03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Tanpa sadar, Saaochi meringis saat merasakan punggungnya
bagai disetrum. Sakitnya tak terkira semenjak ia membuka mata tatkala mendengar
alarm berbunyi nyaring seolah berteriak di atas telinganya. Lantas, dengan
berat disenderkan punggung di atas dinding dingin yang tak terjamah siapa pun
itu sebelum merosot dan duduk membungkuk di pojok.
Para murid perlahan berdatangan setelah diminta
berkumpul sebagai acara santai-santai setelah mereka berhasil menaklukkan
dungeon kemarin. Sebagai hadiah, maka semua mentor setuju untuk memainkan
permainan sebagai refreshing dan meniadakan kelas. Namun, Saaochi tak yakin
apakah ini bisa disebut permainan refreshing atau bukan setelah mendengarnya.
Saaochi tetap diam sementara Naren dan Luisa berdebat
tentang siapa yang seharusnya menjelaskan permainan ini. Sebelum akhirnya
Bastian datang meninggalkan bau mawar seperti biasa, melerai keduanya dan
memutuskan untuk menjelaskan permainan itu.
Saaochi mulai berdiri, merapat kepada Naren dan Luisa
yang bisik-bisik. Dia cukup penasaran untuk tahu di mana puzzle-nya akan
dikirim. Melihat Naren mengirimnya secara acak membuatnya reflek cemberut.
“Kenapa?” tanya Luisa, tampak menyadari kecemberutan
Saaochi.
Saaochi menggeleng, mendesah pelan. Kepalanya entah
kenapa tiba-tiba sakit ketika melakukan itu. “Tidak apa-apa.”
“Baiklah, gambar yang dikirim pada kalian merupakan
potongan puzzle. Silahkan menebak puzzle milih siapa, seperti
yang telah dijelaskan.” Bastian mengakhiri penjelasannya yang serta-merta
membuat keributan di antara para murid.
Saaochi memojok lagi. Kepalanya berdenyut entah
kenapa. Dia tidak terlalu memperhatikan yang lain sudah mulai bertanya pada
mentor satu sama lain. Sampai seseorang mendekatinya dan menanyakan hal
tersebut.
“Clue-nya Kakak apa?”
Saaochi memiringkan kepala sejenak, mengingat kembali.
“Hm, kalo ga salah peta sih, ya.”
“Potongan peta atau keseluruhannya?” Tiba-tiba saja
seseorang menyela. Saaochi mendongak, sebelum akhirnya memutuskan untuk berdiri
saja.
“Nah, entahlah. Mungkin sesuatu yang ada hubungannya
dengan peta?” Sejujurnya, Saaochi juga tidak tahu cara menjelaskannya pada
Fadeyka.
Fadeyka tampak menggaruk pipinya, wajahnya kentara
kebingungan. “Uh, kurasa bukan Mentor. Baiklah, terima kasih.”
“Yakin, nih?” Entah mengapa, Saaochi jadi merasa tidak
masalah menjahilinya sedikit, meski dia sendiri tidak tahu apakah itu potongan puzzle
miliknya.
Wajah segera berubah menjaditambah bingung, tidak
yakin setelah mendengarnya. “Mentor, jangan menghancurkan kepercayaanku ....”
Saaochi nyengir, sebelum melambai setelah memberi
semangat. Dia akhirnya, duduk di kursi setelah sekian lama duduk membungkuk.
Tanpa berlama-lama menyambar kopi entah milik siapa di meja. Diam-diam
memperhatikan semuanya yang sibuk menebak-nebak potongan puzzle.
Hingga tak berapa lama kemudian, Naren berteriak,
menginterupsi semuanya untuk diam dan berkumpul.
“Nah, sekarang kalian vote yah mentornya, menurut
kepercayaan masing-masing!”
Ricuh kembali hadir tatkala layar di jam mereka
menunjukkan daftar voting. Semuanya kentara ragu, namun berusaha percaya bahwa
pilihan mereka benar mengikut dari clue yang sudah diberitahukan oleh
para mentor. Beberapa menit berlalu, Naren memberitahukan kembali bahwa voting
telah ditutup.
“Kayaknya rata-rata bener, ya,” celetuk Saaochi.
Membuka tutup botol minum yang memang sengaja dibawanya dari kamar.
“Iya, kecuali ga ada yang milih Bastian. Azab jadi
kabut,” balas Luisa, yang segera dihadiahi tatapan datar oleh Bastian.
