Isi Cerita
Saaochi

Tanpa sadar, Saaochi meringis saat merasakan punggungnya bagai disetrum. Sakitnya tak terkira semenjak ia membuka mata tatkala mendengar alarm berbunyi nyaring seolah berteriak di atas telinganya. Lantas, dengan berat disenderkan punggung di atas dinding dingin yang tak terjamah siapa pun itu sebelum merosot dan duduk membungkuk di pojok.

Para murid perlahan berdatangan setelah diminta berkumpul sebagai acara santai-santai setelah mereka berhasil menaklukkan dungeon kemarin. Sebagai hadiah, maka semua mentor setuju untuk memainkan permainan sebagai refreshing dan meniadakan kelas. Namun, Saaochi tak yakin apakah ini bisa disebut permainan refreshing atau bukan setelah mendengarnya.

Saaochi tetap diam sementara Naren dan Luisa berdebat tentang siapa yang seharusnya menjelaskan permainan ini. Sebelum akhirnya Bastian datang meninggalkan bau mawar seperti biasa, melerai keduanya dan memutuskan untuk menjelaskan permainan itu.

Saaochi mulai berdiri, merapat kepada Naren dan Luisa yang bisik-bisik. Dia cukup penasaran untuk tahu di mana puzzle-nya akan dikirim. Melihat Naren mengirimnya secara acak membuatnya reflek cemberut.

“Kenapa?” tanya Luisa, tampak menyadari kecemberutan Saaochi.

Saaochi menggeleng, mendesah pelan. Kepalanya entah kenapa tiba-tiba sakit ketika melakukan itu. “Tidak apa-apa.”

“Baiklah, gambar yang dikirim pada kalian merupakan potongan puzzle. Silahkan menebak puzzle milih siapa, seperti yang telah dijelaskan.” Bastian mengakhiri penjelasannya yang serta-merta membuat keributan di antara para murid.

Saaochi memojok lagi. Kepalanya berdenyut entah kenapa. Dia tidak terlalu memperhatikan yang lain sudah mulai bertanya pada mentor satu sama lain. Sampai seseorang mendekatinya dan menanyakan hal tersebut.

Clue-nya Kakak apa?”

Saaochi memiringkan kepala sejenak, mengingat kembali. “Hm, kalo ga salah peta sih, ya.”

“Potongan peta atau keseluruhannya?” Tiba-tiba saja seseorang menyela. Saaochi mendongak, sebelum akhirnya memutuskan untuk berdiri saja.

“Nah, entahlah. Mungkin sesuatu yang ada hubungannya dengan peta?” Sejujurnya, Saaochi juga tidak tahu cara menjelaskannya pada Fadeyka.

Fadeyka tampak menggaruk pipinya, wajahnya kentara kebingungan. “Uh, kurasa bukan Mentor. Baiklah, terima kasih.”

“Yakin, nih?” Entah mengapa, Saaochi jadi merasa tidak masalah menjahilinya sedikit, meski dia sendiri tidak tahu apakah itu potongan puzzle miliknya.

Wajah segera berubah menjaditambah bingung, tidak yakin setelah mendengarnya. “Mentor, jangan menghancurkan kepercayaanku ....”

Saaochi nyengir, sebelum melambai setelah memberi semangat. Dia akhirnya, duduk di kursi setelah sekian lama duduk membungkuk. Tanpa berlama-lama menyambar kopi entah milik siapa di meja. Diam-diam memperhatikan semuanya yang sibuk menebak-nebak potongan puzzle.

Hingga tak berapa lama kemudian, Naren berteriak, menginterupsi semuanya untuk diam dan berkumpul.

“Nah, sekarang kalian vote yah mentornya, menurut kepercayaan masing-masing!”

Ricuh kembali hadir tatkala layar di jam mereka menunjukkan daftar voting. Semuanya kentara ragu, namun berusaha percaya bahwa pilihan mereka benar mengikut dari clue yang sudah diberitahukan oleh para mentor. Beberapa menit berlalu, Naren memberitahukan kembali bahwa voting telah ditutup.

“Kayaknya rata-rata bener, ya,” celetuk Saaochi. Membuka tutup botol minum yang memang sengaja dibawanya dari kamar.

“Iya, kecuali ga ada yang milih Bastian. Azab jadi kabut,” balas Luisa, yang segera dihadiahi tatapan datar oleh Bastian.

