Isi Cerita
Freya L'Etoile

"Apa kalian semua baik-baik saja?"

 

Lontaran pertanyaan yang dikeluarkan pada mereka yang habis bertarung sengit dengan para monster. Dengan perjuangan yang berat sambil melawan rasa takut, yang akhirnya berhasil menyelesaikan semuanya.

 

Perasaan aduk campur kembali menimpa setelah membunuh Cerberus, Naga api dan Monticore. Rasa lega hanya datang sementara dan memilih melanjutkan perjalanan tanpa basa-basi.

 

Mereka menyempatkan diri untuk menghubungi para mentor. Namun sayangnya tidak ada respon. Dengan situasi yang amburadul membuat sebagian dari mereka berpikir bahwa kemungkinan sedang di permainkan atau di jadikan alat.

 

Freya yang selaku bertanya sambil memperhatikan rekan-rekannya. Yah, yang ia lihat mereka ini seperti habis berperang antar negara atau disebut perang dunia.

 

Mereka dilanda luka yang tidak terbilang membaik. Keluarnya ringisan dan erangan dari mulut mereka sebagai penjelasan tubuh  yang tengah kesakitan. Tapi setidaknya perjalanan ini membuat mereka ada luang untuk pemulihan.

 

Pertanyaan Freya sudah di jawab yang menandakan mereka baik-baik saja. Freya menghela nafas lega mendengarnya, setidaknya mereka tidak terluka parah walau kesakitan itu masih menghantui.

 

Tiba-tiba saja ada yang menarik lengannya. "Anda baik-baik saja?"

 

Gadis itu menoleh dan tersenyum saat melihat wajah Sienna yang mungkin terlihat cemas. Serta dengan Artha yang juga memberikan pertanyaan yang sama sambil menghampiri mereka.

 

Freya tersenyum. Dia mengangkat tangannya yang membuat keduanya terkejut. Kelima jari Freya terlihat seperti meleleh. Dia ingat bahwa ia terkena serangan yg membuat tangan esnya mencair begitu juga tangannya.

 

Dengan perasaan panik dan cemas, mereka berdua beradu mulut dengan Freya yang cukup keras kepala. Ia melihat Artha sedang memulihkan tangannya. Ia tahu kalau tangannya tidak akan bisa berhasil untuk dipulihkan jika di sembuhkan dengan kekuatan luar.

 

Gadis itu merenung di saat teman-temannya sibuk satu sama lain. Ia memikirkan bagaimana caranya agar keluar dari ini. Matanya menelusuri sekitar.

 

Tidak ada celah disana. Yang didapatkan hanya suara mereka yang berbising di perjalanan mereka.

 

Namun deru bisingan suara mereka terhentikan. Digantikan oleh suara keras di balik pintu besar dengan simbol kuno yang terukir disana.

 

Mereka dengan siap siaga saling berjaga dan waspada. Dan hal yang tidak disukai adalah rasa takut mereka kini kembali menghampiri.

 

Pintu besar itu terbuka dengan pelan bersama aura yang sangat tidak nyaman. Freya berkeringat dingin merasakan bahwa aura ini seolah akan menjadikan mereka sebagai mangsa.

 

Freya frustasi. Helaan nafasnya menjadi berat seakan ditekan kenyataan. Detak jantung berdetak kencang, lirikannya mendapatkan  sebagian mereka yang sangat ketakutan.

 

Mengingat pertarungan sebelumnya membangkitkan rasa trauma dalam. Bersama dengan mental yang mulia tergoyahkan.

 

Tapi Freya mencoba menghilangkan rasa takut itu dan menyemangati mereka. Ia sebenarnya sama dengan mereka tapi yang dibutuhkan adalah perjuangan dan kerja sama.

 

Disaat bersamaan, pintu itu terbuka perlahan bersama guncangan dahsyat. Dari dalam sana, terlihat makhluk besar dan mengerikan. Makhluk itu mempunya satu tubuh, dua kepala, memiliki sayap dan memiliki ekor seperti ular.

