Isi Cerita
Alice

Semua murid Dianxy berkumpul di lapangan,  mengikuti permainan yang diselenggarakan oleh ke 5 Mentor mereka. Mentor dari Vanguard bertanya, apakah seluruh murid yang telah berkumpul dan mereka mengangkat tangan sebagai jawaban. Aku atau yang biasa dikenal dengan Alice hanya mendengar dengan seksama.

"Nah, semua nya hadir, tolong dengarkan instruksi dari mentor bastian yah," ucap Naren dan semua murid diam mendengar.

Tidak membutuhkan waktu lama, Mentor dari Spy itu memberikan penjelasan mengenai permainan yang dimainkan kepada seluruh murid.

"Kalau begitu aku akan menjelaskan tentang permainan nya. Pertama-tama, semua nya akan mendapatkan sebuah kepingan puzzle. Kalian tidak di perbolehkan untuk memberi tahu puzzle apa yang kalian dapat kan. Setelah itu tugas kalian adalah menebak puzzle milik mentor yang sama dengan puzzle milik kalian sendiri," jelas Mentor Bastian panjang lebar.

Semua Murid mulai tertarik dengan permainan yang akan dimainkan mereka.

"Baik, semuanya sudah paham, 'kan?" tanya Mentor Vanguard kepada seluruh murid. Sejujurnya aku sedikit mengerti dengan permainan yang akan di mainkan ini.

"Apakah kita sudah bisa mulai permainannya?" tanya Bastian memulai Permainan

"Bagaimana cara memulainya? Apa kita diberi clue?" tanya seorang murid dan aku yakin sepertinya kakak senior yang bertanya. Nah, bagaimana cara bermain? aku juga tidak mengerti bagaimana caranya, aku menatap kepingan puzzle ditanganku.

"Pertanyaan bagus, ada kok clue nya tapi hanya satu," jawab Mentor Naren

"Kamu bisa memulai dengan menanyakan clue," tambah Mentor Bastian.

"Memulai dengan menanyakan clue?" tanya ku pada diri sendiri, sedikit membingungkan.

Aku memperhatikan puzzle yang ada ditangan dan menebak-nebak bentuknya,

'Terlihat seperti garis-garis? apa ini, seperti data?'  batin ku dengan pose berpikir.

"Aku akan memulai langsung, clue puzzle ku adalah "bangunan"," ucap Mentor Bastian memulai permainan.

Para murid saling mengajukan pertanyaan mengenai permainan dan clue dari para mentor.

'Bangunan? tidak, ini bukan bangunan, ini mirip seperti ... data.' Aku menerka-nerka potongan kepingan ini.

"Tanya langsung disini, 'kan?" tanyaku kepada Mentor Saaochi  saat tak sengaja mendengar ucapan Mentor Saaochi.

"Iya, Alice," jawab Mentor saa menatapku dengan tersenyum.

"Okey thanks Mentor Saa, Oh ya, clue Kak Saa, apa?" tanya ku kembali menatap Kak Saaochi.

"Sama-sama. Heemm, clue nya cuma "Peta" sih. Punya saya paling mudah, hehehe," jawab Mentor Saaochi. "Peta? Mm, seperti map? okey kak."

"Semangat. Bisa tanya ke mentor lainnya juga." Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan mencocok kan kembali kedua clue yang aku dapatkan.

'Bangunan atau peta? Sepertinya keduanya tidak cocok.'

"Clue milikku itu "Kecerdasan", cukup mudah bukan?" ucap Mentor Luisa dan Aku menoleh saat mendengar clue Mentor Luisa.

"Apa berhubungan dengan benda, kak?"

 "Bisa jadi."

Aku mendengar percakapan Mentor Luisa dan salah satu murid, ah sekarang aku mengerti clue Mentor siapa yang cocok dengan kepingan puzzle ini.

'Kecerdasan, maksudnya kecerdasan buatan, seperti program? apa ini adalah kepingan dari clue kecerdasan buatan? Hm,' batin ku mengukir senyum.

Setelah semua anak mengetahui clue ke 5 Mentor, mereka berdiskusi mencari jawaban dari puzzle dan memperlihatkan puzzle mereka masing-masing kepada seluruh murid.

'Jujur, aku tidak terlalu ingat gambar puzzle mereka, lembaran? tiang? Aduh'

"Kok tidak ada yang mirip dengan punya Alice?" tanya ku.

"Alice...," panggil Kak Aideen dan terdiam disampingku.

Hm? aku menoleh menatap bingung senior yang sudah ku anggap kakak seperti kakakku sendiri, Kak Aideen. Terdiam sejenak mencerna apa yang terjadi lalu bertanya, "Kak, puzzle kakak mana? Liat."

"Sama denganmu," jawab Aideen dan membuatku bingung, sepertinya aku tidak fokus dengan ucapan Kakak satu ini.

"Kakakmu satu ini sama denganmu," ulang Kak Aideen sekali lagi, ah aku akhirnya aku paham.

"Yey," ucapku kegirangan.

Kak Aideen tersenyum lega, lalu bertanya, "Kita pilih siapa?"

"Kak Luis, karna mirip seperti clue kakak itu," ucap ku menatap Aideen.

Sesaat aku menatap puzzle dari Naretta, mirip seperti clue Kak Luisa, membuatku semakin yakin.

