Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

 

Sinar mentari menyapu langit membuat hari menjadi cerah. Sekarang aku sedang berjalan menuju tempat berkumpul nya para mentor dan teman-teman yang lain. Disebabkan kejadian dungeon tempo hari. Ketua memberi perintah agar kami semua menikmati waktu kami terlebih dahulu, dengar-dengar hal itu atas saran dari para mentor.

Dan demi menjaga mental juga kewarasan kami, sekarang kami semua sedang mengikuti permainan yang sedang diselenggarakan oleh para mentor.

Katanya permainannya sangat simpel. Dan kini, mentor sedang menjelaskan permainan simpel mereka.

"Baik semuanya, apakah semua nya sudah berkumpul?" ucap mentor Naren sebelum mulai menjelaskan.

"Hadir!" Aku mengangkat tangan ku, bersemangat saat tahu akan mengikuti sebuah permainan.

Tiba-tiba ada seseorang yang bertanya sesuatu, dan seseorang itu adalah Shu salah satu murid, "Yang lain apakah sudah sehat total?" Shu menoleh ke sekitar sambil bertanya pada kami.

"Saya mendingan sih, anda bagaimana?" ucapku setelah mendengar pertanyaannya.

"Hiks, belum. Soalnya hatiku masih sakit berharap Freyang menerimakuh," jawab Shu secara dramatis.

Aku terkekeh mendengar nya, "Aw, saya turut berduka, saya tidak bisa memberi saran, semangat yah." Aku juga menepuk-nepuk bahunya dengan sedikit dramatis mengingat soal kisah asmara nya.

"Nah, semua nya hadir, tolong dengarkan instruksi dari mentor bastian yah," sambung mentor Naren di sela pembicaraan setiap murid yang lain.

Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban dari perkataan mentor Naren.

Terlihat di sana bahwa mentor Bastian menanggapi perkataan mentor Naren dengan tatapan yang malas, walau begitu tetap menjelaskan bagaimana permainannya.

"Apapun itu ..." ujar mentor Bastian menjawab perkataan mentor Naren sebelum melanjutkan penjelasan nya.

"Kalau begitu aku akan menjelaskan tentang permainan nya. Pertama-tama, semua nya akan mendapatkan sebuah kepingan puzzle. Kalian tidak di perbolehkan untuk memberi tahu puzzle apa yang kalian dapat kan.

Setelah itu tugas kalian adalah menebak puzzle milik mentor yang sama dengan puzzle milik kalian sendiri," jelas mentor Bastian dengan panjang lebar.

Aku terkagum namun di satu sisi aku juga sedikit bingung.

"Baik, semua nya sudah paham kan?" ujar mentor Naren memastikan.

"Ini mudah bukan? Tinggal menebak saja," tambah seorang mentor lainnya dengan senyuman.

"Kurasa saya paham garis besarnya." Aku mengangguk-anggukkan kepala ku saat sudah yakin—yakin bahwa otak ku bisa mencerna sistem nya.

Tiba-tiba ada seseorang yang bertanya, "Berapa kita diberi kesempatan menjawab? Apa ada clue?"

"Pertanyaan Bagus, ada kok clue nya," jawab mentor Naren kepada seseorang yang bertanya tadi, kemudian mentor Luisa ikut membenarkan perkataan mentor Naren.

"Kalian bisa menanyakan clue," kali ini yang menjawab adalah mentor Bastian. "Haruskah kita memulai permainan nya sekarang?" tanya mentor Bastian memastikan kesiapan kami.

"Yang salah menebak nanti di makan Budi," canda mentor Luisa menambah kesan ngeri—walau sepertinya beberapa diantara yang lain merasa senang.

"Waduh," gumam ku pelan menanggapi.

Aku menoleh ke arah lain saat ada yang sedang memastikan bagaimana caranya bertanya mengenai 'clue' kepada para mentor.

"Coba perhatikan puzzle mu dan mulai bertanya clue para mentor," jawab seorang mentor.

"Apakah bisa bertanya kepada seluruh mentor?" tanya ku penasaran.

