Isi Cerita
Naretta Ohiro

--|🪶

 

Setelah izin diberikan, seluruh siswa mulai berhamburan keluar dari aula besar itu untuk memulai kegiatan mereka masing-masing, yaitu berkeliling untuk menghapal dan mengetahui seluruh sudut yang ada di DianXy ini.

Temasuk salah satu murid bersurai hijau ini, yaitu Naretta Ohiro. Ah, panggil saja dia Retta.

Dia mencoba menjelajahi tempat dimana dia berpijak kali ini. Beruntungnya, setiap murid diberikan sebuah chip yang dapat membantu memberikan informasi.

"Unik.." gumam nya perlahan tepat setelah mendapat chip itu.

Tanpa membuang-buang waktu dia—Retta — memulai langkahnya untuk mengelilingi seluruh tempat yang ada disini.

Retta menatap chip itu, sedikit kebingungan di awal, karena dia masih belum mengetahui bagaimana cara mengoperasikan alat itu. Setelah beberapa saat dia mengotak-atik nya, akhirnya dia mengetahui cara kerja nya.

"Kerennya.." kagumnya pada alat—chip—itu.

Kekagumannya tidak berhenti disitu saja. Setelah dia memutuskan untuk pergi ke tempat tujuan pertamanya, dia terkagum-kagum lagi.

Retta berjalan mengikuti arahan yang ditunjukkan pada hologram berupa sebuah map yang muncul dari chip itu. Dia menyusuri lorong-lorong dan tiba di lorong asrama. Rupanya dia pergi untuk melihat bagaimana asramanya.

"Wah."

Terdapat banyak kamar di sana, dan dia berharap, dengan berada di asrama itu dia akan semakin akrab dengan yang lainnya.

"Aku jadi tak sabar nantinya."

Dia kemudian kembali melihat chip, untuk melihat lokasi lainnya yang menarik atensinya. Dan atensi nya teralihkan setelah membaca sebuah lokasi,

yaitu Laboratorium.

Ya, rasa penasaran nya menyeruak. Dia kemudian melanjutkan perjalanannya menuju laboratorium, karena penasaran apa yang ada di dalamnya.

Dia menyusuri lorong demi lorong dan akhirnya sampai. Yah, dia tidak berani masuk, dia hanya melihat nya dari jendela yang ada di sana. Aneh memang, tapi dia hanya penasaran bagaimana bentuk dan isi nya, bukan ingin menjelajahi bagian dalamnya.

Setelah dikira cukup puas melihat dia kemudian beranjak pergi menyusuri lorong lagi untuk pergi menuju perpustakaan.

"Setelah dipikir-pikir, lorong ini luas sekali!" kagumnya terhadap setiap lorong yang sudah dan sedang dia lewati.

Bohong kalau dia tidak menikmati perjalan berkeliling nya ini. Karena, sejak tadi dia tidak berhenti terkagum dengan teknologi tempat ini. Banyak juga pertanyaan muncul dalam benaknya, seperti,

Bagaimana caranya membuat tempat seluas ini. Atau,

Bagaimana bisa lampu sebanyak ini tidak menyilaukan mata.

Oh jangan lupakan pertanyaan aneh nya tiba-tiba, yaitu: Bagaimana mereka membayar tagihan listriknya?

Random memang.

Dia masih berjalan-jalan di lorong, dan merasa bahwa dirinya hanya berputar-putar saja. Pada akhirnya semangatnya yang tadi membara kini menipis karena kelelahan. Hal itu memicu sang rubah kecil muncul.

"Tempat ini sepertinya memiliki desain yang sama," keluhnya.

"Bukan desain yang sama, tapi memang sama! Karena kau sejak tadi hanya berputar-putar, itu membuat kepalaku pusing hanya dengan melihatnya."

Sang rubah kecil akhirnya menunjukan wujud nya setelah sekian lama Retta berada di tempat ini. Oh, nama sang rubah itu adalah Luks. Roh yang mendapat wujud hewan berkat kekuatan Retta. Kita kesampingkan hal itu dan kembali ke tujuan utama hari ini.

"Apa iya? Uh, tidak mungkin."

"Iya! Kau ini, sebenarnya ingin pergi kemana lagi?"

Sejenak dia berpikir, "Oh sebelumnya aku ingin menuju perpustakaan! Tapi tidak sampai juga, dan malah masih berada di lorong ini."

Luks menghela napas nya pelan, "Kau ini, tadi atasan mu sudah memberi alat keren tadi kenapa tidak digunakan?"

Atasan. Ya, Luks menyebut kapten, komandan, dan para mentor Retta dengan sebutan atasan, hanya karena ingin.

"Oh benar juga ya, kan ada chip!"

Luks tersenyum dengan keterpaksaan, dia lelah. Sungguh.

"Kau ini."

Dan Retta hanya terkekeh pelan menanggapinya, "Baiklah, ayo menuju perpustakaan!"

