03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
ARC 01 YEAR 03
Chapter 01 : New Leader
Seribu tahun telah berlalu. Ketika
hologram peninggalan pahlawan mulai memudar dan begitu banyak planet yang mulai
diserang maupun dijajah oleh berbagai alien jahat. Dari situ dimulai banyaknya
rumor – rumor bahwa DianXy telah bangkit kembali yang dipimpin oleh seorang
pemimpin baru bernama Rhino La Cheiros sebagai Laksamana atau Admiral dengan
Komandan atau Commander Maula.
Keduanya sama – sama bertemu ketika Rhino
tidak sengaja datang ke planet Maula atau bisa dikatakan tidak sengaja
terdampar karena planet Rhino sebelumnya diserang oleh alien jahat. Tinggal
bersama selama 2 tahun sampai planet Maula pun ikut diserang oleh alien yang
jahat.
Dengan berat hati, Maula melarikan diri
bersama Rhino. Meninggalkan tempat kesayangan Maula. Pergi menuju planet Maula
yang dimana dulunya tempat DianXy berada. Dengan kekuatan milik Rhino,
disanalah planet Mursa serta markas DianXy bangkit kembali. Membentuk kelompok
baru yang dipimpin olehnya sehingga berhasil membuat banyak orang – orang dari
berbagai macam planet ikut bergabung ke DianXy untuk menjadi seorang pahlawan
yang menyelamatkan DianXy.
Setelah hari itu, hari baru dimulai dengan
sang fajar mulai memperlihatkan cahayanya. Cahaya dari sebuah bintang yang
paling terang menerangi planet Mursa. Memberikan tanda bahwa pagi yang baru
telah tiba dan sudah saatnya menjalani kehidupan kembali seperti biasa.
Hari ini juga sudah waktunya setiap
anggota baru untuk berkumpul di aula untuk mendengarkan arahan dari sang
pemimpin baru. Disaat ini juga Maula seperti biasa bangun pagi untuk bersiap –
siap. Dari mandi sampai berpakaian rapi dia lakukan, tidak lupa untuk mengikat
rambut merahnya.
Setelah itu, dia keluar dari kamarnya dan
berjalan ke kamar Rhino. Menggunakan ID Card miliknya untuk bisa masuk.
“Rhino…”
Terlihat Rhino masih tidur pulas diatas
tempat tidur. Maula menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil. “Buka
gorden…” Maula meminta alat teknologi atau disebut IoT untuk membuka gorden
dengan sendirinya sehingga cahaya pagi menerpa Rhino.
“Rhino, sudah seharusnya kamu bangun pagi.
Hari ini adalah hari dimana kita menemui para anggota baru.” Ujarnya sembari
tersenyum kecil.
Suara erangan Rhino terdengar dan perlahan
dia membuka kedua matanya. “Oke, aku akan bersiap – siap…”
“Kita bertemu kembali di aula ya.” Rhino
menjawab dengan jawaban singkat Ya kepada Maula.
Maula sendiri berjalan keluar dari kamar
Rhino dan pergi ke kamar milik Geist. Dia dulunya seorang penjahat yang terluka
dan berhasil kabur dari kejaran. Bertemu dengan Maula dalam keadaan terluka,
bukannya ditangkap tetapi luka – lukanya Maula obati. Dalam keadaan tertentu
disaat Maula terkepung oleh musuh, Geist datang untuk menyalamatkannya
sekaligus mengkhianati musuh yang dia kenal dan dari situlah Geist memutuskan
untuk bergabung ke DianXy menjadi kapten pesawat angkasa dan berada di sisi
Maula.
Maula masuk kedalam kamar tersebut
tentunya menggunakan ID Card miliknya sendiri. Awalnya Maula berpikir kalau
Geist masih tertidur tetapi ternyata dia sudah bangun dan sedang bersiap –
siap. “Ah aku pikir kamu belum bangun, Geist.”
Geist menoleh kepada Maula dengan tatapan
dingin seperti biasa. “Kau sendiri yang menyuruhku untuk bangun pagi karena…
menemui anggota baru…”
Maula tersenyum kecil kepadanya, keduanya
saling menatap. “Aku melakukan ini karena sudah aku bilang sebelumnya, bukan?
Aku akan melakukan apapun untukmu… selagi itu baik – baik saja menurutku…”
“Yah kamu masih saja memegang janjimu itu
tetapi terima kasih…” Geist tidak menjawab apapun selain menatapnya.
“Ayo, ke aula.” Ajak Maula mulai berjalan
keluar dari kamar milik Geist, diikutilah oleh Geist dari belakang. Dari awal
bertemu sampai sekarang, Geist seperti anak ayam yang terus mengikuti Maula.
Di Aula.
Lirikan Maula dari pintu aula dan jam
digital terus bergantian karena sudah waktunya pintu aula dibuka tetapi Rhino
masih belum kunjung datang. “Ya ampun… sudah jam segini.” Ucapnya.
