03.2601.2102 ET 11th ET # 26859 Mursa, A 2469-6386
Embusan angin mengantarkan sejuk malam hati di dalam markas. Tatkala
murid keluar dari portal ungu besar satu-persatu berkumpul menjadi satu, di
antara mereka semua mengalami luka parah bahkan ada yang perlu dibokong dengan
susah payah. Beberapa murid melirik sosok ketua mereka berdiri menatap mereka
semua. Meski begitu, para murid membungkuk untuk memberikan salam sapaan meski
terluka parah. Setelah itu, para ketua pergi bersama yang lain setelah
memberikan sisanya kepada ketiga orang sementara mentor membantu para murid
yang kesusahan.
Kita
alihkan sudut pandang ke arah sosok pemuda Shou memegang lengan kanannya yang
patah akibat bongkahan batu besar terhempas kuat mengarah lengan kanannya. Bola
matanya yang kuning bagaikan sinar cahaya sedangkan pupilnya bintang putih
meredup menjadi bintang hitam dan redupnya warna matanya. "Aku butuh tidur
... " gumamnya sosok pemuda menundukkan kepalanya merasakan matanya
memburam seiring berjalannya waktu. Semua kebisingan di ruangan itu sangat
menganggu bagi Shou, pandangannya teralihkan sosok gadis bersurai kuning
terpasang bando hitam bentuk telinga kelinci memeluk botnya yang kehabisan
daya.
Shou
menghampiri sang gadis "Kuat tidak Alice?" tanyanya bernada khawatir
memperhatikan kondisi sang gadis dan botnya. Gadis mata heterochromia menoleh
"Kuat Shou. Shou bagaimana? Apa tangannya sudah sembuh? Atau masih
nyeri?" sahutnya si Alice menanyakan kondisi sang pemuda. "Udah
mendingan kok." Mencoba menggerakkan lengan-lengannya sebelum terdengar
suara seperti tergesernya tulang membuat ragu seketika. "Tanganmu patah
Shou, ayo sini di angkat." Menunjuk tandu berencana mengangkatnya dengan
tandu hingga sampai UKS. "Gak deh Alice, aku masih bisa berjalan kayak
biasanya lagipula saya mau bantu sedikit orang," jelas Shou. Alice
mengangguk-angguk. "Hati-hati ya Shou," balasnya tersenyum berlalu
pergi.
Pemuda
menghembus nafas panjang sebelum berjalan mondar-mandir untuk sementara waktu
hingga pandangannya tertuju mengarah Aideen kini terlihat melamun saat
sempoyongan ke UKS. Lantas, Shou menghampiri Aideen membantunya menuju UKS,
"gak baik ngelamun Aideen di jalan nanti gak sengaja kerabrak
tembok," tegurnya seketika ia tersentak "O-oh ... maaf ... "
lirihnya meminta maaf Shou hanya mendengus pelan. "Saya izin bantu
kamu," liriknya mengangkat Aideen perlahan tapi pasti menuju UKS.
Sesampainya
di UKS di sebuah ruangan putih yang sangat besar furniturenya yang berdominan
putih cerah. Semua murid yang terluka berada di sana terbaring di atas ranjang
mereka sembari menunggu pengobatan oleh dokter dan perawat disana. Tiga orang
yang terpilih menyembuhkan para murid yang mungkin ini pertama kalinya mereka
melihat ketiga orang itu.
Shou
yang mencoba tidur terganggu terus-menerus akibat suara berisik bagaikan kapal
pecah disebabkan tingkah absurd yang menjadi-jadi dan tidak bisa jelaskan.
Sosok pemuda berpupil mata hitam redup mengucek matanya, "aduh apakah
sudah esok hari???" batinnya saat ia hendak mengubah posisinya dengan
keadaan bangun seorang perawat datang menghampiri sembari tersenyum.
"Jangan bangun dulu, silakan berbaring lagi ya~" pintanya menyuruh
berbaring kembali, Shou hanya menuruti dengan pasrah dan berbaring kembali menatap
langit-langit dan para perawat dan dokter cara mereka bekerja. Shou melirik
kearah sang perawat tetapi matanya buram hingga sulit untuk melihat jelas
wajahnya, "kalau ada keluhan bagian yang sakit tolong katakan ya? Jangan
sungkan," ujarnya. "Hmm, bagian lengan kanan saya merasa ada yang
tergeser dan ... mungkin kepala saya sedikit perdarahan? Kurasa itu saja,"
jelasnya mencoba menjelaskan serinci mungkin dia bisa. Shou pun memutuskan
untuk tidur kedua kalinya sebelum ia terbangun kembali sebab keributan di
ruangan itu.