"Bisa,"

Setelah mendengar itu aku mengangguk lagi dan menunggu kelanjutan permainan ini.

"Aku akan memulai langsung, clue puzzle ku adalah 'bangunan'," ucap mentor Bastian saat memberi tahu clue dari kepingan puzzle miliknya.

"Aku aku! Bagaimana clue dari mentor naren?" tanya Fadeyka kepada mentor Naren.

"Clue ku?? 'Fantasi'," jawabannya.

Setelah aku mendengar pertanyaan yang lain soal clue setiap mentor, aku mendapatkan informasi bahwa,

Mentor Bastian memiki kepingan puzzle dengan clue nya berupa 'bangunan',

mentor Naren berupa 'fantasi',

mentor Saaochi berupa 'peta',

mentor Kaynel berupa 'kepercayaan', dan

mentor Luisa berupa 'kecerdasan'.

Di tengah-tengah pertanyaan mengenai clue dari setiap mentor, ada yang bertanya jika kami yakin soal kepingan puzzle kami sudah sama dengan salah satu mentor apa yang dilakukan.

"Nanti akan ada vote," jawab mentor Saaochi.

"Baiklah, sekarang kalian bisa menunjukkan puzzle milik kalian dan saling berdiskusi," ucap mentor Bastian tiba-tiba mengubah peraturannya.

Beberapa kebingungan karena peraturan yang tiba-tiba berubah, namun ternyata peraturan itu bertujuan untuk memudahkan kami menjawabnya.

"Kalian sudah boleh untuk menunjukkan puzzle masing masing dan mencari teman yang satu puzzle," sambung mentor Bastian.

Lumiere yang memperlihatkan kepingan puzzle yang dia terima kemudian berkata kepada orang lain setelah mereka melihat kepingan puzzle miliknya,

"Enggak deh. Aku lihatnya itu semacam bangunan luar angkasa," jawabnya saat yang lain mulai menebak apa yang sebenarnya menjadi pasangan dari kepingan puzzle nya.

"Eh, puzzle milik mu dengan ku mirip!" Aku langsung memperlihatkan kepingan puzzle ku pada Lumiere.

"Iyakah?!" Lumiere bersemangat.

"Kecerdasan?" tanya Regina saat setelah melihat kepingan puzzle ku.

"Hm, seperti nya iya," jawabku sambil memperhatikan kembali kepingan ku.

"Wow ini sangat-sangat mudah," celetuk Alice setelah melihat kepingan ku.

Dan aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, setuju bahwa kepingan puzzle milikku itu mudah.

Tiba-tiba seseorang mengangetkan ku,

"Gocha!" Dia menjentikkan jari nya setelah melihat kepingan ku.

Aku bingung namun ikut merasa senang saat melihatnya seperti sudah mendapatkan sebuah pencerahan.

"Jadi, menurutmu siapa?" tanya Lumiere padaku.

"Hm, saya lupa tadi beberapa clue mentor nya, sebentar," jawab ku sambil mencoba mengingat-ingat siapa mentor yang memberi clue kecerdasan.

"Seperti sambungan dari ini kak, mirip sih ...," sahut Alice kepada Aideen dengan ragu tapi terlihat yakin. Aku sendiri sebenarnya tidak yakin apakah Alice yakin atau tidak soal jawabannya.

Aku penasaran bagaimana bentuk dan gambar dari kepingan puzzle milik Aideen, saat hendak bertanya tiba-tiba waktu untuk kami berdiskusi telah habis. Dan kini waktu nya pemungutan suara.

Aku, Lumiere, Alice, dan juga Aideen ternyata memilih mentor yang sama yaitu mentor Luisa.

Dan ini waktunya para mentor memperlihatkan kepingan puzzle yang mereka dapatkan sekaligus keseluruhan puzzlenya.

"Clue nya 'fantasi' jawaban nya adalah buku dongeng! Selamat yang menjawab benar!" ucap mentor Naren sekaligus menunjukkan sebuah gambar puzzle yang lengkap.

"Selamat yang benar! Bajak laut dari clue peta, hehehe. Waktunya berburu harta Karun! Siapkan petanya!" sambung mentor Saaochi.