“Cukup tahu,” sahut Bastian sebelum beranjak meninggalkan keduanya.

“Ngenes kali.” Saaochi geleng-geleng sembari menahan tawanya.

Di saat mereka berdua asik menggibahi Bastian, Naren sudah menunjukkan puzzle miliknya, disertai sorakan murid-murid yang berhasil menjawab dengan benar. Saaochi segera beranjak dari duduk tunjukkan puzzle miliknya. Reaksi yang sama seperti sebelumnya, rata-rata yang mendapat puzzle miliknya menjawab jawaban yang benar.

Setelah semua mentor memberikan jawaban yang benar, semuanya bersorak senang. Menepuk-nepuk punggung yang salah menjawab dan menghiburnya. Namun, di tengah-tengah permainan tiba-tiba saja hawa dingin menyentuh kulit, seolah ingin membekukannya dari dalam.

Sesaat kemudian Ketua Rhino juga Komandan Maula berlari keluar, atensi dengan cepat mengarah pada mereka. Dengan insting, para mentor segera menyuruh para murid mundur. Sebelum tembakan es melesat melewati mereka dan mengenai Rhino. Teriakan panik segera tersembur dari mulut semua orang tak terkecuali Komandan Maula.

Namun, belum selesai keterkejutan itu, mereka dihadiahi dengan seluruh tempat yang membeku bahkan semua orang yang ada di sini! Semuanya tanpa kecuali, bahkan para mentor sekalipun. Semuanya panik, walhal terperangkap dalam es yang hanya menyisakan kepala untuk bernapas.

Bahkan rasanya paru-paru bagai membeku.

“Mendingin abangkuh,” komentar Saaochi pertama kali.

Otaknya sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan DianXy diserang tiba-tiba seperti ini. Saaochi yakin hanya satu orang yang pernah diceritakan pada mentor yang bisa membekukan satu planet seperti ini. Saaochi tak yakin jika memang dia, seingatnya orang itu sekutu DianXy.

Entahlah, memikirkannya cukup membuat otaknya membeku. Apalagi hawa dingin yang terus menerus menurun seolah ingin memerangkap mereka selamanya dalam bongkahan es.

Saaochi melirik pada para murid, bernapas lega mengetahui salah satunya memiliki kekuatan api. Setidaknya bisa membantu yang lain keluar. Bastian juga, untungnya sempat berubah menjadi kabut sebelum terperangkap dalam salju.

“Sini biar saya bantu, Kak.”

Qixuan mengarahkan kekuatan apinya untuk mencairkan es yang memerangkap Saaochi. Segera saja es itu cair meninggalkan basah di sekujur tubuh Saaochi.

Saaochi tersenyum tipis. “Makasih ya, Qixuan.”

Si empu mengangguk, lantas membantu yang lain. Saaochi juga tak ingin ketinggalan, berhubung masih banyak yang terperangkap. Hingga salah seorang murid bertanya dengan panik.

“Komandan dan Ketua! Apa mereka baik-baik saja?”

Saaochi terbelalak, hampir melupakannya. “Sebaiknya kalian jangan mendekat. Ini berbahaya, segera masuk ke dalam markas!”

Setelah mengatakan itu, Saaochi berlari ke arah Ketua Rhino, ada beberapa murid juga yang mendekatinya, meski begitu Ketua tampaknya menurunkan titah agar membawa para murid masuk kembali ke dalam markas.

Tak lama setelah itu, suara yang begitu dingin dan menusuk masuk ke dalam indra pendengaran. Entah bagaimana, itu seolah menghentikan waktu sementara. Para murid yang masih berada di luar terpaku menatap sosok di depan yang berjalan ke arah Ketua Rhino yang tengah berusaha berdiri.

Komandan Maula menodongkan pedangnya ke arah pria bertelinga serigala itu, tatapannya tajam menusuk. “Perhatikan tingkah lakuku, apa maksud kedatanganmu dengan membekukan planet ini?”

Saaochi kembali bergerak, menyuruh yang lain masuk. Ini bukan sesuatu yang bisa dilihat semua orang, pikir Saaochi. Meski ada beberapa dari mereka yang penasaran, Saaochi tetap memaksanya, mentor lain pun tampaknya juga bersusah payah membawa mereka kembali ke markas.

“Seharusnya aku yang bilang begitu, permainan apa yang kalian buat di planet ini?”

Ah, sudahlah.