"Kak Luis itu kecerdasan bukan?" tanya Aideen

"Iya kak, menurut kakak siapa? soalnya kan garis-garis, seperti sambungan dari ini kak, mirip sih," jelas diriku menunjuk kepingan puzzle Naretta.

"Oh iya kah?" tanya Naretta dan aku menganguk sebagai jawaban.

"Kali ini aku yakin ... 80%, hehehe," ucap Aideen dan mengaruk belakang kepalanya.

Aku hanya mengangguk sambil tertawa pelan melihat Kak Aideen.

Waktu diskusi telah habis saatnya memberikan vote puzzle yang sesuai dengan clue para Mentor.

Para murid termasuk diriku memulai melakukan vote. Mereka memilih Mentor sesuai dengan  clue dan puzzle mereka. Aku, Kak Aideen, Naretta dan LumiereLumiere memilih Mentor Luisa dengan Clue kecerdasan. Vote selesai kelima Mentor memberi jawaban dari clue mereka.

"Clue nya "fantasi" jawaban nya adalah buku dongeng!!! Selamat yang menjawab benar!!" ucap Mentor Naren memberi penjelasan pertama.

"Selamat yang benar! Bajak laut dari clue peta, hehehe. Waktunya berburu harta Karun! Siapkan petanya!" ucap Mentor Saaochi melanjutkan memberi clue yang kedua.

"Sekira nya begitu lah puzzle milik saya dengan clue "bangunan"," ucap Mentor Bastian singkat.

"Siapa yang jawabannya benar? Hehhee, jawabannya 'sekte sesat' dengan clue 'kepercayaan'. Ayo yang benar Kayn kasih kukis," ucap Mentor Kayn dengan semangat.

"Seperti yang kalian lihat, clue yang ku berikan adalah "Kecerdasan" yang mana itu berhubungan dengan Artificial Intelligent yang di singkat menjadi A.I." Mentor Luisa menjeda ucapan lalu tersenyum polos menatap para murid.

"Bagian yang kalian dapatkan adalah bagian luar dari puzzle itu, dengan kata lain yang menyimpan badannya adalah diriku. Selamat bagi yang berhasil menebak dengan tepat," lanjut Mentor Luisa lalu bertepuk tangan.

Setelah mengalahkan dengar jawaban dari ke 5 Mentor para murid bernapas lega dan ada juga yang menangis.

Aku menoleh saat mendengar Shou berbicara. "Hihi, bagaimana Shou?" tanyaku

"Keren keren! Walau baru muncul sih tapi kuakui ini seru sih," jawab Shou dengan semangat.

Aku memberikan tepukan dikepala lalu berkata, "Setelah ini, apa?"

"Mungkin petunjuk untuk kedepannya?" tanya  Shou kembali

"Hm, misi baru? petunjuk baru?" bukannya menjawab aku kembali bertanya, 'Apa ini akan dibentuk sebagai tim?' atau sebagai petunjuk?'

Permainan terhenti saat kami merasakan hawa dingin yang menyentuh kulit. Sementara Kami hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi. Kami melihat Kapten Maula menarik Ketua Rhino terburu-buru keluar dari gedung.

Dan tanpa kami sadari. Sebuah tembakan es melesat diantara kami, mengenai Rhino hingga pemuda itu terpental ke samping. Tak lama kemudian seluruh tempat ini berubah beku hingga turun salju, kami ikut membeku hingga tersisa hanya kepala yang tidak membeku. Kami panik dengan apa yang terjadi.

"Aduh bagaimana ini? adakah yang punya kekuatan api?" tanyaku kebingungan.

"Alice kamu tidak apa-apa?" tanya Shou berusaha melepaskan diri dari es yang membeku

"Tidak tahan dingin, kenapa-kenapa ini," jawabku sambil mencari bola kuasaku.

Aku meminta bola robot membantu memecahkan es namun sayang sekali dia sangat lamban.

"Boleh meminta tolong kepada hewan peliharaan tidak sih?" tanya Shou kembali mengerakan tubuh. "Emang bisa? hm, coba ubah lenganmu, Shou. Siapa tau esnya pecah."

Aku memberi saran dan Shou mencobanya, es membeku tubuh Shou pecah setengah menyisakan bagian kaki.

Tanpa sadar Kak Aideen menolongku memecahkan es yang membeku tubuh.

"Alice tidak apa-apa?" "Tidak apa-apa Kak, bagaimana dengan Kak Enna?"

"Sudah ku hancurkan esnya." "Syukur lah, terimakasih kak sudah membantu, Alice."

Aku membantu Shou dan yang lainnya.

Setelah semua murid terbebas dari es mereka mencari keberadaan Founder.

Founder yang melihat murid mengelilinginya meminta para murid untuk kembali ke dalam Markas.

Para murid menuruti perkataan ketua. Suara yang terasa dingin dan menusuk itu membuat seluruh tubuh Kami kaku tiba-tiba. Kami yang baru saja membebaskan diri dari es yang membekukan tubuh-tubuh. Hanya bisa terdiam saat si pelaku pembekuan justru sudah ada di depan ketua.

Aku yang berada dibelakang tidak terlalu mendengar perdebatan Kapten dan Tamu itu.  “Permainan apa yang telah kalian buat di planet ini?”

 

Para murid langsung melihat ke arah mentor-mentornya. Sementara mentor mereka hanya cengengesan. "Apalagi pembelaanmu kali ini, Rhino?"

'Apa yang dimaksud?'

.

 .

.