Isi Cerita
Luisa Arcadia

'Ini buruk,' batinku saat merasakan rasa panas yang menjalar di dadaku, sepertinya aku melupakan kalau penawar untuk racun yang ku buat terakhir kali belum selesai sepenuhnya walaupun aku mempunyai banyak penawar untuk tipe itu.

 

Aku mengusap mataku saat merasakan rasa kantuk yang mulai menjalar keluar, menguap pelan sambil mencari batang hidung Saaochi. Menggaruk kepalaku sendiri dan mulai berpikir kenapa aku mencari Saaochi.

 

Dari kejauhan aku melihat Ketua berdiri, beberapa murid terlihat datang menyapa. Sepertinya sopan santun mereka semua di atas rata-rata, sedangkan aku di sini terseok-seok untuk berjalan. Tidak ku sangka kalau resintasi(?) racun di tubuhku masih kurang kuat, mau bagaimana lagi aku baru belajar memakai Blastech selama berapa tahun ya? Satu? Tiga? Aku melupakannya lagi.

 

Tidak jauh dari tempatku berdiri aku melihat surai hijau yang tidak asing sedang menyeret tandu, dengan sempoyongan aku berjalan ke arahnya.

 

"Saaochi..., aku sudah tidak kuat lagi," ucapku dengan lunglai sambil merentangkan tangan ke arah Saaochi.

 

"Baru sedikit, lebih baik bantu yang lain sana," balas Saaochi sambil menghindariku. Itu waktu yang tepat karena setelah itu aku terjatuh karena tersandung kakiku sendiri, dengan lesu aku mengangguk dan mengacungkan jempolku.

 

Dengan lemas aku bangkit dari tanah, menyapu seragam latihan yang ku pakai serta mengambil penawar racun yang lain dan langsung meneguknya lagi.

 

"Ayo semuanya semangat ke UKS, perhatiankan langkah kalian jangan sampai tersandung!" seruku sambil melambai-lambaikan tangan ke udara. Sangat membantu bukan?

 

Tidak jauh dari situ Saaochi terlihat menatapku dengan pandangan miris, dia terlihat melambaikan tangannya mengisyaratkan diriku agar mendekat ke arahnya. Aku mengangguk dan berjalan ke arahnya dengan santai.

 

"Kenapa?" tanyaku sambil menatapnya dengan datar dan sedikit menarik garis bibirku ke bawah.

 

"Ayo bantu angkat Ardofl, dia pingsan," jawab Saaochi sambil menunjuk ke arah tandu di bawah kaki kami.

 

Saaochi terlihat lebih dulu mengangkat ujung tandu itu membuat posisi Ardofl terlihat miring ke bawah lebih tepatnya merosot dengan indah ke tanah, aku menghela nafas dan membantu mengangkat sisi lain dari tandu itu agar posisi Ardofl kembali dengan benar.

 

"Anak sekecil diriku disuruh membawa raksasa," gerutuku dengan pelan.

 

"Aku tidak bisa membawa tandunya sendirian! Yang ada nanti malah lebih paras kondisinya," balas Saaochi seadanya, sepertinya dia sudah lelah mendengarkan diriku yang banyak mengeluh ini.

 

Aku hanya membalasnya dengan dengusan sambil mengangguk, lihatlah wajahnya langsung berubah menjadi menjengkelkan di mataku. Aku memutar bola mataku dan memilih melihat wajah orang yang membunuh Manticore di Dungeon itu, sekarang aku mulai berpikir untuk menjatuhkan tandu yang ku pegang ini. Astaga tidak boleh berpikiran seperti itu Luisa.

 

"Oke. Satu, dua, tiga, jalan," Saaochi mulai berjalan membawa tandu ini bersama denganku, "niu-niu-niu, ambulan dadakan mau lewat! Tolong semuanya menyingkir dari jalan." ucapnya sambil menirukan suara ambulan.

 

"Niu-niu-niu," ucapku menirukan Saaochi, tidak buruk ini terasa menyenangkan.

 

Kami pun mulai berjalan ke arah kasur rawat dengan tenang setelah itu kami meletakkan tandu yang kami gunakan untuk mengangkat Ardofl di atas kasur itu. Lalu Saaochi mengambil tandu lain dan menunjuk tangannya ke arah depan.

 

"Satu aman! Ayo kita bawa yang lain lagi," ucap Saaochi dengan penuh semangat, aku membalasnya dengan menganggukkan kepala.

