03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Pukul delapan malam, waktu dimana semua murid telah kembali ke kamar asrama mereka masing-masing dan beristirahat setelah melewati hari yang panjang juga melelahkan.
Rembulan yang bersinar dengan terang pada malam itu, memaparkan cahayanya hingga menembus kaca jendela milik markas DianXy. Menjadi saksi bisu atas kelelahan para murid yang telah berjuang.
Semua murid seharusnya sudah terlelap di kamar masing-masing. Namun kurasa, Aku lebih memilih untuk berjalan-jalan sejenak di area markas. Bukan karena Aku yang tidak lelah, tapi Insomnia ku yang lagi-lagi kumat tanpa kuduga.
Mungkin ini efek dari terlalu lama menggunakan tenagaku dalam perisai itu.
Tungkai ku terus membawaku mengelilingi markas, dan ada beberapa saat Aku harus bergerak cepat dan lambat agar tidak berpapasan dengan orang-orang yang ada disini.
Ketika Aku melewati sebuah lorong yang berpusat ke arah ruang kesehatan, manik navy ku menatap lurus ke arah pintu yang bernuansa putih itu.
Sekilas ada hasrat yang muncul untuk masuk sebentar dan melihat lihat suasana ruang kesehatan—sayangnya ketika semua murid sedang di obati ketika sore hari tadi, Aku lebih memilih langsung pergi ke kamarku, sehingga Aku tidak tau bagaimana suasana di dalam ruang kesehatan itu. Beruntungnya Aku hanya berfokus sebagai Shielder dan tidak terlalu mendekati monster nya.
Setelah berpikir beberapa kali, Aku memilih menuruti keinginanku untuk membuka pintu itu dan masuk kedalam. Tepat ketika Aku membuka pintu tersebut, hal pertama yang di tangkap oleh mataku adalah gadis bersurai silver dengan sedikit helaian putih disana.
'... Rambutnya senada dengan rembulan.'
Aku melihatnya sedang melakukan sesuatu.. Mengobati dirinya? Lantas Aku berjalan mendekat secara perlahan, dan sepertinya dia juga tidak sadar akan kehadiran ku disini.
"Enna?" Aku memanggil nama panggilannya kala berjalan mendekatinya. Dapat kulihat dia sedikit tersentak, lalu menoleh ke arah ku dengan tatapan datar nya.
"... Rayn? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya gadisi itu sambil memundurkan tangannya, sepertinya sedang menyembunyikan nya?
Aku mengangkat kedua bahuku, jujur saja Aku disini tidak lebih dari menuruti rasa penasaran ku. Kemudian Aku memilih duduk di sampingnya yang sedang berada di salah satu kursi panjang.
"Aku belum mengantuk, jadi Aku sedang berjalan-jalan mengelilingi markas."
"Lalu kenapa kamu menyasar kesini?"
"Entahlah, anggap saja Aku ingin melihat-lihat suasana ruang kesehatan." Ucapku sambil terkekeh pelan. Lebih tepatnya memang itu tujuanku kemari.
Secara tidak sengaja, manik ku menangkap sesuatu. Tangannya, tangan yang sedang berusaha Ia sembunyikan agar tidak Aku lihat. Kurasa itu terluka, jadi Aku hanya tersenyum dan meraih tangannya—tentu dengan sebuah kain kecil sebagai batasan.
"Kamu terluka? Kenapa tidak ikut di obati oleh doket Kai saat sore hari tadi?"
Sienna kelihatannya enggan menjawab, tapi setelah beberapa saat, akhirnya Ia kembali mengeluarkan suara. "Tadi Aku langsung pergi ke kamar.. Kupikir ini hanya luka kecil.." Dia menggantungkan kalimatnya, lantas Aku memilih menerka nya.
"Dan Kamu berpikir bahwa Kamu bisa mengobatinya sendiri, yang padahal adalah luka besar?" Terka ku dan mendapat anggukan kecil dari Sienna.
Aku terdiam sejenak kemudian mengambil perban yang ada di tangannya, dan mulai melilitkan perban bersih itu pada tangannya yang terluka. Membiarkan pandangannya yang entah tertuju kemana.
Setelah selesai, Aku melepaskan tangannya dan menatap wajahnya dengan senyuman tipis.
"Tidak semua hal bisa Kau lakukan sendiri. Bila masih ada orang yang bisa kau minta tolong padanya, jangan sungkan untuk meminta pertolongan nya."
Setelah mendengar itu, dia diam sebentar, lalu bersuara, "Terimakasih, Rayn. Kamu pandai melilit perban nya dengan rapi."
"Terimakasih kembali." Ucapku dengan kekehan kecil.
Dan malam itu berakhir dengan kami yang berbicara lebih banyak dan kembali ke kamar asrama masing masing.