03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Seluruh murid dengan pakaian latihan
lengkap mereka berkumpul di lapangan Dianxy. Sebab kejadian tempo hari, ketua
mereka memberi perintah agar seluruh murid menikmati waktu mereka dengan
permainan yang telah di siapkan oleh lima mentor mereka.
"Kalau
begitu aku akan menjelaskan tentang permainan nya," ucap Bastian.
"Pertama-tama,
semua nya akan mendapatkan sebuah kepingan puzzle. Kalian tidak di perbolehkan
untuk memberi tahu puzzle apa yang kalian dapat kan. Setelah itu tugas kalian
adalah menebak puzzle milik mentor yang sama dengan puzzle milik kalian sendiri,"
jelas Bastian cara kerja permainannya.
Seluruh
murid seketika sibuk mengenai permainan yang diselenggarakan. Beberapa dari
murid mengalami kesulitan untuk menebak kepingan puzzle mereka bahkan dari
mereka ada yang berteori bahwa permainan ini di hari kedepannya sebagai susunan
tim mereka tetapi itu adalah urusan nanti, karena yang perlu mereka fokuskan
adalah menebak kepingan puzzle mereka yang sama dengan milik mentornya.
"Halo
semua!" Sapa pemuda surai putih dengan semangat.
Sebelumnya
ia sempat menghilang untuk waktu yang cukup lama hingga sepertinya permainan
akan segera berakhir. Namun dipastikan ia tidak mungkin tidak ikut permainan
itu walaupun ia perlu waktu apa yang terjadi sebelumnya.
"Halo
kak," sahut gadis bernama Aoi. Sepertinya dia juga tidak mengerti
bagaimana cara kerja permainan tersebut.
Dan
mentor mereka yang sebelumnya menjelaskan cara kerja permainan mengungkapkan
dan berkata, "Baiklah, sekarang kalian bisa menunjukkan puzzle milik
kalian dan saling berdiskusi."
Satu-persatu
kepingan puzzle diperlihatkan dan para murid telah mengetahui jika salah satu
teman mereka memiliki kepingan puzzle yang sama. Seluruh murid yang mengetahui
hal itu segera menghampiri satu sama lain memperlihatkan kepingan puzzle yang
mirip.
"Perlahan
tapi pasti saya yakin bisa paham," batin Shou menyemangati dirinya,
memandang kepingan puzzlenya berupa jaring layar kapal dari bentukannya.
Seseorang
menghampiri menyapanya dan terkekeh, "Hai Abang rakun, kita samaan
hehe."
"Oh
iyakah?" Pemuda membalikkan badannya menatapnya penuh kepastian.
"Apakah ada maksud?" lanjut sosok pemuda meminta penjelasan yang
lebih lanjut.
"Intinya
ada 5 kawan 1 mentor bang," jelas Ardolf singkat, padat, dan jelas yang
membuat Shou bakal membatin.
"5
kawan 1 mentor? Maksudnya dalam satu tim ada satu mentor yang memiliki
kesamaan?" batin Shou membuat Ardolf sempat heran seketika.
Ardolf
menghembuskan nafasnya berkata dia antara kerumunan murid, "Adakah yang
disini berbau bajak laut atau kapal-kapal an?"
Shou
mengangkat tangannya. "Saya," ucap Shou dengan nada lirih.
"Haiya,
Selain abang ... Kita cari 3 lagi plus sama mentornya," ucap Ardolf
menjelaskan.
"Susah
amat saya gak paham." mendengus malas.
"Kemungkinan
mentor kita bersama abang Bastian, clue nya bangunan ... Mm apa transportasi
sama ama bangunan ya," tanya Ardolf kebingungan.
"Kurasa
sama?" Mengangkat bahu tidak pasti.
Waktu
permainan telah habis dan sudah tiba bagi seluruh murid untuk menebak kepingan
puzzle siapa yang mirip dengan mentor mereka. Suasana berubah menjadi keraguan
di saat-saat seperti ini.
"Kalau
gak salah ingat para mentor pernah bilang cluenya. Kalau cluenya peta seperti
yang diucapkan mentor Saaochi, maka ... " Memandang seksama kepingan
puzzle itu ia mengangguk yakin.
Seluruh
murid berharap tinggi jika saja tebakan mereka salah apa yang akan terjadi pada
mereka nantinya? ...
Lima
menit telah berlalu setelah melakukan voting. Satu-persatu mentor mengumumkan
hasil tebakan seluruh murid memberi semangat bagi mereka yang menjawab dengan
benar.
Beberapa
murid menghela nafas lega atas voting mereka.
Shou
yang memandang gambar gabungan kepingan puzzle bajak laut tersenyum lega.
"Untung berubah pikiran." Tangan diletakkan di pinggang bangga dengan
perubahannya.
"Jangan
bilang yang sama bang Saaochi malah jadi kang bajak laut," ucap Ardolf
dengan nada lirih.
"Kita
berlayar mencari harta Karun!!" Seru Shou bersemangat.
"Abang
juga ... Ueue ... ntar kalau ada bajak laut beneran gimana," rengek Ardolf
yang hanya dianggap kekehan Shou.
Gadis
surai kuning bermata heterochromia menghampiri sembari terkekeh kecil,
"Bagaimana Shou?" kekehnya.
Shou
tersenyum bangga, "Keren keren! Walau baru muncul sih tapi kuakui ini seru
sih," serunya bersemangat yang dijawab dengan deheman.
Alice
tersenyum sebelum ia menginjik meraih kepala Shou dan mengpat-pat rambut
putihnya Shou, terlihat semburat merah tipis di pipinya.