 

Saaochi berjalan terlebih dahulu membiarkan diriku mengikutinya dari belakang dengan tenang sambil melihat ke arah langit yang sudah mulai menggelap, bintang mulai menampakkan dirinya dan memantulkan binar di mata kosongku. Malam yang indah.

 

"Tumben sekali kamu setenang ini, kenapa?" heran Saaochi sambil melirikku dari samping.

 

"Apa maksud kamu? Aku memang selalu tenang," balasku dengan datar, lihatlah mukanya seperti baru saja melihat hal yang paling menyeramkan di dunia.

 

Saaochi terlihat geram, tangannya terlihat ingin melayang ke arah belakang kepalaku. Tentu saja sebelum tangan itu menyentuh ujung rambutku, aku sudah menghindarinya. Lihatlah mukanya langsung terlihat jengkel.

 

"Dih," sinis Saaochi sebentar lalu setelah itu dia pergi meninggalkanku. Ini serius aku di tinggalkan begitu saja?

 

Aku menghela nafas lelah dan memilih untuk berkeliling untuk melihat keadaan yang lain, diantara kerumunan aku melihat seorang anak laki-laki sedang meratapi kakinya yang patah, tunggu. Patah?

 

Aku menghampirinya, kalau tidak salah namanya Vessel bukan? Ku harap aku tidak salah menghapalkan nama murid-murid ini.

 

"Yah, kaki palsuku patah...," ucap Vessel dengan sendu sambil meratapi kakinya.

 

"Yang sabar ya," sahutku sambil menepuk bahunya, bagus Luisa kamu sangat membantu!

 

"Y-ya," balas Vessel dengan canggung, aku menganggukkan kepala dan mengacungkan jari jempolku setelah itu aku pergi menjauh darinya.

 

Tidak jauh dari situ aku melihat murid yang lain, tapi ku rasa yang satu ini terlihat sedikit tidak masuk akal. Murid itu terlihat sedang di tegur oleh Naren karena meminum minuman yang terlihat seperti minuman keras.

 

"Hei ini barang terlarang ya! Jangan di keluarkan lagi," geram Naren sambil menyita botol minuman keras itu, "minum air, obat, atau apapun selain meminum minuman keras kan bisa!"

 

"Tapikan aku sudah cukup umur," balas murid itu sambil menyeringai dan mengambil botol lain dari dalam topinya. Aku baru ingat kalau tidak salah namanya Fadeyka bukan?

 

"Dilarang minum minuman keras," selaku sambil menatapnya dengan datar. Sebenarnya andai umurku sudah cukup aku juga ingin meminum itu tapi apalah daya diriku ini, jadi kalau aku tidak bisa meminum minuman itu orang lain juga tidak boleh meminumnya.

 

"Boleh lah," balas Fadeyka sambil menggoyang-goyangkan botol di tangannya.

 

Baiklah itu cukup menyebalkan memang lebih baik Naren saja yang mengurus orang seperti ini, aku mengangguk pasrah dan berbalik pergi. Ku serahkan pada Naren saja, lagipula sedari dari Naren juga yang mengurusnya. Ya sudahlah.

 

Dengan perasaan jengkel aku pergi dan berkeliling lagi, dari kejauhan aku melihat Kirei yang sedang meratapi bahunya yang berlubang. Ku akui itu cukup keren jadi aku memilih untuk menghampirinya.

 

"Hm... nanti bahu Kirei di tambal pakai daging apa ya? Semoga bukan daging kadal," lamun Kirei sambil menyentuh bahunya yang berlubang. Baiklah itu cukup menyedihkan.

 

"Masih berlubang?" tanyaku sambil melirik ke arah Kirei, tunggu sebentar. Kerja bagus Luisa, itu basa basi yang sangat basi.

 

"E-eh iya kak masih berlubang, syal Kirei tidak sanggup menyembuhkannya. Karena syal Kirei sudah terbagi menjadi dua, jadi kekuatannya sudah tidak maksimal lagi...," balas Kirei dengan lesu. Ini sedikit ajaib karena Kirei belum juga pingsan padahal sudah kehilangan darah dengan jumlah yang tidak sedikit.

 

Aku tersenyum dan mengusap kepalanya setelah itu aku menurunkan badanku di depannya lebih tepatnya membelakangi dirinya.

 

"Sini naik," singkatku sambil mengisyaratkan Kirei agar naik ke punggungku.

 

"Eh? Baiklah!" ucap Kirei sambil berusaha naik ke punggungku, dia tertawa girang setelah naik ke punggungku. Suasana hatinya langsung berubah dalam sekejap itu ya?

