Isi Cerita
Lumiere ExTian Jou

The Arrival Of The Allies


 

Disebabkan kejadian di Dungeon beberapa hari yang lalu. Ketua memberi perintah agar seluruh murid dapat menikmati waktu rileks dengan bermain permainan puzzle.

 

Demi menjaga mental mereka, seluruh siswa sekarang mengikuti permainan yang sedang diselenggarakan oleh 5 mentor mereka. Salah satu mentor pun menjelaskan bagaimana cara kerjanya permainan puzzle tersebut.

 

Yakni, mereka semua akan diberi masing-masing 1 potongan puzzle dan harus mencari puzzle teman yang sejenis. Kemudian mereka harus menebak mentor manakah yang memegang puzzle yang sama dengan mereka.

 

Permainan dimulai, para murid sangat bersemangat dan mencari pasangan puzzle dengan teman-teman lainnya.

 

Lumiere mendapatkan 1 potongan puzzle yang dipenuhi dengan warna biru. Di bagian sampingnya terlihat sebuah objek yang tidak terlihat jelas bentuknya.

 

Lumiere: “Ini semacam bangun luar angkasa atau gimana, sih? Aku sama sekali gak ngerti sama gambarnya.”

 

Lumiere terus memandangi potongan puzzle yang dipegangnya itu. Ia masih belum mengerti entah gambar puzzle apa yang dia dapatkan. Kemudian tak lama setelah itu, seorang murid lain mendekatinya. Murid itu bernama Narretta, yang kebetulan juga masih mencari teman pasangan puzzlenya.

 

Narretta: “Lumiere. Kayaknya gambar puzzle kita sama, deh!” ujarnya sembari menunjukkan kepingan puzzle yang ia miliki.

 

Lumiere: “Wah! Memang mirip sih…tapi emang kamu yakin puzzle kita sejenis?”

 

Narretta: “Iya, aku yakin banget. Soalnya yang lain puzzlenya jauh beda dari aku.” Jelasnya.

 

Lumiere: “Bagus! Jadi menurutmu, mentor mana yang mempunyai puzzle kita?”

 

Narretta: “Dilihat-lihat dari clue yang dikasih mentor, clue yang paling cocok itu clue dari mentor Luisa. Karena clue dia kecerdasan. Dan itu gak beda jauh dari gambar puzzle yang kita miliki.”

 

Lumiere: “Benar juga. Baiklah, ini deal mentor Luisa, yah!”

 

Sesi voting pun dimulai. Para mentor menyiapkan papan voting untuk murid-murid agar bisa memilih mentor mana yang menurut mereka cocok. Lumiere dan Narretta pun memilih mentor Luisa sesuai dengan diskusi mereka tadi. 10 menit telah berlalu. Sesi voting sudah ditutup.

 

Kemudian para mentor mengumumkan hasil dari permainan dan voting tersebut. Benar saja, mentor Luisa memegang puzzle yang serupa dengan Lumiere dan Narretta. Mereka berdua tepat sasaran karena telah memilih mentor Luisa.

 

Beberapa dari mereka mulai selebrasi karena mereka dapat menebak dengan benar. Sementara beberapa ada yang minta ditraktir oleh para mentor.

 

Lumiere: “Makasih ya Narretta, untung aja ada kamu. Aku tadi sempat kebingungan sama gambar puzzleku sendiri!”

 

Narretta: “Iya, sama-sama!”

 

Setelah selesai bermain, para murid dan para mentor saling mengobrol untuk meramaikan suasana gembira itu. Terkecuali ketua Rhino dan komandan Maula. Mereka berdua terlihat sangat tergesa-gesa keluar dari gedung. Para murid dan para mentor tidak menghiraukan hal tersebut.

 

Saat enak-enaknya bersantai, mereka malah dikejutkan dengan serangan es yang membekukan seluruh wilayah di tempat itu termasuk mereka semua. Para murid dan mentor sangat terkejut dengan serangan tersebut. Badan mereka semua dibuat beku dan hanya menyisakan bagian kepala untuk bernafas.

 

Lumiere: “Kya! Apa-apaan ini?! Badanku nggak bisa gerak!!” paniknya sambil berusaha menggerak-gerakkan badan agar bisa keluar dari bekuan es itu.

 

Mereka semua sangat panik dan mencoba menggerak-gerakkan tubuh agar bisa menghancurkan es beku itu. Untungnya, Qixuan datang membantu mereka semua dengan kekuatan apinya. Ia mulai mendekati satu-satu dari mereka yang membeku.

 

“Qixuan, tolongin aku!”

 

Qixuan: “Sabar yah, tanganku cuman dua.”

 

Hampir sebagian dari mereka sudah bebas dari es beku itu. Termasuk Lumiere. Sebagian juga masih dalam proses ditangani oleh Qixuan. Beberapa dari mereka yang sudah terbebas mencoba mencari tahu dari mana serangan itu berasal. Kemudian mereka menyadari bahwa tadi ketua Rhino dan komandan Maula sudah tidak berada di gedung. Mereka mencoba mencari-cari ketua dan komandan di dekat area gedung.

 

Lumiere: “Kalau nggak salah aku lihat ketua Rhino dan komandan Maula keluar gedung saat selesai permainan puzzle tadi.”

 

Lou: “Ah, kamu yakin? Matamu kan minus, paling kamu cuman ngelihat bayangan doang!”

 

Lumiere: “Nggak usah ngeyel kamu biawak pendosa! Aku ini yakin seratus persen yang ku lihat itu mereka!”

 

Lou: “Aduh kejamnya. Serius nih?”

 

Lumiere: “Serius dua rius.”

 

“Itu ketua!”

 

Mereka pun menemukan ketua Rhino dan komandan Maula. Terlihat mereka berdua terlihat lemas karena serangan tersebut. Ketua Rhino pun mulai beranjak dari tumpukan salju.

 

Ketua Rhino: “Saya di sini…” ujarnya lemas.

 

Lumiere: “Ketua Rhino!”

 

Suara yang terasa dingin dan menusuk itu membuat seluruh tubuh mereka kaku tiba-tiba. Mereka hanya bisa terdiam saat si dalang dari serangan pembekuan justru sudah ada di depan ketua mereka.

 

“Rhino…”

 

Komandan Maula menodongkan pedang apinya ke leher si pelaku yang bernama Priet itu.

 

Komandan Maula: “Perhatikan tingkah lakumu. Apa maksud kedatanganmu dengan membekukan planet ini?”

 

Priet: “Harusnya aku yang bilang begitu.” Priet justru memberikan perlawanan. “Permainan apa yang telah kalian buat di planet ini?” lanjutnya.

 

Para murid langsung melihat ke arah mentor-mentornya. Sementara mentor mereka hanya cengengesan. Tetapi tentu saja bukan permainan mereka yang dimaksud Priet. Lou dan Lumiere saling bertatap-tatapan dengan penuh kebingungan yang memenuhi wajah mereka.

 

Lumiere: “Apa yang terjadi…siapa laki-laki itu?”

 

Lou: “Aku…nggak tahu. Tapi kok dia tampan, yah.”

 

Lagi-lagi Lou bukannya serius, malah membicarakan ketampanan lelaki yang bernama Priet itu.

 

Priet mencengkram kerah baju Rhino, dan membuat dinding pembatas ketika komandan Maula mau menyerangnya. Manik Rhino berubah warna kuning, apalagi saat mengetahui kekuatannya tidak bisa digunakan ke lelaki serigala putih ini.

 

Priet: “Apalagi pembelaanmu kali ini, Rhino?"


TBC