya.

 

--| 🍰