"Setelah
ini apa?" Tanya Alice.
Shou
sadar dengan lamunannya dan berkata, "Mungkin petunjuk untuk ke
depannya?"
Alice
hanya memiringkan kepalanya dan menjawab, "Misi baru? Petunjuk baru?"
"Mungkin?
... " bisik pemuda kurangnya kepastian.
"Tunggu
suasana dingin apa ini?! ... " batin Shou gelisah mencari tahu.
Suasana
dingin menyentuh kulit menimbul sensasi tanda tanya apa yang sedang terjadi.
Sekilas mereka bisa melihat Maula yang menarik Rhino terburu-buru keluar dari
gedung sebelum tembakan es melesat ke arah mereka dan tepat mengenai Rhino
dengan keadaan terpental.
"Tanda
bahaya!" Batin Shou melebarkan matanya melangkah mundur mengangkat
lengannya ke depan merasakan angin dingin ia menutup matanya seketika lengannya
membeku sebagian karena sekarang lapangan Dianxy telah dikelilingi es dan salju
yang turun. Shou mencoba menggerakkan anggota badannya tetapi siapa sangka
seluruh tubuhnya telah dilapisi sebagian es menyisakan kepalanya saja.
"Woe
apa-apaan ini??!" Ekspresi wajah Shou begitu gelisah dan panik karena
dinginnya es, ia mencoba menggerakkan anggota badannya berusaha bebas.
"Aduh
bagaimana ini?" Alice berpikir keras. "Adakah yg punya kekuatan
api?" tanya Alice.
Shou
memandang miris dan berkata, "Alice? kau tidak apa-apa?" ucap Shou
nada tegas, ia menggeram kesal karena kini ia telah mencoba bertranformasi
tetapi seperti nya akan lama.
"Tidak
tahan dingin, kenapa-kenapa ini, bentar cari bot." Menoleh ke sana kemari
mencari gamebot.
Ia
menggeram dan tetap mencoba mentransformasikan lengannya. Ia bertanya dan
bergumam, "Boleh minta tolong hewan peliharaan gak sih?? Tidak, itu tidak
bisa."
"Emang
boleh? Coba ubah lengan mu Shou, siapa tau pecah," ucapnya dengan pelan
memberi saran.
Dengan
konsentrasi akhirnya es yang melapisi tubuhnya retak perlahan-lahan digantikan
lengan Shou yang telah menjadi sayap putihnya menyisakan bawahannya saja, Shou
lekas menghela nafas panjang tapi tempat itu benar benar dingin.
"Perlu
dibantu Shou? Setidaknya Alice bisa pecahkan dengan bot," tawar Alice yang
kini memegang botnya kuat-kuat yang segera dibalas 'boleh saja' oleh Shou.
Dengan demikian Alice mengayunkan tangan bot kuat-kuat membuat lekatan di bawah
Shou pecah. Sisanya Shou yang membersihkannya.
Shou
mengambil jepit rambutnya dan menyimpannya. "Kita harus membantu yang
lain!" seru Shou nada tegas. Dengan sigap Shou terbang melepas bulu
sayapnya dan menolong yang tersisa.
"Adakah
di salah satu kalian melihat mentor??" seru Shou terbang mondar mandir
tanpa tujuan.
"Maksud
mu ketua dan komandan?" ujar Bastian bermaksud memperbaiki Shou yang typo.
"Ah
iya salah. Iya dimana mereka??" jawab Shou menyadari kesalahannya
menyebut.
"
... tunggu sebentar." Melesat pergi ke arah ketua dan komandan. Shou yang
tidak mau ketinggalan segera mengepakkan sayapnya dan terbang pergi bersama
Bastian.
.
.
Bastian
telah sampai dan menemui Rhino yang menarik panas es di bajunya, ia sempat
menanyakan kondisi Rhino sekarang.
Shou
mendarat ke lantai dengan aman berjalan dibelakang Bastian, "Mentor saya
mengekori anda," kata Shou menghembuskan nafas.
"Bukankah
lebih baik kamu menghangatkan diri mu?" tanyanya menarik sisa sisa air di
pakaian Shou dan membuat pakaian Shou kering.
Shou
yang kaget sebelum merilekskan dirinya, "Kurasa saya tidak sempat
melakukannya tapi terimakasih," ucap Shou berterimakasih.
Membalikkan
badan Shou memandang banyak murid yang sedang mendekat hendak menolong tetapi
Rhino berkata, "Menjauhlah! Masuk ke dalam markas. Carilah tempat hangat.
Saya bisa sendiri"
Pemuda
bermata kuning menyala ingin mendekat tetapi ia segera memutar balik arah dan
terbang menjauh kembali ke markas tetapi saat sudah di pertengahan penerbangan
suara dingin terdengar dari belakang.
"Rhino
... " Sang pelaku pembekuan justru telah muncul tepat di depan ketua
mereka.
Maula
menodongkan pedang apinya ke leher Priet. "Perhatikan tingkah
lakumu," ucap Maula. "Apa maksudmu kedatanganmu dengan membekukan
planet ini?"
Sosok
pelaku memegang kerah baju Rhino dan dinding pembatas ketika Maula sempat ingin
menyerang. Manik Rhino berubah kuning dan ia nampaknya tidak berkutik apalagi
kekuatannya tidak bisa digunakan.
"Apa
pembelaanmu kali ini, Rhino?" ujar serigala putih mencengkram kerah baju
Rhino.
Shou
yang tak sengaja melihatnya hanya bisa bertanya-tanya dan bingung apakah ia
perlu ikut campur atau kembali ke markas.