"Sekira nya begitu lah puzzle milik saya dengan clue 'bangunan'," sambung mentor Bastian.

"Siapa yang jawabannya benar? Hehehee, jawabannya 'sekte sesat' dengan clue 'kepercayaan'," jawab mentor Kaynel sambil terkekeh.

"Ayo yang benar Kayn kasi kukis," lanjutnya.

"Seperti yang kalian lihat, clue yang ku berikan adalah 'Kecerdasan' yang mana itu berhubungan dengan Artificial Intelligent yang di singkat menjadi A.I," Ucap mentor Luisa dengan senyuman polosnya.

"Bagian yang kalian dapatkan adalah bagian luar dari puzzle itu, dengan kata lain yang menyimpan badannya adalah diriku," jelas nya mengenai bagian-bagian puzzle yang diberikan kepada 5 orang murid dan yang dipegang oleh mentor Luisa sendiri.

"Selamat bagi yang berhasil menebak dengan tepat." Mentor Luisa menepuk tangannya mengingat cukup banyak yang berhasl menjawab dengan benar.

"Ternyata jawaban nya benar, syukurlah." Aku menghela napas lega setelah tahu bahwa jawaban ku benar.

"Pas liat punya retta jadi makin yakin," sahut Alice sambil tersenyum kepadaku.

"Hehehehehe," balasku  dengan bangga.

Permainan terhenti, saat aku mulai merasakan hawa dingin yang menyentuh kulitku. Aku mencoba menerka-nerka apa yangembuat suasana menjadi dingin. Tiba-tiba aku ah tidak tapi kami semua dapat melihat komandan Maula menarik ketua Rhino terburu-buru keluar dari gedung.

Dalam suasana seperti ini, dan tanpa aku juga semua waspada, sebuah tembakan es melesat diantara kami dan mengenai ketua Rhino hingga ketua terpental ke samping.

“Rhino!”

Aku mendengar suara komandan Maula yang dengan sigap mengeluarkan pedangnya dan berlari. Namun lagi-lagi sebelum kami—aku dan semua, sempat menoleh. Seluruh tempat ini berubah beku hingga turun salju.

Seluruh tubuh para murid, mentor bahkan orang-orang yang ada di DianXy kini membeku sebagian, hanya menyisakan kepala untuk bernapas.

Beberapa murid panik begitu juga dengan aku. Kami semua terperangkap es beku.

"E-Eh apa? Ada apa ini?" Aku tidak bisa bergerak, tubuhku membeku dan hanya menyisakan kepala saja yang tidak membeku.

"Waduh ini dingin. Masa itu harus ku keluarkan sih?" Aku melihat sekitar mencari keberadaan yang lain dengan seksama, karena pandangan ku masih sedikit tertutup oleh uap uap salju yang baru saia membekukan kami.

"Apa ada yang bisa membantu?" Aku sedikit berteriak. Sebelum mendengar suara yang lain.

"Haha, aku bercanda," candanya sambil menteleportasikan tangannya untuk keluar dari topi miliknya lalu mengeluarkan sebuah korek.

"Nahh,"

Akhirnya aku bisa melihat jelas siapa saja yang berada di dekat ku sambil memperhatikan apa yang mereka lakukan.

"Ayo nyalakan, aku sudah merasakan pembuluh darahku mulai tidak berfungsi," ucap mentor Luisa sambil menggigil.

"Daerah mana kak? Daerah istimewa Yogyakarta?" timpal tiba-tiba Dyras. Sepertinya dia mencoba mencairkan suasana— bukan es nya.

"Kak, jika kakak bisa melucu mending kakak bantu saya, kakak sudah bebas?" aku menatap nya dengan tatapan lelah.

"Oh, belum,"

Aku menghela napas kecewa, "Yah, kirain sudah bebas. Ada cara tidak?"

Sebelum aku mendengar jawaban dari Dyras, atensi ku teralihkan oleh percakapan Fadeyka dengan mentor Luisa.

