Isi Cerita
Arumi Sinclair

Setelah kejadian di dungeon beberapa waktu lalu, Kapten Rhino memerintahkan agar semua murid menikmati waktunya dulu atas saran dari para mentor pada rapat kemarin.

 

 

"Baik, apakah semuanya sudah berkumpul?" Mentor Naren bertanya dengan nada semangat, matanya tertutup menyerupai bulan sabit ketika senyum lebar terutas diwajahnya.

 

Para murid membalas dengan kata 'hadir' ada yang terlihat bersemangat, dan ada yang masih lelah karena kejadian kemarin.

 

Mentor Naren kemudian meminta Mentor guild Spy, Bastian Valentine untuk menjelaskan permainan kali ini.

 

Mentor Bastian menatap dengan sedikit malas, mungkin beliau masih lelah?

 

 

Apapun itu..

 

 

"Aku akan menjelaskan tentang permainan nya.

 

Pertama-tama, semua nya akan mendapatkan sebuah kepingan puzzle. Kalian tidak di perbolehkan untuk memberi tahu puzzle apa yang kalian dapat kan.

 

Setelah itu tugas kalian adalah menebak puzzle milik mentor yang sama dengan puzzle milik kalian sendiri." Jelasnya.

 

Para murid merespon dengan anggukan kepala, beberapa ada yang mendesah kesal karena mereka payah dalam menebak.

 

"Ini mudah, bukan? Tinggal menebak saja." Mentor Luisa menyahut.

 

Arumi mengangkat tangannya kemudian bertanya, "Apa kita akan diberi Clue?"

 

"Kalian bisa menanyakan clue."

 

Jawaban dari Mentor Bastian membuat Arumi menggelengkan kepala.

 

Permainan pun dimulai.

 

Arumi menatap kepingan puzzle, sebuah kepala robot? Mungkin, karena bagi Arumi terlihat seperti itu.

 

Arumi mengangkat kepala ketika mentor Bastian mulai menyebutkan clue-nya. "Clue milikku adalah bangunan."

 

'Bangunan? Berarti bukan..' batin Arumi.

 

Semua murid tampak heboh setelah mentor Bastian menyebutkan clue miliknya.

 

"Bertanya jika kalian menginginkan clue." Tambah mentor Naren.

 

Fadeyka sontak mengangkat tangannya, "Aku, aku! Bagaimana clue dari mentor Naren?"

 

"Clue ku? 'Fantasi.'" jawab mentor Naren.

 

Arumi memperhatikan kembali puzzle miliknya, kepingan miliknya tidak terlihat seperti clue yang disebutkan oleh kedua mentor.

 

Arumi lalu mengangkat tangannya dan memutuskan untuk bertanya, "apa clue dari mentor Luisa?"

 

Mentor Luisa lalu mengangguk, "Clue milikku itu 'kecerdasan', cukup mudah bukan."

 

Mendengar itu, tanpa sadar Arumi tersenyum kecil, sepertinya ini akan mudah, kali ini ia sangat yakin.

 

Permainan berjalan dengan baik-baik saja, para murid tampak antusias, ada juga yang masih kebingungan.

 

Sorakan terdengar ketika para murid dapat menebak dengan benar.

 

Namun tiba-tiba suhu ruangan turun secara drastis. Permainan terhenti, para murid dapat melihat Commander Maula menarik tangan Kapten Rhino untuk segera keluar dari gedung.

 

Tiba-tiba, sebuah tembakan es melesat dan mengenai Kapten Rhino hingga pemuda itu terlempar.

 

Lalu tempat ini beku seketika, tubuh para murid ikut membeku, hanya menyisakan kepala mereka. Mungkin sang pelaku masih punya iba untuk tidak membekukan seluruh tubuh mereka.

 

'Dingin.'

 

Nafas Arumi tercekat ketika es dengan cepat membekukan tubuhnya.

 

Para murid panik kembali, beberapa ada yang mencoba menghancurkan es itu dengan kekuatan api mereka.

 

Arumi berhasil lepas dari es itu dengan bantuan temannya yang lain.

 

Hal pertama yang para murid lakukan yaitu menghampiri Kapten mereka, walau sekedar memastikan bahwa Kapten mereka baik-baik saja.

 

Namun mereka semua terkejut ketika seorang lelaki bersurai putih, tak lain dan tak bukan adalah sang pelaku pembekuan markas sudah berada di depan Kapten Rhino.

 

Commander Maula menodongkan pedang apinya ke leher lelaki itu, lalu berucap, "perhatikan tingkah lakumu itu. Apa maksud kedatanganmu dengan membekukan planet ini?"

 

"Seharusnya aku yang bilang begitu." Jawab lelaki itu. "Permainan apa yang telah kalian buat di planet ini?"

 

Sontak para murid langsung menatap ke arah mentor mereka yang kini malah tertawa.

 

Lelaki itu, Priet, kemudian mencengkram kerah pakaian Kapten Rhino dan membuat dinding pembatas ketika menyadari Commander Maula ingin menyerangnya.

 

"Apa lagi pembelaanmu kali ini, Rhino?"

 

Arumi hanya bisa melihat kejadian itu dalam diam, dan penuh kebingungan.

 

'Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud perkataannya barusan?'