Isi Cerita
Shou Masayoshi

 Chapter 08

 

Hari yang melelahkan saat ketiga orang itu menunggu seluruh murid menunggu keberhasilan mereka. Hari semakin gelap menandakan waktu akan habis di saat itulah seluruh murid bersorak gembira sembari mengangkut kantung isi snowiest.

Shou mengangkut hasil tangkapan snowiestnya dengan bangga membangunkan snowiest yang berada di atas rambutnya sedang tertidur sedangkan Ardolf dengan kondisi lapar, perutnya berbunyi begitu keras.

"Ini gak boleh ya makhluk kecil-kecil itu dimakan? Perut sudah keroncongan sejak tadi," ungkapnya kelaparan hanya memancing kesabaran Shou.

"Nanti hey! Kau makan satu mati kita!!" Memukul Ardolf pelan.

Ekspresi Ardolf cemberut. "Booo, padahal perut sudah berbunyi karena kedinginan," nadanya menggerutu.

Alice yang tak sengaja mendengarnya berpendapat demikian. "Bahaya tau." Tatapnya ke arah Ardolf.

Shou yang merasa ada yang aneh di rambutnya seperti basah saat ia mengamati keadaan snowiest yang telah mereka tangkap ternyata telah mencair menyatu menjadi salju.

"Pukul ramai-ramai Ardolf kalau di makan satu! Tapi lagipula udah meleleh juga ...," ucapnya sedikit kecewa.

Alice menepuk lengan sang pemuda dengan pelan, "Untung tidak jadi dimakan jika tidak sudah ...."

"Gara-gara abang ini ... saya kan penasaran sama keimutan mereka," sahutnya.

"Sudah meleleh juga ...," ujar pemuda termenung saat menatap sarung tangannya meninggalkan jejak basah mengetahui dua makhluk bulu itu telah berpamitan.

"Oh ya bang ... gak jadi marahnya? Kawan seteam kita pada hilang loh," nadanya bertanya terhadap Shou yang telah tersadar setelah di panggil.

Tertegun, Shou menjawabnya, "Oh iya. Bukannya kamu yang marah apalagi perutmu lapar karena kebanyakan habisin energi? ...," jawabnya dengan nada bertanya-tanya.

"Oh iya lupa ... sudah capek-capek cari gak ada kasih makanankah gitu atau gimana buat istirahat." Menggaruk-garuk kepalanya.

Shou yang merasa jengkel dengan pertanyaan makanan itu meskipun ia demikian juga lapar menatapnya dengan malas. "Mau makan?"

Jari telunjuknya menunjuk salah satu pohon di penuhi salju, "Tuh makan," ledeknya berniat untuk bercanda.

Ardold merasa jengkel mendengar perkataan pemuda itu. "Dikira berang-berang aapa sama abang ini ...."

"Makanya tunggu dulu." Terkekeh melihat wajah Ardolf yang jengkel.

Ardold hanya mendesisi pelan. "Ya sudahlah bang ... mau minggat dulu ketemu si gadis gulali manis," katanya.

Mendengar Ardolf mengatakan yang dimaksud adalah Kirei menutup mulutnya dengan tangannya menatap sengit dirinya tak menyangka karena dia telah di telantarkan. "Begitu ya sama sang sobat ini ...." Menatap Ardold dengan ekspresi dramatis.

Kini Ardolf telah menghilangkan alias pergi meninggalkan pemuda mencari gulalinya yang menghilang, Shou hanya bisa menghela nafas sebal. Pasang matanya memandang jauh mengamati ada Naretta dan Alice terlihat berbicara, dengan langkah demi langkah Shou menyapa.

"Alice!~." tersenyum tipis menatapmu Roma merah tipis terlihat.

Tampaknya sang gadis mengetahui sosok pemuda itu, ia menolehkan kepalanya. "Shou? Kenapa mukanya pink?"

Shou tertegun sejenak sebelum segera ia jawab, "Sepertinya karena cuaca dingin jadi seperti ini." Menunduk menyamakan tinggi badannya dengan Alice sembari memiringkan kepalanya.

.

.

Macam-macam makanan ataupun teh terhidang di atas meja siap menyambut bagi siapapun yang lapar, aula telah di dekorasi hingga penghangat ruangan menghangatkan suasana setelah dinginnya salju.

Shou cukup terpukau memandangnya, sudah cukup lama keluarganya tidak melakukan hal seperti ini di akibatkan kesibukan masing-masing. Tetapi ia juga teringat kembali akan kejadian ia saat berusia anak-anak, planetnya yang telah hancur ....

"Minum dulu Shou," ucap Alice menawarkan minuman. Shou tersadar dari lamunannya, tangannya yang gemetar akibat efek berlama-lama tempat bersalju meraih minuman hangat dan meminumnya dengan lega.

Alice terkekeh menatap tangan Shou yang gemetar, "Bisa request minuman tidak ya?" tanyanya menoleh ke arah pemuda yang sedang menghirup minumannya.

"Itu hanya efek dingin aja," balas Shou.

"Req minuman seperti apa??" tanyanya pada Alice berkontak mata secara langsung.

Menunggu tanggapan Alice, Shou menyipitkan matanya melihat sebuah sofa yang sepertinya cukup dua orang saja di tengah keramaian orang-orang.

"Ini kita gak duduk gitu?" Menunjuk sofa cukup dua orang saja.

Alice malu-malu tetapi ia mengiyakan saja. Dengan sigap, Shou memegang tangannya dan menariknya pergi dan duduk di sofa yang disebelahnya ada meja.

"Lumayan aku bawa makanan yang ada di atas meja nih." Memperlihatkan sepotong kue begitu garpu dan sendok.

"Woah persiapan sekali," jawabnya dengan takjub menerima sepotong kue itu. "Terlihat sangat enak," katanya.

"Ah iya itu rasa vanilla dan coklat." Mengambil satu lagi sepotong kue stroberi berbinar-binar memandangnya. "Yaudah makan aja dulu." Mengambil tindakan sesuap dan mengunyah nya.

.

"Kue nya enak banget, benar tidak Alice?!" celetuknya memakan kue itu dengan lahap.

Menoleh dengan senang sejenak tatapannya menatap Alice memakan kuenya. Shou menganggap itu imut saat ia segera cepat menggeleng kepalanya dengan rona merah di pipinya menatap kebawah. Sementara Alice tahu ia sedang di perhatikan tetapi tetap diam

"Manis," batinnya.

Di sisi lain, Shou tetap terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri mencoba menenangkan dirinya. "Tadi itu gimana?!? Kok manis banget dan imut gitu! Woelah!!" Mengambil tisu yang ada di meja sofa dan mengelap keringatnya merasa aneh.

Ia mengambil segelas minum dan meneguknya cepat mengatur nafasnya meletakkannya dengan kuat. "Nah ... bagaimana kuenya?? Menurutmu ini enak melepas lelah?" Nada bicara senang ke arah Alice terlihat rona merah tipis.

"Manis seperti-" ucapannya terhenti membuat Shou keheranan.

"Hm? Manis seperti apa Alice?" tatapan tanda tanya.

"Mu," suara pelan dan wajah memerah. "Eh, lic mau makan kue coklat lagi." Mengalihkan topik gugup.

Disaat itu otak Shou blank.

"Itu dia ngomong 'mu' bukan sih? Aku gitu? Gak salah dengar kan? ...," batinnya Shou. Warna pipinya merona tetapi ia tahan  dan mengambil segelas air dan meneguknya sekali lagi.