03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Setelah kejadian di dungeon beberapa waktu lalu, Kapten Rhino memerintahkan agar semua murid menikmati waktunya dulu atas saran dari para mentor pada rapat kemarin.
"Baik,
apakah semuanya sudah berkumpul?" Mentor
Naren bertanya dengan nada semangat, matanya tertutup menyerupai bulan sabit ketika
senyum lebar terutas diwajahnya.
Para
murid membalas dengan kata
'hadir' ada yang terlihat bersemangat, dan ada yang masih lelah karena kejadian
kemarin.
Mentor
Naren kemudian meminta
Mentor guild Spy, Bastian Valentine untuk menjelaskan permainan kali ini.
Mentor
Bastian menatap dengan sedikit malas, mungkin beliau masih lelah?
Apapun itu..
"Aku
akan menjelaskan tentang permainan nya.
Pertama-tama, semua nya
akan mendapatkan sebuah kepingan puzzle. Kalian tidak di perbolehkan untuk memberi tahu
puzzle apa yang kalian dapat
kan.
Setelah itu tugas
kalian adalah menebak
puzzle milik mentor yang sama
dengan puzzle milik kalian sendiri." Jelasnya.
Para
murid merespon dengan anggukan kepala, beberapa ada yang mendesah kesal karena mereka payah
dalam menebak.
"Ini
mudah, bukan? Tinggal menebak saja." Mentor Luisa menyahut.
Arumi mengangkat tangannya
kemudian bertanya, "Apa kita akan
diberi Clue?"
"Kalian
bisa menanyakan clue."
Jawaban dari Mentor Bastian membuat Arumi menggelengkan
kepala.
Permainan pun dimulai.
Arumi menatap kepingan
puzzle, sebuah kepala
robot? Mungkin, karena bagi Arumi terlihat
seperti itu.
Arumi mengangkat kepala
ketika mentor Bastian mulai
menyebutkan clue-nya.
"Clue milikku adalah bangunan."
'Bangunan? Berarti bukan..' batin Arumi.
Semua murid tampak heboh
setelah mentor Bastian menyebutkan
clue miliknya.
"Bertanya jika kalian menginginkan clue." Tambah
mentor Naren.
Fadeyka
sontak mengangkat tangannya, "Aku, aku! Bagaimana clue dari mentor
Naren?"
"Clue
ku? 'Fantasi.'" jawab mentor Naren.
Arumi memperhatikan kembali
puzzle miliknya, kepingan miliknya tidak terlihat seperti clue yang disebutkan oleh kedua mentor.
Arumi lalu mengangkat
tangannya dan memutuskan untuk bertanya, "apa clue dari mentor Luisa?"
Mentor
Luisa lalu mengangguk,
"Clue milikku itu 'kecerdasan', cukup mudah bukan."
Mendengar itu, tanpa
sadar Arumi tersenyum kecil, sepertinya ini akan mudah, kali ini ia sangat yakin.
Permainan berjalan dengan baik-baik saja, para murid tampak antusias, ada juga yang masih kebingungan.
Sorakan terdengar ketika
para murid dapat menebak dengan benar.
Namun tiba-tiba suhu
ruangan turun secara drastis. Permainan terhenti, para murid dapat melihat Commander Maula menarik tangan Kapten Rhino untuk segera keluar dari
gedung.
Tiba-tiba, sebuah tembakan
es melesat dan mengenai Kapten Rhino hingga pemuda itu terlempar.
Lalu
tempat ini beku seketika, tubuh para murid ikut membeku, hanya menyisakan kepala mereka. Mungkin sang pelaku masih punya iba untuk tidak
membekukan seluruh tubuh mereka.
'Dingin.'
Nafas Arumi tercekat
ketika es dengan cepat membekukan tubuhnya.
Para
murid panik kembali, beberapa ada yang mencoba menghancurkan es itu dengan kekuatan
api mereka.
Arumi berhasil lepas
dari es itu dengan bantuan temannya yang lain.
Hal
pertama yang para murid lakukan
yaitu menghampiri Kapten mereka, walau sekedar memastikan
bahwa Kapten mereka baik-baik saja.
Namun mereka semua
terkejut ketika seorang lelaki bersurai putih, tak lain dan tak bukan adalah sang pelaku pembekuan markas sudah berada
di depan Kapten Rhino.
Commander
Maula menodongkan pedang apinya ke leher
lelaki itu, lalu berucap, "perhatikan tingkah lakumu itu. Apa
maksud kedatanganmu dengan membekukan planet ini?"
"Seharusnya aku yang bilang begitu." Jawab lelaki itu. "Permainan apa yang telah kalian buat di planet ini?"
Sontak para murid langsung menatap ke arah
mentor mereka yang kini malah tertawa.
Lelaki itu, Priet,
kemudian mencengkram kerah pakaian Kapten
Rhino dan membuat dinding pembatas ketika menyadari Commander Maula ingin menyerangnya.
"Apa lagi pembelaanmu
kali ini, Rhino?"
Arumi hanya bisa
melihat kejadian itu dalam diam, dan penuh kebingungan.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud
perkataannya barusan?'