Isi Cerita
Maula Syndulla

ARC 01 YEAR 03

Chapter 01 : New Leader

 

Seribu tahun telah berlalu. Ketika hologram peninggalan pahlawan mulai memudar dan begitu banyak planet yang mulai diserang maupun dijajah oleh berbagai alien jahat. Dari situ dimulai banyaknya rumor – rumor bahwa DianXy telah bangkit kembali yang dipimpin oleh seorang pemimpin baru bernama Rhino La Cheiros sebagai Laksamana atau Admiral dengan Komandan atau Commander Maula.

Keduanya sama – sama bertemu ketika Rhino tidak sengaja datang ke planet Maula atau bisa dikatakan tidak sengaja terdampar karena planet Rhino sebelumnya diserang oleh alien jahat. Tinggal bersama selama 2 tahun sampai planet Maula pun ikut diserang oleh alien yang jahat.

Dengan berat hati, Maula melarikan diri bersama Rhino. Meninggalkan tempat kesayangan Maula. Pergi menuju planet Maula yang dimana dulunya tempat DianXy berada. Dengan kekuatan milik Rhino, disanalah planet Mursa serta markas DianXy bangkit kembali. Membentuk kelompok baru yang dipimpin olehnya sehingga berhasil membuat banyak orang – orang dari berbagai macam planet ikut bergabung ke DianXy untuk menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkan DianXy.

Setelah hari itu, hari baru dimulai dengan sang fajar mulai memperlihatkan cahayanya. Cahaya dari sebuah bintang yang paling terang menerangi planet Mursa. Memberikan tanda bahwa pagi yang baru telah tiba dan sudah saatnya menjalani kehidupan kembali seperti biasa.

Hari ini juga sudah waktunya setiap anggota baru untuk berkumpul di aula untuk mendengarkan arahan dari sang pemimpin baru. Disaat ini juga Maula seperti biasa bangun pagi untuk bersiap – siap. Dari mandi sampai berpakaian rapi dia lakukan, tidak lupa untuk mengikat rambut merahnya.

Setelah itu, dia keluar dari kamarnya dan berjalan ke kamar Rhino. Menggunakan ID Card miliknya untuk bisa masuk.

“Rhino…”

Terlihat Rhino masih tidur pulas diatas tempat tidur. Maula menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil. “Buka gorden…” Maula meminta alat teknologi atau disebut IoT untuk membuka gorden dengan sendirinya sehingga cahaya pagi menerpa Rhino.

“Rhino, sudah seharusnya kamu bangun pagi. Hari ini adalah hari dimana kita menemui para anggota baru.” Ujarnya sembari tersenyum kecil.

Suara erangan Rhino terdengar dan perlahan dia membuka kedua matanya. “Oke, aku akan bersiap – siap…”

“Kita bertemu kembali di aula ya.” Rhino menjawab dengan jawaban singkat Ya kepada Maula.

Maula sendiri berjalan keluar dari kamar Rhino dan pergi ke kamar milik Geist. Dia dulunya seorang penjahat yang terluka dan berhasil kabur dari kejaran. Bertemu dengan Maula dalam keadaan terluka, bukannya ditangkap tetapi luka – lukanya Maula obati. Dalam keadaan tertentu disaat Maula terkepung oleh musuh, Geist datang untuk menyalamatkannya sekaligus mengkhianati musuh yang dia kenal dan dari situlah Geist memutuskan untuk bergabung ke DianXy menjadi kapten pesawat angkasa dan berada di sisi Maula.

Maula masuk kedalam kamar tersebut tentunya menggunakan ID Card miliknya sendiri. Awalnya Maula berpikir kalau Geist masih tertidur tetapi ternyata dia sudah bangun dan sedang bersiap – siap. “Ah aku pikir kamu belum bangun, Geist.”

Geist menoleh kepada Maula dengan tatapan dingin seperti biasa. “Kau sendiri yang menyuruhku untuk bangun pagi karena… menemui anggota baru…”

Maula tersenyum kecil kepadanya, keduanya saling menatap. “Aku melakukan ini karena sudah aku bilang sebelumnya, bukan? Aku akan melakukan apapun untukmu… selagi itu baik – baik saja menurutku…”

“Yah kamu masih saja memegang janjimu itu tetapi terima kasih…” Geist tidak menjawab apapun selain menatapnya.

“Ayo, ke aula.” Ajak Maula mulai berjalan keluar dari kamar milik Geist, diikutilah oleh Geist dari belakang. Dari awal bertemu sampai sekarang, Geist seperti anak ayam yang terus mengikuti Maula.

Di Aula.

Lirikan Maula dari pintu aula dan jam digital terus bergantian karena sudah waktunya pintu aula dibuka tetapi Rhino masih belum kunjung datang. “Ya ampun… sudah jam segini.” Ucapnya.

