Isi Cerita
Alice

Portal muncul tepat didepan gedung markas dengan langit malam menghiasi. Embusan angin semilir mengantarkan sejuk yang nyaman. Tatkala mata melirik kembali, muncul satu-persatu murid yang keluar dari portal. Beberapa dari mereka terluka parah, bahkan ada yang dibopong dengan susah payah. Beberapa murid dapat melihat sosok Ketua mereka yang berdiri menatapi mereka. Meski dalam keadaan seluruh tubuh yang sakit, mereka masih sempat membungkuk untuk memberikan salam sapaan.

“Selamat malam, Ketua.”

“Malam,” jawab Rhino pelan.

Setelah menyapa, para murid mencari tempat untuk merebahkan atau hanya sekedar duduk agar merilekskan tubuh mereka.

"Lemas, lesu, lapar," lirih gadis bersurai emas itu sambil memegang perutnya.

"Pelan-pelan semua! Tunggu sebentar, akan aku ambilkan tandu." Setelah mengatakan itu Mentor Saaochi langsung masuk kedalam markas untuk mengambil tandu. Tidak butuh waktu lama, Mentor spy itu kembali dengan tandu ditangannya.

Gadis bersurai emas itu mengangkat kepalanya yang semula tertunduk menatap kedatangan Mentor Saaochi dan inisiatif mendekati Mentor tersebut.

"Perlu dibantu, Mentor?" tanya Alice memiringkan kepala.

"Boleh. Kamu masih kuat? atau ada yang terluka?" jawab dan tanya Mentor Saaochi kepada Alice.

"Masih kuat Mentor, hanya luka ringan saja, tidak apa-apa," jawab Alice mengangguk, Alice melepas pita dikepalanya mengabungkan dengan kain yang ditemukan gadis itu dan mengikat bot dibelakang punggungnya. 

"Kuat tidak, Alice?" tanya Shou dengan wajah khawatir.

"Kuat Shou," sahut Alice menyelesaikan ikatan bot. "Shou sendiri bagaimana? apa tangannya sudah sembuh? atau masih nyeri?" lanjut Alice menatap Shou dengan wajah khawatir.

"Sudah mendingan, kok" jawab Shou sambil mengerjakan lengannya dan terdengar tulang yang tergeser. Alice menrintih saat mendengarnya lalu berkata, "Sepertinya tanganmu patah, Shou. Ayo, Alice angkat."

Shou menggeleng menolak tawaran Alice, "Tidak deh Alice, aku masih bisa berjalan seperti biasanya, lagipula Shou mau bantu sedikit orang."

Alice mengangguk sebagai jawaban setuju lalu melambaikan tangan kearah Shou dan berlari menuju Mentor Saaochi yang sudah didepan.

"Istirahat saja jika tidak kuat, ya," ucap Mentor Saaochi dengan lembut. "Baik Mentor. Siapa yang sakit?" jawab dan tanya Alice bingung.

"Yang pingsan dulu yang diutamakan," jelas Mentor Saaochi membawa tandu menuju Adolf yang tergeletak pingsan.

Alice mengangguk paham dan mengikuti Mentor Saaochi dibelakang.

Setelah Mentor Saaochi dan Mentor Luisa membawa Ardolf ke ranjang rawat dan Mentor Saaochi kembali untuk menolong murid pingsan yang lainnya.

"Alice angkat, ya, Kak Saa," tawar Alice mengangkat tandu untuk dibawa ke ranjang rawat.

"Uwoaah, ayo! jika tidak kuat katakan saja, ya," ucap Mentor Saaochi dengan semangat.

"Baik, Kak. Ninuninu tandu mau lewat," jawab Alice lalu menirukan suara ambulance sambil membawa tandu menuju ke ranjang rawat di UKS. "Awas numpang lewat," ucap Mentor Saaochi.

"Okey, sisanya serahkan ke Perawat dan Dokter Kai," jelas Mentor Saaochi setelah membawa murid yang pingsan ke UKS. "Syiap kak, mari menolong yang lain," jawab dan ajak Alice dengan semangat.

❃.✮:▹ ◃:✮.❃

Setelah semua murid yang terluka dan pingsan dibawa ke ruang rawat. Ruang putih yang luas dan berbau obat-obatan itu penuh dengan murid dengan berbagai luka yang menunggu dokter untuk mengobati.

Alice yang berada di ranjang rawat hanya memperhatikan 2 perawat yang sedang mengobati para murid.

"Disuntik tidak, ya?" gumam Alice dengan suara kecil sambil menundukkan kepala.

"Jika parah pasti disuntik, mau?" kata Perawat Millie sambil mengeluarkan peralatan kesehatan.

"Ih, ngeri, tidak deh tidak, tapi boleh tidur saja?"

"Baring saja, nanti Ayunda sembuhin tidak pakai suntik," jawab Perawat Millie.

"Tergantung, jika mau disuntik bisa disuntik," tambah Perawat Ayunda sambil tersenyum.

"Ah, syukurlah." Alice menghela napas saat mendengar jawaban kedua perawat tersebut dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di ranjang rawat setelah mendapatkan perawatan.

Keributan kecil di ruang rawat tidak menganggu istirahat gadis itu.

Satu-persatu murid mendapatkan perawatan dari dokter dan perawat, mulai dari luka terbentur hingga luka dalam mampu disembuhkan oleh dokter dan juga perawat.

❃.✮:▹ ◃:✮.❃

 

Seluruh siswa telah kembali ke asramanya masing-masing. Dan mereka akhirnya bisa beristirahat di kasur mereka yang nyaman. Meski sudah larut malam, beberapa dari mereka masih termenung menatap langit-langit kamar.

Alice menatap langit kamar yang gelap namun terlihat mewah dengan taburan bintang dilangit-langit kamar. Hari ini menjadi pengalaman yang luar biasa dan juga berat, setelah bertarung dengan hologram sampai bertarung di dugeon.

"Haruskah aku menyerah?" tanya Alice pada bola robot yang sedang mengisi daya.

Pandangannya beralih menatap sebuah foto dua anak kecil yang mirip tetapi disalah satu wajah anak kecil tersebut terdapat lubang.

"Tapi, jika aku menyerah... adakah tempat untukku kembali, kak?" tanya Alice sekali lagi pada foto yang berada dinakasnya.

"Kenapa aku harus mengeluh," tanya Alice terbangun dari tempat tidur.

Terdengar bunyi pesan masuk dari jam tangan. Dan melihat pesan masuk yang tak lain berasal dari sang Ketua.

“Selamat malam, apa kalian semua sudah baikan?”

Sosok Rhino tampil di hologram mereka. Namun, itu hanya sekadar rekaman video.

“Istirahatlah dan bangun esok hari. Saya menantikan kehadiran kalian semua. Mungkin kalian sudah sering mendengar ini, tetapi biar saya ucapkan sekali lagi.”

“Selamat datang, saya harap kalian terus berada di DianXy hingga hari kelulusan kalian.”

Alice tersenyum setelah mendengar rekaman vidio dan dia akan berusaha bertahan sampai kelulusan dengan para teman-teman seperjuangan, mentor, ketua yang ada disini.