03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Seperti biasanya karena aku tidak bisa tidur lagi malam itu jadi aku pergi ke hutan dan mencari beberapa racun untuk di jadikan amunisi, tentu saja saat matahari sudah timbul lagi aku segera kembali ke kamarku.
Sudah beberapa hari berlalu setelah insiden pembantaian di Dungeon, sekarang aku sedang berjalan ke ruang Informasi untuk melihat data tentang monster yang menghuni Dungeon itu. Sebenarnya aku masih tidak rela kalau Manticore yang berharga itu harus habis terbantai para murid, tapi mau bagaimana lagi?
Setelah dari ruang Informasi aku berjalan pergi ke Dapur untuk mengambil sarapan, jam enam pagi itu waktu yang cukup sepi untuk menikmati secangkir teh dan juga sarapan yang panas bukan? Tentu saja itu waktu emasku untuk menyendiri di pojokan kantin, tanpa di ganggu siapa pun.
Brak!
"Uhuk- ugh... sial teh nya ternyata masih panas," kagetku sambil melirik kosong cangkir teh yang hampir ku lemparkan beserta isinya ke arah orang yang sekarang sedang tersenyum polos setelah menggebrak meja tempatku menikmati sarapan.
"Selamat pagi, Luisa! Kamu terlihat menyedihkan tadi, jadi tanpa sengaja aku menyalurkan niat jahatku padamu," celetuk gadis yang menjadi petugas kebersihan setelah tanpa sengaja masuk ke alat percobaanku, setidaknya gaji dia di sini cukup banyak.
"Selamat pagi juga, Chiki. Aku tahu kamu masih menyimpan dendam tersembunyi tapi setidaknya jangan ganggu sarapanku." Aku menaruh cangkir teh yang ku pegang, tentu saja sambil mengurung niat untuk melemparkan cangkir itu kepada Chiki.
Chiki hanya membalas dengan tawanya yang menggelegar sambil mengambil roti lapis yang ada di atas piringku setelah itu dia pamit pergi karena di panggil oleh Nero yang merupakan petugas kebersihan juga.
Sekarang sudah sepi lagi, jadi tanpa sadar aku menatap asap yang terus mengepul dari teh sambil mengetuk-ngetuk permukaan meja. Sebenarnya hari-hari yang telah berlalu dengan damai ini sedikit membuatku sedikit khawatir. Lupakan saja, hari ini harusnya aman karena hari ini ada kegiatan bersama dengan para murid.
Aku dengan cepat menghabiskan sarapan dan teh ku dan segera pergi dari kantin, tentu saja setelah mengantar alat makan ini. Sekarang aku sedang berjalan ke arah ruang Istirahat, tentu saja untuk menikmati waktu luang sebelum bermain nanti.
Sekarang sudah jam sepuluh pagi menjelang siang dan kami para Mentor kecuali Ketua dan Komandan sedang berkumpul di ruang Istirahat, kami berniat mengadakan permainan untuk mengisi masa-masa hiburan. Tentu saja Ketua sudah mengizinkan hal ini, kini giliranku untuk mengambil puzzle secara acak.
Kami berniat mengadakan permainan asah otak untuk menghibur para murid, puzzle yang terdiri dari enam bagian itu telah dikurangi menjadi lima bagian yang dimana satu bagian lainnya akan masing-masing kami simpan.
Sekarang kami sedang bersiap-siap pergi ke lapangan markas untuk menjalankan permainan itu, tentu saja sebelum itu kami sedikit berbasa-basi dengan para murid.
"Baiklah semuanya! Apakah kalian semua sudah berkumpul!?" Sapa Naren dengan riang sambil melambai-lambaikan tangannya ke udara.
"Hadir," balas Saaochi sambil menguap dengan pelan, aku sedikit meliriknya dari samping setelah itu aku beralih menatap awan yang sedang bergerak di langit.
Para murid yang lain juga menjawab Naren yang antusias yang menggebu-gebu, entah kenapa energi mereka selalu membara.
"Aku... kenapa aku keluar ruangan...?" gumamku sambil merenung, menatap awan-awan di langit. Ini sangat damai, damai yang aneh.
"Agar kamu tidak mengurung diri seperti orang terisolasi." Saaochi berjongkok dan menelungkupkan kepalanya di antara lututnya.
