03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Sesaat setelah keluar dari portal yang pertama dapat
dilihat oleh Saaochi adalah hadirnya Komandan Maula dan juga Ketua Rhino di
depan. Saaochi sempat tertegun sebentar, sesaat setelahnya sadar bahwa para
murid membutuhkan bantuan. Ada lebih dari setengah yang mengalami luka berat
bahkan hingga pingsan, selebihnya hanya luka ringan.
Saaochi berlari mengambil tandu yang telah pun
disediakan di depan markas. Sebelumnya ia sempat memberi hormat pada atasannya.
Tatkala setelah itu kedua tungkainya kembali ia bawa menuju para murid. Langkah
sempat terhenti, maniknya bergulir ke kanan dan kiri, tiba-tiba ia bingung
siapa yang harus dibawa masuk lebih dulu.
“Aduh, capek banget.”
Tatkala Luisa melaluinya, tangannya segera menahannya
membuat Luisa terdorong ke belakang hingga hampir terjungkal.
“Akh, apa sih?!” bentak Luisa, melepaskan tangannya
dari genggaman Saaochi. Lantas mengusap-usapnya sembari lemparkan tatapan maut.
“Untung aku pake sarung tangan khususku, biar ga kena racunmu!”
Saaochi menyengir menanggapinya, tampak tidak merasa
bersalah. “Jangan galak-galak. Mau kemana? Kamu ini, sebagai Mentor harusnya
bantuin dong!”
Si empu mengangguk dengan wajah tidak bersalah. “Udah.
Di dungeon.”
Saaochi menatapnya datar. ‘Padahal mukanya kayak
orang bener.’
Setelah ditatap seperti itu selama beberapa detik,
buat Luisa menyerah. Lantas helaan napas lelah keluar dari mulutnya. “Iya, iya.
Yaudah.”
“Oke, ayo!” Saaochi maju lebih dulu, diikuti Luisa
dari belakang yang berjalan linglung tidak karuan macam orang mabuk.
Kedua tungkai Saaochi mendekat pada Ardolf, yang
kondisinya sudah tidak bisa dibilang baik-baik saja. Seolah dirinya sudah tidak
sabar hendak menemui sang pencipta hingga menggunakan kekuatannya sampai batas
akhir. Saaochi jadi geleng-geleng melihatnya.
“Ayok, angkut.”
Luisa mengernyit. “Gimana caranya? Kamu emang bisa
ngangkat dia ke tandu?”
Saaochi terdiam beberapa saat. Merenung sembari
membenarkan. Takutnya, bukannya jadi pertolongan malah jadi jalur cepat menuju
pencipta gara-gara duri di tubuhnya.
“Sini Kak, biar Kirei bantu.”
Keduanya mendongak, mendapati seorang gadis yang
matanya tampak sembab. Daripada itu, Saaochi lebih salfok pada bahunya yang
berlubang.
“Yakin, nih? Bahu kamu kuat?”
Kirei hanya mengangguk pelan. “Biar Ardolf cepat
ditangani.”
Saaochi dan Luisa angguk-angguk paham. Lalu Saaochi
segera menyingkir, membiarkan mereka berdua mengangkatnya ke atas tandu.
“Makasih ya, Kirei. Kamu masuk aja duluan kalau masih
bisa jalan. Dari sini, biar kami yang tangani,” ujar Saaochi, tersenyum tipis.
Coba untuk menenangkan Kirei yang tampak masih terguncang. Sedang si gadis
hanya jawab dengan anggukan belaka.
Setelah sepeninggalnya Kirei, Saaochi mengambil tempat
di depan tandu dan menyuruh Luisa untuk ke belakang. “Hitungan ketiga angkat,
ya!”
“Oke,” jawabnya sembari angguk-angguk singkat seperti
mainan di dashboard mobil.
“Sip. Satu, dua—eh!”
Hampir saja Ardolf jatuh gara-gara Luisa sudah angkat
duluan hitungan kedua. Beruntung Saaochi cepat tanggap dan ikut mengangkatnya
meski agak telat beberapa detik. Saaochi berbalik tatap Luisa dengan datar.
Sedangkan si empu, malah menyengir tak berdosa.
Lantas, tanpa banyak omong lagi mereka berdua segera
membawa tandu yang dinaiki Ardolf. Menuju tempat tidur tidur troli. Mereka
memindahkannya ke sana yang didorong oleh Kaynel juga Naren masuk ke dalam
ruang rawatan.
Dan setelahnya, Luisa juga Saaochi kembali lagi untuk
membantu. Memprioritaskan murid-murid yang pingsan, sedang yang terluka
ditangani oleh Bastian. Bastian juga turut memindahkan dengan instan
menggunakan kabutnya.
