03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Hari yang melelahkan saat ketiga
orang itu menunggu seluruh murid menunggu keberhasilan mereka. Hari semakin
gelap menandakan waktu akan habis di saat itulah seluruh murid bersorak gembira
sembari mengangkut kantung isi snowiest.
Shou
mengangkut hasil tangkapan snowiestnya dengan bangga membangunkan snowiest yang
berada di atas rambutnya sedang tertidur sedangkan Ardolf dengan kondisi lapar,
perutnya berbunyi begitu keras.
"Ini
gak boleh ya makhluk kecil-kecil itu dimakan? Perut sudah keroncongan sejak
tadi," ungkapnya kelaparan hanya memancing kesabaran Shou.
"Nanti
hey! Kau makan satu mati kita!!" Memukul Ardolf pelan.
Ekspresi
Ardolf cemberut. "Booo, padahal perut sudah berbunyi karena
kedinginan," nadanya menggerutu.
Alice
yang tak sengaja mendengarnya berpendapat demikian. "Bahaya tau."
Tatapnya ke arah Ardolf.
Shou
yang merasa ada yang aneh di rambutnya seperti basah saat ia mengamati keadaan
snowiest yang telah mereka tangkap ternyata telah mencair menyatu menjadi
salju.
"Pukul
ramai-ramai Ardolf kalau di makan satu! Tapi lagipula udah meleleh juga
...," ucapnya sedikit kecewa.
Alice
menepuk lengan sang pemuda dengan pelan, "Untung tidak jadi dimakan jika
tidak sudah ...."
"Gara-gara
abang ini ... saya kan penasaran sama keimutan mereka," sahutnya.
"Sudah
meleleh juga ...," ujar pemuda termenung saat menatap sarung tangannya
meninggalkan jejak basah mengetahui dua makhluk bulu itu telah berpamitan.
"Oh
ya bang ... gak jadi marahnya? Kawan seteam kita pada hilang loh," nadanya
bertanya terhadap Shou yang telah tersadar setelah di panggil.
Tertegun,
Shou menjawabnya, "Oh iya. Bukannya kamu yang marah apalagi perutmu lapar
karena kebanyakan habisin energi? ...," jawabnya dengan nada
bertanya-tanya.
"Oh
iya lupa ... sudah capek-capek cari gak ada kasih makanankah gitu atau gimana
buat istirahat." Menggaruk-garuk kepalanya.
Shou
yang merasa jengkel dengan pertanyaan makanan itu meskipun ia demikian juga
lapar menatapnya dengan malas. "Mau makan?"
Jari
telunjuknya menunjuk salah satu pohon di penuhi salju, "Tuh makan,"
ledeknya berniat untuk bercanda.
Ardold
merasa jengkel mendengar perkataan pemuda itu. "Dikira berang-berang aapa sama
abang ini ...."
"Makanya
tunggu dulu." Terkekeh melihat wajah Ardolf yang jengkel.
Ardold
hanya mendesisi pelan. "Ya sudahlah bang ... mau minggat dulu ketemu si
gadis gulali manis," katanya.
Mendengar
Ardolf mengatakan yang dimaksud adalah Kirei menutup mulutnya dengan tangannya
menatap sengit dirinya tak menyangka karena dia telah di telantarkan.
"Begitu ya sama sang sobat ini ...." Menatap Ardold dengan ekspresi
dramatis.
Kini
Ardolf telah menghilangkan alias pergi meninggalkan pemuda mencari gulalinya
yang menghilang, Shou hanya bisa menghela nafas sebal. Pasang matanya memandang
jauh mengamati ada Naretta dan Alice terlihat berbicara, dengan langkah demi
langkah Shou menyapa.
"Alice!~."
tersenyum tipis menatapmu Roma merah tipis terlihat.
Tampaknya
sang gadis mengetahui sosok pemuda itu, ia menolehkan kepalanya. "Shou?
