Isi Cerita
Atalanta Sienna Kyrane

Sienna yang masih belum pulih sepenuhnya memaksakan dirinya untuk tetap ikut bermain dalam permainan yang telah para mentor siapkan. Dia sama sekali tidak peduli dengan kondisinya saat itu dan membuat Nyx mengabaikan bahkan meninggalkannya.

 

Dia penasaran, kali ini apalagi yang ada di dalam pikiran mentor-mentor nya?

 

‘Apalagi kali ini?’

 

Walaupun dalam benaknya Sienna mengeluh, wajahnya senantiasa terlihat datar.

 

Saat permainan segera di mulai, salah seorang mentor mulai memberikan potongan puzzle kepada seluruh murid. Sienna yang juga mendapatkan puzzle tersebut lantas melihat gambar kepingannya.

 

Dia sedikit mengerutkan keningnya saat melihat gambar kepingannya. Namun dalam sekejap mimik wajahnya kembali seperti semula.

 

Dikala menunggu Bastian menjelaskan cara permainan kali ini, Sienna berbincang sejenak dengan Regina, satu-satunya anggota guild Vanguard yang berada di generasi yang sama dengannya.

 

Perbincangan mereka sedikit terpotong saat Sienna menyadari sepasang mata sedang memperhatikannya.

 

Dirinya menoleh dan menangkap pelaku yang menatapnya. Orang itu adalah Aideen. Pemuda itu terlihat gelagapan saat ketahuan menatap Sienna namun dengan cepat mengatur mimik wajahnya dan melambaikan tangannya.

 

Sienna yang melihatnya lantas membalas lambaian nya dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya, setelah itu pandangannya kembali fokus kepada para mentor.

 

Bastian yang sudah datang lantas menjelaskan garis besar permainan yang akan mereka mainkan. Sienna mendengar dengan saksama dan mulai paham akan cara bermainnya.

 

‘Setiap orang memiliki satu kali kesempatan menanyakan clue. Sepertinya kesempatan ku tidak perlu di gunakan dan lebih baik memanfaatkan ingatanku saja untuk mengingat clue dari puzzle para mentor.’// fikirnya saat melihat Shu, salah satu seniornya, mulai menggunakan kesempatannya.

 

Sienna yang hanya diam mulai mendapatkan banyak informasi. Hingga Luisa mulai mengucapkan kalimat yang seperti nya telah masuk ke dalam kumpulan kata yang di //blacklist// dalam hidup Sienna.

 

“Yang tebakannya salah akan menjadi makanan Budi.”

 

Helaan nafas keluar dari bibir mungilnya. Sepertinya kata itu telah berhasil membuat ekspresi kesalnya sedikit terlihat di wajahnya.

 

“Ancaman itu lagi.”

 

Ucapan Sienna dapat didengar jelas oleh Luisa dan sontak saja mendapatkan balasan. “Mau bagaimana lagi? Bukankah ini ancaman yang biasa kami ucapkan?”

 

Jawaban Luisa sama sekali tidak salah. Tapi tetap saja Sienna mulai mempertanyakan bagaimana sosok ‘Budi’ yang sebenarnya.

 

Sienna mulai mengabaikan sang mentor dan memilih untuk melihat-lihat rekannya yang kesusahan menebak puzzle milik mereka.

 

Hingga dirinya berhenti di dekat Aideen yang mengacak-acak rambutnya karena kebingungan.

 

“Anda baik-baik saja?”

 

“Ah. Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya kebingungan dengan puzzle ku.”

 

Sontak saja Sienna menepuk-nepuk punggung Aideen seolah memberikan semangat pada pemuda tersebut.

 

“Sepertinya kali ini otakku berhenti berfungsi.”

 

Mendengar ucapan pemuda pemilik mata teal tersebut, sontak saja Sienna menahan tawanya melihat penderitaan yang dialami Aideen. “Untung saja puzzle yang saya dapatkan cukup mudah untuk di tebak.”

 

Perbincangan Sienna dan Aideen terus berlanjut hingga waktunya menebak-nebak mentor yang memiliki potongan puzzle yang cocok dengan milik mereka.