"Baik! Yang tertua yang menjelaskan permainannya, jadi silahkan!" celetuk Naren sambil menepuk-nepuk punggungku. Rasanya tulang punggungku akan patah.
Disaat aku ingin membalas celetukan Naren secara tiba-tiba bahuku di tabrak oleh Bastian, lihatlah raut wajah yang seperti aspal itu! Aku yakin dia sengaja menabrak bahuku. Entah apa masalahnya, dasar kabut asap.
"Bukannya Bastian yang paling tua di antara kita?" balasku sambil menunjukkan Bastian dengan memiringkan kepalaku, tentu saja tidak lupa dengan tatapan horor yang menusuk.
"Baiklah kalau begitu, om Bastian. Tolong jelaskan!" Tukas Naren sambil tersenyum secerah matahari di atas langit hari ini.
Bastian menatap Naren dengan tatapan malas, lalu menjelaskan permainan yang akan di mainkan dengan singkat.
"Terserah, apapun itu. Aku akan menjelaskannya dengan singkat, pertama-tama kalian akan mendapatkan serpihan puzzle secara acak tentu saja kalian tidak boleh memberitahukan puzzle seperti apa yang kalian dapatkan. Cukup berikan ciri-cirinya saja, lalu setelah itu kalian bisa menebak puzzle milik mentor dengan puzzle yang kalian miliki sendiri."
"Semuanya paham, kan?" tanya Naren.
"Ini mudah bukan? Tinggal menebak saja," ucapku sambil tersenyum. Itu senyuman yang biasa saja.
Suara mulai riuh, tentu saja itu datang dari para murid yang sedang menerka-nerka puzzle yang mereka miliki. Aku hanya menatap mereka dengan pandangan kosong, seperti biasa.
"Kalian bisa menanyakan cluenya," sahut Bastian di antara kericuhan para murid. Aku mengangguk membenarkan perkataan Bastian.
"Menanyakan cluenya pada semua mentor?" tanya salah satu murid, kalau tidak salah namanya Lumiere bukan?
"Bisa jadi," balasku pada Lumiere dengan singkat.
"Baiklah. Lalu setelah mendapatkan clue dari para mentor, kita tinggal menebak mentor mana yang puzzlenya sama dengan yang kita miliki?" tanya Lumiere lagi.
"Tepat sekali," balasku lagi secara singkat tentunya.
Setelah itu masing-masing mentor langsung diserbu oleh para murid, dan aku di sini menatap kericuhan itu sambil memikirkan kenapa tidak ada yang bertanya padaku. Lalu langsung ku buang jauh-jauh pemikiran itu saat melihat beberapa murid yang berjalan ke arahku dengan aura membara.
"Clue milikku itu [Kecerdasan], kalian pasti bisa menebaknya kan?" walaupun aku mengatakan hal seperti itu, mereka pasti akan tetap kesusahan karena puzzle yang ku ambil adalah puzzle bagian tengah.
"Apa itu berhubungan dengan benda?" tanya Ardolf sambil menggaruk rambutnya.
"Bisa jadi," jawabku seadanya. Aku tidak akan memberitahukan clue dengan sangat jelas, nanti tidak akan menyenangkan kalau mereka menebak dengan mudah.
"Eh... apakah itu berkibar di udara?" tanya Ardolf lagi.
"Entahlah?" jawabku dengan nada yang tidak meyakinkan.
"Kecerdasan di sini mengacu pada objek atau subjek?" tanya Fadeyka sambil mengacungkan tangannya.
"Bisa keduanya," jawabku seadanya lagi. Ini cukup menyenangkan, aku hanya perlu menjawab dengan singkat tanpa harus menjelaskan hal lain.
"Hm... sepertinya mentor, bukan mentor saya. Baiklah kalau begitu, terimakasih atas cluenya..." pasrah Ardolf dengan lesu.
"Memang bukan, iya sama-sama," balasku sambil tersenyum polos. Rasanya seperti ada rasa kepuasan tersendiri ya?
"Anu, apa ada hubungannya dengan lembaran?" tanya Fadeyka lagi.
"Tidak ada hubungannya," jawabku. Kali ini jawabanku menjadi valid karena puzzle milikku benar-benar tidak ada hubungannya dengan lembaran jadi mau bagaimana lagi?
"Sekarang ini semakin sulit," ucap Fadeyka dengan lesu.