 

Sungguh di luar dugaan, ini pertama kalinya Freya melihat makhluk tersebut yang berupa mengerikan.

 

"WAH WAH~ LIHATLAH SIAPA MAKHLUK RENDAHAN YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI SINI!!"

 

Mereka tersentak mendengar lontaran sang monster dengan nada sinis dan keras.  Tanpa memikirkan panjang lebar. Freya mendesis kasar dan menyemangati teman temannya untuk bertarung.

 

"Semuanya, ayo! Kita buang rasa takut ini dan mari, kita bekerja Sama membunuh makhluk itu!"

 

Mendengar ketegasan Freya, mereka serentak mengangguk dan mulai bersiap untuk melawan. Tanpa berlangsung lama mereka pun bekerja sama menyerang sang monster.

 

Melihat tanggapan semangat dari para murid, membuat sang monster kesal dan tidak terima hal ini. Makhluk itu pun melawan.

 

Jika dilihat perbandingan antara mereka dan sang monster, mustahil para murid untuk bisa mengalahkan makhluk berkepala dua itu.

 

Dengan tertawa mengejek, makhluk tersebut menyerang sebagian para murid menjadikan batu dan saling melawan pada yang terhindar dari serangan itu.

 

Salah satunya Freya yang menangkis serangan itu. Dia mengeluarkan kekuatan es dari tangan bekunya. Sayangnya serangan es nya tidak membuat perlawanan mereda.

 

Sebab makhluk itu menyerang dia dan rekan-rekannya dengan ganas. Freya kewalahan dan akhirnya ia terlempar jatuh dengan keras.

 

Cucuran cairan merah keluar dari lubang hidungnya. Bukan karena benturan, melainkan keterpaksaan penyerangan kekuatan es sebelumnya.

 

Dia putus asa. Matanya melihat yang lain sedang berjuang mati-matian melawan sang monster. Dia ingin membantu tapi luka yang ia lalui sangat parah dan membuatnya Sulit bergerak.

 

Dia frustasi, cemas dan sedih. Dia khawatir mereka terus bertarung meski luka sudah tertampil di tubuh. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Kepalanya sakit, tangannya gemetar, tubuhnya tak bergerak.

 

Freya bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa dia harus berada ditempat mengerikan ini? Kenapa dia tidak bisa bergerak untuk melawan lagi?

 

Dengan kekosongan yang mendalam. Semuanya terasa hampa.

 

Tapi itu tak mengambil waktu lama.

 

"Lihat! Itu para Mentor!"

 

Freya langsung mendongak. Mereka muncul di atas makhluk mengerikan tersebut.

 

Bastian mendarat dengan mulus. Kakinya terhentak di tanah dengan tenang. Disusul oleh Mentor lainnya. Para murid merasa sedikit lega karena bantuan telah tiba.

 

Freya menatap Bastian dengan tatapan sayu. Lirihannya halus bersama dengan nafas tenang.

 

Mengetahui Freya yang cukup parah. Lelaki itu pun bertanya, "kau baik-baik saja?"matanya menyipit melihat kondisinya. "Kau mundurlah."

 

Tiba-tiba sebuah burung yang merupakan peliharaan Sienna, Nyx, datang untuk menolong Freya.

 

Para Mentor melihat kondisi para muridnya yang terbilang cukup mengenaskan. Mereka pun dengan serentak menyerang sang Monster.

 

Mereka melawan sambil mencari titik lemah sang Monster. Setelah menemukan jalan keluar, para Mentor memerintahkan kepada para murid untuk bersama-sama membunuh makhluk mengerikan ini.

 

Dengan anggukan penuh semangat, mereka bekerja sama mulai menyerang sang Monster. Freya juga ikut serta didalamnya.

 

Dengan serangan terakhir dari para Mentor, Monster itupun akhirnya kalah. Freya lega karena semuanya sudah berakhir.