Setidaknya, butuh setengah jam hingga seluruhnya
berhasil dipindahkan ke ruang rawatan.
“Wah, akhirnya.” Luisa menghela napas lega, berkacak
pinggang. “Rasanya mau encok.”
“Ayok masuk,” ajak Saaochi. Namun, baru selangkah nama
mereka sudah dipanggil oleh Bastian.
“Kalian juga ke ruang perawatan. Luka-luka gitu.”
“Malas ah, lapar. Mau ke kafetaria, sekalian minta
tolong buat anterin makanan buat anak-anak,” sahut Saaochi, segera masuk tanpa
menunggu Bastian dan Luisa yang malah mengobrol tidak jelas di depan.
Saaochi berjalan menelusuri koridor. Markas tengah
malam seperti ini, biasanya selalu sepi, tapi baru kali ini suaranya agak
ribut. Terutama jalan menuju ruang rawatan. Saaochi memang sengaja lewat sana,
sekedar untuk melihat bagaimana dokter dan para perawat itu menangani
murid-murid.
Dia agak penasaran, karena tidak pernah masuk ke sana.
Saaochi selalunya mengobati lukanya
sendiri seperti yang biasa dia lakukan waktu kecil. Jadi, agak canggung kalau
dirinya harus diobati, padahal lukanya tidak separah itu.
Tatkala sampai di ruang perawatan, Saaochi menengok ke
dalam. Bisingnya luar biasa, padahal mereka sedang sakit, tapi masih punya
tenaga untuk meributkan suasana. Dokter Kai sembari diarahkan oleh dua perawat
yang kalau tidak salah namanya itu Ayunda dan Milie, menggunakan kekuatan
mereka untuk menyembuhkan para murid.
Saaochi angguk-angguk sudah paham. Saat berbalik,
dirinya dikejutkan dengan kehadiran Bastian yang tiba-tiba muncul.
“Kalo muncul tuh bilang-bilang napa?!”
“Ngapain? Katanya ga mau ke sini.” Bastian
mengernyitkan keningnya, wajahnya tampak seolah mengejek bagi Saaochi.
“Kepo!” Bentak Saaochi
Saaochi segera beralih, pergi meninggalkan Bastian
yang juga tidak menanggapi bentakannya. Tungkainya ia bawa menuju kafetaria
yang tampak sepi. Namun, mendengar ada barang jatuh di dapur, membuat Saaochi
yakin di dalam sana juga sedang ada kalang kabut yang tak terhindar.
“Halo, para Chef yang budiman. Minta rotinya
ya, makasih!” teriak Saaochi, lantas segera beranjak. Tidak jadi meminta tolong
untuk bawakan makanan. Tampaknya, Ketua sudah melakukan itu.
Dia sempat berpapasan dengan beberapa anak murid di
ambang pintu. Saaochi sekedar tersenyum kecil untuk menyapa. Tiba-tiba suaranya
jadi enggan keluar, rasa lelah tampak mendominasi tubuhnya sekarang.
Saaochi buka bungkus plastik roti itu. Lantas
memakannya sembari berjalan menuju kamar. Wah, sebenarnya Saaochi mau memakai
jalan pintas saja, tapi jarang-jarang dia bisa melihat markas ramai di tengah
malam seperti ini. Jadi, Saaochi paksakan saja dirinya menyusuri koridor.
Setelah sekitar sepuluh menit, saat rotinya telah
jatuh ke perut, dia akhirmya sampai di kamarnya sendiri. Lampu otomatis menyala
tatkala penghuninya datang. Hal pertama yang dilakukannya mengambil air minum
yang kebetulan memang dia hadirkan dalam kamarnya.
Setelah meneguk beberapa cairan bening itu, Saaochi
bernapas lega. Dia mendudukkan tubuhnya ke kursi terdekat. Dia merogoh bawah
meja, temukan kotak P3K yang ia letakkan di atasnya.
Lantas, demgan cekatan, dibalutnya luka pada lengan.
Setelahnya, dia kembali letakkan peralatan itu ke bawah meja. Dirinya sempat
termenung beberapa saat, memikirkan seharian ini yang bagai sudah
berminggu-minggu.
Beberapa menit dalam hening, akhirnya ia tengkulupkan
wajah di antara ke dua lengan di atas meja. Kepalanya mulai menampilkan list
pekerjaan yang belum diselesaikan juga tugasnya esok hari. Tanpa sadar dirinya
maah terlelap di sana tanpa sempat mengganti pakaian atau berbenah barang
sedikit.
=••=