"Kalau mudah nanti tidak seru," balasku dengan datar.
"Ya, tidak salah sih.."
Setelah itu sedikit demi sedikit murid yang mengerubungiku bubar, sekarang aku sedang sedikit berkeliling. Tentu saja untuk melihat wajah frustasi para murid dan menjawab murid yang ingin bertanya saja. Itu pun dengan jawaban yang tidak pasti.
"Kenapa milikku biru sendiri gambarnya...," gumam Lumiere yang tidak sengaja terdengar olehku.
"Biru seperti apa?" tanyaku, ini bukan berarti aku kasihan ya! Aku cuma bertanya, hanya bertanya.
"Biru seperti birunya langit, dan biru seperti warna ketenangannya hatiku~" itu terdengar narsis, akan ku abaikan bagian selanjutnya.
"Sepertinya tadi ada yang seperti itu." Aku langsung pergi setelah mengatakan secara singkat kepada Lumiere, sekarang aku sedang mencari Saaochi yang menghilangkan dari pandanganku.
Karena tidak menemukan Saaochi akhirnya aku memojokkan diri, sambil menahan tawa tentu saja. Tidak lama setelah itu aku menghindari lemparan cangkir yang entah datang darimana.
"Apa masalahmu?" sewotku kepada pelaku pelemparan cangkir itu yang tidak lain merupakan Saaochi.
"Tidak apa-apa, ingin saja," ucapnya sambil tersenyum cecengesan.
Prok!
"Baiklah waktunya habis! Saatnya melakukan sesi voting!" celetuk Naren dengan gembira.
"Semangat memutar otak," singkatku.
Setelah itu sesi voting dilakukan dalam waktu lima menit, sebagian murid terlihat yakin dengan jawaban mereka dan sebagain lagi mereka terlihat ragu-ragu. Sejauh ini aku melihat ada empat orang yang memvoting [Kecerdasan], ternyata cukup sedikit ya? Bukan urusan ku sih.
"Baiklah sudah 5 menit, mari kita lihat jawaban sebenarnya!" ucap Naren dengan semangat yang menggebu-gebu.
Mentor yang lain mulai memberitahukan puzzle yang mereka pegang, kini giliranku untuk mengatakan puzzle yang ku pegang. Aku memencet jam tanganku dan menampilkan hologram puzzle yang ku dapatkan.
"Seperti yang kalian lihat, clue yang ku berikan adalah [Kecerdasan] yang mana itu berhubungan dengan Artificial Intelligent yang di singkat menjadi A.I. Bagian yang kalian dapatkan adalah bagian luar dari puzzle itu, dengan kata lain yang menyimpan badannya adalah diriku," aku tersenyum dengan wajah tanpa dosa, "selamat bagi yang berhasil menebak dengan tepat." setelah itu aku menepukkan telapak tanganku.
Setelah itu terdengar kericuhan dan helaan nafas lega dari para murid, aku sedikit menarik sudut bibirku tersenyum kecil menatap para murid. Kedamaian seperti ini tidak buruk juga.
Sekilas perasaan waspada membuat ku menatap ke arah langit, hawa dingin yang asing di tengah teriknya matahari membuatku semakin waspada. Dari kejauhan aku melihat Ketua dan Komandan keluar dari markas dengan tergesa-gesa.
Dalam suasana yang seperti itu tiba-tiba sebuah tembakan es melesat melewati kami tepat ke arah Ketua hingga terpental ke arah samping. Komandan terlihat dengan sigap mengambil pedang miliknya, hendak menghampiri Ketua.
"Ket-!?"
ZRSH!
Belum sempat aku menghampiri Ketua juga, tiba-tiba badai es menghantam tubuhku membuat tubuhku membeku menyisakan kepala yang untuk bernafas. Aku tidak mengerti, kenapa bisa tiba-tiba planet ini di hantam oleh musim dingin yang membekukan kami semua.
"Curang... aku tidak bisa bergerak sedikit pun!" geramku sambil menatap tidak adil dengan tajam ke arah bawah. Hampir seluruh badanku tidak bisa bergerak, ini akan menjadi akhir yang menyedihkan jika aku mati dalam keadaan seperti ini.