“Cukup tahu,” sahut Bastian sebelum beranjak
meninggalkan keduanya.
“Ngenes kali.” Saaochi geleng-geleng sembari menahan
tawanya.
Di saat mereka berdua asik menggibahi Bastian, Naren
sudah menunjukkan puzzle miliknya, disertai sorakan murid-murid yang
berhasil menjawab dengan benar. Saaochi segera beranjak dari duduk tunjukkan puzzle
miliknya. Reaksi yang sama seperti sebelumnya, rata-rata yang mendapat puzzle
miliknya menjawab jawaban yang benar.
Setelah semua mentor memberikan jawaban yang benar,
semuanya bersorak senang. Menepuk-nepuk punggung yang salah menjawab dan
menghiburnya. Namun, di tengah-tengah permainan tiba-tiba saja hawa dingin
menyentuh kulit, seolah ingin membekukannya dari dalam.
Sesaat kemudian Ketua Rhino juga Komandan Maula
berlari keluar, atensi dengan cepat mengarah pada mereka. Dengan insting, para
mentor segera menyuruh para murid mundur. Sebelum tembakan es melesat melewati mereka
dan mengenai Rhino. Teriakan panik segera tersembur dari mulut semua orang tak
terkecuali Komandan Maula.
Namun, belum selesai keterkejutan itu, mereka
dihadiahi dengan seluruh tempat yang membeku bahkan semua orang yang ada di
sini! Semuanya tanpa kecuali, bahkan para mentor sekalipun. Semuanya panik,
walhal terperangkap dalam es yang hanya menyisakan kepala untuk bernapas.
Bahkan rasanya paru-paru bagai membeku.
“Mendingin abangkuh,” komentar Saaochi pertama kali.
Otaknya sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang
menyebabkan DianXy diserang tiba-tiba seperti ini. Saaochi yakin hanya satu
orang yang pernah diceritakan pada mentor yang bisa membekukan satu planet
seperti ini. Saaochi tak yakin jika memang dia, seingatnya orang itu sekutu
DianXy.
Entahlah, memikirkannya cukup membuat otaknya membeku.
Apalagi hawa dingin yang terus menerus menurun seolah ingin memerangkap mereka
selamanya dalam bongkahan es.
Saaochi melirik pada para murid, bernapas lega
mengetahui salah satunya memiliki kekuatan api. Setidaknya bisa membantu yang
lain keluar. Bastian juga, untungnya sempat berubah menjadi kabut sebelum
terperangkap dalam salju.
“Sini biar saya bantu, Kak.”
Qixuan mengarahkan kekuatan apinya untuk mencairkan es
yang memerangkap Saaochi. Segera saja es itu cair meninggalkan basah di sekujur
tubuh Saaochi.
Saaochi tersenyum tipis. “Makasih ya, Qixuan.”
Si empu mengangguk, lantas membantu yang lain. Saaochi
juga tak ingin ketinggalan, berhubung masih banyak yang terperangkap. Hingga
salah seorang murid bertanya dengan panik.
“Komandan dan Ketua! Apa mereka baik-baik saja?”
Saaochi terbelalak, hampir melupakannya. “Sebaiknya
kalian jangan mendekat. Ini berbahaya, segera masuk ke dalam markas!”
Setelah mengatakan itu, Saaochi berlari ke arah Ketua
Rhino, ada beberapa murid juga yang mendekatinya, meski begitu Ketua tampaknya
menurunkan titah agar membawa para murid masuk kembali ke dalam markas.
Tak lama setelah itu, suara yang begitu dingin dan
menusuk masuk ke dalam indra pendengaran. Entah bagaimana, itu seolah
menghentikan waktu sementara. Para murid yang masih berada di luar terpaku
menatap sosok di depan yang berjalan ke arah Ketua Rhino yang tengah berusaha
berdiri.
Komandan Maula menodongkan pedangnya ke arah pria
bertelinga serigala itu, tatapannya tajam menusuk. “Perhatikan tingkah lakuku,
apa maksud kedatanganmu dengan membekukan planet ini?”
Saaochi kembali bergerak, menyuruh yang lain masuk.
Ini bukan sesuatu yang bisa dilihat semua orang, pikir Saaochi. Meski ada
beberapa dari mereka yang penasaran, Saaochi tetap memaksanya, mentor lain pun
tampaknya juga bersusah payah membawa mereka kembali ke markas.
“Seharusnya aku yang bilang begitu, permainan apa yang
kalian buat di planet ini?”
Ah, sudahlah.