Isi Cerita
Shou Masayoshi

Chapter 5

 

   Embusan angin mengantarkan sejuk malam hati di dalam markas. Tatkala murid keluar dari portal ungu besar satu-persatu berkumpul menjadi satu, di antara mereka semua mengalami luka parah bahkan ada yang perlu dibokong dengan susah payah. Beberapa murid melirik sosok ketua mereka berdiri menatap mereka semua. Meski begitu, para murid membungkuk untuk memberikan salam sapaan meski terluka parah. Setelah itu, para ketua pergi bersama yang lain setelah memberikan sisanya kepada ketiga orang sementara mentor membantu para murid yang kesusahan.

Kita alihkan sudut pandang ke arah sosok pemuda Shou memegang lengan kanannya yang patah akibat bongkahan batu besar terhempas kuat mengarah lengan kanannya. Bola matanya yang kuning bagaikan sinar cahaya sedangkan pupilnya bintang putih meredup menjadi bintang hitam dan redupnya warna matanya. "Aku butuh tidur ... " gumamnya sosok pemuda menundukkan kepalanya merasakan matanya memburam seiring berjalannya waktu. Semua kebisingan di ruangan itu sangat menganggu bagi Shou, pandangannya teralihkan sosok gadis bersurai kuning terpasang bando hitam bentuk telinga kelinci memeluk botnya yang kehabisan daya.

Shou menghampiri sang gadis "Kuat tidak Alice?" tanyanya bernada khawatir memperhatikan kondisi sang gadis dan botnya. Gadis mata heterochromia menoleh "Kuat Shou. Shou bagaimana? Apa tangannya sudah sembuh? Atau masih nyeri?" sahutnya si Alice menanyakan kondisi sang pemuda. "Udah mendingan kok." Mencoba menggerakkan lengan-lengannya sebelum terdengar suara seperti tergesernya tulang membuat ragu seketika. "Tanganmu patah Shou, ayo sini di angkat." Menunjuk tandu berencana mengangkatnya dengan tandu hingga sampai UKS. "Gak deh Alice, aku masih bisa berjalan kayak biasanya lagipula saya mau bantu sedikit orang," jelas Shou. Alice mengangguk-angguk. "Hati-hati ya Shou," balasnya tersenyum berlalu pergi.

Pemuda menghembus nafas panjang sebelum berjalan mondar-mandir untuk sementara waktu hingga pandangannya tertuju mengarah Aideen kini terlihat melamun saat sempoyongan ke UKS. Lantas, Shou menghampiri Aideen membantunya menuju UKS, "gak baik ngelamun Aideen di jalan nanti gak sengaja kerabrak tembok," tegurnya seketika ia tersentak "O-oh ... maaf ... " lirihnya meminta maaf Shou hanya mendengus pelan. "Saya izin bantu kamu," liriknya mengangkat Aideen perlahan tapi pasti menuju UKS.

Sesampainya di UKS di sebuah ruangan putih yang sangat besar furniturenya yang berdominan putih cerah. Semua murid yang terluka berada di sana terbaring di atas ranjang mereka sembari menunggu pengobatan oleh dokter dan perawat disana. Tiga orang yang terpilih menyembuhkan para murid yang mungkin ini pertama kalinya mereka melihat ketiga orang itu.

Shou yang mencoba tidur terganggu terus-menerus akibat suara berisik bagaikan kapal pecah disebabkan tingkah absurd yang menjadi-jadi dan tidak bisa jelaskan. Sosok pemuda berpupil mata hitam redup mengucek matanya, "aduh apakah sudah esok hari???" batinnya saat ia hendak mengubah posisinya dengan keadaan bangun seorang perawat datang menghampiri sembari tersenyum. "Jangan bangun dulu, silakan berbaring lagi ya~" pintanya menyuruh berbaring kembali, Shou hanya menuruti dengan pasrah dan berbaring kembali menatap langit-langit dan para perawat dan dokter cara mereka bekerja. Shou melirik kearah sang perawat tetapi matanya buram hingga sulit untuk melihat jelas wajahnya, "kalau ada keluhan bagian yang sakit tolong katakan ya? Jangan sungkan," ujarnya. "Hmm, bagian lengan kanan saya merasa ada yang tergeser dan ... mungkin kepala saya sedikit perdarahan? Kurasa itu saja," jelasnya mencoba menjelaskan serinci mungkin dia bisa. Shou pun memutuskan untuk tidur kedua kalinya sebelum ia terbangun kembali sebab keributan di ruangan itu.