Mereka—Retta dan juga Luks yang tiba-tiba mengikuti acara berkeliling ini— menuju ke perpustakaan. Sesampainya di sana, mereka berdua kembali terkagum.

"Woah, besar dan keren. Aku jadi merindukan perpustakaan istana.." ucapnya secara perlahan dipenghujung perkataan nya.

Luks hanya menatap nya, tahu apa yang dia sebutkan, namun Luks memilih untuk berdiam saja. Luks kemudian mendahului Retta untuk masuk ke dalam perpustakaan itu.

"Ayo melihat-lihat."

Mendengar itu Retta mengangguk dan mengikuti Luks untuk menjelajahi bagian dalam perpustakaan itu. Kekaguman terus menerus terlontar dari mulutnya. Hingga dirasa puas, Retta pun kembali melihat chip dan mencoba mencari tempat lain yang ingin dia kunjungi lagi.

"Kemana lagi kita?"

Luks jadi bersemangat, dan Retta terkekeh menanggapinya.

"Hm, bagaimana jika ke ruang latihan, kemudian ruang kesehatan dan terakhir penjara--"

"Tunggu, disini ada penjara?" ucap Luks memotong perkataan Retta.

"Ah iya, disini tertera begitu, sebelumnya aku pun terkejut, tapi ini wajar saja bukan?"

"Kau benar, baiklah, itu ide bagus. Setelah selesai mengunjungi ketiga tempat yang kau sebut tadi, kemana kita? Menyelesaikan ini dan beristirahat, kah?"

Retta mengangguk, dan Luks paham. Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya kembali menyusuri lorong demi lorong untuk sampai ke ruang latihan.

Mereka terkagum, betapa luasnya ruang latihan ini. Luks penasaran, dia merubah ukuran wujudnya ke ukuran wujud aslinya dan mulai melompat lompat di tengah ruang latihan ini. Seolah-olah sedang melatih kekuatan otot kakinya untuk melompat.

"Kau sedang apa?"

"Mencoba tanah di tempat ini, apakah dia kuat menahan lompatan ku atau tidak."

Retta hanya menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan ke pinggir untuk duduk dan mengistirahatkan kakinya.

Setelah dirasa puas Luks kembali ke wujud kecilnya dan menghampiri Retta yang sedang terduduk di pinggir lapangan dengan terbang ke arahnya.

"Sudah puas?"

"Hehe. Iya, ayo, apa kau lelah Retta?"

Retta menggeleng, "Tidak, kebetulan tenagaku sudah kembali, ayo lanjutkan perjalan kita."

Retta kemudian berdiri dan mereka beranjak pergi menuju ruang kesehatan. Mereka melihat-lihat ruang kesehatan sembari berjalan untuk menuju ke lokasi selanjutnya yaitu penjara.

"Ruangan yang keren," kagum Retta. Lagi.

Kali ini Luks yang mengangguk-anggukkan kepala nya saja.

Mereka kemudian kembali ke lorong-lorong tadi untuk menuju ke arah penjara, mengikuti instruksi dari chip yang ada, karena mereka—ah tidak, maksudnya Luks— belajar dari kesalahan Retta sebelumnya. Kenapa Luks? Karena Luks lah yang selalu membantu Retta. Luks juga selalu mengingatkan Retta untuk melihat dengan benar arah yang tertera pada hologram dari chip itu agar tidak terjadi hal seperti sebelumnya.

Akhirnya mereka sampai di persinggahan terakhirnya, yaitu penjara. Mereka kembali terkagum, sepertinya tidak bisa untuk tidak terkagum di tempat ini.

"Penjara ini benar-benar memiliki teknologi yang luar biasa, ah tidak tapi seluruh tempat yang ada disini benar-benar keren, Retta!"

"Kau benar, aku baru melihat langsung yang seperti ini. Biasanya aku membaca tentang teknologi yang maju, di buku perpustakaan istana saja atau mendengar cerita dari kakak."

Luks paham maksudnya, karena dia juga mengetahui hal yang sama seperti Retta, itu sebabnya keduanya sangat antusias dan terkagum-kagum setiap mendatangi tempat yang ada di DianXy ini.

"Keren/Luar biasa/Menakjubkan."

Tiga–ah maksud nya 4 kata itu sering mereka ucapkan setiap perjalan berkeliling mereka. Dan setelah mereka melihat penjara, mereka kemudian berjalan lagi menelusuri lorong untuk kembali ke tempat semula. Mereka kelelahan, tapi mereka menikmatinya.

Berakhir lah kegiatan berkeliling mereka—Retta— ini disini. Dengan wajah berseri-seri, mengingat buah dari kebaikan selalu berbuah baik, dan Retta selalu menerapkannya. Lalu sampailah dia disini, bahkan dia bisa melihat teknologi yang luar biasa ini berkat itu.

Luks berharap semoga Retta tidak melupakan jalan yang mereka lewati sebelumnya tanpa perlu melihat chip lagi nanti. Karena bagaimana pun kehidupan Retta kali ini akan berjalan dan dimulai lagi di tempat ini.

 

 

--|Fin