“Ada apa, Komandan? Kenapa begitu resah?” tanya Saoochi yang berdiri di samping kanannya. Di samping kanan Saoochi pula ada Luisa yang mengintip pembicaraan. “Saaochi, kenapa kamu bertanya Kan sudah jelas Komandan begitu resah karena Laksamana masih belum datang ke aula.”

“Aku kan hanya bertanya saja.” Bisik Saoochi yang dibalas anggukan Luisa.

“Komandan! Komandan! Apa sudah boleh aku buka pintunya?!” Ujar Naren yang melompat – lompat antusias sambil melambaikan tangannya dan satu tangannya lagi membentuk toa. “Kelihatannya semua anggota sudah berjalan ke sini!”

Belum sempat Maula jawab, aroma mawar tercium. Terdapat kabut yang membentuk seseorang dan kini berdiri di samping kiri Maula. “Maaf Komandan.”

Maula melirik kepada Bastian. “Laksamana bilang duluan saja. Ia akan menyusul nanti.”

“Hm? Kenapa?” tanya Maula.

“Laksamana bilang dia masih sedang… menggosok gigi.” Jawab Bastian dengan ekspresinya yang datar.

Maula sendiri terkekeh kecil lalu tersenyum kecil sambil menepuk dahinya sendiri. “Ya ampun dia ini. Hehe. Baiklah kalau begitu, buka saja pintu aulanya.” Saoochi dan Luisa mengangguk.

“Buka pintunya, Naren!” balas Saoochi.

“Yey! Oke!!”

Dari situ Naren memberikan instruksi kepada setiap penjaga untuk membuka pintu aula. Ketika pintu tersebut terbuka menggunakan ID, pintu besar itu pun perlahan terbuka. Terlihatlah seluruh anggota yang tanpa banyak pikir itu ini melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam aula yang besar nan luas itu.

Setelah beberapa saat menunggu, Rhino dan Kaynel datang ke aula. Disaat itu juga Rhino menyampaikan pidato dan arahannya kepada seluruh anggota yang hadir di aula. Setelah acara berakhir, Rhino memberikan instruksi kepada pemimpin lain untuk memberikan tour kecil kepada anggota baru sekitaran markas DianXy.

Satu persatu anggota mulai berkeliling ke setiap sudut ruangan yang ada di markas DianXy. Maula sendiri memperhatikan mereka yang mulai berkeliling.

“Kak Maula…”

Maula menoleh kepada Rhino yang memanggilnya. “Anggota yang bergabung cukup banyak juga ya.”

Maula mengangguk sembari tersenyum kecil. “Yah, tidak aku sangka juga. Aku senang begitu banyak yang bergabung untuk menjadi pahlawan yang menyelamatkan galaksi.”

“Bagaimana menurut kak Maula?” lanjut Rhino.

“Apanya?”

“Apakah ada tempat atau planet yang kini sedang diserang?” tanya Rhino lagi.

Maula terdiam sebentar lalu menjawab. “Dari data yang aku dapatkan dari Bastian atau lainnya, ya. Beberapa. Meskipun terlihat bertambah tetapi tidak begitu cepat bertambahnya.”

Rhino mengangguk mengerti lalu menatap beberapa anggota yang kelihatannya masih kebingungan mau mengunjungi ruangan mana dulu. “Mungkin tidak ada salahnya jika kita mengirim anggota baru untuk menyelidikinya.”

Maula menatap kembali kepada Rhino. “Yah, setidaknya jika mereka sudah belajar berbagai hal dari DianXy atau kita semua.” Lanjut Rhino.

“Aku pun setuju.” Jawab Maula. “Meskipun mereka baru bergabung, dengan adanya pengalaman sudah pasti itu akan membuat menjadi kuat dalam menghadapi keadaan.” Lanjutnya.

Rhino mengangguk tersenyum kecil. “Kalau begitu aku permisi dulu, Rhino. Jika butuh apapun, panggil saja aku.” Ucap Maula sambil menatap jadwal yang dia buat di jam digitalnya.

“Seperti biasa kak Maula membuat jadwal dengan struktur.” Komentar Rhino sambil tersenyum kecil.

“Yah, kamu tahu aku.” Kekeh Maula.

Lalu lirikan Rhino tertuju kepada Geist yang berdiri bersandar di tembok. “Dan kelihatannya kak Geist sendiri akan mengikutimu hari ini. Lagi.”

“Hehe, yah itu keinginannya. Kelakukannya tidak jauh berbeda dengan Priet yang akan mengikuti perintahmu.” Jawab Maula.

“Dan itu cukup membantu.”

“Memang benar.” Kekeh Maula yang kemudian pamit kepada Rhino untuk melanjutkan berkeliling markas DianXy terlebih dahulu untuk melihat setiap anggota apakah ada yang berkeliling atau tidak lalu melanjutkan tugasnya di hari ini. Tidak lupa diikuti oleh Geist dari belakang.

 

|| END OF CHAPTER 01 ||