Suara
rintihan terdengar di telinga Shou lekas ia melihat Amarine yang baru saja
terbangun berjalan turun dari tandu. "Ini di UKS ya?" tanyanya
memandang ruangan putih itu. "Iya, kamu lebih baik ke ranjang kasur,"
jawabnya.
"Ah
iya kau benar, kepala ku juga masih pusing sekali," lirihnya dalam keadaan
letih. "Haus ... " batinnya menoleh melirik Alice yang terlihat
sedang tidur sebentar kembali mencari botol air atau segelas air minum.
"Ada yang punya botol air? Haus," pintanya. "Dah lah ... "
Turun dari ranjang berjalan melihat ada segelas air untuk diminum segera ia
minum hingga habis menggunakan lengan kirinya, "nah kalau ginikan lebih
mendingan," gumamnya lega sebelum ada yang memanggilnya. "Loh ambil
air dimana? Mau Shou," ujarnya. "Oh di sudut. Mau ku ambilin?"
tawarnya saat melihat Alice, "mau-mau terimakasih." Pat-pat kepala
Shou. "Pat-pat lagi Alice biar saya makin semangat!!" Berjalan
secepat mungkin mengambil segelas air dan memberikanmu. Segelas air itu
diterima baik oleh Alice "terimakasih Shou, bagaimana tangannya?"
tanyanya kondisi Shou. "Tidak ada masalah." Mengkedip kan mata
sebelahku smirk bermaksud bergaya, "ah." Mengangguk-angguk "Ayo
istirahat lagi disini," sambungnya sembari menepuk ranjang kasur memberimu
kode untuk istirahat. "Jangan banyak bergerak, Alice mau plester luka
ringan ini dulu," katanya.
"Seharusnya
kamu banyak istirahat dulu. Kamu jangan pikirin soal aku dulu," protes
Shou karena menurutnya Alice lebih perlu istirahat dari dirinya. Lantas Alice
tersenyum "Alice tidak terluka parah, hanya luka lecet dan luka sayat
dikaki, biasa tu," selanya. Shou sungguh tetak bersikeras menyangkal hal
itu semua, "Segera diobati atau itu bisa menjadi infeksi. Itu akan
menganggu kesehatan tubuhmu," tuntutnya menghembus kan nafas panjang. Dia
berjalan mendekati dokter yang Shou dengar namanya sih Dokter Kai, ia mendengar
sekilas pembincangan antara Vessel dengan Dokter Kai. "Kalau lengan
putus?" potongnya saat dokter itu menjawab "lenganmu patah? Aku
bisa." Mengulurkan tangannya, Shou meraih tangan dokter itu "begini
kah?" tanyanya kebingungan. "Ya," jawabnya segera ia berdoa
seketika lengannya yang patah bisa digerakkan kembali dan Shou sangat
berterimakasih dengan hal itu.
.
.
Seluruh
murid telah kembali ke asramanya masing-masing dengan baju tidur mereka.
Setelah Shou menutup pintu kamar asramanya ia menjatuhkan dirinya di kasurnya
yang nyaman ia terdiam cukup lama dalam posisi seperti itu membuat teman
hewannya khawatir.
"Karr
... ?" panggilnya terdengar jelas di telingan Shou, ia mengelus kepala
rakunnya yang bernama Karl dengan nada lembut. "Tenang sobat, aku hanya
butuh waktu untuk memproses ingatanku," lirihnya tersenyum lembut, Karl
pun tersenyum senang dan naik di atas pangkuan Shou yang senang hati
membiarkannya. Shou mengelus bulu temannya itu dengan lembut sembari termenung
menatap langit-langit kamar. Apakah ini jalan terbaik atau salah? Aku yakin
suatu ketika ada musuh yang akan datang dan menyerang dan aku yang masih belum
cukup kuat harus kalah di kemudian hari.
"Ibu?
Adek? Menurutmu apa yang perlu ku lakukan untuk menjadi kuat? ... "
bisiknya mengalihkan pandangan ke Karl yang telah tertidur di pangkuannya ia
hanya tersenyum lega melihatnya. Terdengar bunyi pesan masuk di jam tangannya
ia membuka layar jam tangan itu dan ternyata sebuah pesan dari sang ketua.
"Selamat
malam, apa kalian semua sudah baikan?"
Sosok
Rhino tampil di hologram Shou Namun, ia menyadari itu hanya rekaman video.
"Istirahatlah
dan bangun esok hari. Saya menantikan kehadiran kalian semua. Mungkin kalian
sudah sering mendengar ini, tetapi biar saya ucapkan sekali lagi."
"Selamat
datang, saya harap kalian terus berada di DianXy hingga hari kelulusan kalian.”
Shou
mendengar perkataan hologram itu tersenyum tipis dan berbaring tertidur dengan
Karl ada di sebelah kepalanya.