Aku melihat keadaan sekitar yang juga membeku- tunggu sebentar. Bukankah itu Bastian? Sial aku iri, lihatlah kabut songong itu dia bahkan tidak terlihat menyentuh es itu. Tiba-tiba melihatnya membuat diriku kesal saja, lebih baik aku mencari keberadaan Saaochi.
Lupakan saja soal Saaochi, sekarang hawa dingin ini mulai menusuk organ dalamku. Sial rasanya seperti akan menjadi patung pajangan saja!
"Apakah tidak ada yang membawa korek? Atau api? Apa saja yang bisa melelehkan es ini!" teriakku sambil meronta-ronta berusaha tetap bergerak agar tidak membeku sepenuhnya.
"Yah... Kak, kalau pun membawanya tidak mungkin bisa digunakan. Kan kita tidak bisa bergerak," sahut Vessel yang menjadi es tidak jauh dariku. Ada benarnya juga, jadi sekarang harus bagaimana!?
"Masuk akal, yang lain tidak ada yang punya kekuatan yang berhubungan dengan api?" tanyaku entah kepada siapa.
"Tidak tahu, tapi aku membawa pisau dapur," sahut Saaochi yang ternyata membeku tidak jauh dariku juga.
"Kamu ngapain membawa benda seperti itu?" tanyaku dengan tatapan kosong dan penuh tuntutan. Bisa-bisanya dia membawa pisau dapur.
"Untuk pajangan." Jawaban yang bagus Saaochi, andai aku tidak membeku kepalamu tidak ada selamat dari pukulan telapak tanganku.
Saaochi terlihat mencoba memaksakan untuk menggerakkan tangannya dan itu membuatku tidak bisa membayangkan kalau tangannya tiba-tiba retak dan lepas, meskipun ngeri aku juga berusaha bergerak seperti Saaochi juga sedari tadi.
"Hati-hati nanti yang ada malah tanganmu yang lepas," peringatku kepada Saaochi.
"Tidak akan, tenang saja." Perlahan es di tangan Saaochi mulai retak, sepertinya sebentar lagi dia bisa menggerakkan tangannya dengan benar.
Kalau di pikirkan lagi ternyata aku sangat lemah, satu-satunya yang ku kuasai cuma racun dan beberapa jenis monster. Senjata milikku juga senjata jarak jauh dan itu terbatas karena amunisinya harus di buat secara khusus.
"Hah... apakah ini balasan yang ku terima setelah menghabiskan gula sebanyak satu kilogram yang ada di dapur?" renungku sambil menatap kosong ujung jariku, benar juga sebenarnya ini masih siang bukan? Es-nya akan meleleh walaupun memakan waktu.
"Kita biarkan saja Luisa," sahut Bastian dengan muka datarnya. Benar-benar deh, sepertinya aku harus mencari cara untuk membuatnya mengalami mimpi buruk selama seminggu penuh.
"Mentor Luis? Alice bantu ya!" celetuk Alice yang bagaikan malaikat yang turun ke Mursa sambil berlari mendekat ke arahku. Ternyata dia sudah bebas lebih awal.
Luis, kalau di ingat lagi entah kenapa aku tidak bisa menolak panggilan itu. Tidak masalah, dia terlihat bahagia jadi aku tidak akan menghalangi kebahagiaannya. Maaf Luis, aku memakai namamu kali ini.
"Huhuhu... Alice, tolong bantu aku...," ucapku sambil berkaca-kaca. Ini masalah lain karena rasanya sangat pegal berdiam seperti ini dalam waktu yang lama ditambah lagi hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang ini membuat kondisi organ dalamku sedikit memburuk. Beruntung racun bekas dari Dungeon sudah dikeluarkan kalau tidak mungkin racun itu juga akan ikut membeku.
"Aduh Kak... untuk apa gula sebanyak itu," sahut Qixuan dari belakang Alice.
Alice terlihat mengetuk-ngetuk es di badanku dengan pelan di bantu dengan kekuatan Qixuan yang ternyata berhubungan dengan api. Sedikit demi sedikit tubuhku mulai bisa di gerakkan dengan normal sampai akhirnya aku terbebas dari es itu.
Setelah itu mereka berdua pergi membantu murid yang lain sedangkan aku berusaha memeras air tetesan bekas es yang mencair karena kekuatan Qixuan tadi.
"Sudah keluar ternyata," celetuk Saaochi sambil melihat ku dengan raut muka yang cukup membuatku kesal.