"Kurasa tidak akan cukup kalo korek sebesar ini," ujarnya kemudian memasukan kembali koreknya dan mengeluarkan sebuah alat pemanas. Lalu memanaskan dirinya sendiri hingga es meleleh setengahnya.

"Ahh bisa,"

"Tolong keluarkan aku juga ...," ujar mentor Luisa setelah melihat Fadeyka berhasil melelehkan sebagian tubuh beku nya.

Melihat hal itu, aku tertarik untuk meminta pertolongan juga, namun tiba-tiba sebuah insiden tidak terduga terjadi.

"Tentu!" jawab Fadeyka, lalu dia menyalakan pemantik apinya dan langsung meledak dengar keras.

"Wahh terbakar semua," ucapnya dengan tatapan yang polos.

"Uwag, h-hei kak apa yang kau lakukan?" Entah bagaimana tapi tiba-tiba aku terselamatkan karena inseden pematik api milik Fadeyka itu.

"Wahhh. Uhh alatnya meledak." Fadeyka menunjukan alat pemantik api ditangannya yang telah hancur.

"Tapi bagus lah," sambungnya.

Aku terduduk, "Aduh, terimakasih sih, tapi yah kok bisaa meledak?!" keluhku.

Fadeyka mengangkat jempol nya, "Tidak masalah,"

"Mungkin karna uh.  Sulit menjelaskannya. Tapi gitulah," sambungnya sambil mencoba menjelaskan namun percuma aku bertanya.

Aku hanya bisa menghela napas, bersyukur karena bisa keluar namun bukan begini juga seharusnya.

"Uhh ..." Aku melihat ketua menarik panas es di bajunya.

"Uwah, ketua!" Aku menoleh ke arah ketua setelah membersihkan es akibat ledakan tidak terduga dari pematik milik Fadeyka.

"Perlu saya bantu, ketua?" tanya seorang mentor pada ketua.

"Bantu anak-anak, aku baik-baik saja," dan jawaban yang keluar dari ketua.

Saat ketua melihat ada dari kami yang mencoba mendekat, dia berteriak mencegah,

"Menjauhlah! Masuk ke dalam markas. Carilah tempat hangat," perintahnya.

"Saya bisa sendiri," sambung ketua.

Aku celingak-celinguk setelah mendengar perkataan ketua, bingung apa yang harus aku lakukan sekarang.

"Waduh, aku kemana jadinya ya?"

"Masuk ke dalam markas semuanya!"

"Para murid yang sudah keluar dari es, segera masuk ke markas!"

Aku menoleh saat mendengar perkataan kedua mentor, lalu mengangguk. Tiba-tiba seseorang datang,

"Rhino ...."

Suara yang terasa dingin dan menusuk itu membuat seluruh tubuh mereka kaku tiba-tiba. Kami yang baru saja membebaskan diri dari es yang membekukan tubuh-tubuh ini, hanya bisa terdiam saat si pelaku pembekuan justru sudah ada di depan ketua kami.

Komandan Maula menodongkan pedang apinya ke leher Priet. “Perhatikan tingkah lakumu,” kata komandan Maula. “Apa maksud kedatanganmu dengan membekukan planet ini?”

"Waduh, bagaimana ini? Siapa dia?" gumam ku saat memperhatikan interaksi ketua, komandan, dan seseorang yang asing dari jauh.

“Harusnya aku yang bilang begitu.” Priet justru memberikan perlawanan. “Permainan apa yang telah kalian buat di planet ini?”

Setelah mendengar itu sontak aku langsung melihat ke arah mentor-mentor begitu juga yang lainnya. Sementara para mentor hanya cengengesan. Tetapi tentu saja bukan permainan mereka yang dimaksud Priet.

Priet mencengkram kerah baju ketua, dan membuat dinding pembatas ketika komandan Maula lagi-lagi hendak menyerangnya.

Aku mencoba melihat apa yang terjadi pada ketua dari kejauhan. Dan sayup-sayup mendengar sebuah pertanyaan,

“Apalagi pembelaanmu kali ini, Rhino?"

Aku bingung sekaligus khawatir, 'ah, apa lagi yang akan terjadi kali ini?' batin ku campur aduk.

 

--|❄