 

Aku dengan hati-hati berdiri dan menahan Kirei agar tidak terjatuh sambil tersenyum, setelah itu aku menirukan suara ambulan dan pergi ke arah kasur rawat dengan hati-hati. Takutnya Kirei terbang kalau ku bawa sambil berlari.

 

"Asik~ naik kak Luisa!" seru Kirei dengan bersemangat. Kata-katamu sangat ambigu Kirei, orang yang tidak melihat bisa-bisa salah paham nanti.

 

Aku hanya membalas dengan kekehan kecil, setelah melihat kasur tempat Ardofl berbaring aku segera menurunkan Kirei di dekatnya. Bukan apa-apa tapi belakangku terasa pegal dan kasur Ardofl adalah kasur yang paling dekat untuk di jangkau.

 

"Eh? Kak Luisa sengaja ya nurunin Kirei dekat Ardofl?" tanya Kirei dengan pipi yang bersemu.

 

"Tidak, aku hanya bingung mau menurunkan dirimu dimana," balasku sambil tersenyum polos. Itu yang terakhir, setelah itu aku meninggalkan Kirei yang sedang salah tingkah sendirian.

 

Aku berjalan keluar dari UKS, dari balik jendela aku kembali menatap bintang yang sedang bersinar terang. Sudah berapa lama ya aku tidak menghitung bintang? Sepertinya sudah lama sejak aku datang ke planet ini.

 

Setelah di pikirkan lagi, di sini sangat menyenangkan. Aku juga tidak perlu bermain kejar-kejaran dengan para hunter di planet X, singkatnya di sini sangat aman dan damai. Aku duduk kursi lorong, menyandarkan bahuku ke tembok sambil melamun menatap jauh ke belakang.

 

Kalau di pikirkan lagi, aku akhir-akhir ini sering melupakan sesuatu. Kalau terus seperti ini aku akan kesusahan dengan sendirinya, aku harus berkonsultasi lagi dengan Dokter Kai lain kali.

 

Menghela nafas pelan, aku memilih berjalan ke arah dapur. Aku lupa kalau aku menginginkan es coklat saat keluar dari Dungeon tadi, ini adalah saat yang tepat untuk mengambil es itu.

 

࿓٭

 

Setelah berhasil mendapatkan secangkir es coklat, aku berjalan ke arah kamarku untuk meletakkan Blastech dan sarungnya di tempat semula. Duduk dengan tenang di kursi dan menyesap es coklat milikku dengan khidmat.

 

Mengerjap pelan sambil mengunyah es batu, menatap kosong jarum jam yang terus berputar dengan teratur. Lagi-lagi perasaan dimana aku merasa melupakan sesuatu, sayang sekali aku lupa akan sesuatu itu.

 

"Apa ya? Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas..." ucapku dengan lesu sambil mengunyah es batu dengan brutal.

 

"Jangan lupa untuk minta maaf ke Ketua."

 

"...yang benar saja? Astaga sudah berapa lama aku melupakan itu!" panikku sambil gelagapan, dengan cepat aku menghabiskan es coklat milikku dan berjalan keluar kamar.

 

Langkah kakiku bergema di lorong sunyi, aku berjalan secepat mungkin ke arah kantor milik Ketua. Ku harap Ketua ada di dalam kantor. Sesampainya aku di depan kantor milik Ketua, aku menghela nafas dengan pasrah terlebih dahulu sebelum mengetuk pelan pintu itu.

Tok

Tok

Tok

 

Itu tiga kali ketukan, aku mendengar suara Ketua yang menyuruh untuk masuk. Rasanya cukup panas dingin saat membuka pintu itu.

 

"Ada apa Luisa?" Tanya Ketua saat melihat diriku yang sedang gelisah setlah berhadapan dengannya.

 

"Anu... itu...," gugupku sambil memilin ujung seragam latihan yang masih melekat di tubuhku.

 

Ketua terlihat tersenyum dengan sabar sambil menunggu diriku untuk melanjutkan ucapanku.

 

"Tenanglah terlebih dahulu," ucap Ketua sambil tersenyum dan menatap lurus ke arahku, "saya tanya sekali lagi. Ada apa Luisa?"

 

"Maaf, saya tidak sengaja melewatkan jadwal mengajar hari ini...," balasku sambil menundukkan kepala dengan lesu.

