03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
--|🪶
Sebuah portal berwarna ungu gelap muncul tepat di depan gedung markas DianXy yang besar. Semilir angin berembus mengantarkan sejuk dan nyaman. Dari balik portal muncul satu-persatu para murid.
Beberapa keluar dengan luka luka yang parah, bahkan hingga dibopong dengan susah payah. Terlihat sosok Ketua yang sedang berdiri menatapi para murid. Naretta membungkuk untuk memberikan salam sapaan, begitu juga dengan murid-murid yang lain.
“Selamat malam, Ketua.”
"Malam," jawab sang Ketua pelan.
Naretta ikut menatap ke arah yang juga dilihat oleh Ketua. Disana terdapat beberapa sosok yang berjalan mendekati Ketua. Terlihat bahwa dua diantaranya membantu menuntun sang dokter yang tak bisa melihat.
"Dari pakaiannya, sepertinya dokter ya?" gumam pelan Naretta pada dirinya.
Naretta menoleh, menatap para murid yang terluka parah dan dibantu oleh para mentor. Semua mulai berjalan menuju ruang kesehatan.
"Waktunya menuju ruang kesehatan." Naretta berjalan sedikit sempoyongan sambil memegangi lukanya.
Sesekali melihat dan menghindari jalan karena ada beberapa mentor yang sedang membawa murid yang terluka parah dengan menggunakan tandu.
"Ku harap dokter disini dapat menyembuhkan mereka," ucap Naretta sambil menatap salah satu murid yang sedang ditandu oleh dua orang mentor menuju ruang kesehatan.
Akhirnya Naretta tiba di sebuah ruangan kesehatan yang amat besar. Sebelum mulai duduk di salah satu tempat duduk yang ada di sana, Naretta menatap furniture dominan berwarna putih cerah yang ada di sekelilingnya.
Naretta melihat murid lain yang terluka parah sudah dibaringkan di kasur yang tersedia, sesekali memastikan bahwa semua sudah ada di ruang kesehatan.
Sembari menunggu untuk diobati satu-persatu. Dokter dan perawat bersiap dengan obat-obatan mereka.
"Berarti benar, mereka adalah Dokter dan perawat di sini," tutur pelan sang gadis saat ketiga nya menghadap Ketua di depan gedung sesaat setelah keluar dari portal.
Naretta terkagum saat melihat dokter dan perawat yang mulai menyembuhkan kan merawat murid-murid yang terluka parah.
Lalu, Naretta melihat salah satunya dan mulai berjalan perlahan menghampiri nya.
"Anu ... Apa saya boleh meminta perawatan juga?"
"Iya, ayo ke sini." ajak sang perawat untuk mendekat sambil tersenyum. Namanya adalah Ayunda, salah satu tenaga kesehatan yang ada di DianXy.
Naretta mengangguk lalu duduk di kursi sebelah sang perawat itu berada.
"Baik. Itu anu lengan saya sakit sih, tapi tidak disuntik kan?" cetus Naretta sambil tertawa canggung, sepertinya sebuah suntikan merupakan hal yang mengerikan dibanding saat bertarung dengan monster.
"Tidak, itu hanya alternatif lain. Kalau kamu mau di suntik aku bisa memberikannya padamu," sahut Perawat itu sambil tersenyum.
"T-tidak! Tolong apapun asal tidak sebuah suntikan." Dengan cepat Naretta menggeleng.
"Baiklah, aku mengerti."
Perawat itu kemudian mengarahkan telapak tangan ke arah tangan Naretta dan membaca mantra.
"Bagaimana? Apakah masih sakit?" ucap perawat itu setelahnya.
Naretta terkagum dengan cara perawat menyembuhkan nya, lalu menggerakan tangannya lagi.
"Oh! Sudah sembuh! Wah, hebat, terimakasih banyak!"
Naretta kegirangan, kemudian menatap sang perawat dengan senyuman yang lebar lalu menundukkan tubuh nya sedikit untuk berterima kasih.
Ayunda terkekeh pelan.
"Kalau masih ada yang sakit, tolong katakan ya?"
Naretta pun mengangguk, dan berterima kasih sekali lagi karena berkatnya semua luka-luka yang ada pada tubuh Naretta sembuh seluruhnya.
Setelah dirasa tubuh sudah jauh lebih membaik berkat penyembuhan dari dokter dan perawat, Naretta kembali ke asramanya untuk beristirahat namun sebelum itu dia membersih dirinya kemudian merebahkan tubuhnya di kasur yang nyaman.
"Ini baru yang namanya hidup," celetuk Naretta saat sudah merebahkan diri di kasurnya sambil menatap langit-langit kamar sambil sedikit termenung.
Suasana kamar yang gelap, tampak begitu mewah ketika ada ilustrasi langit malam penuh bintang di langit-langit kamar.
"Ini adalah hari yang berat." Naretta menghela napas nya. Meski begitu, Naretta bersyukur karena masih diizinkan hidup. Bahkan masih bisa menikmati kasur yang nyaman.
"Di tempat ini, aku tidak kelaparan, tidak perlu membayar segala yang aku terima. Lalu, disini juga semua setara dan banyak yang membimbing ku," lirih Naretta saat sedang termenung.
Naretta mengubah posisi tubuhnya menghadap ke arah kiri dan kanan hingga akhirnya kembali menatap langit-langit kamar.
"Kenapa aku mengeluh?" gumamnya.
"Walau latihan yang diberikan membuat ku hampir tersedot keluar, tapi disini ada dokter yang akan merawat ku, ada teman-teman yang sama-sama berjuang bersama, ada mentor, ketua juga,"
"Tempat ini lebih baik dibanding tempat ku sebelumnya. Aku harus semangat dan bertahan hidup disini. Lalu bisa menjadi seseorang yang dapat menyelamatkan diriku dan juga orang lain," sambung sang gadis sambil masih menatal langit-langit kamar.
Tiba-tiba, terdengar bunyi pesan masuk pada jam tangannya. Naretta pun segera meraih benda itu dan melihat sebuah pesan masuk yang berasal dari sang Ketua.
“Selamat malam, apa kalian semua sudah baikan?”
Sosok Rhino tampil di hologram. Namun, itu hanya sekadar rekaman video.
“Istirahatlah dan bangun esok hari. Saya menantikan kehadiran kalian semua. Mungkin kalian sudah sering mendengar ini, tetapi biar saya ucapkan sekali lagi.”
“Selamat datang, saya harap kalian terus berada di DianXy hingga hari kelulusan kalian.”
Pip!
Video
message is over
Setelah pesan video itu berakhir Naretta menyimpan kembali jam tangannya, lalu kembali berbaring sambil tersenyum.
"Iya, aku tidak boleh mengeluh. Ada yang harus aku perjuangkan dan aku lakukan. Semangat!" ucapnya sambil menyemangati dirinya. Tak lama kemudian sang gadis pun terlelap ke dalam alam mimpi dan bersiap untuk menyongsong esok hari dengan tubuh pulihnya.
--|🧩