 

Puzzle milikku adalah ‘sekte sesat’ dengan clue ‘kepercayaan’. Heheh. Siapa yang benar? Yang benar Kayn kasih kukis.”

 

Jawaban Kaynell membuat Sienna terlihat sangat senang bahkan secara tidak sengaja bertingkah seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan pujian dari orang dewasa.

 

Permainan yang sepertinya akan berlanjut ke babak selanjutnya mau tidak mau dihentikan saat hawa dingin menguasai sekitar markas.

 

Sienna tidak tau apa yang akan terjadi, tapi tubuhnya tegang dan itu berarti hal aneh akan terjadi.

 

Netranya menangkap sosok Maula yang menarik Rhino dengan tergesa-gesa keluar dari markas.

 

Namun tiba-tiba sebuah tembakan es melesat diantara mereka hingga membuat pemimpin DianXy tersebut terpental.

 

Semuanya kaget. Bingung dengan apa yang terjadi sehingga Rhino terpental hanya karena sebuah tembakan es.

 

“Rhino!” Maula dengan sigap mengeluarkan pedang api miliknya. Namun lagi-lagi disaat mereka belum siap tiba-tiba saja seluruh penjuru berubah menjadi es bahkan salju turun.

 

Tubuh Sienna terperangkap di dalam bongkahan es seperti yang lainnya, walaupun es tersebut hanya membekukan tubuhnya hingga bagian leher.

 

Desisan kecil keluar dari mulutnya. Bagaimana bisa kejadian seperti ini terjadi di saat Nyx marah padanya? Sekarang, bagaimana cara dia bebas dari es ini? Begitulah pikiran Sienna saat melihat tubuhnya yang sama sekali tidak bisa digerakkan.

 

Kenyataannya Sienna sangat tahan dengan suhu dingin, mengingat planetnya memiliki perubahan cuaca yang sangat ekstrim sehingga membuatnya terbiasa jika cuaca tiba-tiba saja berubah.

 

Tapi saat ini kesehatan fisiknya sangat rendah, apalagi dengan racun yang belum sepenuhnya keluar dari tubuh nya dan juga seragam latihan yang tidak memiliki lengan membuat Sienna kedinginan. Untung saja kulit wajahnya terhitung sangat putih bahkan seperti orang pucat sehingga tidak ada yang terlalu memperhatikan keadaannya.

 

Sienna hanya bisa pasrah menunggu salah satu dari rekannya membantu.

 

Dan benar saja. Aideen muncul dan membebaskan Sienna dari es tersebut, bahkan pemuda itu memberikannya sebuah batu kristal yang saat disentuh muncul perasaan hangat yang membuat nya mulai berhenti kedinginan.

 

“Hangat.” terlihat rona merah tipis di pipi Sienna. Sepertinya suhu batu tersebut sudah cukup membuat tubuhnya menghangat.

 

Hingga pada akhirnya Sienna menempelkan batu tersebut di pipi Aideen karena menyadari pemuda itu juga sedikit kedinginan.

 

“Rhino..”

 

Suara yang terdengar dingin dan menusuk itu membuat bulu kuduk Sienna berdiri. Suara itu lebih dingin dibandingkan suhu planet saat ini.

 

Tatapannya terpaku pada seseorang yang diyakini sebagai pelaku dari pembekuan planet Mursa.

 

Pemilik rambut yang seputih salju dengan telinganya yang terlihat lembut tersebut kini berada di hadapan ketua mereka.

 

Sienna terdiam selama beberapa menit. Tatapannya sedikit membulat saat ingatan aneh samar-samar kembali muncul di kepalanya dan menampilkan sosok yang serupa dengan makhluk tersebut.

 

‘Bukankah kehancuran DianXy sebelumnya terjadi ribuan tahun yang lalu? Lantas, kenapa orang itu muncul dalam ingatan? Apa mereka orang yang sama?’

 

Dirinya kebingungan dengan rasa sakit yang kembali menyerang kepalanya. Padahal dirinya sudah tidak pernah merasakannya setelah berada cukup lama di planet Mursa.

 

Netranya terus menatap sosok tersebut yang mengurung dirinya dan Rhino di dalam dinding pembatas.