Isi Cerita
Saaochi

Sesaat setelah keluar dari portal yang pertama dapat dilihat oleh Saaochi adalah hadirnya Komandan Maula dan juga Ketua Rhino di depan. Saaochi sempat tertegun sebentar, sesaat setelahnya sadar bahwa para murid membutuhkan bantuan. Ada lebih dari setengah yang mengalami luka berat bahkan hingga pingsan, selebihnya hanya luka ringan.

Saaochi berlari mengambil tandu yang telah pun disediakan di depan markas. Sebelumnya ia sempat memberi hormat pada atasannya. Tatkala setelah itu kedua tungkainya kembali ia bawa menuju para murid. Langkah sempat terhenti, maniknya bergulir ke kanan dan kiri, tiba-tiba ia bingung siapa yang harus dibawa masuk lebih dulu.

“Aduh, capek banget.”

Tatkala Luisa melaluinya, tangannya segera menahannya membuat Luisa terdorong ke belakang hingga hampir terjungkal.

“Akh, apa sih?!” bentak Luisa, melepaskan tangannya dari genggaman Saaochi. Lantas mengusap-usapnya sembari lemparkan tatapan maut. “Untung aku pake sarung tangan khususku, biar ga kena racunmu!”

Saaochi menyengir menanggapinya, tampak tidak merasa bersalah. “Jangan galak-galak. Mau kemana? Kamu ini, sebagai Mentor harusnya bantuin dong!”

Si empu mengangguk dengan wajah tidak bersalah. “Udah. Di dungeon.”

Saaochi menatapnya datar. ‘Padahal mukanya kayak orang bener.’

Setelah ditatap seperti itu selama beberapa detik, buat Luisa menyerah. Lantas helaan napas lelah keluar dari mulutnya. “Iya, iya. Yaudah.”

“Oke, ayo!” Saaochi maju lebih dulu, diikuti Luisa dari belakang yang berjalan linglung tidak karuan macam orang mabuk.

Kedua tungkai Saaochi mendekat pada Ardolf, yang kondisinya sudah tidak bisa dibilang baik-baik saja. Seolah dirinya sudah tidak sabar hendak menemui sang pencipta hingga menggunakan kekuatannya sampai batas akhir. Saaochi jadi geleng-geleng melihatnya.

“Ayok, angkut.”

Luisa mengernyit. “Gimana caranya? Kamu emang bisa ngangkat dia ke tandu?”

Saaochi terdiam beberapa saat. Merenung sembari membenarkan. Takutnya, bukannya jadi pertolongan malah jadi jalur cepat menuju pencipta gara-gara duri di tubuhnya.

“Sini Kak, biar Kirei bantu.”

Keduanya mendongak, mendapati seorang gadis yang matanya tampak sembab. Daripada itu, Saaochi lebih salfok pada bahunya yang berlubang.

“Yakin, nih? Bahu kamu kuat?”

Kirei hanya mengangguk pelan. “Biar Ardolf cepat ditangani.”

Saaochi dan Luisa angguk-angguk paham. Lalu Saaochi segera menyingkir, membiarkan mereka berdua mengangkatnya ke atas tandu.

“Makasih ya, Kirei. Kamu masuk aja duluan kalau masih bisa jalan. Dari sini, biar kami yang tangani,” ujar Saaochi, tersenyum tipis. Coba untuk menenangkan Kirei yang tampak masih terguncang. Sedang si gadis hanya jawab dengan anggukan belaka.

Setelah sepeninggalnya Kirei, Saaochi mengambil tempat di depan tandu dan menyuruh Luisa untuk ke belakang. “Hitungan ketiga angkat, ya!”

“Oke,” jawabnya sembari angguk-angguk singkat seperti mainan di dashboard mobil.

“Sip. Satu, dua—eh!”

Hampir saja Ardolf jatuh gara-gara Luisa sudah angkat duluan hitungan kedua. Beruntung Saaochi cepat tanggap dan ikut mengangkatnya meski agak telat beberapa detik. Saaochi berbalik tatap Luisa dengan datar. Sedangkan si empu, malah menyengir tak berdosa.

Lantas, tanpa banyak omong lagi mereka berdua segera membawa tandu yang dinaiki Ardolf. Menuju tempat tidur tidur troli. Mereka memindahkannya ke sana yang didorong oleh Kaynel juga Naren masuk ke dalam ruang rawatan.

Dan setelahnya, Luisa juga Saaochi kembali lagi untuk membantu. Memprioritaskan murid-murid yang pingsan, sedang yang terluka ditangani oleh Bastian. Bastian juga turut memindahkan dengan instan menggunakan kabutnya.