“Ada apa, Komandan? Kenapa begitu resah?”
tanya Saoochi yang berdiri di samping kanannya. Di samping kanan Saoochi pula
ada Luisa yang mengintip pembicaraan. “Saaochi, kenapa kamu bertanya Kan sudah
jelas Komandan begitu resah karena Laksamana masih belum datang ke aula.”
“Aku kan hanya bertanya saja.” Bisik
Saoochi yang dibalas anggukan Luisa.
“Komandan! Komandan! Apa sudah boleh aku
buka pintunya?!” Ujar Naren yang melompat – lompat antusias sambil melambaikan
tangannya dan satu tangannya lagi membentuk toa. “Kelihatannya semua anggota
sudah berjalan ke sini!”
Belum sempat Maula jawab, aroma mawar
tercium. Terdapat kabut yang membentuk seseorang dan kini berdiri di samping
kiri Maula. “Maaf Komandan.”
Maula melirik kepada Bastian. “Laksamana
bilang duluan saja. Ia akan menyusul nanti.”
“Hm? Kenapa?” tanya Maula.
“Laksamana bilang dia masih sedang…
menggosok gigi.” Jawab Bastian dengan ekspresinya yang datar.
Maula sendiri terkekeh kecil lalu
tersenyum kecil sambil menepuk dahinya sendiri. “Ya ampun dia ini. Hehe.
Baiklah kalau begitu, buka saja pintu aulanya.” Saoochi dan Luisa mengangguk.
“Buka pintunya, Naren!” balas Saoochi.
“Yey! Oke!!”
Dari situ Naren memberikan instruksi
kepada setiap penjaga untuk membuka pintu aula. Ketika pintu tersebut terbuka
menggunakan ID, pintu besar itu pun perlahan terbuka. Terlihatlah seluruh
anggota yang tanpa banyak pikir itu ini melangkahkan kakinya untuk masuk ke
dalam aula yang besar nan luas itu.
Setelah beberapa saat menunggu, Rhino dan
Kaynel datang ke aula. Disaat itu juga Rhino menyampaikan pidato dan arahannya
kepada seluruh anggota yang hadir di aula. Setelah acara berakhir, Rhino
memberikan instruksi kepada pemimpin lain untuk memberikan tour kecil kepada
anggota baru sekitaran markas DianXy.
Satu persatu anggota mulai berkeliling ke
setiap sudut ruangan yang ada di markas DianXy. Maula sendiri memperhatikan
mereka yang mulai berkeliling.
“Kak Maula…”
Maula menoleh kepada Rhino yang
memanggilnya. “Anggota yang bergabung cukup banyak juga ya.”
Maula mengangguk sembari tersenyum kecil.
“Yah, tidak aku sangka juga. Aku senang begitu banyak yang bergabung untuk
menjadi pahlawan yang menyelamatkan galaksi.”
“Bagaimana menurut kak Maula?” lanjut
Rhino.
“Apanya?”
“Apakah ada tempat atau planet yang kini
sedang diserang?” tanya Rhino lagi.
Maula terdiam sebentar lalu menjawab.
“Dari data yang aku dapatkan dari Bastian atau lainnya, ya. Beberapa. Meskipun
terlihat bertambah tetapi tidak begitu cepat bertambahnya.”
Rhino mengangguk mengerti lalu menatap
beberapa anggota yang kelihatannya masih kebingungan mau mengunjungi ruangan
mana dulu. “Mungkin tidak ada salahnya jika kita mengirim anggota baru untuk
menyelidikinya.”
Maula menatap kembali kepada Rhino. “Yah,
setidaknya jika mereka sudah belajar berbagai hal dari DianXy atau kita semua.”
Lanjut Rhino.
“Aku pun setuju.” Jawab Maula. “Meskipun
mereka baru bergabung, dengan adanya pengalaman sudah pasti itu akan membuat
menjadi kuat dalam menghadapi keadaan.” Lanjutnya.
Rhino mengangguk tersenyum kecil. “Kalau
begitu aku permisi dulu, Rhino. Jika butuh apapun, panggil saja aku.” Ucap
Maula sambil menatap jadwal yang dia buat di jam digitalnya.
“Seperti biasa kak Maula membuat jadwal
dengan struktur.” Komentar Rhino sambil tersenyum kecil.
“Yah, kamu tahu aku.” Kekeh Maula.
Lalu lirikan Rhino tertuju kepada Geist
yang berdiri bersandar di tembok. “Dan kelihatannya kak Geist sendiri akan
mengikutimu hari ini. Lagi.”
“Hehe, yah itu keinginannya. Kelakukannya
tidak jauh berbeda dengan Priet yang akan mengikuti perintahmu.” Jawab Maula.
“Dan itu cukup membantu.”
“Memang benar.” Kekeh Maula yang kemudian
pamit kepada Rhino untuk melanjutkan berkeliling markas DianXy terlebih dahulu
untuk melihat setiap anggota apakah ada yang berkeliling atau tidak lalu
melanjutkan tugasnya di hari ini. Tidak lupa diikuti oleh Geist dari belakang.
|| END OF CHAPTER 01 ||