"Iya sudah, padahal tadi aku mau minta bantuanmu dengan imbalan sisik Naga," ucapku sambil menatapnya dengan datar.
"Itu penganiayaan terhadap Naga! Seharusnya kamu tidak usah keluar saja tadi," kesalnya sambil menatapku dengan penuh tuntutan.
Aku berdecih pelan sambil menatap ke arah samping, sejauh ini aku tidak melihat Ketua dan Komandan tapi sepertinya mereka bisa keluar sendiri walaupun membeku mengingat kekuatan dari Komandan Maula yang berhubungan dengan api.
"Apa hah? Dasar tidak berperikenagaan!" Kami berdua saling memalingkan wajah satu sama lain.
Ini benar-benar diluar firasatku, bagaimana bisa tiba-tiba es menghantam planet ini? Apakah ada serangan dari luar? Tapikan tempat ini tertutup, jadi ini karena apa? Apa yang terjadi? Begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab memenuhi pemikiranku.
Ketua terlihat mendekati kami dan memperingatkan kami untuk segera kembali ke markas.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naren ke Ketua.
"Benar, ini sangat aneh. Tidak mungkin secara tiba-tiba musim dingin menimpa kami semua sampai membeku seperti tadi...," sahutku dengan pelan. Aku mengepalkan tanganku dan menatap dengan sedikit khawatir ke arah Ketua.
"Suruh para murid untuk masuk ke dalam markas terlebih dahulu," putus Ketua dengan tegas.
Para Mentor yang lain pun pergi untuk mengintruksi para murid agar segera evakuasi dan masuk ke dalam markas.
"Apa kita sedang di serang...?" tanya Alice dengan suara kecil yang tidak sengaja terdengar olehku.
"Mungkin saja, Alice kembalilah ke markas dan hangatkan diri terlebih dahulu. Firasatku kali ini tidak mengatakan kalau ini akan menyenangkan," sahutku sambil mengusap pelan kepala Alice.
"Baik Mentor Luis, tapi dimana Komandan Maula?" tanya Alice sambil berjalan ke dalam markas.
"Komandan mungkin ada di ruang kendali." itu bohong, sebuah kebohongan.
"Angkut saja semuanya," ucap Naren yang sedang mengintruksi para murid.
"Naren, angkut aku dong," balasku dengan muka yang tersenyum tanpa dosa. Aku harus mencairkan suasana walaupun aku tahu kalau ini bukan waktu yang tepat.
"Kakak Mentor, kakak di luar bareng kami dong!" sahut Naren bersamaan dengan layangan tangan yang mau memukul diriku, tentu saja dengan mudah aku menghindari itu. Aku menjulurkan lidahku ke arah pelaku yang tidak lain adalah Naren dan Saaochi.
Tidak lama setelah itu terdengar sebuah suara yang memanggil nama Ketua, alarm dalam diriku terasa memperingatkan diriku sendiri saat mendengar suara itu. Secara tanpa sadar aku mendekat ke arah Saaochi dan memegang sarung tangan miliknya.
"Rhino...," ucap orang itu sambil menatap Ketua dengan tatapan dingin. Komandan terlihat menodongkan pedangnya kepada orang itu.
"Perhatikanlah tingkah lakumu, apa maksud kedatanganmu dengan membekukan planet ini?" sahut Komandan. Ini terlihat bukan keadaan yang biasa.
"Harusnya aku yang mengatakan itu. Permainan apa yang telah kalian lakukan di planet ini?" sanggah orang itu. Bukan, pasti bukan permainan yang baru saja kami lakukan tadi, hal lain. Pasti ada hal lain.
Orang itu terlihat mencengkeram kerah baju milik Ketua dan membuat penghalang untuk Komandan yang ingin melayangkan serangan kepadanya. Manik Ketua terlihat berubah menjadi warna kuning, apa ini? Orang itu tidak terpengaruh oleh kekuatan Ketua?
"Apalagi pembelaanmu kali ini, Rhino?"
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa? Bagaimana bisa? Pertanyaan terus berputar di otakku. Tanpa sadar aku mencengkeram erat sarung tangan Saaochi sambil menatap tajam serta waspada kepada orang yang sedang berhadapan dengan Ketua.
Ada yang ganjil.
Tamat.