Kenapa mukanya pink?"
Shou
tertegun sejenak sebelum segera ia jawab, "Sepertinya karena cuaca dingin
jadi seperti ini." Menunduk menyamakan tinggi badannya dengan Alice
sembari memiringkan kepalanya.
.
.
Macam-macam
makanan ataupun teh terhidang di atas meja siap menyambut bagi siapapun yang
lapar, aula telah di dekorasi hingga penghangat ruangan menghangatkan suasana
setelah dinginnya salju.
Shou
cukup terpukau memandangnya, sudah cukup lama keluarganya tidak melakukan hal
seperti ini di akibatkan kesibukan masing-masing. Tetapi ia juga teringat
kembali akan kejadian ia saat berusia anak-anak, planetnya yang telah hancur
....
"Minum
dulu Shou," ucap Alice menawarkan minuman. Shou tersadar dari lamunannya,
tangannya yang gemetar akibat efek berlama-lama tempat bersalju meraih minuman
hangat dan meminumnya dengan lega.
Alice
terkekeh menatap tangan Shou yang gemetar, "Bisa request minuman tidak
ya?" tanyanya menoleh ke arah pemuda yang sedang menghirup minumannya.
"Itu
hanya efek dingin aja," balas Shou.
"Req
minuman seperti apa??" tanyanya pada Alice berkontak mata secara langsung.
Menunggu
tanggapan Alice, Shou menyipitkan matanya melihat sebuah sofa yang sepertinya
cukup dua orang saja di tengah keramaian orang-orang.
"Ini
kita gak duduk gitu?" Menunjuk sofa cukup dua orang saja.
Alice
malu-malu tetapi ia mengiyakan saja. Dengan sigap, Shou memegang tangannya dan
menariknya pergi dan duduk di sofa yang disebelahnya ada meja.
"Lumayan
aku bawa makanan yang ada di atas meja nih." Memperlihatkan sepotong kue
begitu garpu dan sendok.
"Woah
persiapan sekali," jawabnya dengan takjub menerima sepotong kue itu.
"Terlihat sangat enak," katanya.
"Ah
iya itu rasa vanilla dan coklat." Mengambil satu lagi sepotong kue
stroberi berbinar-binar memandangnya. "Yaudah makan aja dulu."
Mengambil tindakan sesuap dan mengunyah nya.
.
"Kue
nya enak banget, benar tidak Alice?!" celetuknya memakan kue itu dengan
lahap.
Menoleh
dengan senang sejenak tatapannya menatap Alice memakan kuenya. Shou menganggap
itu imut saat ia segera cepat menggeleng kepalanya dengan rona merah di pipinya
menatap kebawah. Sementara Alice tahu ia sedang di perhatikan tetapi tetap diam
"Manis,"
batinnya.
Di
sisi lain, Shou tetap terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri mencoba
menenangkan dirinya. "Tadi itu gimana?!? Kok manis banget dan imut gitu!
Woelah!!" Mengambil tisu yang ada di meja sofa dan mengelap keringatnya
merasa aneh.
Ia
mengambil segelas minum dan meneguknya cepat mengatur nafasnya meletakkannya
dengan kuat. "Nah ... bagaimana kuenya?? Menurutmu ini enak melepas
lelah?" Nada bicara senang ke arah Alice terlihat rona merah tipis.
"Manis
seperti-" ucapannya terhenti membuat Shou keheranan.
"Hm?
Manis seperti apa Alice?" tatapan tanda tanya.
"Mu,"
suara pelan dan wajah memerah. "Eh, lic mau makan kue coklat lagi."
Mengalihkan topik gugup.
Disaat
itu otak Shou blank.
"Itu
dia ngomong 'mu' bukan sih? Aku gitu? Gak salah dengar kan? ...," batinnya
Shou. Warna pipinya merona tetapi ia tahan
dan mengambil segelas air dan meneguknya sekali lagi.