Suara rintihan terdengar di telinga Shou lekas ia melihat Amarine yang baru saja terbangun berjalan turun dari tandu. "Ini di UKS ya?" tanyanya memandang ruangan putih itu. "Iya, kamu lebih baik ke ranjang kasur," jawabnya.

"Ah iya kau benar, kepala ku juga masih pusing sekali," lirihnya dalam keadaan letih. "Haus ... " batinnya menoleh melirik Alice yang terlihat sedang tidur sebentar kembali mencari botol air atau segelas air minum. "Ada yang punya botol air? Haus," pintanya. "Dah lah ... " Turun dari ranjang berjalan melihat ada segelas air untuk diminum segera ia minum hingga habis menggunakan lengan kirinya, "nah kalau ginikan lebih mendingan," gumamnya lega sebelum ada yang memanggilnya. "Loh ambil air dimana? Mau Shou," ujarnya. "Oh di sudut. Mau ku ambilin?" tawarnya saat melihat Alice, "mau-mau terimakasih." Pat-pat kepala Shou. "Pat-pat lagi Alice biar saya makin semangat!!" Berjalan secepat mungkin mengambil segelas air dan memberikanmu. Segelas air itu diterima baik oleh Alice "terimakasih Shou, bagaimana tangannya?" tanyanya kondisi Shou. "Tidak ada masalah." Mengkedip kan mata sebelahku smirk bermaksud bergaya, "ah." Mengangguk-angguk "Ayo istirahat lagi disini," sambungnya sembari menepuk ranjang kasur memberimu kode untuk istirahat. "Jangan banyak bergerak, Alice mau plester luka ringan ini dulu," katanya.

"Seharusnya kamu banyak istirahat dulu. Kamu jangan pikirin soal aku dulu," protes Shou karena menurutnya Alice lebih perlu istirahat dari dirinya. Lantas Alice tersenyum "Alice tidak terluka parah, hanya luka lecet dan luka sayat dikaki, biasa tu," selanya. Shou sungguh tetak bersikeras menyangkal hal itu semua, "Segera diobati atau itu bisa menjadi infeksi. Itu akan menganggu kesehatan tubuhmu," tuntutnya menghembus kan nafas panjang. Dia berjalan mendekati dokter yang Shou dengar namanya sih Dokter Kai, ia mendengar sekilas pembincangan antara Vessel dengan Dokter Kai. "Kalau lengan putus?" potongnya saat dokter itu menjawab "lenganmu patah? Aku bisa." Mengulurkan tangannya, Shou meraih tangan dokter itu "begini kah?" tanyanya kebingungan. "Ya," jawabnya segera ia berdoa seketika lengannya yang patah bisa digerakkan kembali dan Shou sangat berterimakasih dengan hal itu.

.

.

Seluruh murid telah kembali ke asramanya masing-masing dengan baju tidur mereka. Setelah Shou menutup pintu kamar asramanya ia menjatuhkan dirinya di kasurnya yang nyaman ia terdiam cukup lama dalam posisi seperti itu membuat teman hewannya khawatir.

"Karr ... ?" panggilnya terdengar jelas di telingan Shou, ia mengelus kepala rakunnya yang bernama Karl dengan nada lembut. "Tenang sobat, aku hanya butuh waktu untuk memproses ingatanku," lirihnya tersenyum lembut, Karl pun tersenyum senang dan naik di atas pangkuan Shou yang senang hati membiarkannya. Shou mengelus bulu temannya itu dengan lembut sembari termenung menatap langit-langit kamar. Apakah ini jalan terbaik atau salah? Aku yakin suatu ketika ada musuh yang akan datang dan menyerang dan aku yang masih belum cukup kuat harus kalah di kemudian hari.

"Ibu? Adek? Menurutmu apa yang perlu ku lakukan untuk menjadi kuat? ... " bisiknya mengalihkan pandangan ke Karl yang telah tertidur di pangkuannya ia hanya tersenyum lega melihatnya. Terdengar bunyi pesan masuk di jam tangannya ia membuka layar jam tangan itu dan ternyata sebuah pesan dari sang ketua.

"Selamat malam, apa kalian semua sudah baikan?" 

Sosok Rhino tampil di hologram Shou Namun, ia menyadari itu hanya rekaman video.

"Istirahatlah dan bangun esok hari. Saya menantikan kehadiran kalian semua. Mungkin kalian sudah sering mendengar ini, tetapi biar saya ucapkan sekali lagi."

"Selamat datang, saya harap kalian terus berada di DianXy hingga hari kelulusan kalian.”

Shou mendengar perkataan hologram itu tersenyum tipis dan berbaring tertidur dengan Karl ada di sebelah kepalanya.