 

Hening sejenak sebelum Ketua kembali berbicara dengan tenang, "tidak apa-apa. Saya sudah mendengar hal ini juga dari kak Maula, angkat dahulu kepalamu. Tenanglah saya tidak marah," ucap Ketua sambil tersenyum.

 

Aku mengangkat kepalaku dengan pelan dan melihat ke arah Ketua, benar. Tidak ada ekspresi marah di wajah yang tenang itu.

 

"Maafkan saya sekali lagi, untuk ke depannya saya akan berusaha untuk tidak melewatkan jadwal saya sendiri!" ucapku dengan tegas ke Ketua. Setelah itu aku melihat Ketua tersenyum puas sambil menganggukkan kepalanya.

 

"Saya maafkan, sekarang Luisa boleh keluar," balas Ketua, tentu saja aku langsung menuruti perkataan Ketua dan pergi keluar kantor miliknya.

 

Aku berjalan dengan perasaan lega di sepanjang lorong tapi tidak lama setelah itu aku merasakan sesuatu keluar dari mulutku. Aku mengangkat tanganku dan menyapu mulutku menggunakan punggung tanganku.

 

"Uhk- huek," aku membuka telapak tanganku berusaha menampung cairan yang keluar dari mulutku, cairan yang membuat tenggorokanku terasa panas, cairan berwarna hitam khas.

 

"Huk- ini buruk," ucapku dengan datar, "cairannya mengenai sarung tanganku." sambungku dengan kesal. Padahal baru ku pakai dua kali tapi sekarang harus rusak karena cairan ini, sangat menyebalkan.

 

Aku membuka sarung tangan itu dan membuangnya ke tempat sampah di dekatku, dengan perasaan jengkel aku berjalan ke UKS. Ku harap sekarang murid-murid sudah selesai di obati.

 

Aku membuka pelan pintu UKS dan mendapati kalau ruangan itu seperti terkena badai yang dasyat, tentu saja bukan itu yang perlu ku perhatikan. Sepertinya para murid sudah selesai di obati, dengan tenang aku duduk di ranjang dekat pintu.

 

"Astaga Nona Luisa, apa yang terjadi padamu!?" Kaget Ayunda saat melihatku yang sedang bercucuran cairan hitam dari dalam mulutku.

 

Aku menumpu kedua tanganku di atas ranjang dengan tenang, "aku salah membuat penawar racun, kamu bisa mengobatiku kan?" tanyaku sambil melihat Ayunda dengan sayu.

 

"Tentu, tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan wadah untuk menampung cairan itu," balas Ayunda lalu pergi ke arah brankas di dekat kasur yang ku duduki, tidak lama setelah itu Ayunda menyodorkan wadah itu di depan mukaku.

 

Aku memegang wadah itu dan membuka mulutku, membiarkan cairan hitam menetes keluar dan jatuh tertampung di wadah itu. Ayunda terlihat mengarahkan tangannya ke dahiku.

 

"AƬΛƧ BΣЯKΛΉ ЯΣMBЦΛП MΛΛM IПI, ƬӨӨПG KΣЦΛЯKΛП ZΛƬ JΛΉΛƬ YΛПG MΣПGGΣЯӨGӨƬI ƧΣ-ƧΣПYΛ." ucap Ayunda, tangannya terlihat bercahaya setelah merapalkan mantra itu.

 

Seketika aku merasa seluruh jaringan di tubuhku di tarik paksa keluar, cairan menjijikan keluar memenuhi wadah yang ku pegang. Aku sedikit terengah-engah setelah itu tapi rasanya menjadi lebih baik jadi aku mengabaikan rasa di saat organ dalamku juga terasa di tarik keluar.

 

"Terima kasih Ayunda," ucapku sambil menyodorkan wadah yang berisi cairan menjijikan yang bru saja ku muntahkan itu ke arahnya, tentu saja di sambut dengan senang hati oleh Ayunda.

 

Aku lalu berpamitan untuk kembali ke kamarku, lagipula tidak mungkin aku berlama-lama di UKS. Itu tidak baik untukku karena banyak yang sedang beristirahat di sana.

 

Sekali lagi aku berjalan sendirian di lorong menuju kamarku sendiri, suasana tenang yang tidak pernah ku dapatkan sejak planet ku terjajah. Lupakan saja, untuk apa aku mengingat hal yang tidak penting seperti itu.

 

"Maafkan aku, Luisa."

 

Aku terhenti sejenak di depan pintu kamarku, menggelengkan kepala dengan acuh dan mulai melangkah masuk ke dalam kamarku. Mungkin hanya suara angin lewat.

 

Tamat.