Isi Cerita
Shou Masayoshi

Chapter 6

 

Seluruh murid dengan pakaian latihan lengkap mereka berkumpul di lapangan Dianxy. Sebab kejadian tempo hari, ketua mereka memberi perintah agar seluruh murid menikmati waktu mereka dengan permainan yang telah di siapkan oleh lima mentor mereka.

"Kalau begitu aku akan menjelaskan tentang permainan nya," ucap Bastian.

"Pertama-tama, semua nya akan mendapatkan sebuah kepingan puzzle. Kalian tidak di perbolehkan untuk memberi tahu puzzle apa yang kalian dapat kan. Setelah itu tugas kalian adalah menebak puzzle milik mentor yang sama dengan puzzle milik kalian sendiri," jelas Bastian cara kerja permainannya.

Seluruh murid seketika sibuk mengenai permainan yang diselenggarakan. Beberapa dari murid mengalami kesulitan untuk menebak kepingan puzzle mereka bahkan dari mereka ada yang berteori bahwa permainan ini di hari kedepannya sebagai susunan tim mereka tetapi itu adalah urusan nanti, karena yang perlu mereka fokuskan adalah menebak kepingan puzzle mereka yang sama dengan milik mentornya.

"Halo semua!" Sapa pemuda surai putih dengan semangat.

Sebelumnya ia sempat menghilang untuk waktu yang cukup lama hingga sepertinya permainan akan segera berakhir. Namun dipastikan ia tidak mungkin tidak ikut permainan itu walaupun ia perlu waktu apa yang terjadi sebelumnya.

"Halo kak," sahut gadis bernama Aoi. Sepertinya dia juga tidak mengerti bagaimana cara kerja permainan tersebut.

Dan mentor mereka yang sebelumnya menjelaskan cara kerja permainan mengungkapkan dan berkata, "Baiklah, sekarang kalian bisa menunjukkan puzzle milik kalian dan saling berdiskusi."

Satu-persatu kepingan puzzle diperlihatkan dan para murid telah mengetahui jika salah satu teman mereka memiliki kepingan puzzle yang sama. Seluruh murid yang mengetahui hal itu segera menghampiri satu sama lain memperlihatkan kepingan puzzle yang mirip.

"Perlahan tapi pasti saya yakin bisa paham," batin Shou menyemangati dirinya, memandang kepingan puzzlenya berupa jaring layar kapal dari bentukannya.

Seseorang menghampiri menyapanya dan terkekeh, "Hai Abang rakun, kita samaan hehe."

"Oh iyakah?" Pemuda membalikkan badannya menatapnya penuh kepastian. "Apakah ada maksud?" lanjut sosok pemuda meminta penjelasan yang lebih lanjut.

"Intinya ada 5 kawan 1 mentor bang," jelas Ardolf singkat, padat, dan jelas yang membuat Shou bakal membatin.

"5 kawan 1 mentor? Maksudnya dalam satu tim ada satu mentor yang memiliki kesamaan?" batin Shou membuat Ardolf sempat heran seketika.

Ardolf menghembuskan nafasnya berkata dia antara kerumunan murid, "Adakah yang disini berbau bajak laut atau kapal-kapal an?"

Shou mengangkat tangannya. "Saya," ucap Shou dengan nada lirih.

"Haiya, Selain abang ... Kita cari 3 lagi plus sama mentornya," ucap Ardolf menjelaskan.

"Susah amat saya gak paham." mendengus malas.

"Kemungkinan mentor kita bersama abang Bastian, clue nya bangunan ... Mm apa transportasi sama ama bangunan ya," tanya Ardolf kebingungan.

"Kurasa sama?" Mengangkat bahu tidak pasti.

Waktu permainan telah habis dan sudah tiba bagi seluruh murid untuk menebak kepingan puzzle siapa yang mirip dengan mentor mereka. Suasana berubah menjadi keraguan di saat-saat seperti ini.

"Kalau gak salah ingat para mentor pernah bilang cluenya. Kalau cluenya peta seperti yang diucapkan mentor Saaochi, maka ... " Memandang seksama kepingan puzzle itu ia mengangguk yakin.

Seluruh murid berharap tinggi jika saja tebakan mereka salah apa yang akan terjadi pada mereka nantinya? ...

Lima menit telah berlalu setelah melakukan voting. Satu-persatu mentor mengumumkan hasil tebakan seluruh murid memberi semangat bagi mereka yang menjawab dengan benar.

Beberapa murid menghela nafas lega atas voting mereka.

Shou yang memandang gambar gabungan kepingan puzzle bajak laut tersenyum lega. "Untung berubah pikiran." Tangan diletakkan di pinggang bangga dengan perubahannya.

"Jangan bilang yang sama bang Saaochi malah jadi kang bajak laut," ucap Ardolf dengan nada lirih.

"Kita berlayar mencari harta Karun!!" Seru Shou bersemangat.

"Abang juga ... Ueue ... ntar kalau ada bajak laut beneran gimana," rengek Ardolf yang hanya dianggap kekehan Shou.

Gadis surai kuning bermata heterochromia menghampiri sembari terkekeh kecil, "Bagaimana Shou?" kekehnya.

Shou tersenyum bangga, "Keren keren! Walau baru muncul sih tapi kuakui ini seru sih," serunya bersemangat yang dijawab dengan deheman.

Alice tersenyum sebelum ia menginjik meraih kepala Shou dan mengpat-pat rambut putihnya Shou, terlihat semburat merah tipis di pipinya.