Setidaknya, butuh setengah jam hingga seluruhnya berhasil dipindahkan ke ruang rawatan.

“Wah, akhirnya.” Luisa menghela napas lega, berkacak pinggang. “Rasanya mau encok.”

“Ayok masuk,” ajak Saaochi. Namun, baru selangkah nama mereka sudah dipanggil oleh Bastian.

“Kalian juga ke ruang perawatan. Luka-luka gitu.”

“Malas ah, lapar. Mau ke kafetaria, sekalian minta tolong buat anterin makanan buat anak-anak,” sahut Saaochi, segera masuk tanpa menunggu Bastian dan Luisa yang malah mengobrol tidak jelas di depan.

Saaochi berjalan menelusuri koridor. Markas tengah malam seperti ini, biasanya selalu sepi, tapi baru kali ini suaranya agak ribut. Terutama jalan menuju ruang rawatan. Saaochi memang sengaja lewat sana, sekedar untuk melihat bagaimana dokter dan para perawat itu menangani murid-murid.

Dia agak penasaran, karena tidak pernah masuk ke sana. Saaochi selalunya  mengobati lukanya sendiri seperti yang biasa dia lakukan waktu kecil. Jadi, agak canggung kalau dirinya harus diobati, padahal lukanya tidak separah itu.

Tatkala sampai di ruang perawatan, Saaochi menengok ke dalam. Bisingnya luar biasa, padahal mereka sedang sakit, tapi masih punya tenaga untuk meributkan suasana. Dokter Kai sembari diarahkan oleh dua perawat yang kalau tidak salah namanya itu Ayunda dan Milie, menggunakan kekuatan mereka untuk menyembuhkan para murid.

Saaochi angguk-angguk sudah paham. Saat berbalik, dirinya dikejutkan dengan kehadiran Bastian yang tiba-tiba muncul.

“Kalo muncul tuh bilang-bilang napa?!”

“Ngapain? Katanya ga mau ke sini.” Bastian mengernyitkan keningnya, wajahnya tampak seolah mengejek bagi Saaochi.

“Kepo!” Bentak Saaochi

Saaochi segera beralih, pergi meninggalkan Bastian yang juga tidak menanggapi bentakannya. Tungkainya ia bawa menuju kafetaria yang tampak sepi. Namun, mendengar ada barang jatuh di dapur, membuat Saaochi yakin di dalam sana juga sedang ada kalang kabut yang tak terhindar.

“Halo, para Chef yang budiman. Minta rotinya ya, makasih!” teriak Saaochi, lantas segera beranjak. Tidak jadi meminta tolong untuk bawakan makanan. Tampaknya, Ketua sudah melakukan itu.

Dia sempat berpapasan dengan beberapa anak murid di ambang pintu. Saaochi sekedar tersenyum kecil untuk menyapa. Tiba-tiba suaranya jadi enggan keluar, rasa lelah tampak mendominasi tubuhnya sekarang.

Saaochi buka bungkus plastik roti itu. Lantas memakannya sembari berjalan menuju kamar. Wah, sebenarnya Saaochi mau memakai jalan pintas saja, tapi jarang-jarang dia bisa melihat markas ramai di tengah malam seperti ini. Jadi, Saaochi paksakan saja dirinya menyusuri koridor.

Setelah sekitar sepuluh menit, saat rotinya telah jatuh ke perut, dia akhirmya sampai di kamarnya sendiri. Lampu otomatis menyala tatkala penghuninya datang. Hal pertama yang dilakukannya mengambil air minum yang kebetulan memang dia hadirkan dalam kamarnya.

Setelah meneguk beberapa cairan bening itu, Saaochi bernapas lega. Dia mendudukkan tubuhnya ke kursi terdekat. Dia merogoh bawah meja, temukan kotak P3K yang ia letakkan di atasnya.

Lantas, demgan cekatan, dibalutnya luka pada lengan. Setelahnya, dia kembali letakkan peralatan itu ke bawah meja. Dirinya sempat termenung beberapa saat, memikirkan seharian ini yang bagai sudah berminggu-minggu.

Beberapa menit dalam hening, akhirnya ia tengkulupkan wajah di antara ke dua lengan di atas meja. Kepalanya mulai menampilkan list pekerjaan yang belum diselesaikan juga tugasnya esok hari. Tanpa sadar dirinya maah terlelap di sana tanpa sempat mengganti pakaian atau berbenah barang sedikit.

=••=