"Setelah ini apa?" Tanya Alice.

Shou sadar dengan lamunannya dan berkata, "Mungkin petunjuk untuk ke depannya?"

Alice hanya memiringkan kepalanya dan menjawab, "Misi baru? Petunjuk baru?"

"Mungkin? ... " bisik pemuda kurangnya kepastian.

"Tunggu suasana dingin apa ini?! ... " batin Shou gelisah mencari tahu.

Suasana dingin menyentuh kulit menimbul sensasi tanda tanya apa yang sedang terjadi. Sekilas mereka bisa melihat Maula yang menarik Rhino terburu-buru keluar dari gedung sebelum tembakan es melesat ke arah mereka dan tepat mengenai Rhino dengan keadaan terpental.

"Tanda bahaya!" Batin Shou melebarkan matanya melangkah mundur mengangkat lengannya ke depan merasakan angin dingin ia menutup matanya seketika lengannya membeku sebagian karena sekarang lapangan Dianxy telah dikelilingi es dan salju yang turun. Shou mencoba menggerakkan anggota badannya tetapi siapa sangka seluruh tubuhnya telah dilapisi sebagian es menyisakan kepalanya saja.

"Woe apa-apaan ini??!" Ekspresi wajah Shou begitu gelisah dan panik karena dinginnya es, ia mencoba menggerakkan anggota badannya berusaha bebas.

"Aduh bagaimana ini?" Alice berpikir keras. "Adakah yg punya kekuatan api?" tanya Alice.

Shou memandang miris dan berkata, "Alice? kau tidak apa-apa?" ucap Shou nada tegas, ia menggeram kesal karena kini ia telah mencoba bertranformasi tetapi seperti nya akan lama.

"Tidak tahan dingin, kenapa-kenapa ini, bentar cari bot." Menoleh ke sana kemari mencari gamebot.

Ia menggeram dan tetap mencoba mentransformasikan lengannya. Ia bertanya dan bergumam, "Boleh minta tolong hewan peliharaan gak sih?? Tidak, itu tidak bisa."

"Emang boleh? Coba ubah lengan mu Shou, siapa tau pecah," ucapnya dengan pelan memberi saran.

Dengan konsentrasi akhirnya es yang melapisi tubuhnya retak perlahan-lahan digantikan lengan Shou yang telah menjadi sayap putihnya menyisakan bawahannya saja, Shou lekas menghela nafas panjang tapi tempat itu benar benar dingin.

"Perlu dibantu Shou? Setidaknya Alice bisa pecahkan dengan bot," tawar Alice yang kini memegang botnya kuat-kuat yang segera dibalas 'boleh saja' oleh Shou. Dengan demikian Alice mengayunkan tangan bot kuat-kuat membuat lekatan di bawah Shou pecah. Sisanya Shou yang membersihkannya.

Shou mengambil jepit rambutnya dan menyimpannya. "Kita harus membantu yang lain!" seru Shou nada tegas. Dengan sigap Shou terbang melepas bulu sayapnya dan menolong yang tersisa.

"Adakah di salah satu kalian melihat mentor??" seru Shou terbang mondar mandir tanpa tujuan.

"Maksud mu ketua dan komandan?" ujar Bastian bermaksud memperbaiki Shou yang typo.

"Ah iya salah. Iya dimana mereka??" jawab Shou menyadari kesalahannya menyebut.

" ... tunggu sebentar." Melesat pergi ke arah ketua dan komandan. Shou yang tidak mau ketinggalan segera mengepakkan sayapnya dan terbang pergi bersama Bastian.

.

.

Bastian telah sampai dan menemui Rhino yang menarik panas es di bajunya, ia sempat menanyakan kondisi Rhino sekarang.

Shou mendarat ke lantai dengan aman berjalan dibelakang Bastian, "Mentor saya mengekori anda," kata Shou menghembuskan nafas.

"Bukankah lebih baik kamu menghangatkan diri mu?" tanyanya menarik sisa sisa air di pakaian Shou dan membuat pakaian Shou kering.

Shou yang kaget sebelum merilekskan dirinya, "Kurasa saya tidak sempat melakukannya tapi terimakasih," ucap Shou berterimakasih.

Membalikkan badan Shou memandang banyak murid yang sedang mendekat hendak menolong tetapi Rhino berkata, "Menjauhlah! Masuk ke dalam markas. Carilah tempat hangat. Saya bisa sendiri"

Pemuda bermata kuning menyala ingin mendekat tetapi ia segera memutar balik arah dan terbang menjauh kembali ke markas tetapi saat sudah di pertengahan penerbangan suara dingin terdengar dari belakang.

"Rhino ... " Sang pelaku pembekuan justru telah muncul tepat di depan ketua mereka.

Maula menodongkan pedang apinya ke leher Priet. "Perhatikan tingkah lakumu," ucap Maula. "Apa maksudmu kedatanganmu dengan membekukan planet ini?"

Sosok pelaku memegang kerah baju Rhino dan dinding pembatas ketika Maula sempat ingin menyerang. Manik Rhino berubah kuning dan ia nampaknya tidak berkutik apalagi kekuatannya tidak bisa digunakan.

"Apa pembelaanmu kali ini, Rhino?" ujar serigala putih mencengkram kerah baju Rhino.

Shou yang tak sengaja melihatnya hanya bisa bertanya-tanya dan bingung apakah ia perlu ikut campur atau kembali ke markas.